Serial Mafia
Mawar Mewangi (9)
Oleh Wak Amin
"HEBAT kamu Ci," puji Bos Siao Lung di ruang kerjanya yang besar.
Berkali-kali dia memuji Taici, semen tara Tauco, Taisek dan Tainen tidak
disebutnya sama sekali.
"Bos pilih kasih." Tauco memberani kan diri protes. Sebab, tewasnya
Letnan Komar bukan cuma kerja keras Taici semata, tapi juga teman-teman
yang lain.
"Apa mungkin Taici bisa sukses tanpa keterlibatan kami Bos," kata Taisek.
"Betul Bos," sahut Tainen. "Bukan apa-apa Bos. Maksud kami, kalau Bos memuji Taici, ya apa salahnya kami juga dipuji gitu ..."
Taici tersinggung ...
"Tapi saya komandan. Wajar bila saya yang dipuji. Toh kalau saya dipuji kalian juga ikut dipuji. Betul tidak Bos?"
"Belum tentu," ujar Taisek.
"Apa maksudmu Sek? Melawan saya, haa?" Mencengkram kerah baju Taisek, Taici
sudah mengepalkan tinjunya, hendak menonjok hidung teman seprofesinya
itu.
Priiiit ...
Tauco menarik tangan Taisek, sementara Bos Siao Lung meminta Taici menahan diri.
"Kita ini merayakan kemenangan bukan saling gontok-gontokan. Paham?"
Semua terdiam.
"Jika kalian tetap gontok-gontokan, kalian berempat saya pecat ..."
"Jangan Bos," rengek Taici. " Kalau saya dipecat, dompet saya kempes."
Hua ha ha ha ...
Taisek kelepasan tertawa.
Taici kembali tersinggung.
Kali ini dicegah Tainen. Hampir saja robek baju belakang Taici akibat tarikan tangan Tainen.
Karena kesal, Bos Siao Lung meminta Taici dan ketiga rekannya keluar dari ruangan kerjanya.
Dia tak ingin kesuksesan menghabisi nyawa Letnan Komar ternodai tingkah cengeng empat anak buahnya.
Sementara itu ...
"Rahman. Tolong!" Teriakan Santi membuat Rahman dan beberapa anggota kepolisian yang lain kaget.
Mereka bersegera menolong Letnan Sayuti yang terjepit di sela kursi.
"Pelan-pelan Man." Santi mengingatkan. Meski kursi yang ditempati Letnan Sayuti sekarang ini sudah ditu kar dengan ukuran yang lebih besar,
tetap saja tak seukuran dengan pinggang pria berkulit putih itu.
Hampir lima menit, Letnan Sayuti baru bisa bernafas lega setelah sandaran kursi; kiri, kanan dan belakang dilepas.
Seisi kantor menyaksikan, deg-degan proses pelepasan itu, tepuk tangan
pun terdengar riuh setelah Rahman berhasil melepas sandaran tangan kiri
serta kanan kursi standar kerja itu.
"Alhamdulillah," ucap Santi lega. Mudah-mudahan saja Letnan Sayuti
tidak marah kendati dia merasa yakin bos baru pengganti Letman Komar
itu bisa menyesuaikan diri di tempat kerja yang baru.
"Tak apa-apa Pak?"
"Alhamdulillah tak apa-apa Man," kata Letnan Sayuti.
"Suruh yang lain kembali bekerja. Saya, kamu dan Santi masuk ke ruang rapat ..."
"Siap Pak."
Selaku bos baru, Letnan Sayuti sudah bertemu dengan Rahman dan Santi.
Karena dia tahu, meski sering bertemu, namun baru kali pertama ini
bekerjasama dalam satu tim.
"Saya harap, apa yang kita rencanakan dan putuskan bersama ditindaklanjuti," harap Letnan Sayuti.
"Unek-unek jangan disimpan di da lam hati. Tapi sampaikanlah pada orang
yang tepat agar bermanfaat, bukan justru menimbulkan mudharat."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar