Serial Mafia
Mawar Mewangi (10)
Oleh Wak Amin
KETIKA turun dari mobil hendak menuju kediamannya, jelang Magrib Santi
dicegat dua lelaki berpakaian rapi dan berpenampilan necis. Kedua
lelaki itu adalah Taisek dan Tauco.
Semula Santi tak menghiraukan kehadiran Taisek dan Tauco. Hal ini
dikarenakan bukan sekali dua ini dia berpapasan dengan lelaki dan
perempuan yang tengah berjalan kaki di trotoar dekat rumahnya.
Saling sapa jika kebetulan kenal, atau bersikap santun bila kali pertama melihatnya, Santi sering perlihatkan pada mereka.
Sejauh ini aman-aman saja. Meski sebagian besar tetangganya yang dekat dan jauh tahu Santi bukan perempuan biasa.
Seorang polisi perempuan, polwan orang acap menyebutnya, yang dikenal
ramah sama siapapun. Sayang, keramahannya ini tidak berlaku pada
Taisek dan Tauco.
Druuup ...
Duuup ...
Cegreeg ...
Plask .. Plak ..
Dig .. Dig ..
Secepat kilat Santi mundur. Dia bergerak ke kanan. Tauco melompat, melepaskan tendangan.
Cekaak ...
Buuug ...
Tauco terjatuh ke trotoar setelah Santi menepis tendangan lurus dengan melepas pukulan tangan kanan ke punggung.
Auuugh ...
Meringis kesakitan ...
Santi menggerakkan kaki kanannya ...
Adooouw ...
Sakiiiit ...
Dia menginjakkan sepatunya ke muka Tauco sekuat-kuatnya, sebelum ditendang ke jalan, mengenai kotak sampah.
Braaak ...
Cuuuur ...
Kotak sampah terbalik. Sampah berceceran, di antaranya menempel di mukanya Tauco.
Terakhir, sisa air minum botolan, tumpah. Masuk ke mulutnya yang sempat terbuka tadinya.
Ha ha ha ha ...
Beberapa orang ibu yang ikut menonton duel seru antara Santi dengan
Taisek dan Tauco, ketawa terpingkal-pingkal melihat Tauco
meronta-ronta di tengah kerubutan sampah basah dan kering.
"Ayo maju!"
Taisek jadi ragu untuk menyerang Santi.
"Wuuu ... Banci." Ejek seorang pemuda tanggung berambut panjang sebatas bahu.
"Lucu ya Ma, Om itu. Berdiri aja. Ngapain dia Ma?" Tanya seorang anak
pada ibunya yang menyetir mobil. Berhenti di seberang jalan karena sang
anak meminta berhenti ingin menyaksikan duel seru antara Taisek dan
Santi.
Karena malu hati, Taisek coba menyerang. Dia dekati Santi dari sebelah kanan.
Santi mundur beberapa langkah ke belakang, Taisek terus mendekat.
Huuup ...
Taisek melompat ke atas mobil. Santi tidak meladeninya. Dia justru memancing Taisek turun.
Santi berhasil ...
Kini keduanya saling berhadapan dekat tiang listrik, tak jauh dari kotak sampah.
Ciyaaat ...
Taisek melepaskan tendangan. Dielakkan Santi dengan menunduk. Saat itu juga dia pukul selangkangan lawannya.
Tak disangka, mengena dengan tepat. Taisek mengerang kesakitan. Dia jatuh terkapar.
Aduuuh ....
Aduuuh ...
"Hilang perkututku," ringisnya.
Ha ha ha ha ...
Saat Taisek mengaduh itulah, Tauco berhasil keluar dari tumpukan
sampah yang berserak, lalu melempar kotak sampah itu ke arah Santi.
Praaak ...
Kotak sampah itu terbelah tiga karena ditangkis Santi menggunakan kedua kakinya sambil melompat.
"Cepaat Sek!"
Menarik paksa tangan Taisek, secepatnya kabur sebelum keburu diamuk warga yang terus berdatangan.
Santi coba mengejar ...
Dia urungkan setelah secara bersa maan beberapa kendaraan berhenti
mendadak di tengah jalan akibat seliweran Taisek dan Tauco yang
menyeberang sambil menyerempet beberapa pengendara motor yang
lalu-lalang dari arah berlawanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar