Senin, 07 Mei 2018

Mawar Mewangi (14)

Serial Mafia

Mawar Mewangib (14)
Oleh Wak Amin




KLETEK ...

Pintu dibuka ...

Seorang pria beralis tebal keluar dari pintu depan. Dia sepertinya mencari seseorang. Ya, tak salah lagi. Yang dia cari adalah Taici.

"Taici ..."

" Taici ..."

"Dimanakah dikau?"

"Bos mencarimu tau ..."

Dari balik pohon rindang besar, Letnan Sayuti memberi lampu hijau untuk 'menaklukkan' pria berkulit hitam tinggi semampai itu.

Letnan Sayuti yakin Santi pasti bisa. Rahman memberinya semangat.

"Selamat bertugas Nona Santi," ucap Letnan Sayuti.

Bergerak ke kiri, sambil membungkukkan badan, Santi mendekati sasarannya. Berdiri. Melihat ke semak.

Dia dekati pintu pagar ...

Kletek ...

Huup ..

Praaak ...

Uaaaggh.

Satu kali pukulan ke kepala, anak buah Bos Siao Lung itu linglung sejenak sebelum akhirnya jatuh terkapar.

Dengan sigap, Santi menyeret tubuh kurus itu ke bawah pohon. Buat sementara ditaruh dekat parit.

Kemudian, bersama Rahman dan Letnan Sayuti, ketiganya masuk lewat pintu depan yang tidak terkunci tadinya.

Sesampainya di dalam, tidak menemukan seorang pun di sana. Ketiganya berinisiatif menaiki lantai dua .

Juga tak ada orang ...

"Kemana mereka ya Let?"

Letnan Sayuti berpikir sejenak.

"Coba kau ambil guci kecil itu Man," kata Letnan Sayuti.

"Buat apa Let?" Tanya Santi.

"Nanti kau akan tahu sendiri Non Santi ..."

Guci antik itu diamati sejenak. Lepas itu ...

Craaaash ...

Melempar guci dekat meja makan.

"Cepat sembunyi ..!" Kata Letnan Sayuti.

Ketiganya sembunyi di balik lemari pembatas ruangan tamu dan ruangan keluarga.

Benar saja.

Seorang lelaki berkepala botak menuruni anak tangga. Dia mencari asal suara pecahan guci tadi.

Dia temukan ...

Lalu dia kabari teman-temannya lewat telepon seluler.

"Ya sudah. Buang saja ke sampah," kata Tainen. Sambil  membanting kartu gaplek ke meja marmer segi empat berwarna putih.

"Tapi gue heran Bro."

"Heran kenapa?"

"Ini guci pecah pasti ada yang me lemparnya Bro. Aku yakin itu."

"Siapa menurutmu kira-kira?"

"Aku cari tahu dulu ya."

"Oke. Yang cepat cari tahunya. Sebentar lagi giliran kamu yang main."

Di pojokan pembatas ruangan ...

"Tunggu sebentar Non .."

Letnan Sayuti menunggu saat yang tepat untuk mengamankan sasaran mereka. Kali ini dia membisiki Rahman ...

"Sekarang giliran kamu Man."

"Siap Letnan ..."

Rahman mulai beraksi. Bergerak ke kanan. Lalu koprol ke kiri. Sudah berada persis di belakang lelaki berhidung betet itu.

"Hai!" Tegur Rahman.

Si pria menoleh kaget.

Praaak ...

Buuuk ...

Sebuah bogem mentah mengarah ke muka, disusul leher, sebelum mengenai paha dan terjatuh ke lantai.

Kraaak ...

Tak sadarkan diri.

Setelah diseret ke dapur, Letnan Sayuti cs bergerak naik ke lantai tiga. Kali ini mereka tidak lewat tangga. Tapi melalui lift.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar