Entar Ya (14)
Oleh Wak Amin
"APES Ki .." Kata Pak Kades. Keluar dari rumah makan dengan langkah gontai.
4L. Lelah, lesu, letih, loyo ...
"Mereka baru saja pergi Let," katanya kemu dian sambil melompat ke atas bak truk.
Diputuskan untuk menyusul Pak Bendo cs. Mr Clean menelepon pe tugas perbatasan untuk menghen tikan dan memeriksa setiap truk yang bakal melintas.
Untuk mengefisienkan pengejaran dan jumlah personil, yang dipasti kan ikut dalam pengejaran kali ini hanya Mr Clean, Letnan Susan, Pak Kades Marzuki dan Ki Doyok.
Selebihnya, warga Desa Kita Bahagia beser ta dua pengemudi truk (si sipit dan keriting) kembali ke tempat mereka masing-masing dengan menumpang mobil bus antar desa dan kota ...
Beberapa meter dari perbatasan ...
"Gimana Ki?" Pak Bendo melihat beberapa truk diperiksa ketat di pintu perbatasan.
"Jalan lain ada tidak?"
"Pak Jaya?"
"Sofan?"
"Ai ai sir," jawab keduanya serem pak.
"Adakah jalan lain yang kalian tahu?"
Pak Jaya dan Sofan berpikir sejenak ..
"Ada Bos ... Terus aja."
"Terus kemana? Awas ya kalau sampe ketangkep."
"Ke depan Bos."
"Depan mana. Di depan kita ada truk tau .."
"Kecil itu Bos. Biar aku yang nyetir," kata Pak Jaya.
Mengambil alih kemudi dari Pak Bendo.
Semua menunggu harap-harap cemas aksi Pak Jaya. Memaksa menerobos puluhan truk di depan atau justru berputar arah?
Sreeeut ...
Maju sedikit. Direm, lalu mundur beberapa meter. Dia belok kiri, me lewati samping truk yang berjejer.
Tanah rerumputan ...
Sssst ...
"Tenang saja Bos. Serahkan sama akulah."
Pak Jaya yakin bisa menemukan jalan pintas dimaksud.
Benarkah?
Benar ... Ada sebuah jalan berse mak di sebelah kiri. Jalanan ini jarang dilalui.
Selain gelap karena belum ada pe nerangan juga sangat sepi dan terkesan angker ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar