Entar Ya (17)
Oleh Wak Amin
Di simpang tiga ...
"Lurus, kanan atau kiri Ki Doyok?" Tanya Pak Kades Marzuki. Feeling dia ke kanan, karena takut salah, meminta saran dan pendapat yang lain lebih baik.
"Sebentar ..." Ki Doyok meminta izin turun dari mobil. Dia berdiri dekat pintu mobil sebelah kanan.
Dia berjongkok ...
Eheeem ...
"Lurus saja Pak Kades," kata Ki Doyok.
Sama gelapnya. Ke kiri gelap, ka nan juga gelap. Apalagi jalur lurus. Ingin rasanya belok kiri atau kanan, tapi buat apa?
"Kita kan ingin mengejar Pak Bendo dan kawan-kawan, bukan untuk ke luar dari tempat ini. Betul kan Ki?"
"Betul sekali apa yang dikatakan Mr Clean barusan Pak Kades. Firasat saya, mereka tempuh jalur lurus. Makanya saya usulkan lurus saja. Bukan ke kiri atau ke kanan."
"Reeem Pak Kades!" Teriak Letnan Susan.
Syiuuuut ...
"Anda lihat sesuatu Mr Clean?"
"Ya Let. Sepintas ..."
"Pak Kades tidak?"
"Enggak sempet Let," jawab Pak Kades. Kaget. Untung masih bisa ngerem mendadak.
Gimana kalau tidak?
"Enggak apa-apa juga Pak Kades. Alam mereka beda dengan alam kita. Kita manusia nyata, sementa ra mereka tidak nyata alias tidak kelihatan ..."
"Bisa disebut hantu kah Ki?" Tanya Letnan Susan.
"Bisa seperti itu. Yang pasti mereka itu akan terusik kalau kita berada di wilyah mereka."
"Apa ini wilayah mereka Ki?"
"Sepertinya begitu Mr Clean. Tapi tak usah cemaskan ... Ayo Pak Ka des, kita teruskan perjalanan kita."
Hi hi hi hi ...
Dari ranting pepohonan terdengar suara cekikikan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Pak Kades ingin mempercepat laju truk. Tapi karena gelap, meski ada lampu depan, kuatir menabrak po hon dan terperosok di lubang, laju truk tetap slow.
Keringat dingin membasahi muoa Pak Kades. Sementara Letnan Su san dan Mr Clean memilih berdoa agar terhindar dari gangguan mak hluk halus.
Ki Doyok?
Menguatkan hati Pak Kades, agar tetap kuat mengemudikan truk. Ja uhkan rasa takut.
Perjalanan masih panjang ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar