Minggu, 19 Desember 2021

Cerbung Album MAMA (6-TAMAT)

Cerbung ALBUM MAMA (6) Oleh aminuddin ID Pub : 8800179315466420 USAI salat Magrib dan santap malam, pintu kamarku diketuk dari luar. Kudekati pintu dengan penuh rasa ingin tahu, dan …. “Mama?!” Bermimpikah aku. Wanita yang berdiri di depanku saat ini adalah ibuku, yang telah meninggal dunia dua tahun yang lalu. Kupeluk erat dia. Ada sesuatu yang dia bisikkan di telingaku. “Teman-teman mama sudah menunggmu, Nak.” Katanya. Aku tercenung. Tak lama. Hanya beberapa menit. Lepas itu, setelah mengenakan busana muslimah kesukaanku, kami berdua menuju ruang depan samping kanan gedung tempatku bermalam. Tepuk tangan riuh terdengar. Kusalami satu-satu wanita teman ibuku. Aku kenal mereka sebenarnya, tapi cuma lewat buku sejarah dan cerita. Siapa mereka? Banyak. Tak bisa kusebutkan satu persatu. Yang kuingat cuma RA Kartini, Fatmawati, Ainun Habibie, Cut Nya’ Dien, Cut Mutia, Maria Walanda Maramis, Dew Sartika, Kristina Martha Tiahahu. Ny Siti Walidah Ahmad Dahlan, Nyi Ageng Serang dan Hajjah Rasuna Said. Kemudian juga kuingat Indira Gandhi, Benazir Butho, Ratu Elizabeth 1, Irene Juliot- Curie, Margaret Mead, Barbara Mc Clintock, Grace Brewster Murray Hopper, Mari Gaeppeat-Mayor, Ratu Makare Hatshepsut, Debora, Sappho, Aspasia, Cleopatra VII, BUnda Maria, Boadicea, St. Helena, Zenobia, Hypatia, Theodora, Eleanor dari Aquitaine, Ratu Tamara, Ratu Margaret, Joan dari ARC, Isabella I, Ratu Jinga, Emilie Du Chatelet dan Caroline Herschel. Menyusul Elizabeth Fry, Sacajawea, Maria Agustin, Charlotte Bronte, Emily Bronte, Ratu Victoria, Flo rence Nightingale, Lakshmi Bai, Jane Addams, Marie Curie, Alce Hamilton, Rosa Luxemburg, Julia Mor gan, Eleanor Roosevelt, Agatha Christie, Golda Meir, Mother Teresa, Anne Frank, Anna Freud, Suster Elizabeth Keny, Mary Kingslay, Clara Barton dan Louisa May Alcot. Kudipersilakan naik ke podium untuk menyampaikan sepatah dua patah kata, tentunya diawali tepk tangan yang meriah dan tiada henti selama kurang lebih lima menit. Inilah petikan uneg-unegku … “Lima ratus tahun sebelum masehi, Cariolan, seorang prajurit Romawi, memberontak kepada peme rintah masa itu. Cariolan adalah seorang prajurit yang besar sekali jasanya kepada Negara. Tetapi ia merasa kurang mendapat penghargaan dari pemerintah. Cariolan pernah memita suatu kedudukan dalam pemerintahan, namun permintaannya itu tidak dika bulkan, sebab tidak sesuai dengan kecakapan yang dimilikinya. Penolakan itu dianggapnya sebagai tind akan yang tidak menghargai dirinya yang telah cukup berjasa itu. Oleh karena itu ia memberontak. Pemberontakan yang dilakukan Cariolan sungguh menggelisahkan masyarakat dan pemerintah. Rakyat tidak tentram dan senantiasa merasa terancam oleh keganasannya. Pemerintah sudah kehabisan akal untuk menumpas pemberontakan itu. Tentara dan polisi sudah dikerahkan semuanya, tetapi Cariolan belum juga dapat ditaklukkan. Kemudian digelarlah musyawarah guna mencari akal untuk menangkap Cariolan. Akhirnya dalam musya warah itu timbul pikiran untuk meminta ibu Cariolan menasihati anaknya agar menghentikan perbua tan buruknya itu, sebab eah mengganggu ketentraman masyarakat dan negara. Ibu Cariolan meluluskan perminaan itu. Ia pergi menemui putranya. Cariolan dinasihatinya baik-baik, dan akhirnya dengan mudah Cariolan menyadari kesalahan dan keburukan perbuatannya itu. Cariolan kembali ke jalan yang benar, dan sejak itu ia meninggalkan jalan sesat yang telah ditempuhnya itu. Alangkah mudahnya mengamankan negara dari ancaman seorang pemberontak, dengan cukup me ngirimkan ibunya untuk menasihati si pemberontak. Betapa sukarnya kita memercayai peristiwa Cari olan ini bila kita lihat keadaan zaman yang telah kita alami sekarang ini. Sungguh banyak Cariolan abad ini di msyarakat kita sehingga pemerintah dengan segala daya dan usahanya tak dapat menghentikan perbuatan jahat mereka. Telah dicoba oleh pemerintah kita untuk menundukkan mereka dengan jalan menggunting rambut gon drong di tempat-tempat umum, menggunting celana-celana sempit di jalan umum, menggunting rok ke tat serta macam-macam hukuman lainnya. Tetapi ternyata setelah berubah malah semakin parah. Main ngebut terus berlangsung, pakaian mini tak berhenti dipakai, pelanggaran dan kejahatan susila tak kunjung lenyap. Sudahkah pemerintah kita meminta bantuan ibu para Cariolan itu? Telah berhati-hati pemerintah meminta bantuan para ibu, tetapi ternyata si ibu tidak mendapatkan telinga anaknya. Kata dan nasihat si ibu keluar bagaikan angin yang lalu, tanpa kesan perubahan. Maka lihatlah apa rahasia yang terjadi pada Cariolan dahulu. Cariolan adalah seorag yang masih mau menyediakan telinganya untuk mendengarkan kata-kata ibunya. Ia masih menaruh hormat dan khidmat kepada ibunya. Ibunya masih memliki wibawa teradap anaknya. Dan dengan wibawanya itu, Cariolan dapat kembali disadarkannya. Sesungguhnya kebejatan akhlak, keruntuhan moral dan budi, meningkatnya kejahatan di kalangan pemudapemuda tanggung, pelanggaran kesusilaan lainnya yang merupakan kemesuman-kemesuman dalam masyarakat kita ini berpokok pangkal pada ilangnya wibawa sang ibu. Akibatnya tidak ada lagi yang disegani sang Cariolan; tidak ada lagi yang ditaati dan dikhidmati, dan karenanya ia bebs berbuat segala macam keburukan. Bila wibawa sang ibu hilang, akan hilang rasa hormat dan khidmat si anak terhadap orang tuanya. Kata-kata dan nasihatnya tidak mendapatkan telinga, perintah serta larangannya tidak dihiraukan atau dira sakan anaknya sebagai penghalang untuk kemajuan dirinya, sebab bertentangan dengan nafsunya. Memang tepat sekali sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa akan kiamat, akan hancur dunia, bila ibu-ibu telah melahirkan majikannya. Ibu bapak yang telah memelihara dan mengasuhnya sejak ke cil telah dirasakan oleh anaknya sebagai bantuan atau perlakuan yang semestinya wajar sebagaimana halnya seorang khadam atau pelayan kepada majikannya. Tidak perlu lagi majikannya berterima kasih, justru memandangnya sebagai risiko dan kewajiban “seorang manusia yang mau menyediakan dirinya menjadi ibu atau bapak.” Bila demikian, apakah maksud dari kata-kata “surga di bawah telapak kaki ibu “ dan hadist yang me nyatakan “’uququl walidain’ atau durhaka kepada ibu bapak itu, yang pasti akan dibuktikan dengan siksaan sebagai akibatnya selama masih hidup di dunia alam fana ini? Penghormatan dan kedudukan yang diberikan kepada seseorang, sesungguhnya bersangkutan dengan tanggung jawabnya. Tanggung jawab itulah yang menentukan kedudukan dan penghormatan yang di berikan. Bila tanggung jawab tidak ada maka penghormatan dan kedudukan itu akan hilang dengan sendirinya. Demikian pula halnya kedudukan dan penghormatn yang telah diberikan Allah SWT dan Rasul-Nya ke pada sang ibu berdasarkan tanggung jawabnya , yang berkemampuan untuk meyahudikan, menasra nikannya, memajuzikannya, dan bahkan meng-cross-boy-kannya dan meng-cross-girl-kannya. Bila tanggung jawab itu sudah tidak dipikul lagi dengan jalan memberi contoh dan teladan kepada sang anak dan bimbingan yang wajar, maka kedudukan dan penghormatan yang diberikan itu dengan sendirinya i akan hilang. Gandhi, seorang pemimpin India yang terkenal, kala menyatakan penghormatan kepada ibunya per nah berkata, “ dari ibu saya yang buta huruf dan tidak pernah duduk di pergruan tinggi, saya mendapat pendidikan dan pengajaran untuk menjadi seorang warga negara yang baik.” Untuk para ibu yang bertanggung jawab atas kehormatan anak-anaknya, Islam memberikan kedudukan dan penghormatan yang tinggi.” (TAMAT) https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-8800179315466420 Sumber Bacaan: 1. Risalah Wanita oleh KHE Abdurrahman CV Sinar Baru Bandung, Cetakan I, 1988 2. Kisah-kisah Teladan oleh MB Rohimsyh AR Karya Agung Surabaya, Cetakan I, 2003 3. Petunjuk Membangun dan Membina Keluargs menurut Ajaran Islam oleh Sukamto Nuri, BA Al-Ikhlas Surabaya, 1981 4. Panduan Ibu Muslim oleh Sim Mikhbar Zahra Publishing House, Cetakan 2, 2008 5. Ibu, Dengarkan Aku Oley Dra V. Dwiyani 6. Elex Media Komputindo 2002 7.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar