Minggu, 19 Desember 2021
Cerbung Album MAMA (5)
ID Pub : 8800179315466420
Cerbung ALBUM MAMA (5)
Oleh aminuddin
LUSANYA ….
Aku membaca kisah berikutnya. Inilah kisahnya …
PADA zaman Rasulullah SAW masih hidup, karena kesal dan baru saja bertengkar, seorang laki-laki menghardik isterinya sambil keluar dari rumahnya.
“Kamu tidak boleh keluar kamar sebelum aku pulang.” Laki-laki itu pun berangkat meninggalkan isterinya unuk melakukan perjalanan ke luar daerah.
Sedangkan sang isteri, karena menaati perintah suaminya, selama kepergian laki-laki itu tidak berani keluar dari rumahnya. Semua keperluan sehari-hari dia beli dari dalam rumah. Untuk ke pasar saja ia terhalang oleh perintah suaminya sebelum berangkat .
Sudah dua hari laki-laki itu belum pulang. Isteri yang patuh itu hanya bisa menunggu dari balik pintu saja. Tiba-tiba, ketika hari hampirrr sore dan perempuan tersebut sedang termangu-mangu mengharap kan kedatangan suaminya, muncullah bayangan laki-laki dari jauh. Ia tengah berjalan cepat-cepat dan dengan tergopoh-gopoh menuju ke tempat perempuan tadi, dan ternyata adalah familinya yang tinggal di kampung tempat dia dilahirkan dan dibesarkan.
Karena bukan muhrim, meskipun laki-laki itu masih termasuk keluarganya, perempuan tersebut tidak berani membukakan pintu. Pantang bagi seorang isteri yang taat menerima tamu pria sendirian ketika suaminya tidak ada di rumah.
“Saya lihat engkau tergesa-gesa sekali. Ada kabar apa dari rumah?” Begitu tanya perempuan tadi setelah menjawab salam laki-laki yang baru datang itu.
“Bapakmu sakit payah,” kata laki-laki tersebut. “Engkau diharapkan segera datang karena ada pesan bapak yang akan disampaikan kepadamu.”
“Innalillah …,” pekik perempuan itu kaget.
Dia bingung bapaknya sakit payah. Satu-satunya orang tua baginya setelah sang bunda meninggal dunia beberapa waktu yang lewat. Dan orang tua ini agaknya ingin bertemu dengan si anak sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Namun ia terikat oleh larangan suaminya agar jangan keluar rumah.
Manakah yang harus diberatkan? Perintah suamikah atau harapan bapaknya?
Karena ia tida bisa memutuskan dengan ceroboh, maka ia minta tolong kepada utusan bapaknya itu.
“Coba kau tanyakan kepada Rasulullah, bapak sakit payah, sedangkan suamiku, sebelum berangkat, berpesan agar saya jangan keluar rumah. Apa perkataan Rasulullah, itulah yang akan saya kerjakan.”
Kemudian pergilan si utusan adi kepada Rasulullah SAW. Setelah diceritakan masalah itu, Nabi SAW berkata, “Sampaikanlah kepada fulanah agar dia taati perintah suami.”
Kembalilah si utusan kepada perempuan itu menyampaikan amanat Nabi. Maka pulanglah si utusan ke kampugnya dengan tangan hampa.
Malam itu fulanah tidur denga gelisah. Terbayang wajah bapaknya yang kurus dan ceking. Terngiang perintah suaminya yang harus dia taati. Ketika pagi-pagi ia terbangun, dengan harap-harap cemas menantikan kedatangan suaminya, agar bisa berangkat ke kampung setelah mendapat izin, sia-sia. Karena yang tampak muncul adalah laki-laki yang kemarin. Makin pucat fulanah.
“Jangan- jangan …”
Betul. Apa yang dikhawatirkan terjadi.
“Bapakmu meninggal dunia dengan tenang tadi malam,” demikianlah berita yang didengarnya dari utusan itu.
Menetes air mata fulanah sambil mulutnya menggumam, “Innalillah wa inna ilaihi roji’un …”
“Dan kalau kau ingin berjumpa, sekaranglah waktunya,” sambung si utusan.
“Tapi suamiku belum pulang,” jawab fulanah dengan sedih. “Coba tolong tanyakan kepada Rasulullah SAW, bagaimana pendapat beliau.”
Maka pergilah laki-laki itu menemui Rasulullah SAW. Begitu tiba kembali, fulanah buru-buru bertanya.
“Bagaimana?”
“Beliau berpesan agar engkau taat kepada perintah suami,” jawab utusan tersebut.
Sekali lagi si utusan pulang ke kampung dengan sia-sia.
Sehabis Zuhur, ketika fulanah tengah berdiri di balik pintu mengharap-harap kepulangan suaminya, si utusan datang kembali. Dari luar dia berkata, “ Bapakmu akan segera dimakamkan. Apakah kau tidak ingin melihatnya buat terakhir kali?”
Fulanah hanya meneteskan air mata sambil menggeleng.
“Pulanglah engkau, tanamkanlah jenazah bapak baik-baik. Aku tidak bisa hadir karena suamiku belum pulang juga.”
Hingga pagi esoknya suami fulanah belum juga pulang. Baru setelah menjelang sore tampak bayangan tubuh yng dinanti-nantikan itu dari kejauhan. Fulanah segera bersiap-siap. Badan rambutnya dia rapikan sementara masakan buru-buru dipanaskan kembali.
Begitu suaminya masuk, fulanah menyambut dengan tawa. Dibiarkan suami membersihkan badan, istirahat dan makan malam. Setelah itu barulah fulanah berkata:
“Bang, bapak saya kemarin meninggal dunia.”
Laki-laki itu tampak terkejut sekali.
“Innalillah …,” serunya.
“Dan kau sudah melawat?”
Fulanah menggeleng.
“Tidak Bang, karena engkau berpesan sebelum pergi agar saya tidak keluar rumah sebelum engkau datang,” jawab isteri yang taat itu dengan sabar.
“Astaghfirullah ..” seru si suami menyesal.
Dia merasa bersalah telah menghamburkan larangan dengan gegabah karena menuruti ajakan hawa marah. Maka pada kesempatan lain dia menghadap Rasulullah SAW menyampaikan penyesalannya.
Nabi berkata:
“Kali ini engkau tidak berdosa,karen tidak sengaja dan sudah menyesal. Itu adalah pelajaran bagimu agar dalam keadaan marah sekali pun jangan kau patuhi dorongan hawa nafsu. Sedangkan isterimu, dia betul-betul calon penghuni surga karena taatnya kepada suami.” (bersambung)
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-8800179315466420
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar