Minggu, 19 Desember 2021
Novel Sayonara (7)
Novel Sayonara (7)
pub-8800179315466420
AKHIR cemas. Dia kembali mendesak Awal ganti posisi nyetir. Tapi ditolak Awal. Dia masih kuat.
"Tenang saja bro," ucapnya sambil meringis menahan sakit.
"Tapi lihatlah mukamu. Mulai berdarah," kata Akhir.
Awal cuma tertawa.
"Sudah biasa bro. Jangan kan muka. Kaki gua aja hampir potel* masih kuat berjalan.
Tiba-tiba Amang mengaduh kesaki tan. Tangan kanannya terkena pe luru. Senjata di tangan hampir ter lempar ke luar mobil.
Panik seketika.
Lalu apa yang terjadi kemudian?
Trio Friends ini nekat keluar dari mobil. Mereka lalui jalan setapak yang di kanan kirinya ditumbuhi ilalang.
Tak seberapa lama dua petugas patroli turun dari mobil. Mereka telusuri jalan setapak sambil me minta bantuan rekan mereka untuk melakukan penyergapan lewat udara.
Sementara Awal cs terus berlari, sebuah helikopter diluncurkan. Mulai mengelilingi kawasan bukit perbatasan.
"Kita sembunyi disini dulu," bisik Akhir.
Di sebuah batu besar. Meski belum cukup aman. Karena masih bisa diketemukan.
Paling tidak bisa atur nafas, berpikir dan berembuk.
"Gimana kalau kita telepon bos saja?" Saran Amang. " Dalam keadaan terdesak begini mungkin bos bisa bantu kita."
"Aku setuju,"kata Akhir.
"Kamu Wal?"
Awal tak menjawab. Dia coba utak Atik HP. Semula duduk, lalu berdiri. Duduk lagi dan berdiri lagi dengan bersandar di batu.
Sepertinya dia kesal.
"Gimana Wal?" Tanya Akhir penasa ran.
Mulai harap-harap cemas.
"Enggak ada sinyal," jawabnya. Masih kesal dan terlihat mulai cemas.
Apalagi dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara helikopter. Makin lama makin kencang kedengarannya.
Persis menuju ke tempat persem bunyian mereka saat ini.
Gawat. Kemana lagi hendak sembunyi.
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-8800179315466420
___________
* Potel = putus
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar