Kamis, 24 Januari 2019

Pintu Surga Terbuka (2)

Pintu Surga Terbuka (2)
Oleh aminuddin

FATIMAH kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu. Sehingga Hasan dan Husin, yang biasanya tidak begitu senang berada di rumah orang, kali ini tampak asyik bermain-main.

"Maaf ya, saya tidak bisa menemani Fatimah duduk. Sebab saya sedang menyiapkan makan buat suami saya," kata Mutiah sambil sibuk di dapur.

Mendekati tengah hari, masakan itu sudah siap semuanya. Lalu ditaruh nya di atas nampan. Mutiah mengambil cambuk, cambuk itu pun ditaruhnya di atas nampan. Maka Fatimah bertanya, "Suamimu kerja dimana?"

"Di ladang."

"Penggembala?"

"Bukan. Bercocok tanam."

"Tapi mengapa kau bawakan cambuk juga?"

"Oh itu," sahut Mutiah seraya tersenyum.

"Cambuk itu saya sediakan untuk keperluan lain. Maksud saya begini. Kalau suami saya sedang makan, maka akan saya tanyakan apakah masakan saya cocok atau tidak. Kalau dia bilang cocok, tak kan terjadi apa-apa. Tapi kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya agar dicambuknya punggung saya sebab tidak bisa menyenangkan hati suami."

"Atas kehendak suamimukah kau bawa cambuk itu?"

"Oh, sama sekali tidak. Suami saya adalah orang yang pengasih. Ini semua semata-mata kehendak saya agar jangan sampai saya menjadi isteri yang durhaka kepada suami."

Mendengar penjelasan ini, Fatimah lantas permisi pulang. Dalam hati ia berkata, pantas kalau Mutiah, perempuan yang masuk surga buat pertama kali, lantaran baktinya kepada suami begitu besar dan tulus.

Dan perilaku kesetiaan semacam itu bukanlah lambang pembudakan wanita oleh kaum pria. Malah justru sebaliknya, merupakan cermin bagi citra ketulusan dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan perilaku yang sama.


















____
KH Abdurrahman Ar-Roisi, '30 Kisah Teladan (1)', cet. 3, PT Remaja Rosdakarya Bandung


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar