Rabu, 02 Januari 2019

Rumayok (3)

Rumayok (3)
Oleh Wak Amin

PRIIIT ...

"Stop. Stop!" Bakas tuha butungkok modoki karumunan jolma. Daud sai pandok bubalah mak jadi ngapiting pungu si rasah.

"Sudah. Sudah ada apa ini. Apa ka lian tak malu dilihat orang ba nyak ini. Kalian ini bukan anak kecil lagi yang sebentar-sebentar berkelahi."

"Dia yang mulai Pak," cawadu Ha san.

"Mobil kami mau lewat dia hadang. Sudah saya klakson. Tetap saja tak mau minggir. Dia malah ngengkeng dan menantang saya, Pak," cakdu Daud.

"Betul apa yang mereka katakan Pak Bendot?"

"Betul Pak. Tapi saya lakukan itu karena situasi Pak."

"Maksud Pak Bendot?"

"Bapak kan tau. Di kalangan orang ramai. Jalan sempit, eeeh main kla kson mereka Pak. Suaranya itu me ngganggu kupingku Pak. Turun apa. Ya minimal buka kaca spion, lalu bilang 'bapak-bapak, ibu-ibu, num pang lewat'. Kan beres. Lagian bu kan saya sendiri yang menghalangi jalan. Warga lain juga begitu. Beda nya begitu diklakson mereka buru-buru minggir, saya tidak."

"000000 mak itu," cawa tiyan sai nuntunsa.

Maha sarontak ...

Daud totop mak katarima. Ya mak kung puas kintu mak motelko gigi bakas rasah honjona.

Hasan ngisonkona. Qosim rik Roni juksina hoda. Tiyan tolusa ngajak Daud kuruk mobil muluh.

Dang sopok balak ...

Lapahsa lokok jawoh ...

Makkung api-api ...

Hasan modoki tukang anjago park ir. Ya kilu mahaf. Awalna, si bakas rasah mak haga bakdu ngaraso ya sai bonor.

"Pak Bendo. Terimalah maaf mere ka. Mereka tulus meminta maaf. Sa ya minta bapak, dari hati yang pa ling dalam ini, mau memaafkan mereka."

Pak Bendot lokok rokob.

"Pak Bendot. Ayolah!"

Honing sangarobok ...

Radu sina ...

Plak  pak  plak  pak  ...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar