Minggu, 21 Oktober 2018

Kisah di Balik Berita (17)

Kisah di Balik Berita (17)
Oleh : aminuddin



Harus Banyak Baca

SELEMBAR kertas putih HVS itu dilipat-lipat, hampir mirip membentuk mainan pesawat anak-anak. Lalu kertas itu disobek perlahan-lahan dengan arah vertikal.

Antara kertas yang satu dan yang lainya tidak terputus-putus. Lembar sobekan kerta itu kira- kira setengah centi meter saja.

Hampir lima menit, Ny. Erny Tallo, menyobek kertas itu hingga selesai.

Kertas yang ada diuraikan satu persatu, membentuk satu tali kertas putih panjang utuh. Tali kertas itu membentuk seperti lingkaran yang mampu menampung empat pengurus IKWI NTT dalam posisi berdiri.

Permainan sekilas selembar kertas itu mengandung makna para ibu harus memiliki kemampuan untuk bisa mengelola pendapatan suami.

"Satu kertas bisa mengikat empat ibu rumah tangga, satu sumber pendapatan suami harus bisa memenuhi kebutuhan semua anggota yang berada dalam rumah tangga," ujar Nyonya Erny.

Ada banyak kiat yang ditempuh pa ra ibu untuk mengelola keuangan rumah tangga. Ada yang langsung menabung ke bank- bank pilihan, sesekali baru diambil bila kebutu han mendesak. Ada juga yang menyimpan di lemari di rumah.

Cara menyimpan di lemari itu, kata Ny. Erny, selain mudah diperguna kan, pendapatan bulanan itu tidak bisa ditabung karena akan habis dipakai.

Untuk itulah, setiap ibu rumah tang ga harus pandai-pandai mengelola keuangan rumah tangga agar tidak defisit setiap bulan.

Itulah kiat-kiat yang dilontarkan Ke tua Tim Penggerak PKK NTT, Ny. Erny Tallo, saat melakukan dialog dengan Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) NTT di rumah ja batan Gubernur NTT, Sabtu pagi (10/5/2008) silam.

Hari itu, Ibu Gubernur NTT itu dikun jungi Pengurus IKWI NTT dipimpin Ny. Florida E Putra (ketua) dan Ny. Valentina R Boekan Kleden (sekretaris), bersama para pengurus lainnya.

Dialog yang berlangsung dua jam itu diwarnai penuh tawa. Derai tawa itu berawal dari Ny. Erny yang me ngisahkan suka dukanya menjadi ibu muda memasuki rumah tangga baru.

Bersuamikan Piet A Tallo, SH, ibu tiga anak ini harus mengirit uang untuk bisa makan dan minum selama sebulan.

Meski pendapatan suami pas-pasaan, Ketua Dekranasda NTT itu harus membagi se'i, makanan khas NTT yang terbuat dari daging sapi, itu diukur dengan jari.

Cara itu untuk menggenapi kebu tuhan gizi anak-anak dan suami nya. Hal-hal kecil, namun sangat terkesan untuk mempertahankan kehidupan rumah tangganya yang harmonis.

Ny. Erny yang lebih banyak menggu nakan sistem kerja koordinasi itu memberi contoh lain tentang kiat-kiat sederhana dalam kehidupan rumah tangga.

Makaya, dia menyarankan kepada pengurus IKWI sebagai istri seorang wartawan wajib mengetahui lebih awal berita apa yang ditulis oleh para suami.

Sikap ingin tahu tentang berita ya ng ditulis suami, katanya, bukan merupakan sikap intervensi istri terhadap pekerjaan suami.

Paling tidak, istri harus punya wa wasan tentang apa saja yang men jadi tanggung jawab suami.

Selain menambah wawasan, istri juga akan lebih memahami seluk beluk pekerjaan suami sebagai seorang wartawan yang bekerja sejak pagi hingga malam hari.

Istri seorang wartawan juga di tuntut untuk rajin membaca. Bila masih sibuk dan tidak sempat membaca koran, berita yang ada dikliping untuk bisa dibaca kapan saja.

Mantan Ketua Dharma Wanita Kan tor Dispenda NTT ini juga membagi pengalamannya dalam mengelola keuangan rumah tangga.

Ia menyarankan untuk hidup de ngan pendapatan suami yang di peroleh setiap bulan.

"Para ibu yang tergabung dalam IKWI harus bisa mengelola penda patan suami. Jangan mengikuti keinginan saja, tetapi prioritaskan apa yang menjadi kebutuhan," ujar Ny Erny.





___

- Pos Kupang edisi Selasa, 13 Mei 2008, halaman 3

-  Pwintt.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar