Selasa, 30 Oktober 2018

Kisah di Balik Berita (35)

Kisah di Balik Berita (35)
Oleh aminuddin




Profesi yang Hebat


SUATU hari saya menangis ketika melayat ke seorang teman warta wan yang meninggal dunia. Sesu atu yang sebenarnya jarang saya alami.

Saya menangis bukan karena saya punya hubungan yang sangat dekat  dengan wartawan ini karena sejujur nya saya justru tidak terlalu menge nal beliau. Kenal sebatas sebagai teman satu profesi dan satu wila yah liputan.

Yang membuat saya menangis ka rena ketika melayat itu saya menja di benar-benar takut tentang masa depan anak-anak saya. Anak-anak wartawan.


Wartawan yang meninggal itu  ber nama ervin, nama lengkapnya saya juga tidak tahu. Beliau jauh lebih senior dari saya karena sudah puluhan tahun menjadi wartawan sebuah media cetak yang berbasis di Surabaya.

Meninggal dalam umur yang belum terlalu tua yakni sekitar 50 tahun karena sakit asam urat dan diabe tes  yang dia derita cukup lama.


Ketika melayat itu saya benar-benar terkejut dan hampir tidak bisa per caya dengan apa yang saya lihat.

Bagaimana seorang yang telah pu luhan tahun menjadi wartawan, ya ng sering disebut sebagai sebuah profesi yang cukup hebat,  ternyata secara ekonomi masih sedemikian memprihatinkan.

Rumah yang ditinggalkan belum lagi selesai dengan sempurna. Bah kan kabar yang saya dengar, mas Ervin ini tidak lagi bisa mem biayai pengobatan hingga akhirnya hanya dirawat di rumah sampai dia meng hembuskan nafas terakhirnya.

Usai melayat, saya bilang sama seorang teman yang juga warta wan, bahwa Mas Ervin adalah pot ret suram dari seorang wartawan.

Profesi yang selama ini begitu he bat ternyata tidak menjamin kehidu pan ekonomi seseorang menjadi lebih baik.

Teman yang saya ajak bercerita itu sempat mengingatkan saya untuk tidak berfikiran materialistis deng an melihat segala sesuatu dari sisi uang dan kekayaan.

Mungkin saja saya materialistis, tetapi apa iya tidak boleh berfikir semacam itu?

Wartawan juga punya anak istri yang butuh uang. Anak istri warta wan jelas tidak mungkin dihidupi dengan idealisme yang sering di gembar gemborkan sebagai modal utama bagi seorang wartawan.

Cerita tentang Mas Ervin sebenar nya hanya satu kejadian pahit yang sering ditemui dan dialami oleh pa ra jurnalis, khususnya yang berkai tan dengan ekonomi keluarganya.

Suatu hari saya juga melayat ke teman wartawan lain yang mening gal karena penyakit jantung.

Dulunya, teman ini adalah seorang wartawan koran daerah yang terke na rasionalisasi. Karena bingung tidak tahu harus bagaimana, akhir nya teman satu ini kemudian men jadi wartawan bodrex.

Dengan media yang tidak jelas apa namanya, teman ini datang dari sa tu acara ke acara lain untuk menca ri amplop.

Saya tahu teman satu ini sangat terpaksa dan penuh beban ketika harus menjadi bodrex. Dia seringkali berusaha menghindar ketika bertemu dengan teman-teman wartawan yang lain.

Pastilah dia malu dengan kondi sinya sekarang ini. Sehingga memi lih untuk menghindari teman-teman saat ketemu pada sebuah acara.

Saat meninggal, kondisi teman saya ini memang lebih baik dari Mas Ervin. Paling tidak terlihat dari rumahnya yang sudah cukup baik.

Tetapi, jika dinilai dari waktu pulu han tahun dia juga jadi wartawan, saya pikir masih jauh dari kepatu tan. Anak-anaknya juga masih kecil dan tidak tahu bagaimana nasib pendidikannya nanti.

Banyak cerita menyakitkan tentang kehidupan wartawan yang dinilai sebagai profesi penting dan konon disegani banyak pihak.

Suatu saat saya juga mendapat kabar yang bikin miris..Ada teman wartawan lain yang digugat cerai oleh istrinya.

Setelah muncul masalah keluarga tersebut, teman wartawan itu akhir nya tinggal di kos-kosan. Mobil ya ng biasanya digunakan kerja sehari-hari tidak lagi digunakan.

Informasi yang saya dapat ternyata hampir seluruh harta yang dimiliki keluarga ternyata dibeli oleh istri nya. Mungkin karena sadar diri, te man itu akhirnya pergi dari rumah hanya dengan membawa sedikit barang-barangnya.

Untuk hal yang lebih sepele, ada  seorang wartawati sepatu yang digunakan untuk bekerja sudah jebol seminggu terakhir.

Dengan nada yang jauh dari ber canda teman itu mengeluh sama sekali tidak punya uang untuk mem beli sepatu. Padahal teman satu ini belum lagi mempunyai anak.

Dalam kondisi seperti itu teman saya ini masih bisa mengatakan nasibnya masih mending karena cuma tidak bisa beli sepatu.

Temannya lebih tragis lagi, karena ada yang tidak bisa beli susu buat anaknya.

Masih berkaitan dengan wartawati, dulu teman sekantor saya sesama koresponden tapi lain wilayah harus cuti karena hamil.

Agak berbeda, koresponden di me dia ini tidak dibayar dengan gaji per berita tetapi ada gaji tetap perbu lan.

Tetapi statusnya tetap bukanlah karyawan tetap. Anehnya, ketika cuti hamil itu ternyata teman ko responden ini gajinya tidak dibayar kan.

Artinya, selama tiga bulan itu pula dia tidak mendapat penghasilan. Padahal bisa dibayangkan besar nya kebutuhan orang melahirkan. Tetapi bukanya mendapat bantuan, gaji justru dihentikan.

Saya sendiri harus bersyukur deng an kondisi yang ada sekarang ini. Bisa memiliki sebuah rumah seder hana, meski juga harus diakui seba gian besar merupakan bantuan dari orang tua.

Karena anak-anak saya masih am at kecil dan tinggal di daerah pede saan, saya juga memberanikan diri berhutang untuk membeli mobil  seharga Rp15 juta.

Bayangkan sendiri bagaimana bentuk mobil seharga itu ...

Tetapi bukan berarti saya tidak per nah mengalami masa sulit menjadi seorang wartawan. Bahkan pernah suatu hari saya benar-benar tidak punya uang untuk membawa anak saya yang sakit ke dokter.

Sambil menggendong anak yang sakit saya menangis dan terus ber dzikir. Alhamdulillah, esok harinya anak saya malah sembuh.

Karena tidak punya uang, saya juga pernah menjual polis asuransi pen didikan anak saya dan menjual komputer dan kamera yang menjadi alat utama kerja saya.

Tentunya tidak adil jika saya menye but bahwa apa yang saya tulis ada lah gambaran seluruh wartawan.

Tidak semua wartawan demikian tentunya. Ada juga wartawan yang cukup makmur dengan kehidupan yang boleh dikatakan mewah.

Bahkan ada teman koresponden yang bisa memiliki beberapa mobil yang dia sewakan ...

Tetapi tentu jumlahnya juga pasti lebih sedikit dari yang apes seperti yang saya ceritakan tadi.

Meski kadang saya sendiri tidak tahu bagaimana cara menjadi wartawan yang makmur itu ..

Orang sering melihat dengan men jadi wartawan semua persoalan bisa lebih gampang diselesaikan.

Biasanya wartawan mempunyai banyak hubungan baik dengan orang-orang penting dari pejabat hingga pengusaha yang tentu menjadi akses tersendiri bagi wartawan.

Bahkan wartawan bisa dengan mu dah mendapatkan proyek dari seo rang pejabat.

Sekali lagi itu ada benarnya ....

Tetapi sekali lagi pula tidak semua bisa memanfaatkan akses itu. Bisa jadi karena pejabat yang cukup baik sehingga tidak bisa diajak kolusi, atau wartawannya yang memang tidak mau atau tidak tahu cara memanfaatkan akses itu.

Seseorang yang bukan wartawan tetapi dia tahu benar tentang warta wan justru sering curiga bagaimana seorang wartawan bisa kaya.

Contoh kecil yang menggelikan pernah terjadi pada saya. Suatu hari, sebut saja Momon, salah satu karyawan bagian Humas di UGM tanya-tanya tentang mobil saya.

Kebetulan waktu itu saya baru saja cerita kalau habis mengganti ban mobil seharga Rp15 juta yang saya ceritakan tadi.

Momon ini tanya pada saya apa mobil milik saya, dengan iseng saya jawab Honda Jazz.

Beberapa hari berikutnya, ada te man jurnalis lain yang ketemu saya dan bercerita kalau baru saja ngo mongin tentang saya dengan si Momon.

Menurut teman saya, Momon mengaku terheran-heran darimana saya dapat uang untuk membeli Honda Jazz.

Saya tertawa terbahak-bahak ..

“Hanya orang bodoh percaya ada wartawan punya mobil bagus,” kata saya waktu itu.

Nasib yang belum baik tentang wartawan sebenarnya sudah bukan rahasia lagi. Bahkan kondisinya justru semakin tidak baik.

Teman saya yang sudah berpuluh-puluh tahun jadi wartawan pernah cerita pada saya kalau sebelum tahun 1997, gajinya lebih tinggi dibanding dengan PNS golongan III.

Tetapi sekarang, dengan golongan I pun hanya beda tipis. Artinya, sela ma bertahun-tahun tidak ada peru bahan atau kenaikan gaji yang diterima.

Seingat saya, sejak menjadi warta wan dari tahun 2000, saya hanya sekali merasakan kenaikan gaji. Itupun karena ada penambahan tugas bagi saya.

Kebetulan waktu itu koran tempat dimana saya pernah kerja butuh tenaga redaktur untuk ditempatkan di daerah, karena ada suplemen yang harus digarap daerah.

Waktu itu saya yang dipilih, akhirnya mendapat tambahan gaji Rp 200 ribu menjadi Rp 800 ribu. Selain itu tidak pernah merasakan kenaikan gaji.

Bahkan meski kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah terjadi tiga kali dengan tingkat kenaikan yang luar biasa tinggi, gaji juga tetap tidak naik.

Sesungguhnya bukan kabar baru bahwa gaji wartawan di Indonesia masih sangat rendah. Hanya sedikit media yang boleh dikatakan wartawannya makmur.

Sebagian yang lain masuk kategori lumayan, dan sebagian besar yang lain masuk kategori mempriha tinkan.

Lalu sebenarnya berapa gaji yang layak untuk seorang jurnalis?

Jawaban pertanyaan ini tentu akan sangat sulit untuk dicari jawaban nya. Tetapi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada tahun 2007 pernah menyampaikan pernyataan kepada pemerintah bahwa gaji mi nimal yang bisa dikatakan layak di terima oleh wartawan adalah Rp 3,1 juta.

Saya sendiri tidak tahu secara pasti angka itu didapat dari mana. Tetapi sepertinya angka tersebut cukup rasional karena AJI menyebut jum lah itu adalah take home pay, bukan gaji pokok.

Dewan Pers sendiri juga menyata kan setuju dengan angka yang di sampaikan AJI tersebut. Bahkan Leo Batubara, salah satu anggota dewan pers mengatakan pihaknya akan menyusun sebuah peraturan yang mengatur soal gaji wartawan.

Dan jika perusahaan media tidak mampu menggaji wartawan sesuai aturan maka akan diberi sanksi.

Sebuah pernyataan menyejukkan, tetapi kalau mau jujur tidak banyak wartawan yang yakin hal itu akan menjadi kenyataan.

Sebuah mimpi besar jika aturan itu akan ada. Kalaupun ada, aturan itu pasti nyaris tidak akan bisa diberlakukan.

Dengan minimnya penghasilan ya ng diterima seorang wartawan ke rap kali mencari tambahan pengha silan dengan berbagai cara.

Ada yang sembari bekerja mereka berjualan pulsa, ada pula yang ber jualan baju, kue atau yang paling keren biasanya jadi dosen atau membantu penulisan buku.

Entah apakah itu kemudian meng gangu profesionalitas seorang war tawan atau tidak saya juga tidak tahu.

Seharusnya kalau mau profesional memang tidak boleh nyambi-nyam bi semacam itu. Tetapi akan sangat keterlaluan jika ada larangan semacam itu sementara wartawan tetap seperti orang lain yang menginginkan kehidupan yang lebih baik.

Saya pernah dibuat sakit hati ada seorang teman yang bercerita keti ka dia mengeluhkan gajinya yang sangat minim dengan atasan, ja waban yang diterima dari sang bos sangat tidak masuk akal.

Si atasan bilang resiko menjadi wartawan itu ya gajinya rendah. Kalau tidak mau gaji yang rendah ya jangan jadi wartawan.

Pernyataan macam apa itu?

Sebenarnya problem rendahnya penghasilan bukanlah milik kelom pok wartawan semata. Hampir seluruh buruh di negeri ini masih mengalami hal seperti itu.

Tetapi saya pikir, jawaban yang lebih bijaksana masih lebih banyak daripada pernyataan yang sangat menyakitkan tersebut.

Tentu tidak adil jika saya tidak me nyebutkan ada juga wartawan yang sukses hingga karir tertinggi seba gai jurnalis.

Karni Illyas, Saur Hutabarat, Andi F Noya, Suryopratomo, Goenawan Mu hammad, Rosiana Silalahi, Uni Lu bis, dan lain sebagainya adalah nama-nama yang berhasil mencapai jenjang tertinggi di dunia pers.

Biar semakin adil, kalau saya me nyebut Mas Ervin sebagai potret suram seorang jurnalis, maka orang-orang itu adalah potret cemerlang seorang jurnalis.







_____

www.jejaktapak.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar