Kisah di Balik Berita (30)
Oleh aminuddin
Kisah Jayson Blair, Wartawan yang Pernah Bikin Malu Dunia Jurnalisme Amerika
" MUNGKIN dia cuma wartawan. Tapi keblunderannya adalah nila yang meracuni jurnalisme dan ke percayaan pembaca di Amerika."
__
NEW York Times adalah salah satu koran terbesar di Amerika Serikat. Bahkan, dianggap koran paling ter kemuka di negeri Paman Sam tersebut.
Media cetak yang didirikan oleh Adolph Och itu banyak melahirkan wartawan-wartawan hebat. Para jurnalis banyak yang mendapat Pulitzer Award, salah satu penghargaaan bidang jurnalistik yang paling bergengsi di Amerika.
Bahkan di antara kebanyakan koran di Amerika, New York Times paling banyak meraih Pulitzer. Tentu ini jadi kebanggaan tersendiri.
Sebab Pulitzer dianggap salah satu pencapaian tertinggi para jurnalis di Amerika.
Siapa yang meraih Pulitzer, ia akan dianggap wartawan terhormat.
Namun dalam sejarah yang gemi lang, selalu saja cela atau setitik noda yang merusak belanga cerita. Pun dalam sejarah jurnalistik di Amerika.
Bahkan noda itu terjadi di New York Times, salah satu koran prestisius di negeri Paman Sam.
Jayson Blair, pemberi setitik nila yang merusak belanga kebesaran New York Times.
Tidak hanya New York Times yang merasa malu. Tapi ulah Jayson juga mencoreng dunia kewartawanan di Amerika.
Joyson sendiri adalah wartawan berdarah Afro-Amerika. Awalnya kinerja Jayson banyak yang memuji.
Terutama ketika dia menulis repor tasenya tentang kisah tentara pe rempuan bernama Jessica D. Lynch yang bertugas di Irak.
Tapi laporan memikat Jayson ten tang Jessica mulai dipertanyakan ketika sebuah surat kabar di Texas Amerika mencurigai karya Jayson adalah jiplakan atau hasil plagiat.
Kantor redaksi New York Times pun geger. Tim editorial mereka kemudi an melakukan penyelidikan inter nal.
Hasilnya ternyata benar, karya Jay son adalah jiplakan. Ia tak pernah mewawancarai Jessica atau keluarganya.
Ternyata tak hanya sekali Jayson berbuat curang dalam meracik laporan jurnalistiknya.
Ada beberapa berita lainnya yang juga ditulis dengan cara curang. Misalnya saat Jayson menulis tentang profil Roger Groot, seorang profesor hukum dari Universitas Washington.
Secara serampangan Jayson
menggambarkan begitu saja sosok si profesor. Setelah diselidiki, Jayson ternyata hanya melakukan wawancara via telepon tanpa berbicara tatap muka dengan si profesor.
Tapi dalam tulisannya, Jayson seolah-olah bertemu langsung dengan si guru besar tersebut.
Berita berbau fiksi lainnya yang ditulis Jayson adalah laporannya tentang Robert J Salemo, Kepala Keuangan Museum Benda Tradisional Amerika atau American Craft Museum.
Ternyata Jayson tak pernah ber temu dengan Salemo. Dan tak pernah mewawancarainya.
Perbuatan Jayson terungkap, setelah Salemo melayangkan protes. Tentu saja, itu menggemparkan New York Times.
Padahal koran tersebut sangat menjunjung tinggi fakta. Bagi koran tersebut, memanipulasi fakta adalah kejahatan terbesar. Apalagi sampai berbohong.
Pada 1 Mei 2003, Jayson mengundurkan diri dari New York Times.
Kisah tentang Jayson layak direnungkan. Jadi bahan pelajaran berharga bahwa kita harus hati-hati dalam mengabarkan informasi.
Apalagi di musim hoax seperti sekarang ini. Verifikasi berulang kali manakala kita mendapat in formasi, terlebih bila info itu sangat sensitif dan bisa memicu pro kon tra.
Jangan asal sebar, apalagi ditam bahi kebohongan lain ...
_____
Boombastis.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar