Dua Menara (15)
Oleh aminuddin
DUA jam kemudian ...
"Tos. Lari!" Bisik Brewok saat sebuah se peda motor berhenti di depan rumah Bu Aida.
Dua orang petugas berseragam tu run dari motor. Keduanya masuk pekarangan sebelum mengetuk pintu rumah.
Firdaus bergegas keluar dari kamar dan membuka pintu ...
Ngeooong ...
Haaah!
Bikin kaget. Karena Puspus melom pat ke tangan seorang petugas.
"Maaf Pak. Begitulah dia kalau ada tamu. Apalagi tamu itu baru dia ke nal," kata Firdaus sambil meminta kucing kesayangan Lia itu turun da ri tangan polisi kurus tinggi itu.
Sementara ketiganya berbincang sejenak di ruang tamu, Brewok dan Pelontos bersegera angkat kaki dari warung kelontongan tempat dima na mereka 'nangkring' tadi.
Sempat 'ngadat', motor yang dike mudikan Brewok itu melesat lam bat menuju pintu gerbang lorong dekat pasar besar itu.
Dua polisi tadi mengejar. Hanya da lam waktu kurang dari lima menit sudah berada satu meter di bela kang sepeda motor bebek itu.
Merasa dikejar, dan makin lama ma kin dekat, sepeda motor oleng, dan masuk parit. Kena sangkar ayam. Berisik jadinya.
Beberapa ekor ayam mengamuk se belum lepas, keluar dari kandang. Sang pemilik marah. Dia mengejar Brewok dan Pelontos yang ngacir menuju pasar.
Terjadi kejar-kejaran. Pasar jadi ri uh. Pedagang dan pembeli kompak bertepuk tangan menyemangati sa ng pemilik ayam agar lebih cepat berlari.
Traaang ...
Sebuah kaleng kerupuk terjatuh dari gantungan di salah satu kios kare na tersentuh bahu kiri Brewok. Pe nyewa kios marah.
"Dasar tak punya mata," kata wani ta penyewa kios sambil berkacak pinggang.
"Tutus saja Bu kepalanya," teriak laki-laki berhidung pesek sesama penyewa kios.
"Kejar saja Bu," teriak yang lain.
"Biarkan sajalah Bu. Percuma me ngejar mereka," uja bapak berkaca mata minus.
Rame-rame di kios. Dua polisi tadi mendekati penjual ikan.
"Lewat sana Pak," katanya menun juk ke sebelah kanan. Jalan seta pak untuk keluar dari pasar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar