Dua Menara (16)
Oleh Wak Amin
"Cepat Toooos!"
Pelontos, sambil menahan sakit di kaki kanannya, berdua Brewok ber lari menuju parkiran sepeda dan motor.
Ada seorang ibu memarkirkan sepe da motornya di depan toko mainan anak-anak. Dia lupa mengambil kun ci kontaknya karena terburu-buru memenuhi permintaan anak perem puannya untuk membeli boneka.
Secepat kilat dibawa kabur Brewok menuju jalan raya. Si ibu, setelah se lesai membeli boneka buah hatinya, terkejut setelah melihat sepeda mo tor kreditannya lenyap.
"Tolong .. Tolong. Kemana motorku ..."
Terisak-isak menangis, disaksikan para ibu yang baru pulang dari be lanja keperluan dapur.
"Iya Buk. Bagaimana ini. Kredit be lum lunas. Motor hilang," kata si ibu.
"Sabar Buk ya. Namanya juga musi bah," nasehat ibu berambut keriti ng.
"Mungkin sudah rezeki si maling," sahut ibu berambut panjang.
"Lapor polisi saja Buk," usul ibu berbibir tebal.
Kebetulan ada polisi mendekati me reka. Si ibu yang kehilangan motor segera melaporkan kejadian yang menimpanya barusan.
"Tolong Pak Polisi ya," pinta ibu pe milik sepeda motor.
"Insya Allah Bu. Sekarang kami akan mengejarnya, kata polisi berhidung mancung.
Reeen ....
Reeen ...
Si pemilik ayam hendak menyusul, namun dicegah teman-temannya se sama pedagang ayam.
Di dekat pom bensin ...
Greeedek ...
Geredrek ..
Habis bensin.
"Kampret. Mana bokek, habis ben sin pula," ucap si Brewok sambil menutup kembali tutup tempat mengisi bensin.
Praaak ..
Kesal, jok motor jadi sasaran. Di tutup dengan keras sehingga me nimbulkan suara gaduh, menga detkan orang yang lalu-lalang di trotoar jalan.
Sssst ...
"Kita isi saja sekarang," bisik Pelontos
"Bayarnya?"
"Dengan ini," kata Pelontos sambil memperlihatkan kepalan tinjunya. Tertawa tapi tidak sampai lebar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar