Dua Menara (19)
Oleh Wak Amin
MINGGU pagi ...
Cerah dan berawan ..
"Itu dia!" Tunjuk Brewok pada Dul Betok dari balik jendela mobil yang sedari tadi menguntit Firdaus lari pagi bersama rombongan remaja lain di trotoar sebuah taman.
"Tunggu saatnya!" Kata Dul Betok. Dia memberitahu Bos Husin sasa ran sudah di depan mata.
"Sabar Bos."
"Oke. Sabar, asal dapat kabar, dia terkapar ..."
"Beres Bo," jawab Dul Betok.
Dia meminta sopir pribadinya mene pi sebentar.
Ssssst ...
"Kita lihat dulu. Kemana dia ber pu tar," bisik Dul Betok pada Brewok dan Pelontos.
Kepingin istirahat, Firdaus duduk di kursi trotoar taman. Dia membiar kan teman seusianya berlari mengi tari taman.
"Dekati dia!" Perintah Dul Betok. Per sis di depan Firdaus yang serius me ngutak-atik hape, Dul Betok turun dari mobil.
Tanpa basa-basi lagi, Dul Betok hu jamkan belati ke puunggung, ping gang dan perut berkali-kali.
Agar tak berteriak, Dul Betok de ngan cepat menghantam bagian belakang kepala Firdaus. Jatuh pingsan.
Tak sadarkan diri ...
Mayat Firdaus diseret ke rerumpu tan di balik kursi batu taman. Bu kan dimasukkan ke bagasi untuk menghilangkan jejak.
Aksi itu berlangsung amat cepat. Tak seorang saksi mata yang meli hat pembunuhan sadis itu.
Mayat Firdaus ditemukan seorang tukang sapu jalanan yang hendak mengaso sejenak di bangku taman.
Teriakan lelaki kurus itu mengaget kan pengemudi roda dua dan em pat di jalan raya melingkar di seki tar taman. Terutama teman sesa ma lari pagi Fir daus yang tampak terpukul atas kejadian berdarah itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar