Selasa, 09 Oktober 2018

Dua Menara (21)

Dua Menara (21)
Oleh Wak Amin




(Bagian Kelima)

SEMULA Bu Aida enggan menemui Zaitun, kekasih anaknya Hasan, sa at bertamu di rumahnya sore hari. Dia masih syok dan marah.

Andai saja sore itu tidak ada Lia, en tah berapa lama Zaitun harus me nunggu di teras rumah. Sejak kema tian Hasan dan prosesi pengubu rannya, Zaitun memang tak berani datang ke rumah Bu Aida.

"Mbak Zaitun!?"

"Lia ..."

Pecahlah tangis. Zaitun dan Lia saling berpelukan. Menangis ter sedu-sedan.

"Ibu masih marah sama saya Dik?" Tanya Zaitun sambil terisak.

"Enggak Mbak. Ayo masuk ..."

Bu Aida baru selesai menunaikan shalat ashar. Setelah diberitahu Lia ada Zaitun di ruang tamu, bergegas lah ia keluar kamar.

Zaitun beranjak dari tempat duduk nya. Dengan setengah berlari ia ber simpuh di kedua kaki Bu Aida.

Bu aida mencegahnya ...

"Jangan Nak. Kamu tidak bersalah. Maafkan ibu ya Nak," ucap Bu Aida sembari terisak memeluk erat Zai tun.

"Saya juga Bu. Gara-gara sayalah semuanya terjadi .."

"Tidak Nak. Kamu tidak salah. Ibu sekarang ikhlas. Hasan mati bukan karena kamu, tapi memang sudah saatnya dia dipanggil menghadap Allah subhanahu wata'ala."

Lia mendekat ...

Lalu menarik pelan tangan kekasih Hasan kakaknya itu. Memgajaknya ngaso sejenak di kamar Hasan. Di sebelah kamarnya Lia dan Bu Aida.

"Mbak belum pernah ke kamar ini kan?" Pancing Lia.

Zaitun mengiyakan ...

Selama dua tahun pacaran, Hasan belum pernah sekalipun bercerita dan memperlihatkan kamar tidur nya.

Hasan hanya bercerita dan bercita-cita jika kelak sudah menikah ingin hidup mandiri ...

"Bagaimana menurutmu Tun?"

"Bagus Bang Hasan," jawab Zaitun malu-malu.

"Alhamdulillah. Doakan abang ya, biar dapat duit yang banyak."

"Iya Bang Hasan. Zaitun selalu ber doa yang terbaik buat Bang Hasan."

Zaitun tersenyum sendiri ...

Lia ikut tersenyum.

"Mbak Zaitun?!"

Zaitun terkesiap ...

"Inget Bang Hasan ya?!"

Zaitun kembali terisak. Dia peluk erat Bu Aida. Katanya, dia baru te ringat Bang Hasan, makanya dia tersenyum barusan.

"Kita berdoa saja, semoga abang mu tenang di alam sana," harap Bu Aida.

"Iya Mbak," ucap Lia. "Yang baik kita kenang, yang tidak baik kita buang. Lupakan ... Bagaimana Ma?"

"Mama setuju. Mama juga berha rap orang yang membunuh abang mu dan Firdaus segera tertangkap oleh polisi."

Zaitun menunduk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar