Dua Menara (23)
Oleh Wak Amin
MENGHINDARI kecurigaan dari pi hak tertentu dan keselamatan diri nya, Zaitun menyatakan kesedian nya bertemu dengan Mr Clean dan Letnan Ratna.
Pertemuan enam mata itu dilang sungkan di sebuah rumah makan di pinggiran kota. Zaitun berharap, per temuan di tempat yang jauh dari hi ngar bingar kendaraan roda dan em pat itu membuahkan hasil yang maksimal.
Kurang lebih sama dengan Bu Aida dan Lia, Zaitun berharap misteri ke matian ayahnya, Hasan dan Firdaus segera terkuak dalam waktu dekat ini.
Dengan demikian, teror demi teror yang belakangan dialami Zaitun, se gera berakhir. Dia ingin hidup tena ng, walau sakit bukan main kehila
ngan kekasih dan ayah tercinta.
Sejauh ini teror yang dialami Zai tun masih bisa diatasi karena freku ensinya belum sangat membaha ya kan. Misalnya saja, beberapa hari terakhir ini ia sering diawasi seora ng laki-laki yang tak ia kenal dari kejauhan.
"Saya kuatirnya teror itu membesar dan mengancam jiwa saya dan ibu saya Tuan Clean dan Letnan Ratna," kara Zaitun, ketika menjawab perta nyaan Letnan Ratna tentang pera saannya belakangan ini pasca te wasnya Hasan dan Furdaus.
"Anda diancam jugakah?" Tanya Mr Clean.
"Belum sampai kesana Tuan Clean," jawab Zaitun.
"Perihal ibumu Non Zaitun, gima na?"
"Sepertinya belum juga Letnan Ratna."
"Oke, apa Non Zaitun pernah cerita tentang kejadian yang dialami ini kepada orang lain?"
"Tidak Let."
"Kepada ibu anda Non Zaitun?" Ta nya Mr Clean.
"Tidak Tuan Clean."
"Kenapa?"
"Saya kuatir saja Tuan. Saya kuatir, setelah saya cerita, ibu saya ber tambah sedih dan Teriak memikir kan saya," terang Zaitun.
"Saya hanya menjadi pendengar yang baik saja. Tidak lebih Tuan Clean .."
"Eeeem .. " Letnan Ratna menarik nafas sejenak. "Apa ibumu pernah bercerita tentang sesuatu padamu. Yaaach .. Tentang apa saja .."
"Kalau soal teror, tidak. Beliau ha nya cerita tentang perasaan beliau setelah ditinggal pergi selama-la manya suami tercinta. Kalau sebe lumnya ada teman bicara, sekarang sudah tidak ada lagi ... Kalau dulu sering jalan berdua, kini tidak lagi. Suka duka dirasakan bersama. Tapi kini ditanggung seorang diri."
"Yakin ibu anda tidak mengalami te ror seperti yang anda alami belaka ngan ini?"
"Yakin Mbak ..."
"Alasannya?"
"Beliau selalu terbuka kepada sa ya. Sekecil apapun yang beliau ala mi selalu diceritakannya kepada saya. Saya tidak meminta ibu saya bercerita. Saya tidak pernah me maksanya. Beliau sendiri yang ce rita, sampai tak ada lagi bahan ya ng diceritakan."
"Baiklah Non Zaitun. Kapan terakhir kali anda bertemu Hasan, kekasih anda?"
Zaitun terdiam.
Dia tampak sedih. Merasakan duka yang mendalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar