Kisah Nabi Khidir as (4)
Oleh aminuddin
Ainun Hayat
MALAIKAT Rofa’il (Arab : رافائيل) disebutkan namanya dalam kisah Islam. Ia dikisahkan pernah bertemu dengan Dzul Qarnain.
Malaikat itu menceritakan tentang Air Kehidupan (Ayn al-Hayat) kepada Dzul Qarnain.
Mendengar ada sebuah mata air seperti itu, maka Dzul Qarnain ingin sekali meminum Air Kehidupan itu, akan tetapi yang telah berhasil meminumnya hanyalah sepupunya yang bernama Nabi Khidir.
Pada saat Raja Iskandar Dzul Qarnain pada tahun 322 SM berjalan menuju ke tepi bumi, Allah SWT mewakilkan seorang malaikat yang bernama Rofa’il untuk mendampingi Raja Iskandar Dzul Qarnain.
Di tengah perjalanan mereka berbincang-bincang, Raja Iskandar Dzul Qarnain berkata kepada malaikat Rofa’il:
“Wahai malaikat Rofa’il, ceritakan kepadaku tentang ibadah para malaikat di langit."
Malaikat Rofa’il berkata, “Ibadah para malaikat di langit di antaranya ada yang berdiri tidak mengangkat kepalanya selama-lamanya, dan ada pula yang rukuk tidak mengangkat kepala selama-lamanya ”.
Kemudian raja berkata, “Alangkah senangnya seandainya aku hidup bertahun-tahun dalam beribadah kepada Allah ”.
Lalu malaikat Rofa’il berkata, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan sumber air bumi, namanya ‘Ainul Hayat’ yang berarti sumber air hidup. Maka barang siapa yang meminumnya seteguk, tidak akan mati sampai hari kiamat atau sehingga ia mohon kepada Allah agar supaya dimatikan ”.
Kemudianya raja bertanya kepada malaikat Rofa’il, “Apakah kau tahu tempat “Ainun Hayat itu?”.
Mailaikat Rofa’il menjawab, “Bahwa sesungguhnya Ainun Hayat itu berada di bumi yang gelap ”.
Setelah raja mendengar keterangan dari malaikat Rofa’il tentang Ainul Hayat, raja segera mengumpulkan ‘alim ulama’ pada zaman itu, dan raja bertanya kepada mereka tentang Ainul Hayat itu, tetapi mereka menjawab :
“Kita tidak tahu khabarnya", namun seorang yang alim di antara mereka menjawab,
“ Sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat nabi Adam AS, beliau berkata bahwa sesungguhnya Allah meletakkan Ainul Hayat di bumi yang gelap ”.
“Di manakah tempat bumi gelap itu?” tanya raja.
Seorang yang alim menjawab, “Di tempat keluarnya matahari”.
Kemudian raja bersiap-siap untuk mendatangi tempat itu, lalu raja bertanya kepada sahabatnya.
“Kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap ?”.
Para sahabat menjawab, “Kuda betina yang perawan”.
Kemudian raja mengumpulkan 1000 ekor kuda betina yang pera wan, lalu raja memilih-milih di anta ra tentaranya sebanyak 6000 orang yang cendikiawan dan ahli men cambuk.
Di antara mereka itu adalah Nabi Khidir AS, bahkan beliau menjabat sebagai Perdana Menteri.
Kemudian berjalanlah mereka dan Nabi Khidir as berjalan di depan pasukannya. Mereka jumpai dalam perjalanan, tempat keluarnya mata hari itu tepat pada arah kiblat.
Mereka tidak pernah berhenti me nempuh perjalanan dalam waktu 12 tahun sebelum akhirnya sampai di tepi bumi yang gelap, dan gelapnya itu memancar seperti asap, bukan seperti gelapnya waktu malam.
Kemudian seorang yang sangat cendikiawan mencegah Raja masuk ke tempat gelap itu dan tentara-tentaranya, berkata ia kepada raja:
”Wahai Raja, sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk tempat yang gelap ini kerana tempat yang gelap ini berbahaya.”
Lalu Raja berkata: ” Kita harus memasukinya, tidak boleh tidak.”
ketika Raja memaksa hendak ma suk, mereka semua membiar kannya.
Kemudian Raja berkata kepada pasukannya:
”Diamlah, tunggulah kalian di tempat ini selama 12 tahun, jika aku datang pada kalian dalam masa 12 tahun itu, maka kedatanganku dan menunggu kalian termasuk baik, dan jika aku tidak datang sampai 12 tahun, maka pulanglah kembali ke negeri kalian”.
Sang Raja bertanya kepada Malai kat Rofa’il: ” Apabila kita melewati tempat yang gelap ini, apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita?"
“Tidak bisa kelihatan”, jawab Ma laikat Rofa’il,” akan tetapi aku mem berimu sebuah merjan atau mutia ra, yang jika merjan itu ke atas bu mi, itu mutiara dapat menjerit de ngan suara yang keras, dan dengan demikian kawan-kawan kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepa da kalian.”
Raja Iskandar Dzul Qurnain masuk ke tempat yang gelap itu bersama sekelompok pasukannya. Mereka berjalan di tempat yang gelap itu selama 18 hari tanpa pernah meli hat matahari dan bulan, tidak per nah melihat malam dan siang, tidak pernah melihat burung dan bina tang liar.
Sang Raja berjalan di dampingi Na bi Khidir as ...
Di saat mereka berjalan, Allah SWT memberi wahyu kepada Nabi Khidir as, ”Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan Ainul Hayat ini Aku khususkan untuk kamu ”.
Setelah Nabi Khidlir menerima wah yu, beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya: “ Berhentilah kalian di tempat kalian masing-masing dan janganlah kalian meninggalkan tempat kalian sehingga aku datang kepada kalian. ”
Kemudian beliau berjalan menuju ke sebelah kanan jurang, didapati lah oleh beliau sebuah Ainul Hayat yang dicarinya itu.
Nabi Khidir turun dari kudanya. Dia
melepas pakaiannya, turun ke “Ainul Hayat” (sumber air kehidu pan) tersebut. Beliau mandi lalu meminum sumber air kehidupan tersebut.
Beliau merasakan airnya lebih ma nis daripada madu ...
Setelah mandi dan minum Ainul hayat tersebut, beliau keluar dari tempat Ainul Hayat itu dan mene mui Raja Iskandar Dzulkarnain. Sa ng Raja sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Nabi Khidlir yang melihat Ainul Hayat dan mandi di sana.
(Menurut riwayat yang diceritakan oleh Wahab bin Munabbah, dia ber kata, Nabi Khidir adalah anak dari bibi Raja Iskandar Dzul Qarnain).
Raja Iskandar Dzulkarnain keliling di dalam tempat yang gelap itu se lama 40 hari, tiba-tiba tampak oleh raja sinar seperti kilat. Bumi berpa sir merah dan terdengar oleh raja suara gemercik di bawah kaki kuda.
Sang Raja bertanya kepada Malai kat Rofa’il dan dijawab:
“Gemercik ini adalah suara benda yang apabila seseorang mengambilnya, niscaya ia akan menyesal dan apabila tidak mengambilnya, niscaya ia akan menyesal juga. ”
Di antara pasukan ada yang mem bawanya namun sedikit. Setelah mereka keluar dari tempat yang ge lap itu, ternyata benda itu adalah yakut berwarna merah dan zamrud berwarna hijau,.
Menyesallah mereka karena hanya mengambil sedikit yakut dan zam rud, demikian pula pasukan yang ti dak mengambilnya, bahkan lebih menye sal. (Diriwayatkan oleh Ats-tsa’Labi dari Imam Ali ra).
Selepas berita mengenai kewuju dan Ainun Hayat tersebar, begitu ra mai berusaha menjejaki lokasinya sejak zaman berzaman di seantro dunia.
Di antara mereka tercatat Julius Caesar dari Rom, Firaun-firaun Me sir, Maharaja Shih Huang, King Sar gon, Napoleon Bonaparte dan Nazi. Namun mereka semua menemui jalan buntu.
Hanya Nabi Khidir as diberi rezeki untuk dipertemukan dengan Ainun Hayat, dan hidup abadi hingga ke hari ini untuk berzikir pada Allah SWT.
Wallahualam...
______
-- Cerita ini diambil dari kitab “Baidai’iz" karangan Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas halaman 166 – 168. Penerbit: Usaha Keluarga Semarang
- Arkibdirajalangkasuka.blogspot.
my
-- Scripternews.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar