Selasa, 02 Oktober 2018

Duka untuk Palu dan Donggala (3)

Duka untuk Palu dan Donggala (3)
Oleh aminuddin

- Enam Kesaksian

BERIKUT enam kisah yang meng harukan dari para keluarga korban  gem pa dan tsunami Palu dan Donggala:

1. Nenek Petugas ATC Bandara Palu

Anthonius Gunawan Agung adalah salah satu korban terdampak gempa Palu. Saat lindu magnitudo 7,4 mengguncang, dia tengah bertugas memandu Pesawat Batik Air yang siap landas menuju Makassar.

Setelah memastikan pesawat lepas landas, Agung baru menyelamat kan diri. Posisinya kala itu ada di lantai 4 tower pengawas Bandara Mutiara Sis Al- Jufri Palu.

Saat menara roboh, dia nekat melompat dari atas hingga mengalami patah tulang. Namun, akhirnya Agung mengembuuskan napas terakhirnya.

Kedatangan jenazahnya di kota kelahirannya Makassar diiringi tangis histeris keluarga. Oma Tola, sang nenek yang paling merasa kehilangan. Sementara kedua orangtuanya bekerja, Oma Tola-lah yang merawat Agung.

"Kenapa kau duluan Agung, kenapa bukan nenekmu saja," teriak nenek Agung, Oma Tola, saat jenazah Agung diturunkan dari mobil ambulans.

2. Balita Ditemukan dalam Parit

Cerita pilu lainnya datang dari seo rang balita yang selamat dari ter jangan tsunami Palu. Balita laki-laki tersebut terpisah dari orangtuanya yang menjadi korban gempa.

"Kedua orangtuanya belum ditemu kan," ucap Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita sambil memeluk erat tubuh mungil yang bersandar di pundaknya.

Menurut Agus, anak-anak adalah satu dari empat kelompok rentan yang harus mendapatkan perlindungan sesaat setelah terjadinya bencana.

Tiga kelompok lainnya adalah ibu hamil, lansia dan penyandang disabilitas.

3. Kesaksikan Jurnalis

Frans Padak Demon merupakan jurnalis senior yang selamat dari gempa dan tsunami di Donggala dan Palu.

Mercure Hotel di mana tempat dia menginap ambruk saat gempa magnitudo 7,4 datang.

Usai melakukan kunjungan ke beberapa radio di Palu, Frans pamit kembali ke hotel. Saat sedang menunggu Grab, gempa yang sangat keras mengguncang.

Setelah berhasil keluar studio, ru mah warga di sekitarnya satu-per satu runtuh akibat guncangan gempa.

Bersama staf radio lainnya, jurnalis senior ini naik ke bukit di timur Kota Palu di Laswani.

Begitu mencoba kembali ke Hotel Mercure, bangunan itu telah porak-poranda.

"Eh ternyata Mercure sudah hancur diterpa gempa dan tsunami. Yang saya temukan hanya beberapa ma yat yang bergelimpangan. Saya pu tuskan ke Bandara dan tidur di ba wah pohon parkiran Bandara sam bil menunggu pesawat pertama ke luar Palu."

4. Cerita Paskibraka Nasional 2018

Salah satu anggota Paskibraka Nasional 2018 yang mewakili Sulawesi Tengah juga punya kisah pilu. Rezkiana Zapana, 16 tahun adalah Siswi SMA Negeri Model Terpadu Madani, Palu.

Sesaat gempa datang, dia tengah bersama ibunya di rumah. Semen tara, sang ayah dan kakaknya sedang tak ada di tempat.

Begitu tiba di pengungsian, Kiki begitu dia sapa mencoba meng hubungi keduanya. Namun, tak berhasil.

"Gempa-nya keras banget. Rumah depan rumahnya Kiki roboh. Kompleks perumahan Kiki alhamdulillah tidak kenapa-kenapa," kata Kiki kepada Health Liputan6.com lewat aplikasi pesan singkat.

5. Bocah Tersangkut di Atas Rumah

Seorang bocah berusia 8 tahun berhasil selamat saat gempa dahsyat 7,4 disusul gelombang tsunami setinggi 3 meter menyapu daratan Palu.

Kepada Wakil Komandan Zeni Bangunan, Mayor Edy Harahap yang menemukannya, sang bocah menceritakan hal mengejutkan. Katanya, tinggi gelombang mencapai 6 meter.

Edy memaparkan bahwa ombak pertama yang masuk ke tepi pantai telah menyeret sejumlah pedagang di pesisir pantai di Palu. Kemudian, ombak kedua menyusul dengan ketinggian sekitar 5-6 meter.

"Saya sampai tersangkut di atas rumah," ujar bocah tersebut.

6. Politikus PKB Abdul Kadir Karding

Kisah gempa Palu dan Donggla juga datang dari politikus PKB Abdul Kadir Karding.

Karding bercerita, dirinya merupakan warga asli Donggala, Sulawesi Tengah. Rumahnya kurang dari 50 meter dari bibir pantai.

Saat mencoba menghubungi kedua orangtuanya usai gempa magnitudo 7,4 mengguncang, Karding mengaku kesulitan.

"Saya lahir di Donggala, pusat di Palu. Jadi saya orang asli sana. Bapak-Ibu saya enggak bisa dihu bungi, di Donggala sana. Semua keluarga besar saya sebagian bevsar di Donggala dan Palu," kata mantan Sekjen PKB itu di sela acara Solidaritas Masyarakat Sulteng di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu, 29 September 2018 lalu.



- Kesaksian Pilot Batik Air

PILOT Batik Air, Capt Ricosetta Mafella mendapat sorotan setelah ia menerbangkan pesawatnya tiga menit lebih cepat dari Palu menuju Jakarta.

Atas keputusannya ini, ia berhasil menyelamatkan penumpang Batik Air dari Tsunami Palu, Jumat (28/9/2018).

Ia lantas memberikan kesaksian di sebuah Gereja Duta Injil BIP, Jakarta.

Capt Mafella meluapkan semua apa yang ia lihat dari udara saat tsunami menerjang Kota Palu.

Capt Mafella menceritakan,  sebe lum menerbangkan Batik Air dari Palu, jadwal penerbangannya dengan maskapai Batik Air dan Lion Air sudah berulang kali batal.

“Pada saat tanggal 21 September, sebenarnya schedule saya dengan Batik sudah selesai. Kemudian saya diharuskan bersiap untuk terbang lagi di Lion (Lion Air). Libur 5 hari, schedule saya dibatalkan.
Tanggal 25 saya ditelpon sama direksi, diminta untuk terbang tanggal 26. Saya menjawab 'Oh, bisa'.

Karena pilotnya kurang. Terus akhirnya saya dijadwal, tapi malamnya tiba-tiba di-cancel.
Itu terjadi sampai 9 kali, dikasih tugas, diliburkan. Itu terjadi berulang-ulang.

Singkat cerita,  kami ditugaskan ke Ujung Pandang. Rute, Ujung Pan dang - Palu - Ujung Pandang, lalu Jakarta, jelas Capt Mafella.

Ia menceritakan, selama seharian penuh, dirinya merasakan kegelisahan dan tidak diketahui kenapa.

Untuk mengusir kekhawatiran, di sepanjang perjalanan Ujung Pandang ke Palu, ia pun menyanyikan lagu-lagu rohani dengan nada keras.

"Hari itu saya terbang, malam hari sampai Ujung Pandang jam 11. Dua hari itu memang ada sesuatu yang membuat saya tenang. Karena, saya nyanyi lagu, di setiap penerbangan saya nyanyi. Biasanya pakai headset kalau nyanyi, ini saya nyanyi dengan lantang." tutur Mafella.

Ia bahkan masih sempat bercanda dengan Co-Pilotnya yang bernama M Fikih. Fikih menyarankan Capt Mafella untuk melakukan perekaman.

Ketika hendak mendarat di Bandara Palu, udara terlihat cerah tapi angin terlalu kencang dan Ia mendengar suara dalam hatinya untuk memutar sekali di udara sebelum landing.

"Saya terus tenang, saya bilang, 'mas lanjutin aja'. Saya tawar menawar dengan pengatur udara. Anginnya masih kencang. Saya lihat makin ke dalam, dekat laut mulai kencang. Biasanya, saya akan gagal, keluar landasan.
Tower biasanya dari 8000 kaki, bilang, kamu masuk terus mutar lewat belakang. Karena kanan kiri gunung. Sampai di 2000 angin masih kencang.

Pesawat air bus, bagus untuk landasan pendek, mungkin saya bisa keluar. Tapi di situ, suara Tuhan pertama bilang, 'belok kanan'. Tapi ini pasti delay. Terus kami landing, delay 5-7 menit," tambahnya lagi.

Sesaat setelah pesawat landing, ia seakan mendengar satu suara yang mendorongnya untuk bergegas pergi.

Oleh karena itu dia menginstruksikan crew-nya agar beristirahat 20 menit, sebelum pesawat bertolak ke Jakarta melalui Ujung Pandang.

Ia bahkan tidak turun dari cockpit pesawat dan meminta izin kepada Menara Control utk mempercepat lepas landas 3 menit dari jadwal yang sudah ditentukan.

“Kami cuma punya ground time 30 menit. Landing cuaca cerah biasanya foto-foto, tapi kali ini Tuhan bilang, 'bergegaslah. cepat.'
Saya risau minta untuk bergegas langsung dan kasih waktu 5 menit untuk boarding. Biasanya rute ini mengalami keterlambatan 5-10 menit. Puji Tuhan staf kerja sama dengan teman-teman, semua akhirnya bisa depart 3 menit sebelum schedule 17.55, saya tutup pintu pukul 17.52. Saya mundur, start engine, jalan pelan-pelan," tutur Capt Mafella.

Captain Mafella mengakui saat itu ia melanggar prosedur penerbangan karena ia mengambil alih tugas Co-Pilot dengan menambah kecepatan pesawat saat prosesi take off.

Dia sendiri tidak tahu kenapa, tapi tangannya terus memegang tuas agar kecepatan lebih besar supaya badan pesawat lebih cepat merangkak naik.

Saat itu dia tidak tahu kalau gempa sudah melanda Palu, tapi dia mera sa pesawat sedikit oleng ke kiri dan kanan.

"Ada tanjakan, saya sempat berhenti. Saya gas lagi. Belum ada mikir apa-apa, take off. Saya belum ada merasa gempa atau enggak. Saya merasa pesawat saya bergoyang. Saya pikir ini mungkin angin kencang," jelasnya.

Sebelum sampai di Ujung Pandang, tepatnya di ketinggian 1000 kaki, ia merasa ada kejadian aneh.

Dia menengok ke bawah dan me lihat fenomena alam yg aneh. Air laut di pinggir pantai membentuk lubang yang sangat besar sehingga dasar laut terlihat.

“Palu itu kaya ambles, dasarnya ambles. Kemudian berbuih, bundarannya besar-besar. Kemudian ombaknya bergelombang. Saya coba panggil tower tapi ga ada panggilan. Saya pikir orang lagi mengeruk pasir. Tapi saya gak tau apa yang terjadi,” ungkapnya.

Ketika pesawat tiba di Ujung Pandang, barulah ia diberitahu bahwa telah terjadi gempa dan tsunami di Palu.



- Empat Fenomena tak Terduga

SELAIN gempa dan tsunami, KOM PAS.com telah merangkum empat fenomena yang mengikuti kejadian di Palu-Donggala, berikut ulasannya:


1. Amplifikasi gelombang di teluk


Deputi Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT Wahyu W Pandoe menyebut, gempa Donggala, Sulawesi Tengah dengan magnitude 7,4 memiliki energi sekitar 2,5x10^20 Nm yang setara dengan 3x10^6 Ton-TNT atau 200 kali bom atom Hiroshima.

Wahyu, seperti tertulis dalam siaran pers Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi di Jakarta, Sabtu (29/8/2018), menyatakan berdasar simulasi model analitik-numerik, Kota Palu-Kabupaten Donggala dan sekitarnya mengalami deformasi vertikal berkisar antara -1,5 sampai 0,50 meter.

"Daratan di sepanjang pantai di Palu Utara, Towaeli, Sindue, Sirenja, Balaesang, diperkirakan mengalami penurunan 0,5-1 meter dan di Banawa mengalami penaikan 0,3 sentimeter," kata Wahyu.

Gempa bumi ini berpusat di darat dengan sekitar 50 persen proyeksi bidang patahannya berada di darat dan sisanya di laut.

"Komponen deformasi vertikal gempa bumi di laut ini yang berpotensi menimbulkan tsunami," katanya.

2. Longsor sedimen dasar laut

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan  tsunami Palu merupakan duet dua sebab: gempa bermagnitudo 7,4 di Donggala dan longsoran bawah laut.

Bagaimana sebenarnya kedua sebab itu berpadu sehingga memicu tsunami yang menurut pemodelan ahli mencapai ketinggian 3-5 meter?

Untuk memahaminya, perlu tahu dulu tentang karakteristik sumber gempa, mekanisme, dan dampaknya pada getaran di sekitarnya.

Peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko menuturkan, sesar Palu Koro memanjang dari daratan Sulawesi Tengah dan sepertiganya menjorok ke lautan.

Saat terjadi gempa dengan mekanisme sesar geser, gelombang gempa dari episentrum di daratan dihantarkan ke sepanjang jalur sesar dan wilayah sekitarnya, termasuk ke lautan.

Akibat penghantaran gelombang, wilayah di sekitar episentrum dan terutama di sepanjang sesar bergetar kuat. Getaran ini bisa mencapai 7-8 MMI.

Untuk membayangkan, getaran 8 MMI bisa mengakibatkan bangunan yang kuat mengalami kerusakan ringan sementara bangunan yang rapuh bisa dipastikan hancur.

Di teluk Palu, bagian barat Sulawesi Tengah, getaran gempa mengguncang dasar laut dan memengaruhi akumulasi sedimen yang ada.

Nah, di sinilah faktor kedua bermain. Sedimen yang berada di teluk Palu merupakan akumulasi dari sedimen yang dibawa oleh sungai di daratan Sulawesi Tengah dan belum terkonsolidasi kuat.

"Ketika diguncang gempa, akhirnya sedimen itu runtuh dan longsor," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Longsor yang diperkirakan terjadi pada kedalaman 200-300 meter itulah yang akhirnya mengakibatkan tsunami di Palu.

Widjo mengatakan, skenario longsor itu sebenarnya masih spekulasi. "Perlu ada survei distribusi di lapangan dan pemetaan batimetri detail," jelasnya.

3. Likuifaksi

Pasca gempa mengguncang Sulawesi Tengah, sebuah video yang menunjukkan lumpur mengalir di bawah rumah warga menjadi viral.

Video berdurasi dua menit ini juga memperlihatkan rumah dan pepohonan seolah terseret dalam satu lajur.

Menurut pernyataan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam unggahan twitternya, fenomena ini disebut likuifaksi.

"Likuifaksi adalah tanah berubah menjadi lumpur seperti cairan dan kehilangan kekuatan," twit Sutopo.

Menurut ahli geologi Rovicky Dwi Putrohari, yang terjadi dalam video tersebut adalah likuifaksi yang memicu longsoran.

"Likuifaksi hanya satu dugaan," kata Rovicky.

"Gempa menyebabkan kekuatan lapisan tanah menghilang dan tidak bisa menahan yang di atasnya. Likuifaksi atau tanah yang tergetarkan ini kemudian membuat longsoran," imbuh anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia itu.

Rovicky mengatakan, lapisan tanah yanga tergetarkan adalah lapisan batu pasir.

"Ini terjadi segera setelah gempa, kemungkinan gejala likuifaksi, yaitu adanya lapisan batu pasir yang berubah perilakunya akibat getaran, menjadi seperti likuida. Gejala ini menyebabkan lapisan di atasnya 'tergelincir' dan bergerak meluncur," tegasnya.

4. Cahaya di langit sebelum gempa

Sebelum gempa terjadi, biasanya akan muncul tanda berupa kilatan cahaya di langit.

Kilatan cahaya langka ini muncul sebelum terjadi gempa Meksiko dan gempa Lombok beberapa waktu lalu.

Menurut ahli, kilatan cahaya aneh itu disebabkan oleh sifat listrik batuan tertentu, seperti batuan basal dan gabbrol yang memiliki cacat kecil dalam kristal mereka.

Saat gelombang seismik menyerang, muatan listrik di bebatuan tersebut mungkin dilepaskan dan menimbulkan cahaya aneh.

"Saat alam menekankan bebatuan tertentu, muatan listrik diaktifkan, seolah-olah ada baterai di kerak Bumi yang menyala," ujar Friedemann Freund seorang profesor fisika dari San Jose State University dalam wawancara dengan National Geographic, Juli 2014.

Menurut Freund yang juga seorang peneliti senior di NASA Ames Research Center, kilatan cahaya sebelum gempa ini juga dijuluki petir gempa. Saat petir gempa terbentuk, ia memiliki bentuk dan warna yang berbeda.

Umumnya petir gempa berwarna kebiruan yang tampak keluar dari tanah kemudian melayang di udara selama puluhan detik hingga hitungan menit dan kilatannya bisa merentang sampai 200 meter.

Namun, kilatan cahaya sebelum gempa ini relatif jarang. Para ahli memperkirakan, hanya ada kurang dari 0,5 persen petir gempa bumi di seluruh dunia.

"Kilatan cahaya dapat terjadi beberapa minggu sebelum gempa bumi besar atau selama getaran muncul. Petir gempa ini terlah terekam pada jarak hingga 160 kilometer dari episentrum gempa," kata Freund.

____

- Tribun Medan.com

- M.liputan6.com

- Kompas.com

1 komentar:

  1. makasih atas infonya sangat membantu, dan jangan lupa kunjungi website kami http://bit.ly/2MDy4mT

    BalasHapus