Yaman dan Pertemanan (15)
Oleh aminuddin
- Sejarah Yahudi di Yaman
YAHUDI Yaman adalah orang Yahudi yang berdiam di Yaman atau yang merupakan keturunan orang Yahudi yang pernah hidup di Yaman.
Antara bulan Juni 1949 dan September 1950, mayoritas penduduk Yahudi Yaman dibawa bermigrasi ke Israel dalam "Operasi Magic Carpet".
Mayoritas orang Yahudi Yaman sekarang tinggal di Israel, dengan sejumlah komunitas di Amerika Serikat, dan dalam jumlah lebih sedikit bermukim di tempat-tempat lain.
Hanya segelintir yang menetap di Yaman, kebanyakan adalah orang-orang lanjut usia.
Orang Yahudi Yaman memiliki tradisi keagamaan yang unik, yang memisahkan mereka dari kaum Yahudi Ashkenazi, Sefardim dan kelompok Yahudi lainnya.
Masih diperdebatkan apakah mereka bisa disebut sebagai "Yahudi Mizrahi", karena kebanyakan kelompok Mizrahi lainnya selama beberapa abad terakhir ini sudah mengalami proses asimilasi total atau sebagian dengan budaya dan liturgi Sefardim.
Meskipun sub-kelompok Shami di dalam komunitas Yahudi Yaman memang sudah mengambil ritus agama yang dipengaruhi budaya Sefardim, ini dikarenakan alasan teologis dan tidak mencerminkan pergeseran demografis atau budaya.
Sebagai golongan (Ahl al-Kitab), yaitu "Umat Kitab Suci" yang dilindungi, orang Yahudi Yaman hanya diberi jaminan kebebasan beragama ditukar dengan kewajiban membayar jizyah, yaitu pembayaran pajak yang dikenakan pada penganut monoteis non-mus lim tertentu (Umat Kitab Suci).
Sebagai ganti pembayaran jizyah, penduduk non-muslim diberikan jaminan keselamatan, juga dibebaskan dari kewajiban membayar zakat, yang harus dibayar oleh orang Muslim setelah mencapai tingkat kekayaan tertentu.
Penganiayaan Muslim aktif terhadap orang-orang Yahudi tidak mencapai puncaknya sampai klan Zaydi merebut kekuasaan dari kelompok Muslim Sunni yang lebih toleran, di awal abad ke-10 M.[14]
Kelompok Zaidi memberlakukan undang-undang yang dikenal sebagai "Dekret anak yatim" (Orphan's Decree), berdasarkan tafsiran hukum abad ke-18 mereka sendiri dan mulai diberlakukan pada akhir abad itu.
Undang-undang ini mewajibkan negara Zaidi untuk memberi perlindungan dan mendidik dengan cara Islam setiap anak dhimmi (non-muslim ) yang orang tuanya telah meninggal ketika ia masih di bawah umur.
Keputusan ini diabaikan selama pemerintahan Ottoman (1872-1918), tetapi dijalankan lagi selama periode Imam Yahya (1918-1948).
Di bawah pemerintahan Zaidi, orang-orang Yahudi dianggap tidak suci (=najis), dan karena itu dilarang menyentuh orang Muslim atau makanan Muslim.
Mereka diwajibkan untuk merendahkan diri di hadapan seorang Muslim, untuk berjalan ke sisi kiri, dan menyapa dulu.
Mereka tidak bisa membangun rumah lebih tinggi dari seorang Muslim atau naik unta atau kuda, dan ketika mengendarai keledai atau unta, mereka harus duduk menyamping.
Ketika memasuki daerah kwartir Muslim, seorang Yahudi harus melepaskan alas kaki dan berjalan tanpa alas kaki.
Jika diserang dengan batu atau tinju oleh pemuda Islam, orang Yahudi tidak diizinkan untuk membela diri. Dalam situasi semacam itu, ia memiliki pilihan untuk melarikan diri atau meminta intervensi dari pejalan kaki Muslim yang mau menolong.
Orang Yahudi Yaman juga mengalami penganiayaan kekerasan dari waktu ke waktu.
Pada abad ke-12, penguasa Yaman 'Abd-al-Nabī ibn Mahdi memberikan pilihan bagi orang Yahudi antara masuk Islam atau mati syahid.
Meskipun seorang pengkhotbah lokal Yahudi Yaman populer menyerukan orang Yahudi untuk memilih mati syahid, Maimonides mengirim surat yang dikenal dengan nama "Surat Yaman" dan menyarankan orang Yahudi Yaman untuk memeluk Islam dan diam-diam terus menjalankan praktik Yudaisme.
Pada abad ke-13, penindasan terhadap orang Yahudi mereda ketika "orang Rasulid", sebuah suku dari Afrika, mengambil alih kekuasaan negara itu, mengakhiri kekuasaan Islam dan mendirikan dinasti Rasulid, yang berlangsung pada tahun 1229-1474.
Pada tahun 1547, Kekaisaran Utsmaniyah (Ottoman) mengambil alih Yaman. Hal ini memberi kesempatan bagi orang Yahudi Yaman untuk membuat kontak dengan komunitas Yahudi lainnya.
Kontak dibuat dengan penganut Kabbalah di Safed, sebuah pusat Yahudi utama, serta dengan masyarakat Yahudi di seluruh Kekaisaran Ottoman.
Kekuasaan Ottoman berakhir pada tahun 1630, ketika kaum Zaydi mengambil alih Yaman. Orang Yahudi sekali lagi dianiaya.
Pada tahun 1679, di bawah pemerintahan Al-Mahdi Ahmad, orang Yahudi diusir secara massal dari semua bagian dari Yaman ke provinsi Mawza, dan akibatnya banyak orang Yahudi meninggal di sana karena kelaparan dan penyakit.
Rumah dan harta benda mereka disita, dan banyak sinagoga dihancurkan atau diubah menjadi mesjid.
Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai "pengasingan Mawza", dan diriwayatkan dalam banyak tulisan rabi-rabi Yahudi Yaman dan penyair Shalom Shabazi, yang mengalaminya sendiri.
Sekitar setahun setelah pengusiran, orang yang selamat diizinkan untuk kembali karena alasan ekonomi.
Sebagian besar pengrajin dan seniman di Yaman adalah orang Yahudi, sehingga merupakan aset penting dalam perekonomian negara.
Namun, mereka tidak diperbolehkan untuk kembali ke kampung halaman mereka dan menemukan bahwa sebagian besar artikel agamami mereka telah dihancurkan. Mereka ditempatkan dalam suatu kwartir Yahudi khusus di daerah luar kota-kota.
Orang Yahudi Yaman memiliki keahlian dalam berbagai bidang kerajinan yang biasanya dihindari oleh orang Muslim Zaydi.
Keahlian menempa perak, pandai besi, perbaikan senjata dan alat-alat, pertenunan, pengerja keramik, pertukangan batu, pertukangan kayu, pembuatan sepatu , dan menjahit adalah pekerjaan yang secara eksklusif dilakukan oleh orang-orang Yahudi.
Pembagian kerja ini menciptakan semacam perjanjian, berdasarkan ketergantungan ekonomi dan sosial satu sama lain, antara penduduk Muslim Zaydi dan orang Yahudi Yaman.
Orang Muslim memproduksi dan memasok makanan, sedangkan orang-orang Yahudi memasok semua produk dan jasa yang diperlukan oleh petani Yaman.
Selama abad ke-18, orang Yahudi Yaman memperoleh jeda singkat dari status mereka sebagai warga negara kelas dua ketika "Imamic" berkuasa.
Yaman mengalami kebangkitan kehidupan Yahudi. Sinagoga-sinagoga dibangun kembali, dan sejumlah orang Yahudi menduduki jabatan tinggi.
Salah satunya adalah Rabbi Shalom ben Aharon, yang bertanggung jawab untuk pencetakan uang dan untuk kas kerajaan.
Ketika kaum Imamic kehilangan kekuasaan pada abad ke-19, orang-orang Yahudi kembali mengalami penganiayaan.
Pada tahun 1872, Kekaisaran Ottoman mengambil alih kekuasaan lagi, dan berkuasa hingga kemerdekaan Yemini pada tahun 1918.
Kehidupan Yahudi kembali membaik selama pemerintahan Ottoman. Kebebasan beragama Yahudi lebih dihormati, dan orang Yahudi Yaman diizinkan untuk membuat lebih banyak kontak dengan komunitas Yahudi lainnya.
Orang Yahudi Yaman terutama tinggal di Aden (200), Sanaá/Sana (10.000), Sa'dah/Sada (1.000), Dhamar (1.000), dan gurun Beda (2.000).
Komunitas Yahudi penting lainnya di Yaman adalah di dataran tinggi selatan tengah, di kota-kota: Taiz (tempat kelahiran salah satu pemimpin spiritual Yahudi Yaman paling terkenal, Mori Salem Al-Shabazzi Mashtaw), Ba'dan, dan kota-kota dan desa-desa lain di wilayah Shar'ab.
Orang Yahudi Yaman terutama adalah pengrajin, termasuk emas, perak dan pandai besi di daerah San'a, dan pedagang kopi di dataran tinggi selatan tengah.
Selama periode ini pengharapan akan kedatangan Mesias sangat tinggi di kalangan orang Yahudi Yaman (dan di kalangan orang Arab juga).
Ada tiga orang yang mengaku Mesias, diberi istilah "pseudo-messiah" ("mesias palsu"), pada periode ini, nama dan tahun-tahun aktivitas mereka adalah:
- Shukr Kuhayl I (1861–65)
- Shukr Kuhayl II (1868–75)
- Joseph Abdallah (1888–93)
Menurut seorang pengelana Yahudi, Jacob Saphir, mayoritas orang Yahudi Yaman pada waktu kunjungannya pada tahun 1862 percaya kepada proklamasi mesianik Shukr Kuhayl I.
Orang-orang Yaman yang mengaku mesias sebelumnya termasuk seorang yang tidak dikenal namanya pada abad ke-12 yang dikirimi surat Maimonides yang dikenal sebagai "Surat Yaman" (Iggeret Teman; bahasa Inggris: Epistle to Yemen), juga seorang mesias dari Bayhan (~1495), dan Suleiman Jamal (~1667), yang oleh Lenowitz disatukan sebagai suatu sejarah mesias dalam jangka waktu 600 tahun.
Orang Yahudi Yaman dan orang Yahudi Kurdi yang berbahasa Aram adalah komunitas-komunitas yang masih mempertahankan tradisi pembacaan Taurat di sinagoga dalam bahasa Ibrani dan terjemahan Targum dalam bahasa Aram.
Sejumlah sinagoga non-Yaman mempunyai seorang tertentu yang disebut "Baal Koreh", yang membaca dari gulungan Kitab Taurat ketika jemaat mengeluarkan gulungan Taurat untuk membaca suatu aliyah.
Dalam tradisi Yaman, setiap orang dipanggil untuk membaca aliyah dari gulungan Kitab Taurat itu sendiri.
Anak-anak di bawah usia Bar Mitzvah sering diberi kesempatan membaca aliyah keenam. Setiap ayat Taurat yang dibaca dalam bahasa Ibrani, diikuti dengan terjemahan bahasa Aram, biasanya dikidungkan oleh seorang anak kecil.
Baik aliyah keenam dan Targum mempunyai melodi yang disederhanakan, berbeda dari melodi umum untuk Taurat yang digunakan pada aliyot lain.
____
Wikipedia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar