Sabtu, 06 Oktober 2018

Duka untuk Palu dan Donggala (7)

Duka untuk Palu dan Donggala (7)

Oleh aminuddin



Tsunami Di Indonesia

JIKA dilihat dari sudut pandang sains, seluruh wilayah Indonesia memiliki potensi gempa kecuali Kalimantan, yang acapkali disertai dengan terjadinya tsunami raksasa, seperti yang terjadi di Aceh pada tahun 2004. Tsunami yang melanda tidak kurang dari 11 negara itu, menewaskan seperempat juta manusia seketika.

Timbullah beberapa pertanyaan. Ada apa dengan bumi kita? Apakah Tuhan sedang marah karena dosa dosa yang telah kita perbuat? Ataukah memang karena kerusakan alam hingga Mas Ebit G Ade harus berkicau menyuruh kita untuk bertanya pada “rumput yang bergoyang”?

Ternyata, setelah peristiwa gempa bumi dan tsunami di Aceh terjadi pula tsunami secara beruntun di daerah Pangandaran, Yogyakarta, Indramayu, Bengkulu, Mentawai dan Sumatra Barat, dan terbaru wilayah Palu dan sekitarnya.

Para ahli kebumian telah mengetahui bahwa bumi ini terbagi menjadi lempeng-lempeng (plate) tektonik, yang saling bergerak dengan kecepatan 5-10 cm/tahun.

Di Indonesia, terdapat 3 lempeng besar yang saling berinteraksi, yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik.

Interaksi ini menghasilkan serangkaian gunungapi aktif yang dikenal dengan “Ring of Fire” (cincin api).

Pergesekan/tubrukan antar lempeng tersebutlah yang menghasilkan gempa. Jalur gempa bumi di Indonesia pun selaras dengan cincin api ini.

Jalur gempa melingkari sebelah selatan Indonesia sejajar dengan Kepulauan Mentawai dan Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, kemudian berbelok di Laut Banda hingga Halmahera.

Kondisi tektonik Indonesia ini terbentuk melalui proses evolusi panjang sejak 150 juta tahun yang lalu. Cincin api itu terbentuk jauh sebelum manusia ada. Bahkan mungkin jauh sebelum perdebatan antara Allah SWT dengan para malaikat, tentang perlu tidaknya keberadaan manusia sebagai khalifah di bumi.

Dari paparan di atas timbul pertanyaan, apakah bencana tsunami di beberapa tempat di Indonesia merupakan azab, musibah, ataukah bala  dari Allah SWT?

Menurut Nasaruddin Umar (Gurubesar Ilmu Tafsir UIN Jakarta),  di dalam Al- Quran, ketiga istilah tersebut dapat dibedakan.

Azab lebih banyak digunakan untuk menyatakan siksaan dan hukuman Tuhan terhadap para pendosa dan orang-orang yang melampaui batas.

Azab hanya ditujukan kepada para pendosa, sementara orang yang baik-baik luput dari azab itu.

Sedangkan musibah dan bala lebih banyak digunakan untuk menyatakan ujian dan penderitaan kepada orang-orang, baik kepada para pendosa maupun kepada orang yang baik-baik.

Perbedaan antara musibah dan bala hanya terletak pada skalanya. Musibah skalanya lebih besar dan lebih luas, sedangkan bala skalanya lebih terbatas dan umumnya bersifat personal.

Sebab, musabab-musibah terkadang sulit dijelaskan karena lebih banyak bersifat makro dan akumulatif, sedangkan bala lebih banyak bersifat mikro dan kasuistik, misalnya kecerobohan seseorang berpotensi mendatangkan bala.

Menurutnya, dalam beberapa kasus memang agak sulit dipetakan seca ra skematis. Perilaku menyimpang dan dan perbuatan melampaui batas manusia sebagai makhluk mikrokosmos seringkali berbanding lurus dengan perilaku ganas alam raya sebagai makhluk makrokosmos.

Alam raya memang telah ditundukkan (taskhir) untuk mengabdi kepada kepentingan manusia sebagai khalifah di bumi (khalaif al-ardl), akan tetapi alam raya sepertinya memberi syarat sepanjang manusia menjadi khalifah yang baik dan benar.

Kapan manusia tidak lagi bersahabat dengan alam, bahkan merusaknya, maka alam pun tidak akan bersahabat, bahkan tidak segan-segan ”menghukum” sendiri manusia itu.

Hubungan dialektis antara makhluk mikrokosmos dan makhluk makrokosmos banyak diuraikan di dalam Al- Auran. Antara lain misalnya:

- Hujan yang tadinya pembawa rahmat (QS al-An’am/6:99), tiba-tiba menjadi sumber malapetaka banjir yang memusnahkan areal kehidupan (QS al-Baqarah/2:59).

- Gunung-gunung yang tadinya sebagai pasak bumi (QS al-Naba’/78:7), tiba-tiba memuntahkan debu, lahar panas, dan gas beracun (QS al-Mursalat/77:10).

- Angin yang tadinya mendistribusi awan (QS al-Baqarah/2:164) dan menyebabkan penyerbukan dalam dunia tumbuh-tumbuhan (Q.S. al-Kahfi/18:45), tiba-tiba tampil begitu ganas memorak-porandakan segala sesuatu yang dilalewatinya (QS.Fushshilat/41:16).

- Laut yang tadinya begitu pasrah melayani mobilitas manusia (QS al-Haj/22:65), tiba-tiba mengamuk dan menggulung apa saja yang dilaluinya (QS al-Takwin/81:6).

- Kilat dan guntur yang tadinya menjalankan fungsi positifnya, melakukan proses nitrifikasi (nitrification process) untuk kehidupan makhluk biologis di bumi (QS al-Ra’d/13:12), tiba-tiba menonjolkan fungsi negatifnya, menetaskan larva-larva betina (telur hama) yang kemudian memusnahkan berbagai tanaman para petani (QS al-Ra’d/13:12).

- Disparitas flora dan fauna tadinya tumbuh seimbang mengikuti hukum-hukum ekosistem (QS al-Ra’d/13:4), tiba-tiba tumbuh dan berkembang menyalahi keseim bangan dan pertumbuhan deret ukur kebutuhan manusia (QS al-A’raf/7:132).

Azab, musibah, dan bala dalam Al-Quran memang ada. Azab yang merupakan siksaan yang ditujukan kepada umat-umat terdahulu yang melampaui batas, seperti

1)      Umat Nabi Nuh yang keras kepala dan diwarnai berbagai kedlaliman (QS al-Najm/53:52), dihancurkan dengan banjir besar dan mungkin gelombang tsunami pertama dalam sejarah umat manusia (QS Hud/11:40);

2)     Umat Nabi Syu’aib yang penuh dengan korupsi dan kecurangan (QS al-A’raf/7:85; QS Hud/11:84-85) dihancurkan dengan gempa yang menggelegar dan mematikan (QS Hud/11/94);

3)      Umat Nabi Shaleh yang kufur dan dilanda hedonisme dan cinta dunia yang berlebihan (QS Al-Syu’ara’/26:146-149) dimusnahkan dengan keganasan virus yang mewabah dan gempa (QS Hud/11:67-68).

4)      Umat Nabi Luth yang dilanda kemaksiatan dan penyimpangan seksual (QS.Hud/11:78-79) dihancurkan dengan gempa bumi dahsyat (QS Hud/11:82); penguasa Yaman, Raja Abraha, yang berusaha mengambil alih Ka’bah sebagai bagian dari ambisinya untuk memonopoli segala sumber ekonomi, juga dihancurkan dengan cara mengenaskan sebagaimana dilukiskan dalam surah Al-Fil (QS al-Fil/105:1-5).

Cara kerja azab Tuhan di dalam Al- Quran hanya menimpa kaum yang durhaka dan tidak menimpa atau mencederai orang-orang yang shaleh dan taat kepada Tuhan.

Sedangkan cara kerja musibah dan bala tidak membedakan satu sama lainnya. Contoh adzab, Nabi Nuh dan orang-orang taat yang menyer tainya selamat dari terpaan banjir besar.

Nabi Syu’aib dan pengikut setianya selamat dari amukan gempa yang menggelegar. Nabi Shaleh dan segelintir pengikut setianya selamat dari serangan wabah virus yang mematikan secara massal itu.

Nabi Luth dan pengikut setianya juga terbebas dari bencana alam yang mengerikan itu. Demikian pula virus dahsyat yang dibawa oleh serangga Ababil hanya menghancur luluhkan pasukan Abrahah.

Dalam riwayat, Abu Thalib, kakek Nabi yang menyaksikan bencana itu tidak ikut korban dalam benca na itu. Bentuk azab yang pernah menimpa umat terdahulu antara lain:

1)      Banjir besar (mungkin ini gelombang tsunami pertama) seperti yang ditimpakan pada umat Nabi Nuh;

2)      Bencana alam dahsyat berupa suara yang menggemuruh seperti yang ditimpakan kepada umat Nabi Syu’aib;

3)      Tanah longsor dahsyat seperti yang ditimpakan kepada umat Nabi Luth;

4)      Virus hewan yang menular kepada manusia secara mengeri kan, seperti yang menimpa umat Nabi Shaleh.

Menurut Prof Opitz, seorang ahli sejarah penyakit, kemungkinan virus ini virus anthrax karena gejalanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits, hari pertama warna kulit mereka berwarna kuning, hari kedua berwarna merah, mungkin karena terjadi pendarahan yang hebat sehingga pori-pori mengeluarkan darah.

Pada hari ketiga berwarna hitam, mungkin karena empedu pecah dan seluruh cairan dalam tubuh berwarna hitam. Ujung hari ketiga virus ini bekerja pada sistem saraf termasuk sistem pendengaran, maka mereka mati bergelimpangan seperti mendengarkan suara yang amat keras.

Azab lain berbentuk bakteri yang mematikan dibawa oleh serangga sebagaimana ditujukan kepada umat pasukan Abrahah.

Dalam Tafsir Al-Manar karya Muhammad Abduh, kata thair dalam surah al-Fil diartikan dengan serangga yang membawa virus dan kata al-hijarah min sijjil diartikan semacam zat yang mematikan.

Cara kerja virus ini, menurut Prof Opitz, agak mirip dengan virus Ebola yang mengenaskan itu.

Azab Tuhan sulit diprediksi dan tidak akan pernah bisa ditangkal oleh kekuatan manusia. Sedangkan musibah dan bala ada kemungkinan untuk diprediksi dan diupayakan penangkalnya, antara lain dengan bentuk doa sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.

____

WordPress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar