Jumat, 05 Oktober 2018

Al-Aqsha (8)

Al-Aqsha (8)
Oleh aminuddin





 As-Shakhrah

Shakhrah adalah batu yang berada di tengah-tengah Masjid Al-Aqsha, saat ini berada di dalam Kubah As-Sakhrah yang berwarna emas.
Batu ini bukanlah batu yang biasa, karena begitu banyak riwayat yang menjelaskan tentangnya.

Sebelumnya, kita juga mesti mengetahui bahwa Masjid Al-Aqsha dibangun di atas bukit bernama bukit Moriah, dan puncak bukit inilah yang dinamakan Sakhrah, tempat berpijak Nabi Muhammad SAW sebelum melakukan mi’raj ke langit.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda, “صليت ليلة اسري بي عن يمين الصخرة”, yang artinya : "Aku shalat pada malam Isra’ di sebelah kanan shakrah."

Apa saja penjelasan Shakhrah dalam riwayat sejarah dan menga pa ia disebut sebagai jantung Masjid Al-Aqsha?

Berikut pernyataannya ..


- Malaikat Israfil akan meniup sangkakala di Atas Shakhrah

وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِ الْمُنَادِ مِنْ مَكَانٍ قَرِيبٍ

"Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat."(Qaaf : 41)

Para mufassir menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ‘Penyeru’ adalah Malaikat Israfil, sedangkan makna ‘tempat yang dekat’ adalah Shakhrah Baitul Maqdis.

Secara nyata ayat ini telah menunjukkan bagaimana posisi Shakhrah nanti di akhir zaman. Ia jadi tempat Malaikat Israfil menyeru manusia menuju padang Mahsyar, yaitu negeri akhir zaman, Palestina.

- Shakhrah berasal dari surga

قال أنس بن مالك: ( إن الجنّة تحن شوقاً إلى بيت المقدس وصخرة بيت المقدس من جنة الفردوس وهي ُصرّة الأرض)

Anas bin Malik bekata, “Sesungguhnya surga merindukan Baitul Maqdis, Shakhrah Baitul Maqdis berasal dari surga, dan ia adalah pusat bumi”.


Pernyataan Anas bin Malik ini menunjukkan  ada dua batu surga yang diturunkan ke bumi ini, yaitu Hajar Aswad di Makkah, dan Shakhrah di Baitul Maqdis.

- Bagian tersuci di Baitul Maqdis

قال ثور بن زيد: ( قدس الأرض الشام وقدس الشام فلسطين وقدس فلسطين بيت المقدس وقدس بيت المقدس الجبل وقدس الجبل المسجد وقدس المسجد الصخرة ).

Dari Tsaur bin Zaid, seorang Tabiin, beliau berkata, “Bagian tersuci bumi adalah Syam, bagian tersuci Syam adalah Palestina, bagian tersuci Palestina adalah Baitul Maqdis, bagian tersuci Baitul Maqdis adalah bukit (tempat Al-Aqsha berada), bagian tersuci bukit adalah Masjid, dan bagian tersuci dari Masjid Al-Aqsha adalah Shakhrah”.

Dikatakan juga dalam Kitab Fathul Bari, berkata Abdur Razzaq dari Nu’man bin Al-Mundzir dari Wahb bin Munabbih, bahwasanya beliau berkata, “Allah berfirman kepada Shakhrah Baitul Maqdis; Akan Aku letakkan Arsy-ku di atasmu dan akan Aku kumpulkan seluruh ciptaan-Ku di atasmu.”

- Tempat para Nabi membuat masjid

Syaikh Muhammad Ath-Thahir bin Asyur, sebagaimana tersebutkan dalam Kitab Qabl Al-Karitsah Nadzir wa Wafir, beliau berkata, “Sesungguhnya para pakar sejarah bangsa Ibrani menyatakan bahwa pegunungan yang menjadi tempat bermukimnya Nabi Ibrahim yang masuk wilayah Kan’aan bernama Nabu. Inilah pegunungan yang menjadi tempat Nabi Sulaiman mendirikan masjidnya yang kemudian dikenal dengan nama As-Shakhrah.” (lihat, Qabl Karitsah, Abdul Aziz bin Al-Musthafa, hlm. 82)

- Mimpi Nabi Ya’kub

Dalam kitab Al-Bidayah wa Nihayah karangan Ibnu Katsir, disebutkan bahwa suatu malam nabi Ya’kub melakukan sebuah perjalanan. Beliau kelelahan dan tertidur di tempat tersebut seraya menyandarkan kepalanya pada sebuah batu.

Lalu beliau tertidur pulas, seketika itu pula beliau bermimpi melihat tangga yang memanjang dari langit ke bumi, dan ketika itu pula Malaikat turun dengannya.

Setelah itu beliau terbangun dan bergembira, lalu bernazar kepada Allah jika beliau pulang ke keluarganya dalam keadaan selamat, maka beliau dan keluarganya akan membuat sebuah masjid di atas tempat beliau bermimpi itu.

Setelah itu, beliau meletakkan sebuah tanda sederhana di tempat beliau bermimpi berupa sebuah batu agar bisa dikenalinya di kemudian hari.

Ibnu Katsir berkomentar, “inilah Baitul Maqdis, yang direnovasi Nabi Sulaiman bin Dawud alaihimassalam. Inilah tempat batu besar yang dijadikan tanda olehnya setelah bangun dari tidurnya,” (Al-Bidayah wa An-Nihayah).



-  Kubah Di Atas Shakhrah

Setelah membebaskan Baitul Maqdis bersama Bani Israil yang shalih, Nabi Yusya bin Nuun, murid Nabi Musa alaihissalam membangun masjid yang kelak digunakan untuk tempat beribadah bani Israil.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dikatakan bahwa, “Ketika merasa nyaman berada di Baitul Maqdis, maka Yusya’ bin Nuun mendirikan kubah di atas batu besar di Baitul Maqdis. Merekapun mengerjakan shalat dengan menghadapnya. Ketika kubah tersebut hancur, maka mereka shalat ke arah tempatnya, yaitu As-Sakhrah atau batu besar.”

“Karena itulah”, tulis Dr Fathi Zagh rut dalam bukunya ‘An-Nawazil fi Tarikhil Islam’, “Qubbah As-Shakrah ini menjadi kiblat para Nabi hingga pada masa Rasulullah SAW sebe lum hijrah.”

Imam Bukhari dalam Kitab Shahih nya dalam menafsirkan Surat Al-Ba qarah menyebutkan bahwa, “Ketika merasa nyaman berada di Baitul Maqdis, kiblat diarahkan ke batu besar di Baitul Maqdis”.





__

Dakwatuna.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar