Rabu, 10 Oktober 2018

Kisah Nabi Khidir as (2)

Kisah Nabi Khidir as (2)
Oleh aminuddin




Hadirnya Nabi Khidir saat  Wafat nya Nabi Muhammad SAW



IBNU Mash’ud berkata: “Ketika Rasulullah saw telah mendekati ajalnya, beliau mengumpulkan kami sekalian di kediaman ibu kita Siti Aisyah.  Kemudian beliau memperhatikan kami sekalian sehingga berderailah air matanya dan bersabda:

“Selamat datang bagi kamu sekalian dan mudah-mudahan kamu sekalian dibelas kasihani oleh Allah.  Saya berwasiat agar kamu sekalian bertaqwa kepada Allah serta mentaati-Nya. Sungguh telah dekat hari perpisahan kita dan telah dekat pula saat hamba yang dikembalikan pulang kepada Allah Ta’ala dan menemui surga-Nya. Kalau sudah datang saat ajalku, hendaklah Ali yang memandikan, Fadhal bin Abas yang menuangkan air, dan Usamah bin Zaid yang me nolong keduanya, kemudian kafanilah aku dengan pakaianku sendiri.  Bila kamu sekalian meng hendaki, atau dengan kain Yaman yang putih; Kalau kamu sekalian memandikan aku, maka taruhlah aku di atas balai tempat tidurku di rumahku ini, dekat dengan lobang lahatku. Sesudah itu keluarlah kamu sekalian barang sesaat meninggalkan aku. Pertama-tama yang menshalati aku ialah Allah Aza wajalla, kemudian malaikat Jibril, kemudian malaikat Israfil, malaikat Mikail, lalu malaikat Izrail dan beserta para pembantunya. Selanjutnya semua para malaikat. Sesudah itu masuklah kamu sekalian dengan berkelompok-kelompok dan lakukan shalat untukku.”

Setelah mereka mendengarkan ucapan perpisahan Nabi Muham mad SAW,  para sahabat menjerit dan menangis seraya berkata: “Wahai Rasullullah, Engkau adalah seorang Utusan untuk Kami sekalian , menjadi kekuatan dalam pertemuan Kami dan sebagai penguasa yang mengurus perkara Kami, bila mana Engkau telah pergi dari Kami, kepada siapakah Kami kembali dalam segala persoalan?”

Rasullullah SAW bersabda : ”Telah kutinggalkan kamu sekalian pada jalan yang benar dan di atas jalan yang terang dan telah kutinggalkan pula untuk kamu sekalian dua pe nasehat yang satu pandai bicara yang satunya diam saja. Yang pan dai bicara adalah Al-Quran dan yang diam adalah ajal atau kematian. Apabila ada persoalan yang sulit bagimu, maka kemba lilah kamu sekalian kepada Al-Qur an dan kepada sunnah. Dan kalau hati kamu keras membatu maka lunakkan dia dengan mengambil tamsil ibarat dari hal ihwal mati."

Sesudah itu Rasullullah SAW men derita sakit mulai akhir bulan Sha far selama delapan belas hari. Para sahabat pun menengok silih ber ganti.  Penyakit yang diderita mulai hari pertama hingga akhir hayatnya ialah pusing kepala.

Rasullullah SAW mulai menjadi
utusan Allah pada hari Senin dan wafat juga pada hari senin.  Pada hari Senin, penyakit beliau bertam bah berat. Maka, setelah Bilal selesai adzan subuh, dia pergi menghampiri pintu rumah Rasu lullah SAW sambil mengucapkan salam:

“Assalamu alaika ya Rasullullah!”

Siti Fatimah menjawab“ Rasullullah masih sibuk dengan dirinya sendiri”.

Bilal  kembali masuk ke masjid. Dia tidak memahami kata-kata Fati mah. Ketika waktu subuh makin terang, Bilal datang lagi mengham piri pintu rumah Rasullullah SAW dan mengucap salam seperti se mula.


Rasullullah SAW mendengar suara Bilal itu, maka beliau bersabda: ‘’ Masuklah hai Bilal, aku masih sibuk terhadap diriku sendiri dan penyakitku rasanya bertambah berat. Maka suruhlah Abu Bakar agar shalat berjamaah dengan orang-orang yang hadir. Bilalpun keluar sambil menangis dan mele takkan tangannya di atas kepala, sambil mengeluh, “Aduh musibah, susah, terputus harapan, telah ha bis hilang tempat tujuan, andaikata ibuku tidak melahirkan aku.”

Bilal terus masuk masjid dan berkata: ”Hai sahabat Abu Bakar, sungguh Rasullullah menyuruh engkau agar shalat bersama-sama dengan orang yang hadir, karena beliau sibuk mengurusi dirinya yang sedang sakit."

Ketika Abu Bakar melihat mihrab (tempat shalat imam) kosong dan Rasullullah tidak hadir, maka Abu Bakar menjerit keras sekali dan jatuh tersungkur karena pingsan. Maka ributlah kaum muslimin, dan Rasullullah mendengar keributan mereka, lalu bertanya kepada Fati mah:

 “Hai Fatimah, mengapa pagi ini, dan apakah keributan di sana itu?”

Siti Fatimah menjawab, “Keributan di sana itu ialah kaum muslimin sendiri , karena engkau tidak hadir”.

Maka Rasullullah SAW memanggil Ali dan Fadhan bin Abbas, lalu beliau bersandar kepada keduanya dan keluar rumah menuju masjid, lalu shalat bersama-sama dengan mereka dua rakaat.

Selesai shalat beliau berpaling ke belakang dan bersabda: ”Hai kaum muslimin, kamu semua dalam pemeliharaan dan pertolongan Allah, oleh sebab itu bertaqwalah kepada Allah serta mentaatinya, maka sesungguhnya saya akan meninggalkan dunia ini. Dan di hari ini hari pertamaku di akhirat dan hari terakhir bagiku di dunia”.


Rasullullah SAW berdiri dan pulang ke rumahnya. Kemudian Allah Ta’ ala memberi perintah kepada malai kat kematian : ”Turunlah Engkau kepada kekasih-Ku dengan sebaik-baiknya bentuk, dan lakukan dengan halus dalam mencabut ruhnya, kalau dia mengijinkan kamu masuk, masuklah dan kalau tidak mengijinkan maka janganlah masuk dan kembalilah”.


Maka malaikat kematian pun turun dengan bentuk seperti orang Arab Baduwi desa seraya mengucapkan salam:

“Assalamu ‘alaikum ya ahlal baiti nubuwwati wa ma’danir risalati adkhulu? (Mudah-mudahan kesela matan tetap untuk kamu sekalian, wahai penghuni rumah kenabian dan sumber risalah, apakah saya boleh masuk?).”


Rasullullah SAW mendengarkan suara malaikat kematian itu dan bersabda:

“Hai Fatimah, siapa yang berada di pintu?”

Siti Fatimah menjawab, “Seorang Arab Baduwi yang memanggil dan telah aku katakan Raslullah sedang sibuk menderita sakitnya, kemudi an memanggil lagi yang ketiga kali seperti itu juga, maka dia meman dang tajam kepadaku, sehingga me nggigil gemetar badanku, terasa ta kut hatiku dan bergeraklah sendi-sendi tulangku seakan-akan hampir berpisah satu sama lainnya serta berubah menjadi pucat warnaku."

Rasullullah SAW bersabda: “Tahu kah engkau wahai Fatimah, siapa dia?"

 Siti Fatimah menjawab, “Tidak”.

Rasullullah bersabda, “Dia adalah Malaikat yang mencabut segala kelezatan, yang memutus segala macam nafsu syahwat, yang memi sahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua ru mah dan meramaikan keadaan kuburan.”

Maka menangislah Siti Fatimah, dengan tangisan yang keras sekali sambil berkata: “ Aduhai celaka nantinya, sebab kematiannya Nabi yang terakhir, sungguh merupakan bencana besar dengan wafatnya orang yang paling taqwa, terputusnya dari pimpinannya para orang-orang yang suci serta penyesalan bagi kami sekalian karena terputusnya wahyu dari langit, maka sungguh saya terhalang mendengarkan perkataan engkau, dan tidak lagi bisa mendengarkan salam engkau sesudah hari ini.”

Kata Rasullullah: “Jangan Engkau menangis Fatimah, karena sesung guhnya engkaulah dari antara kelu argaku yang pertama berjumpa de ngan aku.”

Selanjutnya Rasullullah SAW ber sabda: “Masuklah engkau malaikat kematian."

Maka malaikat kematianpun ma suk sambil mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaika yaa Rasullullah.”

Rasullullah menjawab, “Wa laika salam, hai malaikat kematian, engkau datang untuk berkunjung atau untuk mencabut nyawaku?”

Kata malaikat kematian : “Saya da tang untuk berkunjung dan untuk mencabut nyawa, sekiranya engkau mengijinkan. Kalau tidak maka saya akan kembali”.

Kata Rasullullah SAW : “ Hai malai kat kematian, dimana Jibril Engkau tinggalkan?”

Kata malaikat kematian, ”Dia saya tinggalkan di langit duniadan para malaikat sedang menghormat dan memuliakan dia”.

Tak lama setelah itu, Malaikat Jibril as pun turun dan duduk di arah ke pala Rasullullah SAW.

Kata Rasullullah SAW: “Tahukah engkau kalau ajalku telah dekat?”

Jawab Malaikat Jibril, “Ya tahu, yaa Rasullullah.”
Kata Rasullullah, “Beritahukanlah kepadaku kemuliaan yang menggembirakanku di sisi Allah”.

Kata Jibril, “Sungguh pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah berbaris rapi, menanti ruh eng kau di langit, pintu-pintu surga telah telah dibuka dan para bidadari telah berhias menanti kehadiran ruh eng kau”.

Kata Rasullullah, “Alhamdulillah, Hai Jibril, berilah berita gembira tentang umatku di hari kiamat”.

Jibril berkata, “Saya beritahukan, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, Sungguh telah Aku larang para nabi masuk ke dalam surga, sehingga engkau masuk lebih dulu, dan Aku larang juga semua umat sehingga umat engkau masuk lebih dahulu.”

Kata Rasullullah, “Sekarang telah puas hatiku dan hilanglah rasa su sahku. Hai malaikat kematian, men dekatlah kepadaku.”

Malaikat kematian mendekat dan melaksanakan tugasnya mencabut ruh beliau, dan ketika ruh sampai di pusat (perut), Rasullullah berkata:

“Hai Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati itu.”

Malaikat Jibril memalingkan wajah nya dari Rasullullah saw.

“Hai Jibril, apakah engkau tidak su ka melihat wajahku?”

Jawab Jibril, “Wahai kekasih Allah, siapakah orangnya yang sampai hati melihat wajah engkau, sedang engkau di dalam sakaratul maut”.

Annas bin Malik ra berkata, “Ketika ruh nabi Muhammad SAW sampai di dada beliau bersabda, "Aku wasi atkan agar kamu sekalian menjaga shalat dan apa-apa yang menjadi tanggungannmu. Maka, masih saja beliau berwasiat dengan keduanya itu sampai putuslah perkataannya.”

Kata Ali ra, "Sungguh Rasullullah SAW ketika menjelang akhir hayat nya telah menggerakkan dua bibir nya dua kali, dan ketika saya men dekatkan telinga, saya mendengar kan beliau mengucapkan dengan pelan-pelan, umatku… umatku…”


Maka ruh Rasulullah SAW dicabut pada hari senin bulan Rabi’ul awwal. Seandainya dunia ini akan kekal bagi seseorang,  niscaya Rasulullah SAW di dunia ini akan kekal.

Diriwayatkan, Ali telah membaringkan jenazah Rasullullah SAW untuk dimandikan, tiba-tiba ada suara dari sudut rumah yang mengatakan dengan keras sekali:

“Muhammad jangan engkau mandikan karena dia sudah suci dan disucikan.”

Maka timbullah keragu-raguan pa da diri Ali terhadap suara itu.

Kata Ali, “Siapa Engkau sebenarnya, karena sesungguhnya Nabi Muham mad SAW telah memerintahkan un tuk memandikan.”

Tiba-tiba ada suara lain yang mengatakan, “Wahai Ali, mandikanlah dia, karena sesungguhnya suara yang pertama tadi adalah suara Iblis terkutuk, sebab dengki terhadap Muhammad SAW. Dia bermaksud agar beliau dimasukkan ke dalam kubur tanpa dimandikan”.

Kata Ali, “Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu, sebab engkau telah memberitahukan bahwa tadi itu suara iblis terkutuk, maka siapakah Engkau?”

Suara itu menjawab, “Saya adalah Nabi Khidir, menghadiri jenazah Nabi Muhammad SAW.”

Selanjutnya Ali ra memandikan ja sad Nabi Muhammad SAW, Fadhal bin Abbas dan Usamah bin Zahid ra yang menuangkan air dan malaikat Jibril telah datang dengan memba wa obat penahan kehancuran jasad dari surga.

Kemudian mereka mengkafani beli au serta menguburnya di kamar Siti Aisyah ra, di tengah malam Rabu. Sedangkan Siti Aisyah ra berdiri di atas kubur Nabi Muhammad SAW sambil berkata:

“Hai orang yang belum pernah me ngenakan pakaian dari sutra, dan belum pernah tidur di atas ranjang yang empuk, hai orang yang keluar dari dunia sedang perutnya belum pernah kenyang meskipun dengan roti, dengan gandum kasar; hai or ang yang memilih tidur di atas tikar daripada balai/ranjang; hai orang yang tidak tidur sepanjang malam karena takut siksa neraka Sa’ir."








____

Wilayyahallah.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar