Rabu, 10 Oktober 2018

Freemason (9)

Freemason (9)
Oleh aminuddin





-- Kesaksian Lelaki 90 Tahun soal 'Rumah Setan' Freemasoncop


GOEJARMA masih ingat betul keja dian di depan bangunan yang kerap disebut sebagai rumah setan oleh warga Bandung sekitar tahun 1937.

Pada malam-malam tertentu, di rumah yang tepat berada di seberang Balai Kota Bandung ini, berkumpul tokoh-tokoh Belanda di kota kembang.

Pak Goer, demikian ia sering disapa, saat itu masih berusia 12 tahun. Bersama teman sepermainannya, Goer kecil hanya hanya melihat puluhan orang mendatangi bangunan dengan ciri khas empat pilar besar itu.

“Mereka bawa mobil dan bendi,” kata Goerjama. Tak ada yang mencolok dari pakaian yang mereka kenakan.

Mobil dan Bendi, menurut Goerja ma, adalah barang yang sangat mewah saat itu. Jumlahnya juga sangat sedikit di Bandung.

Tak lama setelah mereka berkumpul di dalam gedung, dipastikan bakal ada suara menyeramkan terdengar hingga ke luar gedung. Bukan seperti suara orang mengaji di masjid. Pak Goer menyebutnya sebagai suara asing dan menyeramkan.

“Hooo... Hoooo…,” kata Pak Goer menirukan suara yang baginya menyeramkan tersebut.

Warga Bandung, menurutnya, banyak yang menyebut itu suara memanggil arwah orang yang sudah wafat.

Pria kelahiran tahun 1925 ini yakin, soal rumah setan itu bukan sekadar isapan jempol. Belakangan ia membuktikan sendiri soal hubungan perkumpulan di gedung tersebut terkait dengan ritual pemanggilan arwah.

Sebutan rumah setan diakui Pak Goer, memang desas-desus warga Kota Bandung. Julukan tersebut membuat siapapun yang bukan anggota perkumpulan itu segan atau bahkan takut mendekat.

Selain anggotanya memang para meneer Belanda, gerbang masuk gedung tersebut juga dijaga para centeng. “Mana berani kami mendekat,” kata Pak Goer.

Gedung tersebut adalah Loji Sint Jan, tempat berkumpulnya para anggota Freemason atau Vrijmetselarij di Bandung.

Gedung tersebut dulu sangat terkenal di Bandung karena jadi tempat berkumpul orang-orang besar di Bandung. Bahkan dulu jalan di mana gedung itu ada diberi nama Jalan Loge atau Logeweg. Sekarang berubah menjadi Jalan Wastu Kencana.

Kejayaan loji tersebut berakhir seiring dengan datangnya Jepang ke Indonesia. Pada Perang Dunia Kedua saat itu, bersama Jerman, Jepang memang sangat memusuhi perkumpulan Freemason.

Mendengar Jepang menang perang di Pasifik dan bakal masuk Hindia Belanda, aktivitas loji dihentikan. Buku-buku yang ada di gedung tersebut dibawa keluar dan dijual ke tukang buku bekas.

Banyak buku yang dibakar. Ryzki Wiryawan, penulis buku “Okultisme di Bandoeng Doeloe: Menelusuri Jejak Gerakan Teosofi dan Freemasonry di Bandung” mengatakan, yang paling banyak dimusnahkan adalah dokumen yang memuat daftar anggota perkumpulan.

“Memang sudah ada konspirasi antara Jepang dan Jerman untuk menangkap anggota Freemason dan Yahudi,” kata Ryzki kepada CNN Indonesia.

Era pendudukan Jepang ini jadi era kelam perkumpulan Freemason. Buku-buku yang mencatat perkum pulan ini sangat minim sekali. Sa lah seorang rekan Pak Goer ada yang menemukan buku soal Freemason dari Loji Sint Jan.

Saat itu Pak Goer tinggal di Yog yakarta karena dibuang oleh Je pang. Iseng membaca buku Freemason itu, teman Pak Goer mengajaknya untuk mempraktikkan isi buku tersebut. Saat itu mereka menempati bekas benteng di kawasan Ambarukmo.

Bersama dua orang teman lainnya, ketiga merancang sebuah media pemanggil arwah berupa tongkat yang dibentuk menyilang. Pak Goer dan tiga orang temannya memegang keempat ujung tongkat tersebut.

Mantra dalam buku tersebut dibaca dengan beberapa bahasa seperti bahasa Indonesia, Jawa, Arab, dan Belanda.

Tak ada respons pada media tongkat yang mereka pegang saat mantra dibaca menggunakan bahasa Indonesia, Jawa dan Arab.

Namun saat Pak Goer membaca menggunaka bahasa Belanda, tongkat yang mereka pegang mendadak berat.

“Seperti ada yang duduk di atasnya,” ujarnya.

Dari informasi yang mereka terima, di benteng itu ada makam seorang Belanda, bekas pengurus kuda Sultan Yogyakarta.

Setelah kejadian itu, Pak Goer makin yakin, bahwa perkumpulan Vrijmetselarij di Loji Sint Jan selama ini memang melakukan ritual pemanggilan arwah.

Kini rumah setan tersebut tak lagi berbekas. Gedung lamanya sudah diruntuhkan dan kini dibangun masjid besar di atasnya, Masjid Al Ukhuwah yang jadi Masjid Raya Kota Bandung.

Sebelum jadi masjid, bangunan loji Sint Jan, kata Pak Goer, pernah menjadi restoran sunda, gedung pramuka dan gedung resepsi pernikahan.




-- Pertama Kali, Freemason Inggris Kini Terima Anggota Transgender


FREEMASON  Inggris menerima anggota transgender untuk pertama kalinya setelah organisasi rahasia ini hanya menerima anggota laki-laki.

Dilaporkan Reuters, 2 Agustus 2018, United Grand Lodge of England (UGLE) telah mengeluarkan kebijakan baru yang menyatakan bahwa seorang Freemason yang setelah inisiasi berhenti menjadi seorang pria tidak berarti berhenti menjadi seorang Freemason.

UGLE, adalah badan pengurus Freemason di Inggris dan Wales, mengatakan mereka mengakui perubahan dalam masyarakat dan mendesak anggotanya untuk menunjukkan kebaikan dan toleransi terhadap anggota yang mengubah jenis kelamin.

Seorang perempuan yang menjadi seorang pria juga akan diizinkan untuk menjadi seorang Freemason, kata kebijakan tersebut.

UGLE mengatakan bahwa aturan berpakaian yang direkomendasikan sedang diperluas dengan memasukan rok berwarna gelap dengan atasan pakaian gelap.

Dilansir Russia Today, beberapa aturan dari Freemason lain tidak berubah. Misalnya sambutan formal antaranggota, harus dimulai dengan awalan "saudara laki-laki/Brother".

Jadi seseorang yang mengganti kelamin dari pria menjadi perem puan atau sebaliknya, tetap dipang gil dengan awalan "brother" diikuti nama anggota. Selama interaksi informal, mereka harus dipanggil "dengan nama dan gelar yang dipilihnya."

Langkah ini telah dipertanyakan sejumlah orang di media sosial, apakah komunitas rahasia berusia ratusan tahun, yang anggotanya termasuk Raja Edward VII dan Perdana Menteri Winston Churchill, lebih progresif pada hak-hak transgender daripada hak-hak perempuan.

Namun perubahan kebijakan Freemason diyakini untuk menyesuaikan undang-undang Inggris yang ditujukan untuk mencegah diskriminasi terhadap orang-orang yang telah menjalani operasi ganti kelamin.

Seorang Freemason, yang juga berprofesi sebagai hakim senior, telah menimbang kebijakan untuk memperluas implikasi hukum dari operasi kelamin demi mengantisipasi penyesuaian hukum.

Sebagai asosiasi atau lembaga satu jenis kelamin, Freemason dibebaskan dari undang-undang diskriminasi seksual mengenai kriteria penerimaan.

Di bawah Undang-undang Pengenalan Gender 2004 dan Undang-Undang Kesetaraan 2010 di Inggris, seorang pria yang bergabung dengan Freemason tidak dapat dicabut keanggotaannya setelah menjadi perempuan karena transgender dilindungi payung hukum.

"Meskipun tidak ada permintaan umum untuk panduan tentang operasi kelamin, pertanyaan tentang masalah ini kemungkinan akan menjadi semakin umum di masa depan, dan sekarang tampaknya menjadi waktu yang tepat untuk mengeluarkan panduan umum kepada anggota kami," kata juru bicara Freemason.

Freemason didirikan pada 1717 di London dan memiliki 200 ribu anggota yang semua anggotanya berjenis kelamin laki-laki setelah berabad-abad terbentuk.







____

-- CNN Indonesia

-- Tempo.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar