Sabtu, 13 Oktober 2018

Kisah Nabi Khidir as (6)

Kisah Nabi Khidir as (6)
Oleh aminuddin

Pertemuan Nabi Khidir as dengan Rasulullah SAW  dan Para Sahabat

1. Nabi Khidir dengan Rasulullah SAW.

Ketika Rasulullah SAW sedang bera da di dalam masjid, beliau mende ngar orang berdoa, ”Ya Allah, tolonglah aku atas apa yang bisa menyelamatkan aku dari apa yang paling kutakuti”.

Lalu Rasulullah SAW bersabda, ”Me ngapa orang itu tidak menyertakan pasangan doanya yang seperti ini, Ya Allah berilah kepadaku kerindu an orang-orang shalih yang pa ling mereka rindukan”.

Kemudian Rasulullah SAW menyu ruh sahabatnya Anas untuk me nyampaikan pasangan doa tersebut kepada orang yang sedang berdoa tadi.

Setelah Anas menyampaikan kepa da orang tersebut perihal pasangan doa dari Rasulullah SAW, maka orang itu berkata, ”Ya Anas, katakan kepada Rasulullah SAW bahwa Allah telah memberi kelebihan karunia kepadanya di atas para nabi seperti kelebihan kepada umatnya di atas umat para nabi lain, seperti kelebihan bulan suci Ramadhan atas bulan-bulan lainnya dan memberi kelebihan hari Jumat atas hari-hari yang lain."

Anas terperanjat pada saat lelaki itu menoleh ke arah Anas, karena yang nampak adalah Khidir as.

Lalu orang itu berdo’a, ”Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan umat yang dimuliakan ini”.

(Riwayat Ibnu Addi dalam Al-Kamil, Thabrani dalam Al Ausath, Ibnu Askir dalam Tarikh Damsyq dan Ibnu Abiddunya dari Anas. Riwayat Hakim dalam Al Mustadrak)

2. Nabi Khidir dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Pada waktu wafatnya Rasulullah saw, ketika di tengah-tengah kesedi han para sahabat yang menangis mengelilingi jenazah beliau, tiba-tiba ada seorang laki-laki berjenggot lebat dan bertubuh tegap masuk ke dalam majelis takziah, lalu ia menundukkan kepa lanya sambil mencucurkan air mata.

Kemudian segera ia menemui para sahabat Nabi dan berkata, “Sesung guhnya Allah telah menyediakan ba lasan pada setiap musibah, peng ganti pada setiap yang hilang dan khalifah pada setiap yang tiada. Maka kembalikanlah segalanya kepada Allah dan berharaplah kepada-Nya. Allah telah mempersiapkan segalanya untuk kalian dan ketahuilah bahwasanya yang ditimpa musibah adalah orang yang tidak terpaksa”.

Lalu orang itu pergi. Para sahabat saling bertanya siapakah gerangan orang tersebut, tetapi Abu Bakar segera menjawab, “dia adalah Khi dir, saudara Rasulullah SAW”.

(HR Baihaqi dari Anas bin Malik).

3. Nabi Khidir dengan Umar bin Khattab.

Ketika Umar bin Khattab akan men shalati jenazah, tiba-tiba terdengar suara berbisik dari belakang, ”Tunggu saya, wahai Umar...”.

Maka Umar menunggu dia hingga dia masuk ke dalam shaf dan Umar pun mulai bertakbir.

Setelah shalat, Umar mendoakan jenazah tersebut, ”Ya Allah, Jika Engkau mengadzabnya berarti dia durhaka kepada-Mu, tapi jika Engkau mengampuni dia, maka sesungguhnya dia sangat membutuhkan rahmat-Mu, Ya Allah”.

Setelah jenazah dimakamkan, seorang laki-laki memperbaiki tanah kuburannya sambil berkata, ”Beruntunglah kamu, wahai penghuni kubur jika kamu tidak menjadi orang yang mengaku, menyimpan atau menentukan”.

Umar kemudian menyuruh untuk memanggilkan orang tersebut, ”Bawalah orang itu kemari, akan kutanyakan tentang shalatnya dan pembicaraannya itu”.

Maka seorang lelaki pergi mencarinya, tetapi orang itu sudah tidak ada, kecuali hanya bekas tela pak kakinya di tanah yang besarnya kira-kira satu hasta.

Lalu Umar berkata lagi, ”Demi Allah, dia itu Khidir yang pernah diceritakan oleh Rasulullah SAW kepadaku”.

(HR Muhammad bin Munkadir).

4. Nabi Khidir dengan Ali bin Abi Thalib.

Pada waktu sahabat Ali ra sedang melakukan thawaf, tiba-tiba dia melihat seorang laki-laki bergan tung pada kelambu Ka’bah sambil berdo’a:

”Ya Tuhan, yang tidak direpotkan oleh sebutan-sebutan, yang elok dan tidak disilapkan oleh permintaan-permintaan yang banyak dan tidak disibukkan oleh pengaduan-pengaduan yang bertubi-tubi, bolehlah aku mencicipi dinginnya ampunan-Mu dan manisnya rahmat-Mu”.

Ali ra pun memanggil dan berkata, ”Wahai hamba Allah, ulangilah perkataanmu itu”.

Kata orang itu, ”Apakah Anda mendengarkanku?”.

Ali pun menjawab, ”Ya”.

Lalu orang itu berkata lagi, ”Demi Khidir yang jiwanya berada didalam genggaman-Nya, siapa-siapa orang yang mengucapkan doa itu pada setiap selesai shalat fardhu maka pasti ia akan mendapatkan ampunan dosa-dosanya dari Allah, sekalipun dosa-dosanya itu laksana bilangan pasir dan seperti butir-butir air hujan atau bagaikan banyaknya daun-daun pepohonan”.

(HR Al-Khathib dalam tarikh Baghdad dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Abdullah bin Mhraz, dari Yazid bin Ashamm dari Ali bin Abi Thalib).

5. Nabi Khidir dan Ibrahim Al-Khawash.

Dalam sebuah perjalanan, Ibrahim merasa kehausan dan akhirnya terjatuh pingsan tak sadarkan diri. Tiba-tiba dirasakannya ada per cikan air mengenai wajahnya.

Setelah dibuka matanya, Ibrahim melihat seorang pemuda tampan menunggang seekor kuda, berpa kaian hijau dan bersorban warna kuning.

Kemudian pemuda itu turun dan memberi minum kepada Ibrahim sambil berkata, ”Naiklah di belakangku”.

Tidak berapa lama kemudian, Ibra him sudah sampai di Madinah. Lalu si pemuda itu berkata, ”Turunlah, sampaikan salamku kepada Rasulullah SAW, katakanlah kepada beliau bahwa Khidir menyampaikan salam kepadanya”.

(HR Nabhani dalam Jami’ Karamatil Auliya’).

6. Nabi Khidir dan Abdul Qadir Al-Jailani.

Pada saat Abdul Qadir Al-Jailani pertama kali memasuki kota Bagh dad, Khidir datang menemuinya lalu memberi isyarat kepadanya agar dia mematuhi apa yang diperintahkannya kepada Abdul Qadir.

Kata Khidir, “Duduklah kamu di tempat ini dan janganlah beranjak sedikitpun, ingát aku datang kembali kemari”.

Maka Abdul Qadir Al-Jailani duduk di tempat itu sampai tiga tahun. Pa da tahun pertama, Khidir datang menjenguknya dan berkata, “Te ruskan saja tinggal di tempat ini sampai aku datang lagi menjengukmu kesini”.

Demikianlah, aku duduk di atas puing-puing reruntuhan kota Ma dani. Pada tahun pertama Abdul Qadir Al-Jailani tidak makan kecu ali rerumputan saja yang dimakan dan tidak pernah minum walaupun hanya seteguk.

Pada tahun kedua, Abdul Qadir Al-Jailani tidak makan walaupun re rumputan, tetapi hanya minum air saja selama satu tahun.

Dan pada tahun ketiga, makan minum dan tidur pun mampu di tahan dan sama sekali tidak dilakukannya.

Pada suatu malam dan udara sa ngat dingin laksana salju, Abdul Qadir Al-Jailani mencoba meme jamkan mata di atas reruntuhan istana Kaisar Persia di kota itu juga.

Anehnya, pada malam itu dia bermimpi keluar mani (ihtilam) sebanyak 40 kali dan setiap kali bermimpi dia segera mandi wajib (mandi janabah / mandi junnub).

Maka pada malam itu juga dia man di junub sebanyak 40 kali agar te tap dalam keadaan suci. Setelah mandi yang terakhir, dia segera bangun dan berdiri melakukan Ibadan supaya tidak tertidur  dan  tidak bermimpi lagi.

(HR Abu Su’ud Al-Haraimi dalam Qalaid Al-Jawahir)

7. Nabi Khidir dengan Abu Bakar Al-Kattani.

Abu Bakar Al-Kattani adalah seo rang tokoh terkemuka, seorang alim, yang punya kharisma dan kuat bermujahadah.

Di antara mujahadahnya yang sulit ditiru orang biasa adalah dia senan tiasa dalam keadaan suci dalam sa tu hari satu malam. Berdiam di ba wah kubah Masjidil Haram selama tiga puluh tahun dan tidak pernah tidur.

Pada suatu hari, seorang laki-laki berwibawa masuk melalui pintu Abi Syaibah, lalu mendekatinya dan memberi salam kepadanya sambil berkata :

“Hai, Abu Bakar, mengapa anda tidak pergi ke maqam Ibrahim bersama orang-orang yang saling mendengarkan pelajaran hadits Nabi?”.

Abu Bakar mengangkat kepalanya dan berkata, “Wahai guruku, kebanyakan hadits-hadits yang disampaikan mereka itu semuanya tanpa sanad, sedangkan aku dapat menjelaskan dari sini dengan sanad-sanadnya yang panjang”.

Laki-laki itu bertanya kembali, “Dari siapa anda mendengarnya ?”.

Abu Bakar menjawab, “Tuhan sendiri yang mengajarkan ke dalam hatiku”.

“Coba buktikan hal itu kepadaku !” Pinta lelaki itu yang tak lain adalah Nabi Khidir.

Jawab Abu Bakar, “Buktinya adalah bahwa kamu tak lain adalah Khidir”.

(HR Ibnul Munawwir dalam kitabnya)

______

- Sumber : Kumpulan Kisah Nabi Khidir oleh MB. Rahimsyah.

-- hakiembunitas.blogspot.com.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar