Dua Menara (25)
Oleh Wak Amin
"BAGAIMANA Pak Karta?" Harap-harap cemas. Kuatir Pak Karta ke colongan. Tidak tahu apa yang di bicarakan Mr Clean dan Letnan Ratna dengan Bu Hawiyah dan Zaitun di ruang tamu.
"Dekati Pak Karta. Cepat ...!"
"Enggak bisa Pak Husin," kata Pak Karta, berkeringat dingin.
"Kenapa?"
"Ketahuan Pak. Biasanya ibu, kalau ada tamu penting, beliau tak izin kan saya mendekat .."
"Lalu yang kasih minuman siapa Pak Karta?"
"Ya saya jugalah Pak Husin. Masa orang lain. Pak Husin gimana sih, kayak tak kenal saya saja."
"Sudah belum dikasih minumannya?"
"Belum Pak Husin ..."
Sesaat kemudian, Zaitun mendeka ti Pak Karta yang berdiri setengah mematung di balik pembatas ruang tamu dan ruang keluarga.
"Tolong ya Pak bikinin air teh manis dua .."
"Baik Non Zaitun ..."
Kriiing ...
Hape Pak Karta berdering. Berubah gugup. Buru-buru dia matikan.
"Kenapa dimatikan Pak Karta. Mana tau penting."
"Tak mungkinlah Non. Orang seper ti bapak ini disenangi orang saja syukur."
"Ah, Pak Karta gitu. Ya udah, bikinin air tehnya ya Pak!"
"Baik Non ..."
Bos Husin kesal bukan main. Dia tersinggung. Ditelepon malah di matikan hapenya. Ngapain dia ya. Atau jangan-jangan Pak Karta mau lari dari saya.
"Awas ya kalau sampai kabur dari saya." Ancam Bos Husin, ngomong sendirian. Hape di tangan nyarus dia banting ke lantai.
Setelah reda dari amarahnya, Bos Husin berinisiatif menelepon Pak Karta lagi.
Kali ini telepon diangkat ...
"Maaf Pak. Tadi buru-buru- buru bi kin minuman untuk tamunya ibu. Jadi baru sekarang sempat mene rima telepon bapak. Maaf ya Pak."
"Ya sudah. Lain kali jangan diula ngi."
"Baik Pak. Terima kasih."
"Oke. Gimana minumannya. Sudah?"
"Sudah Pak Husin ..."
"Pasti kamu sempat dengar kan omongan mereka?"
"Tentu. Sempat Pak."
"Bagus kalau begitu. Coba apa saja yang kamu dengar Pak Karta."
"Sebentar ya Pak. Saya diminta Nyo nya ikut mengantar kepulangan ta mu sampai ke teras ..."
Hape dibiarkan nyala, ditaruh Pak Karta dalam saku bajunya.
****
Dikirim dari Acer Liquid Z330
Tidak ada komentar:
Posting Komentar