Rabu, 03 Oktober 2018

Yaman dan Pertemanan (16)

Yaman dan Pertemanan (16)
Oleh aminuddin






- Akibat Perang Yaman, Wabah Penyakit Kolera Meningkat 170 Persen di Hodeida

SANA'A - Laporan terbaru dari pusat kesehatan yang didukung lembaga amal Save the Children., menyebut setelah fasilitas air dibom di Yaman, dugaan kasus kolera di daerah itu telah melonjak sebesar 170 persen.

Dikutip dari Sky News pada Selasa (2/10/2018), hal itu menyebabkan kematian warga sipil sulit dihindari, terutama anak-anak.

Dalam waktu satu bulan setelah penghancuran fasilitas sanitasi dan stasiun air, dugaan kasus kolera di Hodeida meningkat dari 732 kasus di bulan Juli, menjadi 1.342 pada bulan Agustus.

Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut sekitar 30 persen dari semua kasus kolera yang dicurigai di Yaman terjadi pada anak-anak di bawah lima tahun.

Bulan lalu, hanya dua hari setelah Salwa (nama disamarkan) jatuh sakit karena kolera, putranya yang berusia dua tahun, Aseel (juga nama samaran), dirawat di rumah sakit bersama dirinya dalam kasus yang sama.

Salwa, yang hamil empat bulan, ketakutan akan nasib bayinya yang belum lahir setelah tertular penyakit menular tersebut, yang menyebabkan diare dan muntah.

Ketika pertama kali jatuh sakit, dia tidak mampu membayar ongkos bus 2.000 riyal Yaman (setara Rp 120 ribu dengan kurs Rp 60,18 per satu riyal) untuk pergi ke rumah sakit.

Ia terpaksa menunggu sampai ayahnya berhasil menyewa sepeda motor, dan membawanya dalam kondisi kritis ke klinik kesehatan Save the Children.

Salwa berkata: "Dua hari setelah saya sakit, putra saya yang berusia dua tahun jatuh sakit dan bergabung dengan saya di rumah sakit. Yang pasti, saya menularinya dengan kolera. Kami minum air dari sumur dekat rumah kami."

"Hidup kami sebelum perang makmur tetapi setelah perang, berubah karena kekurangan bahan bakar," lanjutnya bercerita.

"Saya hamil empat bulan. Ketika saya sakit kolera saya merasa khawatir bahwa saya akan kehilangan bayi saya, terutama dengan situasi buruk saat ini," ujar Salwa sedih.

Kenaikan dugaan kasus wabah kolera di Hodeidah mengikuti peningkatan pertempuran sejak Juni.

Arab Saudi dan sekutunya telah berperang di Yaman selama hampir empat tahun melawan pemberontak Houthi yang didukung Iran, di mana menguasai sebagian besar Yaman Utara termasuk ibu kota Sanaa, serta membuang pemerintah yang didukung Riyadh ke pengasingan pada tahun 2014.



- Listrik Padam Tambah Penderitaan Warga Yaman

JAKARTA -- Listrik yang berulangkali padam terus melanda Kota Pelabuhan Aden di Yaman Selatan selama enam hari berturut-turut. Hal itu menambah parah penderitaan warga.

Masa pemadaman listrik lebih dari 18 jam per hari, sehingga semua permukiman warga Aden gelap total. Banyak warga di Aden dipaksa mencari penyelesaian lain untuk menghadapi panas yang menyengat.

Majed Talib, seorang mahasiswa di Universitas Aden, mengatakan, "Dalam beberapa hari belakangan, masa pemadaman listrik naik ke tingkat yang tak pernah terjadi sebelumnya, sehingga mengganggu kegiatan sehari-hari kami."

Seorang pejabat perusahaan listrik milik negara di Yaman mengatakan kepada Xinhua, sebagian unit pembangkit listrik di Aden tak lagi beroperasi, sehingga terjadi pemadaman listrik secara luas di kota tersebut.

Ia juga menjelaskan alasan bahwa jaringan listrik nasional menghadapi kekurangan parah pasokan bahan bakar. "Kami kehilangan lebih dari 130 megawatts dari seluruh kapasitas tenaga listrik, yang berjumlah 300 megawatt."

"Tuntutan baru-baru ini akan listrik di Aden mencapai 450 megawatts dan melampaui kapasitas tenaga listrik kami saat ini (300 megawatts). Penurunan itu terjadi akibat kurangnya bahan bakar dan kegagalan lain akibat kurangnya perawatan," tambah sumber tersebut.

Sementara itu, pekerja sebagian stasiun pembangkit listrik memulai pemogokan umum dalam protes terhadap ambruknya mata urang rial Yaman dan meroketnya harga kebutuhan dasar.

Para teknisi dan pekerja lain tenaga listrik di Aden menolak untuk melanjutkan pekerjaan mereka dan menuntut pemerintah menaikkan gaji bulanan mereka.

Warga mengatakan tak-adanya pekerja dan teknisi akibat pemogokan umum akan meningkatkan pemadaman listrik di Aden dan menambah rumit masalah.

"Semua pegawai Yaman memerlukan kenaikan gaji sebab kami terpengaruh oleh devaluasi mata uang tapi melakukan pemogokan dan menolak untuk melakukan pekerjaan kami bukan penyelesaian," kata Mahmoud Ali, seorang guru sekolah dasar yang berpusat di Aden.

Aktivis lokal mengatakan demonstrasi itu akan dilakukan di Aden untuk memprotes memburuknya layanan termasuk pasokan air dan listrik.

 "Sebagian anasir sabotase berusaha memanfaatkan pemadaman listrik sebagai dalih untuk melakukan demonstrasi dan merusak kestabilan di kota tersebut tapi itu takkan terjadi," kata sumber tersebut.

Pejabat pemerintah itu kembali meyakinkan warga di Aden bahwa operasi sedang dilakukan untuk memulihkan jaringan dan menghubungkan stasiun pembangkit listrik.

Kota Pelabuhan Aden di Yaman Selatan, tempat pemerintah Yaman untuk sementara berpusat, telah menderita akibat seringnya pemadaman listrik dalam beberapa tahun belakangan. Hal itu terutama selama udara musim panas, yang menyengat.

Kurangnya bahan bakar dan pemeliharaan yang memadai bagi stasiun pembangkit listrik milik negara adalah alasan utama yang menyebabkan pemadaman listrik di Aden.

Negara Arab tersebut telah terjerumus ke dalam perang saudara sejak gerilyawan Syiah dukungan Iran, Al-Houthi, menguasai sebagian besar wilayah negeri itu secara militer dan merebut semua provinsi Yaman Utara, termasuk Ibu Kotanya, Sana'a, pada 2014.

Arab Saudi bersama negara lain Arab secara militer ikut-campur dan mulai menggempur Sana'a pada Maret 2015. Hal itu sebagai reaksi atas permintaan pemerintah yang diakui secara internasional dan dipimpin oleh Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi untuk melindungi Yaman dan mematahkan pengaruh Iran.

Konflik militer dalam negeri Yaman antara gerilyawan Al-Houthi dan Pemerintah Yaman, dukungan Arab Saudi, baru-baru ini memasuki tahun keempatnya, sehingga menambah parah penderitaan rakyat Yaman. Hal itu juga menambah dalam krisis kemanusiaan terburuk di negeri itu.



- Peradaban Kuno

NEGARA yang memiliki beberapa pulau terpisah ini memiliki kekayaan sejarah peradaban kuno sejak ribuan tahun lalu. Dalam catatan sejarah, Yaman menjadi bagian pusat perdagangan antara India, Cina, Afrika, dan Mediterania.

Budaya bangsa ini hampir sama dengan negara Arab pada umumnya. Masyarakat di kawasan Yaman secara umum menganut menganut sistem patriarki, yakni pria lebih dominan dibandingkan wanita dalam segala hal.

Menarik mencermati sistem buda ya yang berlaku di Yaman ini. Strata sosial masih begitu mencokol dan kuat mentradisi dalam masyarakat. Terutama berbasis kesukuan, aga ma, dan kekerabatan. Kesetiaan mereka paling kuat diukur dari penghormatan kepada keluarga.

Setelahnya mereka akan menghormati kerabat dalam satu suku dengan leluhur yang sama. Di pedesaan, otoritas negara sangatlah lemah sehingga konflik yang melibatkan kontak fisik dan senjata antarsuku sangat rentan terjadi.

Tak mengherankan jika setiap keluarga mempunyai senjata api. Hampir setiap keluarga akan sedia satu senjata api dan biasanya yang membawa adalah pria dan anak laki-laki mereka.

Mereka tak sungkan membawa senjata api di hadapan publik. Selain senjata api, juga sering membawa senjata tradisional seperti janbiyyah, belati yang mirip pisau, tetapi pendek dan lebar melengkung disarungkan pada sabuk yang dikenakan di pinggang.

Janbiyyah dapat menjadi simbol status seseorang dalam hierarki kesukuan masyarakat Yaman.

Masyarakat di negara yang berbentuk republik ini masih menganut pernikahan endogami. Endogami adalah pernikahan yang dilakukan sesama kerabat yang masih ada keterikatan keluarga.

Mereka lebih senang jika anak-anak laki-laki mereka menikah dengan sepupu dari pihak ayah.

Pernikahan di Yaman harus menyediakan mahar. Mahar ini diberikan kepada ayah pengantin pria kepada wanita.

Laki- laki, sebagamana ketentuan hukum Islam diizinkan beristri em pat, meskipun jarang pria yang memiliki istri lebih dari satu. Kendati demikian, banyak pernika han terjadi pada usia muda.

Di Yaman, kita akan mendapatkan dalam satu rumah terdapat beberapa keluarga yang tinggal bersama. Mereka adalah keluarga besar dengan kepala keluarga laki- laki tertua. Dia akan membuat keputusan penting setiap ada permasalahan keluarga. Wanita memainkan peran sekunder dalam mengelola rumah tangga dan membesarkan anak-anak.

Mereka yang tinggal di pedesaan biasanya bekerja di bidang pertanian. Ladang atau sawah tersebut merupakan milik keluarga. Wanita pun turut membantu pria untuk bekerja sebagai petani.

Meski wanita melakukan pekerjaan kasar, status sosial wanita di Yaman akan meningkat jika mereka melahirkan anak laki-laki.

Memiliki anak laki-laki dalam keluarga membuatnya men jadi sangat berharga dan penting di Yaman.

Seperti halnya kebiasaan di Islam, lelaki yang lahir harus segera di khitan dan mereka sering meraya kannya dengan pesta yang cukup besar.

Tak hanya anak laki-laki, anak perempuan di negara ini pun harus dikhitan meski undang-undang di Yaman melarangnya sejak 2001.

Pakaian khas masyarakat Yaman berbeda dengan mereka yang tinggal di Semenanjung Arab. Laki-laki Yaman umumnya mengenakan thawb (gamis untuk laki-laki) panjang dan longgar dan dilengkapi dengan jaket di atasnya.

Mereka juga sering mengenakan Futah tradisional seperti sarung di Indonesia. Futah biasanya kerap dipakai bersama dengan kemeja.

Selain itu, serban juga digunakan bagi pria sebagai penutup kepala atau topi bambu yang ditenun yang dikenal sebagai kopiah.

Sementara untuk wanita, pakaian yang dikenakan bergantung pada kegiatan yang dilakukannya sehari-hari.

Di Yaman Utara, wanita di kota biasanya mengenakan sharsaf, rok hitam, kerudung dan cadar.nPa kaiannya menutupi seluruh tubuh.

Sedang kan di Yaman Selatan, pemerintahnya menentang keras aturan berpakaian seperti itu.

Sementara di pedesaan, wanita sering berpakaian jubah lebar, sehingga mereka dapat bergerak bebas, tapi wajah mereka tetap tertutup oleh cadar dengan warna pakaian yang lebih bervariasi.

Sedangkan di daerah lain wilayah Yaman, tak jarang wania mengenakan sepatu dengan celana panjang longgar yang dikenal sebagai sirwal.

Wanita yang bekerja di luar rumah biasanya mengenakan topi jerami bertepi lebar (dhola) untuk melindungi wajah dari terik matahari.

Mayoritas penduduk Yaman adalah pemeluk Islam. Jumlahnya mencakup 98 persen dari populasi. Ajaran Islam merupakan pedoman serta tuntunan pada seluruh aspek kehidupan di masyarakat.

Islam telah tersebar luas di Yaman, bahkan semenjak masa Nabi Muhammad SAW.

Sejarah mencatat, Ali bin Abi Thalib adalah orang yang mengenalkan agama ini kepada penduduk Yaman pada 630 M.Tidak butuh waktu lama bagi agama Islam berkembang pesat di sana.

Kontribusi Yaman terhadap pencapaian peradaban gemilang umat Muslim Abad Pertengahan sangat besar. Banyak dari penduduk yang terjun di kancah kemiliteran kekhalifahan. Mereka turut serta dalam ekspedisi perluasan wilayah Islam yang berakhir sukses.

Pada perjalanan selanjutnya, warga Yaman terbagi ke dalam dua kelompok besar, yakni penganut Suni, jumlahnya mencapai 50-55 persen penduduk Muslim serta Syiah yang sekitar 42-47 persen.

Selain itu, secara mazhab, Suni pun terbagi lagi dengan mayoritas atau 50-55 persen adalah pengikut Mazhab Syafi'i, sementara 40-45 persen terkait aliran Zaidi. Sementara 2-5 persen adalah penganut Mazhab Ismaili.

Pengikut Suni banyak menetap di wilayah selatan dan tenggara. Adapun di utara merupakan pusat pengikut Zaidi, sedangkan pengikut ajaran Jafari memilih kawasan tengah, seperti Ibu Kota Sana'a sebagai basisnya.

Seperti halnya umat Islam di Indonesia, umat Islam di negara yang disatukan pada 22 Mei 1990 itu pun merayakan hari besar. Ada lima hari besar Islam yang dirayakan Muslim Yaman.

* Pertama, saat satu Muharram yang merupakan tahun baru Islam.

* Kedua, Idul Fitri.

* Ketiga, Idul Adha.

" Keempat, Isra Miraj,

* Kelima, lahirnya Nabi Muhammad SAW.





-----

-  liputan 6.com

- republika.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar