Yaman dan Pertemanan (21-habis)
Oleh aminuddin
- Belum akan Berakhir
JAKARTA- Perang Yaman yang meli batkan milisi Houthi dukungan Iran melawan pasukan koalisi Timur Te ngah yang disokong Arab Saudi dan Uni Emirat Arab serta negara Teluk lainnya belum menunjukkan tanda berakhir.
Bahkan kecamuk perang yang pe cah pada akhir 2014 itu sepertinya kian berkobar. Sejumlah laporan menyebutkan, Arab Saudi dan sekutunya yang masuk ke Yaman pada 2015 untuk memberikan dukungan terhadap pemerintahan Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi di Aden makin meningkatkan serangan ke posisi yang dikuasai Houthi.
Bahkan serbuan jet tempur Arab Saudi sering mengenai sasaran sipil dan warga Yaman yang tak berdosa mengakibatkan ribuan orang tewas.
Insiden terakhir adalah ketika pesawat pengebom Arab Saudi menghajar kawasan di Provinsi Hodeidah, termasuk gempuran ke pesta perkawinan. Di kawasan ini, setidaknya 50 warga sipil tewas.
Sebelumnya, pada awal bulan lalu, Arab Saudi dan sekutunya menga ku bertanggung jawab membom bardir sebuah bus sekolah yang menyebabkan sedikitnya 51 orang tewas, 40 di antaranya anak-anak.
"Serangan jet Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terhadap bus sekolah mengakibatkan 51 orang tewas, ter masuk 40 siswa sekolah. Aksi ini tak bisa dibenarkan," tulis Al Jazee ra, Ahad 2 Agustus 2018 lalu.
Peristiwa tersebut terungkap setelah sebuah tim investigasi menyelidiki serangan mematikan terhadap sasaran sipil Agustus lalu.
Dalam foto ini yang dirilis pada Kamis, 30 Agustus 2018, sebuah tim dari kapal perusak AS, USS Jason Dunham, memeriksa perahu layar tradisional Arab "Dhow" ketika melakukan operasi keamanan mari tim. (Angkatan Laut AS melalui AP).
Meskipun mendapatkan kecaman dari berbagai komunitas internasional, termasuk sekutu dekatnya Amerika Serikat, Arab Saudi akan melanjutkan perang di Yaman.
Negeri Kerajaan ini berdalih keterli batannya di Yaman mendapatkan restu dari PBB, walapaun belum ada dokumen yang membenarkan pernyataan tersebut.
"Kami berperang di Yaman untuk menyelamatkan rakyat negeri itu dan mendapatkan restu dari PBB," kata Osama bin Mohammed Abdul lah Shuaibi, Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia, kepada Tempo di Jakarta, Selasa, 27 Maret 2018 silam.
PBB memasukkan Arab Saudi dan sekutunya ke daftar hitam negara pelaku pembunuhan terhadap anak-anak di Yaman.
Menurut laporan tahunan PBB, Kamis, 5 Oktober 2017, pasukan koalisi yang dibentuk Arab Saudi pada 2015 telah terbukti membunuh dan melukai 683 anak. Sebagian dari mereka tewas atau luka akibat diserang ketika berada di sekolah.
Ulah Arab Saudi, termasuk sekutunya Uni Emirat Arab, membuat peraih Nobel Perdamaian asal Yaman Tawakol Karman geram.
Perempuan ini merencanakan me nggugat Putra Mahkota Moham med bin Salman dan Mohammed bin Zayed ke Mahkamah Kejahatan Internasional, ICC, di Den Haag Belanda.
"Kedua petinggi itu dianggap berta nggung jawab dan melakukan keja hatan perang," tulis Middle East Monitor.
Karman mengatakan kepada Al- Ja zeera, ada sejumlah laporan meng ungkapkan mengenai serangka ian pelanggaran mengerikan dan be lum pernah terjadi sebelumnya di Yaman.
Perang Yaman bermula ketika ne geri itu terbelah menjadi dua faksi yang mengklaim memiliki hak konstitusi menjalankan roda pemerintahan di Sana'a.
Saat itu, militan Houthi yang menguasai Ibu Kota Sana'a bersama pasukan loyalis mantan Presiden Ali Abdullah Saleh bentrok bersenjata melawan pasukan Presiden Hadi yang bermarkas di kota terbesar kedua di Adden.
Namun pada saat bersamaan, Yaman diguncang pertempuran yang digelorakan oleh al Qaeda dan ISIS.
Kedua kelompok ini selanjutnya menguasai hampir seluruh wilayah pantai Yaman.
Pada 21 Maret 2015, setelah mengambil alih Sana'a dan pemerintahan Yaman, milisi Houthi dipimpin oleh Komite Revolusioner Agung mendeklarasikan melanjutkan perang di wilayah selatan negeri itu.
Serbuan Houthi ke wilayah selatan ini membuat Presiden Hadi kabur meninggalkan negara menuju Arab Saudi untuk mendapatkan perlindungan.
____
Tempo.co
Tidak ada komentar:
Posting Komentar