Al-Aqsha (5)
Oleh aminuddin
- Membela Masjidil Aqsha
DI antara kita sendiri masih ada yang bertanya-tanya: Apa dalilnya kita mesti membela Masjidil Aqsha (atau Muslimin Palestina secara umum)?
Perlukah kita membela masjid itu? Apakah itu termasuk urusan syariat atau bid’ah yang diada-adakan?
Buat apa membela masjid yang berada di Yerusalem tersebut?
Sebagian orang meributkan, apakah Masjidil Aqsha termasuk tempat suci kaum Muslimin atau bukan? Perdebatan pun berlangsung. Tapi ingatlah, banyak perkara menjadi urusan syariat ketika di sana terdapat HAK-HAK MUSLIMIN yang dilanggar.
Dalam riwayat Rasulullah SAW bersabda: “Man qutila duna maalihi fahuwa syahid” (siapa terbunuh karena membela agamanya, dia mati syahid). HR Al-Bukhari dan Muslim).
Cukup kiranya harta seorang Muslim menjadi jalan mencapai syahadah, padahal harta itu tidak disucikan seperti layaknya Kota Makkah dan Madinah.
Apakah harus menunggu label “Kota Suci” untuk membela hak-hak Umat ini?
Berikut ini kami sampaikan 10 alasan syariat untuk membela Masjidil Aqsha serta merebutnya dari tangan para agresor zhalim:
1. Masjidil Aqsha adalah satu di antara dua nama masjid yang disebutkan dalam Al-Quran. Tidak ada nama masjid ketiga yang disebutkan secara jelas namanya dalam Kitabullah.
“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada suatu malam, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang diberkahi di sekitarnya.” (Surat Al Isra’: 1).
Jika nama masjid ini disebutkan secara jelas berdampingan dengan nama Masjidil Haram, berarti ia memiliki kedudukan mulia di sisi Allah Rabbul ‘alamiin.
2. Masjidil Aqsha merupakan bagian dari tanda-tanda Keagungan Allah SWT.
Dalilnya ya Surat Al Isra’ ayat 1 tersebut:
“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada suatu malam, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang diberkahi di sekitarnya, agar Kami memperlihatkan kepadanya (Nabi Muhammad) sebagian dari tanda-tanda Kekuasaan Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. ”
Masjidil Aqsha selain merupakan tanda Kekuasaan Allah, ia juga merupakan tempat yang diberkahi sebagaimana disebut dalam ayat di atas.
3. Dalam Surat Al-Isra’ ayat 1 itu terdapat kalimat yang berbunyi “li nuriyahu min ayaatina” (agar Kami perlihatkan kepadanya –Nabi Muhammad SAW- sebagian dari tanda-tanda Kekuasaan Kami).
Kalimat ini merupakan ISYARAT bahwa Allah SWT akan memberikan Masjidil Aqsha dan wilayah di sekitarnya kepada Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin sebagai umat beliau.
Mengapa ayat ini dikatakan seba gai isyarat? Karena tersambung dengan kalimat sebelumnya “alladzi barakna haulahu” (yang Kami berkahi di sekitarnya).
Apa artinya suatu tempat yang diberkahi, kalau ia tidak pernah dimiliki oleh kaum Muslimin? Jika Masjidil Aqsha dan sekitarnya dikuasai kaum Yahudi atau Nasrani, atau terlepas dari tangan kaum Muslimin, maka keberkahan itu menjadi tidak bermakna.
Maka tidaklah berlebihan jika Khalifah Umar RA berjihad membebaskan Masjidil Aqsha dari tangan kaum Romawi. Hal itu dimaknai sebagai melaksanakan janji Allah kepada Nabi-Nya SAW.
(4). Masjidil Aqsha adalah Kiblat pertama kaum Muslimin. Dulunya kaum Muslimin shalat menghadap ke arah Masjidil Aqsha, lalu kemudian Allah ubah arah Kiblat ke Masjidil Haram.
Hal ini dijelaskan dalam Surat Al- Baqarah ayat 142-145. Hingga di Madinah terdapat sebuah masjid, di mana pernah kaum Muslimin shalat berjamaah di dalamnya dipimpin oleh Rasulullah SAW; pada dua rakaat pertama mereka menghadap ke Masjidil Aqsha, sedang dua rakaat kedua menghadap ke Masjidil Haram. Masjid itu lalu dikenal sebagai Masjid Qiblatain (Masjid Dua Kiblat).
Jika suatu masjid pernah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai Kiblat shalat kaum Muslimin, berarti ia memiliki kedudukan besar dalam Islam.
Dan kaum Muslimin sepanjang sejarahnya tidak pernah memiliki Kiblat, kecuali ke dua tempat itu saja; Masjidil Aqsha dan Masjidil Haram.
Mungkin orang akan bertanya: “Apa pentingnya membela tempat yang pernah menjadi Kiblat itu? Toh, sekarang ia tak lagi menjadi Kiblat Umat Islam?”
Kami jawab: “Sebegitu kecilnya penghormatanmu kepada suatu tempat yang pernah menjadi Kiblat Rasulullah SAW dan para sahabat ketika mereka melaksanakan shalat. Apakah sudah tidak tersisa lagi dalam hatimu rasa kecintaan kepada suatu tempat yang pernah dicintai Rasulullah SAW dan para sahabat-nya, karena ia merupakan Kiblat pertama mereka dalam shalat?”
5. Masjidil Aqsha adalah salah satu situs bersejarah yang diutamakan oleh syariat Islam, karena ia merupakan tempat istimewa bagi Rasulullah SAW saat melaksanakan Isra’ Mi’raj. Tanpa keberadaan Masjidil Aqsha, tidak akan pernah terjadi Isra’ Mi’raj sebagaimana yang kita kenal.
Posisi Masjidil Aqsha di sini sebagai tujuan Isra dan sebagai titik titik tolak Mi’raj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha; sedangkan Mi’raj terjadi dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha.
Kalau tempat berpijaknya Ibrahim AS saat membangun Ka’bah ditetapkan sebagai Maqam Ibrahim, di mana kaum Muslimin disunnahkan shalat di sana; bagaimana dengan Masjidil Aqsha yang terkait peristiwa Isra’ Mi’raj?
Bukankah peristiwa itu merupakan hiburan bagi Rasulullah SAW atas kesedihan hatinya; juga dari sana kaum Muslimin mendapat kewajiban shalat lima waktu; bahkan dari sana Rasulullah SAW semakin mendapatkan ketetapan hati dalam memperjuangkan Islam (setelah berdialog langsung dengan Allah SWT di Sidratul Muntaha).
6./Dalam riwayat disebutkan seca ra jelas keutamaan Masjidil Aqsha. Rasulullah SAW bersabda: “Laa tusyaddu ar rijaal illa ila tsalatsati masajid: Masjidiy hadza, wa Masjidil Haram, wa Masjidil Aqsha” (Hendaklah kalian tidak memaksakan diri pergi ziarah ke masjid, kecuali ke tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsha). ,(HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah ra).
Hal ini merupakan ibadah yang jelas dalam syariat serta mencer minkan keutamaan Masjidil Aqsha di sisi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Maka siapapun yang memuliakan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, pasti akan memuliakan Masjidil Aqsha; begitu pula siapa yang mencintai Masjidil Aqsha, pasti mencintai pula Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Mungkin sebagian orang akan berkata: “Dalam urusan ibadah tidak bisa pakai logika. Harus jelas dalilnya!” Kami jawab: “Bukankah riwayat itu sangat tegas dan jelas. Apalagi yang masih tersembunyi?
Di sana Rasulullah SAW menjajarkan Masjidil Aqsha dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi; bahkan beliau meletakkan ketiga Masjid Suci lebih utama dan lebih layak didahulukan dari masjid manapun di muka bumi.” Bahkan dalam riwayat juga disebutkan keutamaan shalat di Masjidil Aqsha.
(7). Harus dipahami bahwa Masjidil Aqsha (atau Baitul Maqdis) adalah silsilah ajaran Tauhid dari era Nabi-nabi sebelum Rasulullah SAW.
Khususnya Nabi-nabi terkait Bani Israil seperti Nabi Isa, Yahya, Zakariya, Maryam, Keluarga Imran, Dawud, Sulaiman, Harun, Musa; dan Nabi-nabi Tauhid lain dari kalangan Bani Israil.
Rasulullah SAW pernah mengklaim Hari Asyura saat kaum Yahudi memperingati kejadian selamatnya Musa dan Bani Israil dari kezhaliman Fir’aun.
Lalu Nabi SAW menegaskan, beliau lebih berhak mengklaim Nabi Musa daripada kaum Yahudi; karena Umat Islam mewarisi risalah Tauhid dari Nabi-nabi sebelumnya.
Jika hari Asyura saja Nabi SAW telah mengklaimnya, lalu bagaimana dengan Masjidil Aqsha yang ditinggalkan Nabi-nabi Bani Israil itu?
Maka kaum Muslimin harus memperhebat pembelaan kepada Masjidil Aqsha, sebagai penegasan bahwa kita -Umat Islam- lebih berhak atas peninggalan Nabi-nabi Tauhid dari kalangan Bani Israil di masa lalu.
Bahkan kaum Yahudi dan Nasrani sudah sangat tahu Rasulullah SAW adalah pelanjut risalah Nabi-nabi mereka (Al-Baqarah: 146-147).
8. Pembebasan Masjidil Aqsha dari kaum non Muslim yang menguasainya merupakan perbuatan Salafus Shalih.
Siapakah Salaf yang telah memulai urusan ini?
Ia adalah Khalifah Umar ra dan para sahabat yang berangkat membebaskan Masjidil Aqsha di bawah pimpinan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah ra.
Bukan hanya Khalifah Umar yang memerintahkan urusan ini, tapi para sahabat di masa itu sepakat berjihad untuk membebaskannya. Ini adalah amalan Salafus Shalih yang sangat jelas.
Kalau masih ada yang ingkar dan terus mencari-cari alasan, berarti mereka bukan pengikut jejak Salafus Shalih.
Atas pembebasan Khalifah Umar ini kemudian masyarakat Yerusalem dan Palestina berduyun-duyun masuk ke dalam Islam, padahal semula beragama Nasrani.
Di kemudian hari Yerusalem dan Masjidil Aqsha berhasil dikuasai kaum Nasrani Eropa setelah mereka mengobarkan Perang Salib.
Lalu mereka mendirikan Kerajaan Nasrani di Yerusalem. Saat itu penguasa Dinasti Mamluk, Dinasti Zanki, dan Dinasti Ayyubiyah terus melancarkan perlawanan menghadang kaum Salibis; sampai Yerusalem dan Masjidil Aqsha berhasil dibebaskan di era Sultan Shalahuddin Al Ayyubi rahimahullah.
Perbuatan Salafus Shalih ada, perbuatan raja-raja Muslim dan rakyatnya juga ada. Jika demikian, apalagi yang masih meragukan hati kita?
Hendak kemana kita berlari mencari-cari alasan untuk membiarkan Masjidil Aqsha teraniaya?
9. Palestina, Yerusalem, dan Masjidil Aqsha adalah tanah wakaf milik kaum Muslimin. Dari mana hal ini dipahami?
Karena mayoritas penduduknya adalah Muslim; karena raja-raja Muslim dan rakyatnya telah berjuang mati-matian mengalahkan kaum Salibis dan membebaskan Masjidil Aqsha dari cengkeraman tangan mereka; juga karena wilayah itu sebelum dikuasai oleh Zionis Yahudi, ia berada di bawah otoritas Khilafah Turki Ustmani.
Buktinya apa?
Sebelum Zionis Yahudi menguasainya, pemimpin mereka, Theodore Hertzel dan tokoh-tokoh pionir Zionisme berusaha membeli tanah itu kepada Sultan Abdul Hamid II dari Turki Utsmani.
Namun Sultan Abdul Hamid menolak tegas, dengan alasan bahwa wilayah Palestina adalah TANAH WAKAF KAUM MUSLIMIN.
Maka kita hari ini tidak boleh memberikan tanah wakaf ini ke tangan Zionis, sebab hal itu sama dengan melecehkan perjuangan kaum Muslimin yang telah merebut wilayah Palestina (termasuk Masjidil Aqsha) dalam Perang Salib selama ratusan tahun, dengan pengorbanan ratusan ribu jiwa Umat Islam.
10. Dalam riwayat-riwayat disebutkan, bahwa di akhir zaman kaum Muslimin akan menjadikan komplek Masjidil Aqsha sebagai pertahanan dalam menghadapi dajjal dan bala tentaranya.
Imam Mahdi, Umat Islam, dan Nabi Isa As akan berlindung dan berperang dari titik-tolak Masjidil Aqsha.
Jika demikian, sebelum hal itu terjadi, kita harus merebut kembali wilayah Al Aqsha dan membebaskannya dari semua kaum agresor penumpah darah.
Kita harus memberikan rasa aman kepada Masjidil Aqsha dan masyarakat sekitarnya, seperti Panglima Abu Ubaidah bin Al Jarrah RA telah memberikannya, atas izin dan rahmat Allah.
Lima Kisah Inspiratif Para Nabi
BEBERAPA waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk menghadiri ceramah dari Syekh Nashif Nashir, salah satu ulama dari Palestina. Beliau sedang ada kunjungan ke Indonesia dan menyempatkan diri untuk berceramah di sejumlah tempat.
Tema ceramah beliau sebetulnya adalah tentang keberkahan Al-Quran. Namun sebagai ulama yang berasal dari Palestina, tema tersebut kemudian dikaitkan dengan cerita tentang Palestina.
Nashif bercerita mengenai kisah kompleks Masjid Al-Aqsha di Palestina yang juga diberkahi oleh Allah.
Menurutnya, keberkahan Masjid Al Aqsha juga dialami langsung oleh para nabi Ulil Azmi. Para Nabi Ulil Azmi diberkahi langsung oleh Allah di Masjid Al-Aqsha.
Berikut ini adalah beberapa kisahnya.
1. Nabi Nuh Mendapatkan Berkah
Cerita pertama, dimulai dari cerita Nabi Nuh. Nabi Nuh adalah salah satu nabi yang mengajak umatnya untuk menyeru kepada Allah.
Dalam tugasnya sebagai penyeru, nabi Nuh, termasuk kepada nabi yang mampu bersabar di jalan dakwah. Kurang lebih selama 950 tahun beliau berdakwah tanpa mengenal keluh dan lelah.
Menurut Nashif, Nabi Nuh mendapatkan keberkahan dan keselamatan di Masjid Al-Aqsha. Bahteranya selamat dari banjir yang melanda negerinya dan tertambat di Masjid Al-Aqsha, Palestina.
2. Kabar Gembira untuk Nabi Ibrahim.
Nabi Ibrahim adalah juru dakwah dan juga seorang guru. Nabi Ibrahim adalah guru atau bapak peradaban manusia yang membangun umat Islam.
Kisah Nabi Ibrahim sebagai bapak peradaban, dimulai dari kisahnya yang sangat mendambakan keturunan.
Menurut Nashif, seluruh nabi menginginkan diberikan keturunan oleh Allah, termasuk Nabi Ibrahim. Karena kasih sayang Allah, maka doa Nabi Ibrahim untuk mempunyai seorang anak, dikabulkan.
Lalu Allah SWT memerintahkan malaikat untuk menyampaikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim.
Malaikat pun datang ke rumah Nabi Ibrahim untuk menyampaikan kabar gembira tentang akan mendapatkan keturunan. Kabar gembira tersebut disampaikan di Masjid Al-Aqsha.
3. Risalah Kenabian Nabi Musa
Kisah selanjutnya adalah Kisah Nabi Musa. Nabi musa adalah satu-satunya Nabi yang diajak bicara oleh Allah di Masjid Al-Aqsha untuk diberikan risalah kenabian.
Padahal sebelumnya, Nabi Musa bukanlah orang asli Palestina. Nabi Musa adalah nabi yang lahir di Mesir.
Namun karena suatu peristiwa yang menimpanya, maka Nabi Musa pergi melarikan diri ke Madyan. Madyan adalah sebuah kota yang terletak disebelah Selatan Palestina. Dan biasa bagi para Nabi untuk pergi menyendiri dan berkhalwat dengan Allah.
Pada saat itu, Nabi Musa pergi ke Palestina. Di sanalah Nabi Musa berbicara langsung dengan Allah, di mana Allah memerintahkan Nabi Musa dan saudaranya Nabi Harun untuk pergi menantang Firaun.
Nabi Musa yang awalnya takut terhadap Firaun, memperoleh keberanian di Palestina. Allah menghilangkan rasa takut kepada Nabi Musa untuk menantang Firaun sekaligus menjadikan Nabi Musa sebagai pemimpin kaumnya. Ibroh dari kisah Nabi Musa di Palestina adalah menghilangkan rasa takut di dalam diri.
Namun bagi Nabi Musa, pelajaran untuk menghilangkan rasa takut, sudah dimulai sejak nabi Musa di dalam kandungan. Yaitu Ibu Musa memberanikan diri untuk mengandung dan melahirkan Nabi Musa, di tengah semua bayi laki-laki yang lahir, dibunuh oleh tantara Firaun.
Sebagaimana diketahui, Ibu Nabi Musa melahirkan Nabi Musa di tempat yang tersembunyi, agar bayi yang dilahirkannya tidak ikut dibunuh oleh tentara Firaun.
Namun setelah melahirkan, pada awalnya ibu Nabi Musa merasa takut untuk masa depan Nabi Musa. Ia memikirkan nasib anaknya setelah lahir, bagaimana caranya agar ia dapat tumbuh dengan selamat.
Kemudian, Allah mengilhamkan kepada Ibu Nabi Musa untuk menghilangkan rasa takutnya, dan memerintahkannya untuk menaruh Nabi Musa ke dalam sekoci yang mengallir ke istana Firaun.
Akhirnya Nabi Musa malah diangkat anak oleh Firaun, namun tetap dalam pengasuhan ibunya sebagai pengasuh bayi Nabi Musa.
4. Nabi Isa
Cerita kemudian berlajut kepada kisah Nabi Isa. Nabi Isa adalah Nabi yang diberkahi Allah di mana pun ia berada, terutama saat ia berada di Masjid Al-Aqsha.
Nabi Isa adalah nabi yang lahir, dibesarkan, diangkat ke langit, dan diturunkan ke dunia saat akhir zaman, semuanya terjadi di Masjid Al-Aqsha.
5. Mi'rajnya Nabi Muhammad SAW
Dan cerita nabi yang pamungkas, yaitu nabi Muhammad, turut ambil bagian dalah kisah inspiratif dengan Palestina.
Nabi Muhammad memiliki kisah tersendiri di Masjid Al-Aqsha, yaitu beliau melakukan Mi'raj di Masjid Al-qsha. Dimana pada peristiwa itu, Nabi Muhammad juga menjadi imam para nabi dan rasul di Masjid Al-qsha.
Nashif kemudian tidak lupa mendoakan hadirin agar bisa merasakan melaksanakan shalat di Masjidil Haram dan Masjid Al-Aqsha.
Nashif kemudian mempertegas bahwa persoalan Palestina ada di dalam Al- Quran dan ukhuwah umat Islam. Allah menjaga Palestina dengan Al-Quran.
Penduduk Palestina bisa bertahan dari upaya yahudisasi yang dilakukan Israel karena mereka tetap membaca dan menghapal Al- Quran.
Padahal Yahudi tengah berupaya menggunakan semua media untuk menghancurkan bangsa Palestina. Namun, Al-Quran telah menjadikan bangsa Palestina dan umat Islam di seluruh dunia untuk berjuang dan bersatu melawan Yahudi, hingga meraih kemenangan.
___
- Islampos
- Saliha.Id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar