Dua Menara (17)
Oleh Wak Amin
(Bagian keempat)
Di ruang dapur Bu Aida ...
Lia tengah menyiapkan makan si ang, sementara Bu Aida baru saja keluar dari kamar berganti pakaian.
"Mam. Apa enggak perlu kita kasih tahu Bang Mamat?"
"Enggak usah, ngapain. Jangan, ja ngan Lia. Kasihan abangmu. Jadi ikut-ikutan susah karena kita," ucap Bu Aida. Menarik kursi makan se belum duduk menghadap meja makan.
"Maksud Lia. Sekadar minta saran Mam. Sharinglah begitu," jelas Lia. Menaruh nasi ke piring ibunya dan dia.
Keduanya bersiap santap siang berdua.
"Mama tidak ngelarang kamu sha ring sama abang itu. Cuma ibu ku atir dia ikut terganggu. Bang Ma matmu kan kerja. Dia punya adik dan ibu. Kasihan kan, kalau hanya karena kita, mereka harus ditinggal terus oleh abangmu. Pasti, ini ibu pastikan, kerjanya Bang Mamat jadi enggak fokus."
"Iya sih Ma. Tapi dengan keadaan kita seperti ini, tak mungkinlah kita mengandalkan pada Kak Firdaus saja."
"Ya, tak apa-apalah. Kan ada kamu dan Mama. Kita harus kuat dong say. Kita harus bersatu melawan kejahatan. Kalau kita lemah kita diinjak orang. Kamu paham kan maksud Mama?"
"Paham Ma. Tapi apa kita bisa. Yang namanya penjahat itu kan pasti nekad. Mereka tak akan se gan-segan membunuh. Mereka itu tak punya hati dan rasa belas ka sihan lagi."
Bu Aida tersemyum.
"Kalau itu mah gampang," kata Bu Aida sembari menghirup kuwah pindang patin.
Sedaaap ...
Nikmaaaat ...
"Gampang gimana Ma?" Lia ikutan juga menghirup kuwah, tentu pakai sendok.
"Kan ada polisi. Kita minta saja bantuan mereka. Kan beres?"
"Beres apanya Ma?"
"Persoalan yang kita hadapi saat ini, termasuk juga abangmu Hasan itu," terang Bu Aida. Karena lapar, dia 'bubuh' lagi.
"Mudah-mudahan saja ya Ma."
"Amin .."
"Oh ya," Bu Aida baru ingat," Kak Firdausmu mana?"
"Ntar lagi pulang Ma. Katanya lagi ke rumah seseorang. Penting."
"Oooo ... Ya sudah."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar