Oleh aminuddin
Perang Yaman IX
- Puluhan Tentara Saudi Tewas
ASIR – Puluhan tentara Saudi dan milisi yang disponsori Saudi yang setia kepada mantan presiden Yaman, Abd Rabbuh Mansur Hadi telah kehilangan nyawa mereka ketika tentara Yaman dan petempur dari Komite Rakyat (Ansharullah) meluncurkan serangan terpisah terhadap posisi mereka di wilayah perbatasan kerajaan.
Pasukan Yaman dan sekutu mereka menembakkan tiga rudal yang dikembangkan di dalam negeri pada pertemuan pasukan Saudi dan tentara bayaran mereka di distrik al-Khobe wilayah Jizan kerajaan, yang terletak 966 kilometer (600 mil) di selatan ibukota Saudi, Riyadh, pada Rabu malam (03/10), menyebabkan beberapa dari mereka mati dan atau terluka.
Beberapa tentara Saudi serta milisi dukungan Saudi juga tewas dan ter luka, ketika pasukan Yaman dan pejuang dari Komite Populer menargetkan kamp mereka di barat daerah al-Majazah dan dekat perbatasan al-Alab di wilayah Asir dengan rentetan roket Katyusha dan tembakan artileri.
Arab Saudi dan sejumlah sekutu regionalnya melancarkan kampanye militer yang menghancurkan Yaman pada Maret 2015, dengan tujuan membawa pemerintah Hadi kembali berkuasa dan menghancurkan gera kan Ansharullah yang populer di negara itu.
Ratusan ribu warga Yaman telah tewas dan terluka sejak dimulainya serangan agresi yang dipimpin Saudi, yang selain menimbulkan kerusakan infrastruktur juga telah menyebabkan berkembangnya wabah penyakit hingga memicu krisis yang telah digambarkan oleh PBB sebagai bencana kemanusia an terburuk di dunia.
-- UEA Rekrut Ribuan Orang Afrika
ABU DHABI – Uni Emirat Arab (UEA), mitra utama Arab Saudi dalam invasi yang dipimpin Riyadh di Yaman, dilaporkan telah merekrut masyarakat suku dari bagian utara dan tengah Afrika untuk bertempur dalam perang mereka di Yaman.
Perekrutan ini menurut laporan Newnewss pada Rabu (03/10), dilakukan oleh utusan-utusan Emirat yang “merayu” masyarakat suku di berbagai wilayah Afrika yang mencakup Libya selatan serta seluruh Chad dan Niger. Mereka memanfaatkan orang-orang yang ingin mengentaskan diri dari kemiskinan dengan menggiring serta menyelundupkan mereka.
“Kampanye ini diawasi langsung oleh para pejabat Emirat yang memperoleh keuntungan materi melalui kerja sama dengan para pelaku perdagangan manusia,” tambah laporan itu.
Saat ini kampanye kesadaran telah diluncurkan oleh para aktivis Chad, yang dipimpin oleh juru kampanye Mohamed Zain Ibrahim, yang memperingatkan warga suku agar tidak bergabung dengan perang yang dipimpin Saudi.
“Orang-orang Arab di wilayah Teluk [Persia], khususnya Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, tidak pernah peduli mengenai nasib orang-orang Arab di padang pasir, dan hari ini mereka meminta dukungan dan merayu mereka untuk bertarung di pihak mereka di Yaman!” ujar Ibrahim.
Utusan-utusan Emirat menawarkan calon tentara bayaran dengan gaji bervariasi mulai 900 hingga 3.000 dolar, di samping memperoleh kewarganegaraan UEA sebagai imbalan atas kesediaan mereka untuk bekerja di perusahaan keamanan Emirat.
Ibrahim mengatakan bahwa lowongan pekerjaan yang ditawarkan oleh para utusan itu sebenarnya adalah “kampanye perekrutan militer guna mengumpulkan tentara bayaran untuk perang Yaman dan menggunakan mereka untuk memerangi orang-orang Yaman, yang juga orang Arab dan Muslim, dan semua itu hanya untuk sekumpulan dolar.”
Sebuah delegasi orang-orang Emirat dalam bisnis mengunjungi Niger pada Januari 2018, di mana mereka bertemu para pemimpin suku Arab dan merekrut 10.000 masyarakat suku yang hidup antara Libya, Chad, dan Niger.”
Emirates telah berkontribusi besar terhadap perang Yaman sejak 2015 hingga sekarang, yang berusaha untuk menginstal kembali mantan pejabat Yaman, Hadi, sekutu dekat Riyadh.
Selain pasukan mereka sendiri, baik Riyadh dan Abu Dhabi telah mengirim ribuan militan yang mereka rekrut dari negara-negara yang dilanda kekerasan untuk mengintensifkan invasi.
Pihak Emirat mulai meningkatkan kontribusinya pada bulan Juni, ketika koalisi meluncurkan serangan yang banyak dikritik terhadap al-Hodeidah, kota pelabuhan utama Yaman, yang merupakan pintu masuk 70 persen kebutuhan pokok masyarakat negeri tersebut.
- Ciptakan Bencana Kelaparan
SANA’A – Pemimpin gerakan Ansharullah Yaman, Abdulmalik Al-Houthi, pada hari Kamis (04/10), dalam sebuah pidato yang disiarkan televisi mengatakan koalisi pimpinan Arab Saudi meningkatkan agresi dan blokade mereka untuk menciptakan kelaparan di Yaman dengan tujuan membuat rakyat Yaman menyerah.
AL-Houthi memperingatkan adanya siasat mencurigakan yang mencoba mengarahkan kompas ketidakpuasan ke dalam negeri dan berusaha menciptakan kekacauan di bawah nama “revolusi lapar”.
Ia menegaskan bahwa koalisi sengaja memberikan tekanan pada rakyat melalui blokade yang diberlakukan dan penambahan denda serta biaya keuangan yang tinggi (mengacu pada biaya yang dikenakan oleh pemerintah Hadi pada kapal dagang) dalam kerangka perang ekonomi yang mereka lancarkan.
Abdulmalik menegaskan koalisi Saudi berada di belakang membu ruknya nilai tukar mata uang, me nunjukkan bahwa koalisi melalui pemerintahan Hadi yang setia kepada koalisi berusaha membuat agar nilai tukar dolar meningkat tajam di Yaman, sehingga harga makanan dan BBM melambung dengan mencetak uang dalam jumlah besar tanpa menarik mata uang keras dari pasar.
- Warga Yaman Masak Daun untuk makan karena kelaparan
BANYAK keluarga dengan anak-anak kelaparan di sebelah utara Yaman tak punya makanan selain memasak daun dari tanaman liar di sekitar mereka.
Kondisi ini menjadi pertanda beta pa kurangnya bantuan Internasional dalam mencegah kematian di Ya man.
Kantor berita Associated Press baru-baru ini mengunjungi klinik kesehatan di Aslam, wilayah yang dihuni banyak anak kurus kela paran. Anak-anak di klinik itu terlihat matanya menonjol dan tulangnya hanya dilapisi kulit tipis.
Pemerintah mengungkapkan, seti daknya ada 20 orang anak yang tahun ini meninggal karena kelaparan. Jumlahnya mungkin bisa lebih tinggi karena banyak keluarga yang tidak melaporkan kematian anaknya di rumah.
"Kami berada di abad 21, namun perang membuat kami seperti ini," ungkap kepala pusat kesehatan, Mekkiya Mahdi, seperti dilansir laman AP, pertengahan September lalu.
Yaman mengalami perang sejak tiga tahun lalu. Keadaan ini makin menyulitkan negara yang sebelum nya sudah kepayahan memenuhi kebutuhan rakyatnya.
Kelompok pemberontak Houthi menguasai wilayah sebelah utara dan koalisi Arab Saudi yang didukung Amerika Serikat menggempur pasukan Houthi.
Menurut PBB, sekitar 2,9 juta perempuan dan anak-anak Yaman kini mengalami kurang gizi akut, dan 400.000 anak berjuang untuk hidup di tengah kelaparan.
Sekurangnya 8,4 juta dari 29 juta penduduk Yaman akan kelaparan jika mereka tidak menerima bantuan internasional.
Angka itu, kata PBB, bisa bertambah 3,5 juta warga lagi karena mata uang Yaman anjlok hingga rakyat tak mampu membeli makanan.
____
- Arrahmahnews.com
- Merdeka.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar