Dua Menara (20)
Oleh Wak Amin
TEWASNYA Firdaus di tangan Dul Betok dan kawan-kawan membikin shock Bu Aida dan Lia. Dua wanita ini menangus tersedu sedan di de pan jenazah Firdaus yang disayam kan di kediaman orang tuanya.
Demikian pula halnya dengan Ma mat setelah diberitahu Lia lewat telepon. Pembunuhan keji di pagi hari itu membuatnya kaget dan ter kejut. Beruntung Shinta sang adik ikut menenangkannya.
Belum habis air mata ini tumpah, keesokan harinya menyusul Ha san. Dia dibunuh saat keluar dari lapas.
Padahal saat itu penjagaan amat ketat. Semua yang ada di sekitar Hasan, termasuk Bu Aida dan Lia, keduanya menjerit histeris melihat Hasan jatuh terkapar di tanah de ngan kepala berdarah dihantam pe luru yang dilesakkan dari jarak tak terlalu jauh.
Petugas keamanan dikerahkan un tuk mengejar si pelaku. Dari mulai pagi hingga malam hari. Namun ha silnya tetap nihil. Dugaan semen tara, pelakunya lebih dari satu orang.
Demikian kesimpulan Mr Clean, ya ng diminta atasannya untuk mena ngani kasus pembunuhan terhadap Hasan dan Firdaus.
"Sebaiknya kita gali lagi dengan menanyai ibu dan adik korban ya Mister," kata Letnan Ratna, sesaat setelah mendampingi Mr Clean da lam rapat pagi gabungan.
"Tentu Let. Mungkin saja pelakunya sama. Bagaimana menurutmu?"
"Eeeemmm ... Bagaimana kalau ki ta bicara di kantin saja Mr Clean?"
"Eeeem .. Gimana ya? Boleh juga," jawab Mr Clean.
Walaupun dia sudah sarapan tadi nya, tawaran makan berdua dari kolega sendiri, kenapa harus dito lak.
Kantin belum ramai. Letnan Ratna dan Mr Clean memilih tempat du duk agak di belakang. Mereka pe san nasi goreng dan air teh manis hangat.
Tak pula tahu apa yang mereka bi carakan berdua. Hanya sesekali ter lihat tertawa, serius namun terke san santai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar