Jumat, 12 Oktober 2018

Dua Menara (24)

Dua Menara (24)
Oleh Wak Amin





"MAAFKAN kami berdua Non Zaitun jika ..."

"Saya enggak apa-apa Tuan dan Mbak Letnan," ucap Zaitun sembari melanjutkan minum jus jambu bijinya.

Tersisa separo ...

"Betul tidak kenapa-kenapa anda Nona Zaitun?"

"Tidak, Tuan. Silakan kalau Tuan ingin bertanya lagi. Saya siap menjawabnya ..."

"Baik. Terima kasih Nona Zaitun," kata Letnan Ratna."

"Kembali kita ke Hasan, pacar anda, Nona Zaitun. Maaf, ini sangat pri vacy tentunya. Eeem .. Apakah anda mencintainya?"

"Sangat Tuan ..."

"Oke ... Kapan anda terakhir berbicara dengannya?'

"Sehari sebelum dia dibebaskan dari penjara, maaf, lapas ..."

"Bisa diceritakan perasaan anda saat itu kepada kami berdua?"

"Sedih sekali Tuan," jawab Zaitun sambil meneteskan air mata.

"Boleh kami tahu kenapa Nona?" Tanya Letnan Ratna.

"Dia sangat kurus. Jauh berbeda saat dia belum masuk lapas."

"Anda sempat tanya kenapa?"

"Tidak Mbak Letnan. Saya tak bisa menanyakan hal itu."

"Kenapa?"

"Karena selama bersua saya, Kak Hasan lebih banyak diam dan mena ngis. Jadi saya tak berani ..."

"Dia sempat sampaikan sesuatu kepada anda?"

"Sempat Tuan."

"Apa itu Nona kalau boleh kami berdua tahu?"

"Beliau titip salam buat ibu saya. Saya juga diminta bersabar dan hatu-hati. Lebih banyak mende katkan diri kepada-Nya."

"Cuma itu Nona?"

"Betul sekali Tuan."

"Eeem terakhir Nona Zaitun. Bagai mana perasaan anda setelah me ngetahui Hasan pacar anda tewas dibunuh?"

"Terkejut Mbak Letnan. Sangat ter kejut. Saya sempat tak sadarkan diri. Biadab. Sayang, saya tak bisa berbuat apa-apa. Saya sangat kehi langan. Saya amat terpukul. Saya geram. Saya amat marah Tuan, tapi kepada siapa harus melampias kannya ..."



Tidak ada komentar:

Posting Komentar