Sabtu, 17 November 2018

Cerita Rakyat (15)

Cerita Rakyat (15)
Oleh aminuddin



15. KALTENG


- Bawi Kuwu

KONON sekitar abad ke-18, di sebuah kampung sekitar pertenga han aliran Sungai Rungan, tepatnya di Kelurahan Mungku Baru Kecamatan Rakumpit, tinggallah Bawi Kuwu dan kedua orangtuannya.

Ketika beranjak dewasa wanita cantik itu dilarang orangtuanya untuk keluar rumah dan lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar dengan dikawal dayang-dayang yang setia mengawal dan menjaga hingga bertahun-tahun lamanya.

Pada suatu ketika, kedua orangtua Bawi Kuwu ingin pergi ke ladang lalu berpesan kepada dayang-dayang untuk menjaga anak kesayangan mereka itu di dalam rumah.

Tidak lama setelah kedua orangtuanya itu pergi, tiba- tiba Bawi Kuwu merasakan kepanasan dan ingin mandi di Sungai Rungan yang letaknya tak jauh dari rumah mereka.

Tentu saja para dayang yang me ngawal Bawi Kuwu melarangnya  keluar rumah, apalagi untuk pergi sendiri ke sungai.

Lalu dayang-dayang itu mengambil kan air ke sungai Rungan untuk me mandikan Bawi Kuwu di dalam rumah. Tetapi keinginan para dayang itu ditolaknya dan tetap bersikeras untuk pergi sendiri ke su gai itu.

Suasana hampir tidak terkendali namun akhirnya para dayang berha sil mencegah keinginan Bawi Kuwu tersebut.

Selang beberapa lama kemudian,  perlakuan para dayang itu malah membuat Bawi Kuwu merasa pena saran.

Setelah melihat situasi aman dan lepas dari pengawalan, Bawi Kuwu pergi ke Sungai Rungan secara di am-diam tanpa ada yang tahu.

Sesampainya di tepi sungai, tepatnya di atas lanting (rakit dari kayu dalam bahasa suku dayak) kejadian naas menimpa gadis cantik itu.

Tiba-tiba buaya besar muncul ke permukaan air dan menyambar Bawi Kuwu yang belum sempat mandi di sungai itu, lalu membawannya ke sarangnya di dalam sungai.

Sementara  situasi di dalam rumah geger setelah para dayang menya dari bahwa Bawi Kuwu tidak ada di dalam kamarnya.

Kemarahan besar muncul dari ke dua orangtua Bawi Kuwu kepada dayang-dayang, karena telah lalai sehingga mereka tidak mengetahui kemana perginya anak kesayangan mereka itu.

Lalu hari itu juga mereka memang gil para tokoh adat dan orang-orang yang memiliki kesaktian dari suku dayak.

Tiga hari tiga malam lamanya, me reka mengadakan ritual (dalam suku dayak) untuk mencari Bawi Kuwu, dan pada suatu malam, saudara laki-laki dari Bawi Kuwu bermimpi bertemu dengan Patahu (orang gaib suku dayak) dan memberikan petunjuk bahwa Bawi Kuwu masih hidup dan sekarang berada di dalam perut buaya yang telah membawannya itu.

Orang gaib itu juga berpesa apabila buaya itu muncul, jangan sekali-kali membunuhnya. Lalu saudarnya itu terbangun dari tidur dan mencerita kan tentang mimpinya itu.

Ketika itu juga mereka mencari Pangareran (Pawang buaya dalam bahasa suku dayak), dan tepat pada hari ketiga dalam ritual itu, buaya yang membawa Bawi Kuwu muncul dari Sungai Rungan lalu bergerak menuju daratan.

Setelah melihat buaya besar itu datang, tiba-tiba rasa sedih ber campur amarah muncul dari saudara laki-laki Bawi Kuwu.

Mungkin karena begitu menyayangi adiknya membuatnya kalap dan lu pa akan pesan orang gaib yang menjumpainya di dalam mimpi.

Ia menombak buaya itu, akhirnya mati. Setelah melihat kejadian itu, mereka langsung membelah perut buaya dengan peralatan seadanya dan mendapati Bawi Kuwu  sudah tidak bernyawa lagi, mati bersama-sama dengan buaya itu.

Suasana duka menyelimuti seluruh kerabat dan semua yang menyaksi kan peristiwa itu ...


- Pangeran Biawak

dikisahkan ada seorang raja di pedalaman yang mempunyai tujuh putri. Semuanya masih gadis. Namun, karena sudah cukup umur semuanya, mereka hendak dinikahkan. Sayangnya, tak ada calon yang mereka miliki. Sehingga, mau tak mau, ayahanda mereka campur tangan.

Sebagaimana lazimnya adat di zaman itu, jika ada seorang gadis tak punya calon, maka ayahnya akan menghelat sayembara untuk mencari pemuda impian bagi anaknya. Begitu juga yang dilakukan oleh ayahanda ketujuh putri tersebut. Karena, istananya terletak di pinggir sungai, maka sang raja juga mengadakan sayembara untuk membangunkan kerajaan di pinggir sungai seberangnya.

Tak lama setelah sayembara diumumkan, datanglah enam pemuda untuk mengikutinya. Dalam tempo tak begitu lama, keenam pemuda ini berhasil menyelesaikan tantangan yang diberikan sang raja. Namun, sayembara belumlah berakhir. Masih menunggu satu pemuda lagi untuk menyelesaikan satu tantangan lainnya, yakni membuatkan jembatan untuk masing-masing istana ke istana raja. Ya, kan tadi keenam istana ini terletak berseberangan dengan istana raja.

Tunggu ditunggu, datanglah seorang ibu tua dan seekor biawak. Siapa mereka? Rupanya ibu tua ini adalah ibu dari biawak itu.

"Hamba datang ke sini untuk mengikuti sayembara yang tuan paduka adakan," jelas ibu tua.

"Baiklah, apakah Anda punya seorang anak laki-laki?" tanya sang raja.

"Ya. Aku punya seorang anak laki-laki, yang biasa saja."

"Tak masalah. Siapa pun dia bisa mengikuti sayembara ini."

"Nah, anakku, kamu sudah mendengar kata-kata raja sendiri kan? Berarti kamu boleh ikutan," kata ibu tua kepada biawak.

Semua orang terkejut. Bagaimana mungkin seekor biawak bisa memiliki ibu manusia?

"Kan tadi tuan paduka sudah bilang tak mempermasalahkan. Siapapun boleh ikutan sayembara ini. Apa tuan paduka ingin menarik ucapan sendiri?"

Sang raja berdiam diri sejenak, menimang-nimang. "Ya, aku sudah mengatakannya. Dan pantang bagiku menarik ucapanku. Baiklah, kamu ikutan biawak."

Biawak pun langsung bekerja.

Sementara itu, raja berdiskusi dengan ketujuh putrinya. Dia bertanya siapakah di antara mereka yang ingin menjadi istri dari biawak? Sebuah pilihan sulit! Nyatanya, keenam putri raja tak ada yang mau, kecuali si bungsu.

"Aku bersedia, ayahanda. Ini demi nama baik ayahanda yang telah berjanji kepada biawak untuk menikah salah seorang di antara putri ayahanda. Tentu saja, aku tidak bisa mengorbankan kebaikan keenam kakakku."

Biawak rupanya bekerja terlalu cepat. Karena selesai berdiskusi, keenam jembatan sudah jadi.

Keesokan harinya digelarlah pesta pernikahan. Tampak, keenam putri raja bergembira, sedangkan si bungsu cuma muram. Dia mencoba menutupi kesedihannya. Ketika malam tiba, dan semua pengantin baru ini ke kamar masing-masing hanya di kamar si bungsu tak terdengar suara cekikikan. Si bungsu cuma tertidur begitu saja, setelah meletakkan biawaknya di sudut kamar.

Namun, keesokan paginya, dia terkejut menemukan seorang pria tampan tidur di sisinya. Dia menjerit dan pengawal raja masuk ke kamarnya. Namun, tak ditemukan pria tampan itu. Si putri hanya menunjuk-nunjuk biawak. Pria tampan itu sudah berubah kembali menjadi biawak. Tapi, tak seorang pun pengawal percaya. Mereka hanya menganggap si bungsu sedang bermimpi buruk karena habis menikahi biawak.

Begitu yang terjadi selama beberapa malam. Namun, si bungsu tak lagi terkejut dengan kehadiran pria tampan tersebut. Justru dia bertanya mengapa suaminya yang cakep itu bisa berubah jadi biawak. Kata suaminya, dia berubah jadi biawak karena dikutuk. Si bungsu kemudian ke sudut kamar, dia menemukan kulit biawak yang akan dikenakan oleh suaminya menjelang pagi. Kali itu, si bungsu punya ide untuk membakarnya saja. Walhasil, suami si bungsu pun tak berubah kembali jadi biawak.

Sungguh senang hati si bungsu. Kemudian, keenam kakaknya merasa sedih juga kenapa dulu mereka tak mau. Itulah balasan bagi orang yang mau berbakti kepada orang tua.




- The Legend of Nusa Island


A long time ago there was a man named Nusa, he was a farmer. He lived with his wife and his brother. Nusa and his brother were very diligent farmers.

Nusa and other farmers in the village were sad because the rain had not fallen for a very long time. Their rice fi elds were dried. They needed water.

Nusa then decided to ask his family to move to another place. After walking for three days, they finally arrived in a new place. It was very fertile. They had a lot of water because there was a river there.

After they arrived, Nusa looked for something to eat. Later he brought a very big egg. He asked his wife to cook the egg.

After it was cooked, he asked his wife and his brother to eat the egg. However, they refused to eat. They were not sure with the egg. It was very big, Nusa did not care because he was so hungry. After he ate, then he slept.

In the morning Nusa screamed in pain. His wife and brother immediately came to him. They were surprised to see what happened to Nusa. His body was full of scales. His legs changed into a tail.

His body was getting bigger.

“What happened to me?”, He said. “Was it because of the egg I ate last night? Oh my God! Maybe it’s a dragon’s egg. Now I changed into a dragon?

Nusa then asked his wife and brother to move him to the river. He could not walk and move his body on the land. Slowly they tried to pull Nusa’s body. Finally they succeeded.

“Please forgive me, I cannot live with you anymore. I will live in this river, go home and tell people about me. Ask them to be careful with what they eat” said Nusa. Later Nusa disappeared into the river.

Nusa had completely changed into a dragon. He ate fi sh. All the fi sh were scared.

Nusa ate a lot of fi sh. The fi sh had to do something. They had to stop Nusa from eating them. They then held a meeting.

“I have an idea,” said a small fi sh. “Just be prepared to attack the dragon when I give you all the sign.”

The small fi sh then came to Nusa. He said, “Master, there is another dragon live in the river. The dragon is bigger and more powerful than you are. He challenges you to fight”, said the small fi sh to Nusa.

“Oh yeah, hmmm I’m the biggest dragon and the most powerful dragon. I will fi ght him!” said Nusa.

Days and nights Nusa was preparing the fight. He was always thinking about his enemy. He could not sleep. He was very tired. When Nusa was sleepy, the small fi sh screamed.

“Master! Your enemy was behind you!”

Nusa turned his big body very fast.His tail was still in front of him. He thought his tail was his enemy. He attacked and bit his own tail and he screamed. Suddenly the small fish said, “Attack!”

Than all the fi sh attacked Nusa.

They all bit Nusa’s body. Nusa tried to save his life. He swam to the river side. But it was too late. He was very weak. Finally he died.

His body slowly changed into an island. People then named the island as Nusa Island.

It’s located at Kahayan River, Central Kalimantan.


_____
- https://cerita-legenda-dunia.blogspot.com

- cerita-cerita.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar