Jumat, 23 November 2018

Sekuntum Bunga (5)

Sekuntum Bunga (5)
Oleh aminuddin




Tampil Sederhana



SUATU hari Fatimah Az Zahra, di hampiri Abdurrahman bin ‘Auf. Dia mengabarkan bahwa Rasulullah SAW tengah menangis sedih se lepas menerima wahyu dari Jibril.

Abdurrahman datang untuk menca ri obat  Nabi yang 'kalut' pada wak tu itu. Satu hal yang selalu membuat Rasulullah bahagia adalah melihat putrinya.


“Baik. Tolong menyingkirlah seje nak hingga aku selesai ganti pa kaian.” Demikian diceritakan dalam kitab al-Aqthaf ad-Daniyyah melalui riwayat Umar bin Khattab.

Keduanya lalu berangkat ke tempat Rasulullah SAW. Saat itu Fatimah menyelimuti tubuhnya dengan pakai an yang usang.

Ada 12 jahitan dalam lembar kain tersebut. Serpihan dedaunan kurma juga tampak menempel di sela-selanya.

Sayidina Umar bin Khattab mene puk kepala ketika menyaksikan penampilan Fatimah.

“Betapa nelangsa putri Muhammad SAW. Para putri kaisar dan raja me ngenakan sutra-sutra halus semen tara Fatimah anak perempuan utu san Allah puas dengan selimut bulu dengan 12 jahitan dan dedaunan kurma.”

Sesampainya menghadap ayahandanya, Fatimah bertutur, “Ya Rasulullah, tahukah bahwa Umar terheran-heran dengan pakaianku? Demi Dzat yang mengutusmu dengan kemuliaan, aku dan Ali (Sayyidina Ali bin Abi Thalib, suaminya) selama lima tahun tak pernah menggunakan kasur kecuali kulit kambing.”

Fatimah menceritakan, keluarga nya menggunakan kulit kambing tersebut hanya pada malam hari. Sementara pada siang hari kulit ini menjelma sebagai tempat makan untuk unta.

Bantal mereka hanya terbuat dari kulit yang berisi serpihan dedaunan kurma ..

“Wahai Umar, tinggalkan putriku. Mungkin Fatimah sedang menjadi kuda pacu yang unggul (al-khailus sabiq),” sabda Nabi kepada sahabatnya itu.

Analogi kuda pacu merujuk pada pengertian keutamaan sikap Fa timah yang mengungguli seluruh putri-putri raja lainnya.

“Tebusanmu (wahai Ayah) adalah diriku,” sahut Fatimah.

Dengan kedudukan dan kharisma ayahandanya yang luar biasa, Fatimah Az Zahra sesungguhnya bisa memperoleh apa saja yang ia kehendaki, lebih dari sekadar pa kaian dan kasur yang bagus.

Namun kepribadian Rasulullah SAW yang bersahaja tampaknya memang mewaris ke dalam dirinya.

Fatimah tetap tampil sederhana, dengan segenap kebesaran dan kemewahan jiwanya ...









___

https://www.islampos.com > syiar > sirah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar