Kamis, 22 November 2018

Sekuntum Bunga (4)


Sekuntum Bunga (4)
Oleh aminuddin



Malam Pertama yang Indah ...


BEBERAPA saat setelah menikah dan siap melewati awal kehidupan bersama, yaitu malam pertama ya ng indah hingga menjalani hari-hari selanjutnya bersama, Fatimah pun berkata kepada Ali:

“Wahai suamiku Ali, aku telah halal bagimu. Aku pun sangat bersyukur kepada Allah karena ayahku memilihkan aku suami yang tampan, saleh, cerdas dan baik sepertimu.”

Ali pun menjawab, “Aku pun begitu, wahai Fatimahku sayang. Aku sangat bersyukur kepada Allah, akhirnya cintaku padamu yang telah lama kupendam telah menjadi halal dengan ikatan suci pernikahanku denganmu.”.

Fatimah pun berkata lagi dengan lembut, “Wahai suamiku, bolehkah aku berkata jujur padamu? Karena aku ingin terjalin komunikasi yang baik di antara kita dan kelanjutan rumah tangga kita.”

Kata Ali, “ Tentu saja istriku, silahkan. Aku akan mendengarkanmu.”

Fatimah pun berkata, “Wahai Ali suamiku, maafkan aku. Tahukah engkau bahwa sesungguhnya sebe lum aku menikah denganmu, aku telah lama mengagumi dan memen dam rasa cinta kepada seorang pe muda. Aku merasa pemuda itu pun memendam rasa cintanya untukku. Namun akhirnya, ayahku menikahkan aku denganmu. Sekarang aku adalah istrimu. Kau adalah imamku, maka aku pun ikhlas melayani, mendampingi, me matuhi dan menaatimu. Marilah kita berdua bersama-sama mem bangun keluarga yang diridhai Allah.”

Sungguh bahagianya Ali mende ngar pernyataan Fatimah yang siap mengarungi bahtera kehidupan bersama. Suatu pernyataan yang sangat jujur dan tulus dari hati perempuan shalihah.

Tapi Ali juga terkejut dan sedih ke tika mengetahui bahwa sebelum menikah dengannya, ternyata Fatimah telah memendam perasaan kepada seorang pemuda.

Ali merasa bersalah karena sepertinya Fatimah menikah dengannya karena permintaan Rasul yang tak lain adalah ayahnya Fatimah.

Ali kagum dengan Fatimah yang mau merelakan perasaannya demi taat dan berbakti kepada orang tuanya yaitu Rasul dan mau menjadi istri Ali dengan ikhlas.

Namun Ali memang pemuda yang sangat baik hati. Ia memang sangat bahagia sekali telah menjadi suami Fatimah.

Tapi karena rasa cintanya karena Allah yang sangat tulus kepada Fatimah, hati Ali pun merasa tidak tega jika hati Fatimah terluka.

Karena Ali sangat tahu bagaimana rasanya menderita karena cinta. Dan sekarang, Fatimah sedang merasakannya.

Ali bingung ingin berkata apa, perasaan di dalam hatinya bercampur aduk. Di satu sisi ia sangat bahagia telah menikah dengan Fatimah, dan Fatimah pun telah ikhlas menjadi istrinya.

Tapi di sisi lain, Ali tahu bahwa hati Fatimah sedang terluka. Ali pun ter diam sejenak. Ia tak menanggapi pernyataan Fatimah.

Fatimah pun lalu berkata, “Wahai Ali, suamiku sayang. Astaghfirullah, maafkan aku. Aku tak ada maksud ingin menyakitimu. Demi Allah, aku hanya ingin jujur padamu.”

Ali masih saja terdiam ...

Bahkan Ali mengalihkan panda ngannya dari wajah Fatimah yang cantik itu.

Melihat sikap Ali, Fatimah pun berkata sambil merayu Ali, “Wahai suamiku Ali, tak usahlah kau pikirkan kata-kataku itu.”

Ali tetap saja terdiam dan tidak terlalu menghiraukan rayuan Fa timah.

Tiba-tiba Ali pun berkata, “Fatimah, kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Kau pun tahu betapa aku berjuang memendam rasa cintaku demi ikatan suci bersamamu. Kau pun juga tahu betapa bahagianya kau telah menjadi istriku. Tapi Fatimah, tahukah engkau saat ini aku juga sedih karena mengetahui hatimu sedang terluka. Sungguh, aku tak ingin orang yang kucintai tersakiti. Aku begitu merasa bersalah jika seandainya kau menikahiku bukan karena kau sungguh-sungguh cinta kepadaku. Walupun aku tahu lambat laun pasti kau akan sangat sungguh-sungguh mencintaiku. Tapi aku tak ingin melihatmu sakit sampai akhirnya kau mencintaiku.”

Fatimah pun tersenyum haru men dengar kata-kata Ali.

Ali diam sesaat sambil merenung ....

Tanpa terasa, mata Ali pun mulai mengeluarkan airmata ..

Lalu dengan sangat tulus, Ali berka ta, “Wahai Fatimah, aku sudah menikahimu tapi aku belum menyentuh sedikitpun dari dirimu. Kau masih suci. Aku rela agar kau bisa menikah dengan pemuda yang kau cintai itu. Aku akan ikhlas, lagipula pemuda itu juga mencintaimu. Jadi, aku tak akan khawatir ia akan menyakitimu. Karena ia pasti akan membahagiakanmu. Aku tak ingin cintaku padamu hanya bertepuk sebelah tangan. Sungguh aku sangat mencintaimu. Demi Allah, aku tak ingin kau terluka.”

Fatimah meneteskan airmata sam bil tersenyum menatap Ali ..

Fatimah sangat kagum dengan ketulusan cinta Ali kepadanya ...

Cinta yang dilandaskan keimanan yang begitu kuat. Ketika itu juga, Fatimah ingin berkata kepada Ali, tapi Ali memotong dan berkata, “Tapi Fatimah, bolehkah aku tahu siapa pemuda yang kau pendam rasa cintanya itu? Aku berjanji tak akan meminta apapun lagi darimu. Namun ijinkanlah aku mengetahui nama pemuda itu.”

Air mata Fatimah mengalir sema kin deras ...

Fatimah tak kuat lagi membendung rasa bahagianya dan Fatimah lang sung memeluk Ali dengan erat.

Lalu Fatimah pun berkata dengan tersedu-sedu, “Wahai Ali, demi Allah aku sangat mencintaimu. Sungguh aku sangat mencintaimu karena Allah.”

Berkali-kali Fatimah mengulangi kata-katanya ...

Setelah emosinya bisa terkontrol, Fatimah pun berkata kepada Ali, “Wahai Ali, awalnya aku ingin tertawa dan menahan tawa sejak melihat sikapmu setelah aku me ngatakan bahwa sebenarnya aku memendam rasa cinta kepada se orang pemuda sebelum menikah denganmu. Aku hanya ingin meng godamu. Sudah lama aku ingin bisa bercanda mesra bersamamu. Tapi kau malah membuatku menangis bahagia. Apakah kau tahu sebenar nya pemuda itu sudah menikah.”

Ali menjadi bingung ...

Ali pun berkata dengan selembut mungkin, walaupun ia kesal dengan ulah Fatimah kepadanya :

”Apa maksudmu wahai Fatimah? Kau bilang padaku bahwa kau memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, tapi kau malah kau bilang sangat mencintaiku, dan kau juga bilang ingin tertawa melihat sikapku, apakah kau ingin mempermainkan aku Fatimah? Tolong sebut siapa nama pemuda itu? Mengapa kau mengharapkannya walaupun dia sudah menikah?”

Fatimah lalu memeluk mesra lagi, lalu menjawab pertanyaan Ali dengan manja, “Ali sayang, kau benar seperti yang kukatakan bahwa aku memang telah me mendam rasa cintaku itu. Aku memendamnya bertahun-tahun. Sudah sejak lama aku ingin mengungkapkannya. Tapi aku terlalu takut. Aku tak ingin menodai anugerah cinta yang Allah berikan ini. Aku pun tahu bagaimana beratnya memendam rasa cinta apalagi dahulu aku sering bertemu dengannya. Hatiku bergetar bila kubertemu dengannya. Kau juga benar wahai Ali cintaku. Ia memang sudah menikah. Tapi tahukah engkau wahai sayangku? Pada malam pertama pernikahannya ia malah dibuat menangis dan kesal oleh perempuan yang baru dinikahinya.”

Ali pun masih agak bingung ...

Tapi Fatimah segera melanjutkan kata-katanya dengan nada yang semakin menggoda Ali ...

”Kau ingin tahu siapa pemuda itu? Baiklah akan kuberi tahu. Sekarang ia berada di sisiku. Aku sedang me meluk mesra pemuda itu. Tapi dia hanya diam saja. Padahal aku me meluknya sangat erat dan berkata-kata manja padanya. Aku sangat mencintainya dan aku pun sangat bahagia ternyata memang duga anku benar. Ia juga sangat men cintaiku.”

Ali berkata kepada Fatimah, “Jadi maksudmu?”

Fatimah pun berkata, “Ya wahai cintaku, kau benar, pemuda itu bernama Ali bin Abi Thalib sang pujaan hatiku.”

Berubahlah mimik wajah Ali menjadi sangat bahagia dan membalas pelukan Fatimah dengan dekapan yang lebih mesra.

Mereka masih agak malu-malu ...

Saling bertatapan lalu tersenyum dan tertawa bahagia karena tak habis pikir dengan ulah masing-masing.

Mereka bercerita tentang kena ngan-kenangan masa lalu dan berbagai hal.

Malam itu pun mereka habiskan bersama dengan indah dalam dekapan Mahabbah-Nya yang suci.

Subhanallah ...


Ali dan Fatimah pun menjalani ru mah tangga mereka dengan suka dan duka ...

Buah cinta dari pernikahan Ali dan Fatimah adalah putra tampan ber nama Hasan dan Husain.

Mereka berdua adalah anak yang sangat disayangi orangtuanya dan disayangi Rasul, kakek mereka ...

Juga disayangi keluarga Rasulullah SAW yang lain tentunya ...










____

https://www.dakwatuna.com > ... > kisah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar