Cerita Rakyat (18)
Oleh aminuddin
18. MALUKU
Batu Badaong
DI sebuah desa di pulau Tanimbar (Maluku), hiduplah seorang pria kaya bersama istri dan dua orang anak yang sudah tumbuh menjadi seorang pemuda dan dara.
Mereka berdua sangat dimanjakan oleh sang ayah sehingga mereka mempunyai sifat yang malas dan sombong. Mereka memiliki banyak pelayan yang siap melayani semua keinginan mereka.
Ketika ayah mereka meninggal, semua pelayan pergi karena tidak tahan dengan perlakuan kedua ka kak beradik itu.
Sang ibulah yang menggantikan tu gas-tugas para pelayan itu. Mulai dari mempersiapkan makanan, me nyapu, mengepel, hingga menyetri ka.
Namun, sungguh tidak terpuji. Ke dua anaknya itu memperlakukan ibu mereka seperti pelayan. Jika ada yang salah mereka tak segan-segan membentak, seperti seorang majikan yang sedang marah kepada budaknya.
Hati ibu yang malang sungguh sangat sakit, tetapi hanya bisa pasrah. Bagimanapun juga, mereka adalah putra-putrinya tercinta.
Sekurang-ajar apapun perlakuan mereka, ibunya tetap melayani kebutuhan mereka seperti biasanya.
Sering ibu yang malang itu melaku kan pekerjaannya sambil menetes kan air mata dan berdoa…
"Ampunilah hamba, ya Tuhanku
Hamba gagal mendidik mereka
Hamba gagal menjadikan mereka anak-anak yang berbakti
Ya Tuhanku
Bukalah mata hati mereka
Berilah mereka kesadaran
Agar mereka bisa menjadi anak-anak yang insyaf;
Insyaf akan dirinya;
Dan kembali ke jalan-Mu"
Suatu hari ketika mereka bangun tidur dan ingin makan, mereka terkejut melihat meja dalam kea daan kosong. Tak ada makanan dan minuman yang tersaji.
Hanya ada panci diatas kompor. Mereka berdua marah dan mem banting apapun yang ditemukan sambil mencari ibu mereka.
Si pemuda berpikir… pasti ibunya sedang mencuci pakaian di sungai. Merekapun bergegas menuju ke su ungai. Dan, ternyata benar dugaan pemuda itu; sang ibu sedang mencuci pakaian.
Dalam keadaan marah pemuda itu menghampiri ibunya. Tanpa bertanya, langsung ”wesss.. gubrakkk…”, pemuda itu menendang cucian sang ibu hingga terjatuh ke sungai.
Ibunya tidak kuasa berbuat apa-apa selain menangis. Tak hanya itu, si gadis pun tidak mau ketinggalan.
Sementara tangan kirinya memega ngi tangan ibunya, tangan kanan nya mengayunkan pukulan bertubi-tubi ke tubuh ibunya.
“Ampun Nak…. Ada apa gerangan, kenapa kalian memperlakukan ibumu seperti ini?” tanya sang ibu dengan diriingi isakan tangis dan cucuran air mata.
“Dasar kau perempuan tua, sampai jam begini aku belum makan. Aku lapar! Kau tak ikhlas yah memasak untukku?” hardik gadis itu sambil terus memukuli tubuh ibunya.
Si Ibu menangis dengan nyaring dan memohon, tapi kedua anak itu tidak mau mendengarkannya. Malah mereka memukulnya lagi dan lagi.
Ibu yang malang itu mendapatkan perlakuan buruk dari sang anak ...
Tiba-tiba sang Ibu berhenti mena ngis, tubuhnya lemah, dan dengan suara tertahan berkata:
“Ayahmu memang meninggalkan banyak kekayaan, tapi tidak akan berlangsung lama. Dan meskipun aku yang melahirkan kalian ke du nia ini, mulai sekarang kalian bukan lagi anak-anakku. Aku tidak akan pernah mau kembali ke rumah ka lian lagi. Kalian bebas melakukan apapun, aku sudah tidak peduli lagi”.
Setelah mengatakan itu, si ibu me nyeret tubuhnya ke sebuah batu besar di pinggir sungai. Lalu berujar:
“Wahai batu besar terbukalah. Biarkan aku masuk ke dalam. Jadikan aku bunga yang wangi seperti melati putih”.
Tak lama setelah itu, perlahan batu itu terbuka. Lalu masuklah sang ibu ke dalam batu itu. Dalam sekejap mata batu itu telah tertutup kembali.
Setelah beberapa hari, pada batu itu muncul dedaunan dan bunga-bunga berwarna putih yang wangi semerbak.
Apa yang terjadi pada kedua anak tersebut?
Penduduk desa marah dan mengu sir mereka. Hartanya pun dijarah untuk dibagikan kepada orang-orang miskin di desa tersebut.
Kini yang tertinggal hanya penyesa lan ....
Menyesal telah berlaku kasar kepada ibu yang telah melahirkan dan merawat mereka. Namun penyesalan tinggal penyesalan, sang ibu telah tiada.
Mereka mendatangi batu dimana ibu mereka tertelan. Sambil menge lus batu yang telah ditumbuhi de daunan dan bunga putih, mereka menangis tersedu-sedu….
Mereka berharap batu itu membuka dan menelan mereka agar bisa ber temu kembali dengan sang ibu tercinta…
(menyanyi)
"Batu badaong
Batu la batangke
Buka Mulutmu
Telankan Beta
Guna La Apa
Beta Tinggal Sandiri
Sedangkan Mama
Suda Tarada
Si O La Mama
Mama Jantong Hati
Mengapa Tinggal Beta Sandiri
Beta Kacil
Saorang Diri
Batu badaong
Batu la batangke
Buka Mulutmu"
______
www smileambon.com > MALUKU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar