Sekuntum Bunga (11)
Oleh aminuddin
Cinta dan Kasih Sayang
KELUARGA Az-Zahra dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang kepa da suami dan anak-anaknya ...
Pada tahun ke-2 Hijriah, Fatimah melahirkan putra pertamanya yang oleh Rasulullah SAW diberi nama “Hasan”.
Rasulullah SAW sangat gembira atas kelahiran cucundanya ini ..
Beliau menyuarakan azan pada telinga kanan Hasan dan iqamah pada telinga kirinya, kemudian dihiburnya dengan ayat-ayat suci Al-Quran.
Setahun kemudian lahirlah Husain. Demikianlah Allah SWT berkehen dak menjadikan keturunan Rasu lullah SAW dari Fatimah Az-,zahra.
Rasulullah SAW mengasuh kedua cucunya itu dengan penuh kasih dan perhatian ...
Tentang keduanya beliau senantia sa mengenalkan mereka sebagai buah hatinya di dunia.
Bila Rasulullah SAW keluar rumah, beliau selalu membawa mereka bersamanya.
Beliau selalu mendudukkan mereka berdua di haribaannya dengan pe nuh kehangatan ...
Suatu hari Rasulullah SAW lewat di depan rumah Fatimah ...
Tiba-tiba beliau mendengar tangi san Husain ...
Kemudian Nabi dengan hati yang pilu dan sedih mengatakan, “Ti dakkah kalian tahu bahwa tangis nya menyedihkanku dan menyakiti hatiku.”
Satu tahun berselang, Fatimah me lahirkan Zainab. Setelah itu, Ummu Kultsum pun lahir ...
Sepertinya Rasulullah SAW teringat dengan kedua putrinya Zainab dan Ummu Kultsum ketika menamai kedua putri Fatimah itu dengan na ma-nama tersebut.
Dan begitulah Allah SWT menghen daki keturunan Rasul SAW berasal dari putrinya Fatimah Zahra.
Imam Hasan meriwayatkan, “Aku belum pernah melihat seorang wa nita yang lebih alim daripada ibuku. Ia selalu melakukan shalat dengan begitu lama sehingga kakinya men jadi bengkak.”
Imam Hasan juga meriwayatkan,
“Aku melihat ibuku Fatimah berdiri shalat pada malam Jumat. Beliau meneruskan shalatnya dengan rukuk dan sujud sehingga subuh. Aku mendengar beliau berdoa un tuk kaum mukminin dan mukmi nah dengan menyebut nama-nama mereka. Beliau berdoa untuk mere ka semua tetapi beliau tidak ber doa untuk dirinya sendiri."
“Ibu,” Aku bertanya kepada beliau “Mengapa ibu tidak berdoa untuk diri sendiri sebagaimana ibu berdoa untuk orang lain?”
Beliau menjawab,” Anakku, (berdoa lah) untuk tetangga-tetanggamu diu tamakan dan kemudian barulah di rimu sendiri.”[Bihar al-Anwar, Jilid 43, hlm 81-82; Abu Muhammad Ordooni, Fatimah The Gracious, hlm.168-169; Sayyid Abdul Razak Kammoonah Husseini, Al-Nafahat al-Qudsiyyah fi al-Anwar al-Fatimiyyah, Juz 13, hlm.45]
_____
https://buletinmitsal.wordpress.com > sos ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar