Jumat, 30 November 2018

Mangkuk (7)

Mangkuk (7)
Oleh Wak Amin




"MAJULAH anak ingusan!" Pancing Letnan Ratna.

Mundur beberapa langkah ...

Telinga lebar terpancing. Dia ma rah. Dia serang Letnan Ratna dari berbagai arah dengan sepakan kaki, ayunan tangan, sikut dan kepala.

Sayang, tak satu pun yang menge na. Justru di saat membalikkan ba dan, telinga lebar lah yang jatuh ter sungkur kena tendangan lurus yang delepaskan Letna Ratna.

Bruuuk ...

Auuuuu ...

Hua ha ha ha ...

Semua yang menyaksikan ketawa geli melihat telinga lebar jatuh ter sungkur dengan muka belepotan tanah becek.

"Kenapa Bos?" Tanya remaja rambut dikuncir.

"Zombi kesiangan," jawab teman du sebelahnya sambil ketawa ngakak.

"Kampret kalian semua," umpat telinga lebar.

Dia mulai menyerang lagi. Namun pandangannya kali ini tersamar. Apa iya posisi Letnan Ratna di depan ...

Husya ..

Dia arahkan tinjunya ke depan. Lalu ke kanan dan kiri. Tapi anehnya tak satupun yang mengenai sasaran.

Ha ha ha ha ...

"Di belakang kamu Bos orangnya," teriak remaja berambut keriting. Ke sal dan kasihan melihat telinga le bar dijadikan bahan mainan oleh Letnan Ratna.

Telinga lebar diam. Dalam hatinya dia bertanya, apa mungkin polwan itu di belakang gue ...

"Naah, masih tak percaya juga nih orang. Budek .." Kata laki-laki ber peci putih.

Tak tahan terus menerus diteriaki, akhirnya telinga lebar pasang jurus lagi.

Melangkah ke depan sedikit ...

Lalu ...

Praaak ...

Buuug ...

Saat memutar badan ke depan, se buah bogem mentah Letnan Ratna tepat mengenai muka telinga lebar.

Jatuh ke tanah ...

Tak sadarkan diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar