Kamis, 15 November 2018

Satu Tiang (12)

Satu Tiang (12)
Oleh Wak Amin






LETNAN Ratna tersenyum sendiri. Hatinya berbunga. Langkahnya kian mantap ketika memasuki rumah nya dengan mobil yang dia biarkan parkir di teras.

Dia tak pula sempat menengok ke belakang, saat Nasrul dan Alif men dekati pintu pagar. Melompat ma suk dan mendekati pintu depan rumah.

Ning ... Nooong ...

Bel rumah berbunyi tiga kali ..

Letnan Ratna menunda sejenak ke kamar mandi. Dia tidak ke depan pintu depan rumah.

Dia justru keluar dari pintu belaka ng. Mengendap-endap dan dapat melihat dari dekat Nasrul dan Alif yang rebutan memencet bel.

"Aku dulu Bro. Kamu kan sudah tadi," kata Alif.

"Kepalang tanggung Lif. Kamu te nang saja. Pokoknya, kalau belum juga  pintu dibuk baru giliran kamu," ujar Nasrul.

Dari samping rumah ...

"Mereka sepertinya baru kali ini saya lihat Tuan Clean."

"Oke," kata Mr Clean, "Sekarang Letnan mau saya datang ke sana malam ini?"

"Sebaiknya begitu Mr Clean. Saya ingin anda tahu apa tujuan mereka sebenarnya datang ke rumahku."

"Oke. Kamu aturlah Letnan. Gimana caranya mereka tidak pergi .."

"Baik Mr Clean."

Setelah sempat berpikir sejenak, Letnan Ratna kembali masuk ru mah lewat pintu belakang ...

"Sekarang coba aku Bro. Pasti kebuka' ..."

Niiing .. Noooong ...

Cletek ...

Puiiis ...

Pintu terbuka ...

Alif ketawa.

"Apa kubilang Bro. Cukup sekali bel pintu langsung terbuka."

Nasrul tersenyum tak enak.

"Maaf Mbak. Boleh kami masuk dulu sekarang ...?"

"Ada keperluan apa ya bapak ber dua datang ke rumah saya malam-malam begini?" Tanya Letnan Rat na penuh selidik.

"Maaf kan kami Mbak. Apa Mbak polisi?" Meski mulai gugup, Nasrul tetap paksakan tenang saat bicara dengan Letnan Ratna.

"Betul."

"Kami akan menceritakan sesuatu kepada Mbak polisi ..." lanjut Nasrul.

"Ratna nama saya. Pangkat saya Letnan. Saya biasa dipanggil de ngan sebutan Letnan Ratna."

"Oooo ...maafkan kami Bu Letnan Ratna," kata Alif," Kami berdua mau menceritakan sesuatu kepada Bu Letnan. Itu pun kalau Bu Letnan bersedia."

"Baiklah. Saya bersedia," jawab Letnan Ratna. "Tapi ..."

"Tapi kenapa Bu Letnan?" Tanya Nasrul penasaran.

"Kita bicara di luar saja. Bukan di dalam. Setuju?"

"Apa nanti Bu Letnan tak masuk angin?" Tanya Alif.

"Maksud bapak?"

"Di luar kan banyak angin. Angin malam lagi. Kata orang tak bagus kalau kena angin malam. Bisa sakit Bu Letnan ..."

Letnan Ratna menggeser kursi tem pat duduknya. Tadi menyamping ke kanan, sekarang berhadapan de ngan Nasrul dan Alif.

Keduanya jadi salah tingkah ...






Tidak ada komentar:

Posting Komentar