Jumat, 16 November 2018

Satu Tiang (13)

Satu Tiang (13)
Oleh aminuddin



SEBUAH mobil berhenti tak jauh da ri kediaman Letnan Ratna. Melaju amat lambat, dan setelah itu ...

Trot tot tot ...

Trot tot tot ...

Rentetan tembakan dilepaskan  ol eh seorang pria berjambang dari balik kaca mobil, tepat mengenai kepala Nasrul dan Alif.

Keduanya tewas seketika ...

Masih untung menjatuhkan diri ke lantai, Letnsn Ratna mengontak Mr Clean, yang datang beberapa menit kemudian.

"Belum jauh mereka Clean," kata Letnan Ratna. Dia menyesali kena pa dua tamu tak diundang itu tak diajaknya masuk.

"Kamu baik-baik saja Let?"

"Ya Mr Clean. Sepertinya belum tuntas mereka ngomong ke aku," jelas Letnan Ratna

"Tapi paling tidak," lanjut Letnan Ratna, "Infotmasi awalnya sudah aku dapat, Mister."

Mr Clean ngerem mendadak ..

Dia menoleh ke kanan. Membelok kan mobil ke kanan. Karena dia me rasa yakin 'penembak gelap' itu me ngarah ke jalan beraspal dengan se dikit lubang kecil di beberapa tem pat.

"Ternyata mereka disuruh mengha bisi Lia dan ibunya, Mister. Sayang, sebelum sempat aku tanya siapa yang nyuruh, tiba- tiba terdengar tembakan dan mereka tewas di depan aku."

"Kamu yakin mereka jujur Let?"

"Yakin. Dan harus yakin Mr Clean," jawab Letnan Ratna.

"Malah saya yakin, si penembak itu adalah orang suruhan dari bos yang sama."

"Alasannya Let?"

"Mereka menolak tugas yang diberi kan bos mereka. Itu pengakuan dari keduanya, Pak Nasrul dan Alif."

"Lalu?"

"Mungkin takut diancam mereka lapor ke polisi. Nah, mereka ingin menemui kamu Mr Clean. Meski akhirnya rumah saya yang mereka datangi."

"Menemui saya, Let?"

"Sekadar minta perlindungan mung kin dan pengakuan rasa bersalah. Mereka takut dibunuh, makanya ingin menemui kamu dan aku."

Piiiin ...

Piiiin ...

Seorang lelaki tua berkaos oblong dan bersarung biru menyeberang jalan. Sudah lambat, banyak ulah pula.

"Jadi kuncinya sekarang ada di penembak yang kita kejar ini, Mr Clean .."






Tidak ada komentar:

Posting Komentar