Satu Tiang (16)
Oleh Wak Amin
AGAK lega, Ramli kembali menem ui Ridwan yang duduk 'terseler' di dalam mobil. Sejak tadi tak mau keluar. Dia baru keluar, turun dari mobil setelah Ramli memintanya untuk turun dan ngobrol berdua di belakang mobil.
Saat keduanya asyik mengobrol sambil menunggu bala bantuan, Mr Clean dan Letnan Ratna datang me nghampiri dengan raut muka tena ng dan senyum yang mengemba ng.
"Berdiri membelakangi kami ber dua. Cepat!" Letnan Ratna me ngeluarkan borgol.
Demikian pula halnya dengan Mr Clean. Tanpa memberikan perla wanan berarti, Ramli dan Ridwan dipaksa masuk ke dalam mobil.
Kriiiing ...
Kriiing ...
Hape Ramli berdering ...
Karena tangan terborgol, Letnan Ratnalah yang mengangkatnya. La lu dia dekatkan ke telinga Ramli.
"Ya Pak. Saya Ramli."
"Bantuan sebentar lagi datang," jawab pria di telepon itu.
"Siap Pak ..."
Nada telepon terputus ...
"Dari siapa tadi?" Tanya Letnan Ratna.
"Dari teman Bu," jawab Ramli geme taran.
"Bohong kamu. Ayo ngaku. Itu kan dari Bos kamu?"
"Bukan Bu. Dari teman saya. Saya minta tolong jemput kami berdua. Karena mobil kami rusak."
Praaak ..
Buuk ... Buuuuk ...
Dua bogem mentah menyasar ke perutnya Ramli. Mengerang kesa kitan.
Masih tak mau mengaku, 'interoga si' mengarah ke Ridwan. Bukannya membantah. Malah mengiyakan.
"Betul Bu. Itu teman kami. Kami sama-sama bekerja dengan Bos Besar."
"Siapa Bos Besar itu?"
"Beliaulah pimpinan kami," jawab Ridwan.
"Dimana dia sekarang?" Tanya Mr Clean.
"Kalau itu saya kurang tahu Bu. Saya hanya sopir," aku Ridwan. Berharap tidak ikut dipukuli.
"Apa benar yang dikatakan te manmu barusan?"
"Tentang apa Bu?"
"Minta bantuan sama Bos kamu?"
"Betul sekali Bu," kata Ridwan gu gup dengan muka pucat.
Syiuuuut ...
Mobil ngerem mendadak ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar