Cerita Rakyat (2)
Oleh aminuddin
2. SUMUT
Legenda Putri Hijau ...
KERAJAAN Deli di Sumatera Utara pada zaman dahulu diperintah oleh seorang raja bernama Suleman. Raja Suleman mempunyai tiga orang anak.
Anak pertama Raja Suleman ada lah laki-laki, namanya Mambang Yazid. Anak kedua dinamai Putri Hijau. Sedangkan anak ketiganya bernama Mambang Khayali.
Putri Hijau terkenal sangat cantik. Berita mengenai kecantikannya ter sebar ke seluruh penjuru. Konon ji ka Putri Hijau mandi, bayangannya memantul ke segala arah, sehingga langit berubah warna menjadi hijau, indah sekali.
Raja Suleman dan permaisuri sangat mencintai Putri Hijau. Demikian pula Mambang Yazid dan Mambang Khayali amat mengasihi saudaranya itu.
Rakyat Kerajaan Deli juga sayang sekali kepada Putri Hijau. Karena kecantikannya itu, Putri Hijau dimanjakan oleh setiap orang. la tidak dibiarkan melakukan pekerjaan apa pun. Apa yang diminta selalu dipenuhi orang. Hal ini terus berlangsung setelah Raja Suleman wafat, yang digantikan oleh Mambang Yazid.
Pada saat itu, tak jauh dari tempat Kerajaan Deli terdapat Kerajaan Aceh. Kerajaan Aceh diperintah oleh Sultan Ali Mukhayatsyah.
Kerajaan Aceh terletak di sebelah utara Kerajaan Deli.
Pada suatu hari, ketika Sultan Ali Mukhayatsyah sedang beristirahat di istananya, ia melihat di sebelah selatan langit berwarna kehijau-hijauan. Baginda amat terpesona menyaksikan cahaya hijau cemer lang yang indah sekali itu.
Baginda Raja Aceh bertanya kepada para pengawalnya, “Cahaya apakah yang terlihat di langit selatan itu? Belum pernah aku menyaksikan cahaya seindah itu.”
Para pengawal tidak ada yang dapat menjawab. Kemudian baginda memerintahkan memanggil para menteri. Mereka juga tidak ada yang mengetahui mengapa langit di sebelah selatan berwarna hijau.
Raja juga memanggil para penasihat kerajaan, para cendekiawan, dan rohaniwan untuk menjawab rasa penasaran sang Raja Aceh.
Semua terdiam karena keanehan yang terjadi itu. Akhirnya baginda memerintahkan serombongan cendekiawan untuk menyelidiki hal yang aneh itu.
Dikisahkan bahwa para prajurit ber tekad melaksanakan perintah Raja Aceh dengan baik ..
Para prajurit menjelajahi setiap negeri Deli untuk mencari tahu cahaya hijau di langit.
Beberapa minggu kemudian, rombongan itu kembali. Kepala rombongan itu melapor, “Warna langit yang indah itu disebabkan oleh seorang putri.”
“Engkau jangan bergurau,” kata baginda. Raja Aceh tidak langsung percaya ucapan prajuritnya.
“Hamba berkata sebenarnya,” sahut kepala rombongan itu dengan nada yakin.
“Namanya Putri Hijau. Putri Kerajaan Deli. Ia cantik sekali. Kalau sedang mandi, bayangannya akan menyebabkan langit berwarna hijau,” demikian kepala prajurit itu menjelaskan kepada Raja Aceh dengan bersemangat.
Mendengar laporan itu, Sultan Ali Mukhayatsyah menjadi gelisah. Tiba-tiba Sultan Ali ingin memperistri Putri Hijau untuk dijadikan permaisurinya.
Sultan dari Aceh itu sedang jatuh cinta kepada putri cantik yang belum pernah ditemuinya. Sultan dari Aceh ingin segera menjadikan Putri Hijau sebagai istrinya.
Ketika keinginan itu dikatakan kepada para menterinya, semua menyatakan setuju.
Beberapa hari kemudian, Baginda Sultan Aceh mengirim utusan ke Kerajaan Deli untuk melamar Putri Hijau.
Utusan itu dibekali dengan hadiah berupa perhiasan emas, intan, dan permata. Utusan itu diberi kuasa penuh untuk menyerahkan beberapa gerobak hadiah.
Ia juga diberi wewenang untuk bertindak seandainya lamaran itu ditolak. Karena itu, utusan itu disertai oleh pasukan-pasukan tentara yang bersenjata lengkap.
Raja Deli mendengar permintaan tersebut dengan terkejut. Berdasarkan berbagai pertimbangan para penasihat Raja Mambang Yazid, lamaran Sultan Ali Mukhayatsyah itu ditolak.
Utusan itu menjadi marah. Maka ia melaksanakan ancamannya. Terjadilah peperangan yang amat dahsyat.
Pasukan dari Kerajaan Aceh ternya ta tidak berhasil menaklukkan Kera jaan Deli. Ibukota Deli dikelilingi oleh pagar bambu berduri. Karena itu, pasukan Aceh mundur dan me ngirim penghubung untuk meminta bala bantuan dari sultan.
Sultan Ali Mukhayatsyah meminta nasihat kepada para pembantunya. Sultan Ali mulai mengatur siasat cara memenangkan perang mela wan Kerajaan Deli.
Maka dikirimlah pasukan bantuan dengan membawa lima belas kere ta penuh berisi uang emas. Ketika sampai di batas kota Deli Tua, ten tara Aceh menyebar uang emas ke pagar bambu berduri itu.
Melihat begitu banyak uang emas yang gemerlapan, pasukan Deli be rebutan. Semua ingin mendapat uang emas sebanyak-banyaknya.
Mereka mulai menebangi pokok-pokok bambu berduri untuk mem peroleh lebih banyak uang emas.
Maka terbukalah benteng pertaha nan pasukan Deli. Siasat perang Sultan Ali mulai membuahkan hasil ...
Pasukan Aceh menghambur masuk ke kota Deli Tua melalui celah-celah pagar bambu berduri yang terbuka.
Di samping itu, pasukan Aceh juga menaburkan uang emas beberapa puluh langkah di depan meriam-meriam mereka.
Ketika pasukan Deli berbondong-bondong hendak mengambil uang emas itu, pasukan Aceh menembakkan meriamnya. Banyak sekali korban yang jatuh di pihak Deli.
Selain ada prajurit Deli yang gugur, banyak pula tentara Kerajaan Deli yang ditawan.
Ketika pasukan Aceh sudah mende kati istana Deli, pertempuran berla ngsung tambah hebat. Para penga wal istana memberikan perlawanan dengan gagah berani.
Meriam ber dentuman dari kedua belah pihak ...
Di beberapa tempat terjadi pertempuran satu lawan satu. Selain tentara, rakyat juga turut mempertahankan kota dan istana Deli.
Mereka meninggalkan rumah ma sing-masing untuk bersama-sama melawan musuh. Ini semua mereka lakukan karena mereka mencintai Deli, mencintai tanah kelahirannya.
Mereka tidak rela apabila tanah tumpah darahnya dihancurkan oleh musuh. Mereka rela mati untuk kejayaan negerinya.
Berhari-hari istana Deli dikepung oleh pasukan Kesultanan Aceh, tetapi Kerajaan Deli tetap dapat bertahan.
Sultan Mambang Yazid berunding dengan saudara-saudaranya dan dengan para menterinya. Mereka harus menemukan jalan keluar agar dapat memberikan perlawanan kepada musuh.
Untuk mempertahankan Kerajaan Deli, mereka bersedia melakukan tugas apa pun ...
Mambang Khayali memiliki kesakti an bisa mengubah tubuhnya menja di wujud apapun. Maka ia menjel ma menjadi sebuah meriam.
Meriam ini lalu menembaki pasu kan Aceh ...
Meriam penjelmaan Mambang Khayali sungguh tangguh. Meriam ini menembaki musuh dengan tepat sasaran.
Menghadapi meriam ini, pasukan Aceh tercerai-berai. Banyak pula tentara Aceh yang menjadi korban.
Akan tetapi, lama-kelamaan meriam penjelmaan Mambang Khayali ini menjadi panas. Ia haus dan meminta minum. Badannya terlalu panas sebab terus-menerus menembaki musuh.
Putri Hijau mula-mula tidak mau memberi minum. Meriam itu terus merengek- rengek dengan suara yang memilukan.
“Tolong, Kak,” rengek meriam itu kepada Putri Hijau. “Aku amat haus. Tidakkah Kakak kasihan kepadaku? Aku sudah tidak tahan lagi!”
Karena iba, Putri Hijau menuangkan seember air kepada meriam itu.
Tak ada yang menduga bahwa pem berian seember air akan menghan curkan meriam itu. Dengan menge luarkan suara menggelegar, meriam itu terbelah menjadi dua.
Bagian kepalanya terpental sampai ke Nalu, sedang badannya tetap di Deli Tua.
Sultan Mambang Yazid merasa bahwa tidak mungkin ia bertahan lebih lama lagi.
Pasukan Kerajaan Deli sudah kalah telak. Maka sesuai kesepakatan mereka ia menjelma menjadi see kor naga, dan terjun ke laut.
Putri Hijau kini tinggal seorang diri. Kedua orang saudaranya telah menjadi korban ...
Akhirnya Putri Hijau ditawan oleh pasukan Aceh dan akan dibawa menghadap Sultan Ali Mukhayat syah.
Putri Hijau minta agar dibuatkan sebuah peti kaca. Dalam pelayaran menuju Aceh, ia duduk di dalam kaca itu. Ini sesuai dengan pesan kakaknya.
Kapal yang membawa Putri Hijau itu berlabuh di Jambu Air Langsa. Putri Hijau keluar dari peti kaca, kemudian membakar kemenyan untuk meminta pertolongan kakaknya.
Di dalam hati ia menyesali nasib nya. Kecantikannya yang sangat dikagumi orang itu ternyata telah menyebabkan kehancuran negerinya.
Setelah membakar kemenyan dan membaca doa, Putri Hijau masuk lagi ke dalam peti kaca. Tiba-tiba udara menjadi gelap gulita. Guruh terdengar bersahut-sahutan.
Kemudian terlihat ada seekor naga yang muncul menyambar peti kaca dan membawanya menyelam ke laut.
Gelombang laut yang sangat besar menghantam kapal-kapal Aceh sehingga tenggelam. Hampir semua tentara Aceh habis tenggelam.
Beberapa orang yang selamat lang sung lari menghadap Sultan Ali Mukhayatsyah. Mendengar berita hancurnya pasukan Aceh, Sultan Ali Mukhayatsyah sangat sedih.
Ia memang telah menang perang. Kerajaan Deli dapat dikuasai. Bah kan Putri Hijau dapat diboyong. Akan tetapi, ia gagal memperistri Putri Hijau. Padahal korban telah begitu banyak berjatuhan.
Ia juga menyesal karena tergiur oleh kecantikan Putri Hijau. Ia telah menyerang Kerajaan Deli.
Akibat perang itu sungguh menge rikan. Banyak istri menjadi janda. Banyak anak menjadi yatim.
Setelah begitu banyak jatuh korban, maksud hati untuk mendapatkan permaisuri cantik juga gagal.
Ia menyadari bahwa seharusnya ia menghormati kerajaan lain, bahkan kalau dapat menjalin kerja sama.
Dengan demikian, perdamaian akan terwujud, dan kesejahteraan rakyat di kedua negeri dapat terpelihara baik.
Sayang, sesal kemudian tak ber guna ..
______
- Pesan moral yang terkandung dalam cerita rakyat Putri Hijau adalah peperangan tidak akan menyelesaikan masalah. Raja Aceh memberi wewenang kepada utusannya untuk menyerang Kerajaan Deli apabila lamarannya ditolak. Hal ini merupakan sikap pemerasan terhadap orang lain dan termasuk perbuatan tercela.
Amanat cerita rakyat Putri Hijau yang kedua adalah pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan banga ketika negara dalam keadaan bahaya.
Rakyat Deli, meninggalkan urusan masing-masing, dan bersama-sama mempertahankan kota dan istana. Hal ini memberi contoh mulia karena mereka menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
Rakyat Deli mencintai tanah kelahirannya dan patut ditiru siapapun ..
Selanjutnya, pesan moral ketiga adalah pentingnya bermusyawarah dalam menyelesaikan setiap masa lah. Sultan Mambang Yazid berun ding dengan keluarga dan para men terinya, dan sepakat untuk memper tahankan Deli, masing-masing ber sedia untuk melakukan tugas apa saja.
Tindakan ini patut ditiru karena musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
Sultan Ali Mukhayatsyah sebenarnya ingin hidup rukun dengan negeri-negeri tetangga. Ini sesuai dengan karakter bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.
Semoga salah satu cerita rakyat Su matera Utara ini bisa menambah wawasan Anda.
- Tim Penyusun Cerita Rakyat Labo ratorium Pancasila IKIP Malang. 2008. Cerita Rakyat Dalam Kaitan Butir-butir Pancasila. Malang: Balai Pustaka.
- Agussiswoyo.com > cerita rakayat > legen ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar