Cerita Rakyat (4)
Oleh aminuddin
4. SUMBAR
-- Bujang Paman
TERSEBUTLAH seorang raja yang memerintah di nagari Koto Anau, Raja Anaiyo namanya. Raja Anaio dikenal buruk kelakuannya. Ia kejam dan sewenang-wenang.
Kekejamannya tidak hanya terbatas pada orang lain, bahkan terhadap keluarganya sendiri juga.
Ia juga gemar berjudi ...
Salah satu istri Raja Anaio bernama Puti Bungsu. Enam kakak Puti Bungsu telah lama merantau dan mendapatkan keberhasilan dalam perantauannya.
Mengetahui enam kakak istrinya berharta banyak, timbullah dengki dan iri hati Raja Anaiyo.
Secara rahasia ia memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk meracuni enam kakak istrinya itu.
Semua harga kekayaan enam ka kak Puti Bungsu itu akhirnya jatuh ke tangan Puti Bungsu setelah enam kakaknya meninggal dunia.
Dengan kejam Raja Anaiyo lantas meminta semua harta peninggalan enam kakak istrinya itu. Semua har ga kekayaan itu dibuatnya untuk berjudi.
Habislah semua harta itu di meja perjudian. Raja Anaiyo kembali meminta harta kepada Puti Bungsu.
“Sungguh, aku tidak lagi mempunyai harta peninggalan kakakku. Semua telah kuserahkan kepadamu,” jawab Puti Bungsu.
Raja Anaiyo sangat murka mende ngar jawaban istrinya. Ia lantas memerintahkan prajuritnya untuk membuang istrinya itu ke hutan.
Ketika dibuang ke hutan, Puti Bung su tengah mengandung. Betapa sengsara dan menderitanya Puti Bungsu hidup sendirian di hutan dalam keadaan mengandung.
Ia terpaksa memakan buah-buahan, umbi, dan juga dedaunan yang didapatkannya untuk bertahan hidup.
Ia juga sendirian ketika melahirkan seorang bayi lelaki yang diberinya nama Bujang Paman.
Kehadiran Puti Bungsi dan anaknya itu mengundang iba hewan-hewan di hutan. Mereka mencarikan makanan untuk Puti Bungsu dan Bujang Paman.
Setelah Bujan Paman dapat berjalan dan berlari, hewan-hewan itu menjadi sahabat Bujan Paman.
Mereka mengajari Bujang Paman cara-cara memanjat, memilih buah dan umbi yang bisa untuk dimakan.
Waktu terus berlalu dan Bujang Paman pun tumbuh menjadi remaja. Tampak sehat dan kuat tubuhnya. Sigap dan gesit pula tindakannya.
Setelah ia mengetahui siapa se sungguhnya ayahnya dari penje lasan ibunya, suatu hari ia pamit kepada ibunya untuk keluar hutan.
Ia ingin mencari pengalaman hidup baru dan sebisa mungkin mencari keberadaan ayahnya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Bujang Paman akhirnya keluar dari hutan. Ia terus berjalan hingga akhirnya menemukan sebuah pondok.
Bertemulah ia dengan pemilik pon dok. Mande Rubiah namanya. Bu jang Paman menjelaskan siapa di rinya dan Mande Rubiah yang iba kepada Bujang Paman lantas mengizinkan Bujang Paman tinggal bersamanya.
Mande Rubiah kemudian memper kenankan Puti Bungsu untuk ting gal bersamanya. Selama tinggal bersama Mande Rubiah, Bujang Paman bertugas menggembala sapi milik Mande Rubiah.
Waktu terus berlalu. Menginjak akhir usia remajanya, Bujang Paman berniat pergi merantau. Ia berpamitan pada ibu dan juga Mande Rubiah.
Bujang Paman terus mengadakan perjalanan hingga akhirnya tibalah ia di Muaro Paneh.
Bujang Paman lantas memutuskan untuk tinggal beberapa saat di Mua ro Paneh tersebut. Untuk bekal hidup sehari-hari, Bujang Paman berdagang berkeliling dari kampung ke kampung.
Pada suatu hari Bujang Paman berkenalan dengan seorang perempuan kaya raya yang baik hati. Puti Reno Ali namanya.
Putri Reno Ali merasa iba sekaligus kagum dengan Bujang Paman. Ia pun memberikan sejumlah uang dan juga emas kepada Bujang Paman agar bisa dijadikan modal berdagang.
Dengan modal yang cukup banyak itu, Bujang Paman pun menuju So lok untuk membeli berbagai barang yang akan didagangkannya kemu dian.
Namun, sebelum berhasil membeli aneka barang keperluannya, Bujang Paman dicegat Raja Anaiyo dan pra juritnya.
Raja yang tak lain Ayah kandung Bujang Paman itu merampas se mua uang dan emas yang dibawa Bujang Paman.
Tidak itu saja, Raja Anaiyo juga memerintahkan prajuritnya untuk menghajar dan mengikat tangan Bujang Paman untuk kemudian dibuang ke tengah hutan.
Dalam keadaan luka-luka dan ta ngan terikat, Bujang Paman pun ber doa kepada Tuhan. Ia memohon pertolongan-Nya.
Seekor harimau besar mendadak muncul dan menghampiri Bujang Paman. Bujang Paman sangat ke takutan.
Ia menyangka akan segera mene mui kematian akibat diterkam he wan buas itu.
Namun, alangkah herannya Bujang Paman mendapati hewan buas itu tidak menerkamnya. Dengan gigi-giginya yang tajam, Si harimau bahkan mengigit tali pengikat tangan Bujang Paman.
Si Harimau juga menjilati bagian-bagian tubuh Bujang Paman yang terluka.
Ajaib, luka-luka itu seketika sembuh tidak berbekas. Bahkan, Bujang Paman merasakan kekuatannya bertambah berlipat-lipat kali.
Si Harimau lantas kembali mema sukit kelebatan hutan ...
Bujang Paman kemudian kembali ke rumah Puti Reno Ali dan menje laskan semua kejadian yang diala minya.
Puti Reno Ali percaya dengan keju juran Bujang Paman. Ia bahkan memberikan modal lagi untuk Bujang Paman berdagang.
Keesokan harinya Bujang Paman kembali ke Solok untuk membeli aneka barang yang hendak dida gangkannya.
Ketika Bujang Paman tiba di pasar Solok, Raja Anaiyo dan para pra juritnya melihat keberadaan Bujang Paman.
Raja Anaiyo kembali memerintah kan para prajuritnya untuk menang kap Bujang Paman. Mereka merampas semua uang yang dibawa Bujang Paman.
Para prajurit itu lantas membawa Bujang Paman ke hutan. Salah seorang prajurit membelah batang kayu dan menjepit kedua kaki Bujang Paman dengan belahan kayu tersebut.
Bujang Paman kembali berdoa dan memohon pertolongan Tuhan ...
Tak berapa lama Bujang Paman selesai berdoa, datang kembali seekor harimau besar menghampiri Bujang Paman. Sama seperti yang dilakukan sebelumnya, Si Harimau itu menolong Bujang Paman.
Dengan cakarnya yang besar lagi kuat, SI harimau membelah kayu penjepit kaki Bujang Paman. Si harimau juga menjilat kaki Bujang Paman setelah kayu penjepit itu terbelah.
Seketika itu pula menghilang rasa sakit yang dialami Bujang Paman sejak kedua kakinya dijepit. Ia juga merasa kekuatan kakinya bertambah.
Bujang Paman lantas kembali ke rumah Puti Reno Ali. Sama sekali tak disangkanya jika di rumah Puti Reno Ali itu ia melihat Raja Anaiyo beserta prajuritnya.
Begitu pula dengan Raja Anaiyo. Sama sekali tidak disangkanya jika Bujang Paman dapat selamat dan bahkan berada di rumah Puti Reno Ali.
Raja Anaiyo lantas memerintahkan para prajuritnya untuk memancung Bujang Paman.
“Wahai Tuanku, bagaimana mungkin Tuanku begitu tega memerintahkan prajurit Tuanku untuk menghukum mati hamba yang tidak lain anak kandung Tuanku?” Ujar Bujang Paman.
Tak terkirakan terkejutnya Raja Anaiyo saat mendengar ucapan Bujang Paman.
“Jangan engkau mengaku-ngaku!” Sergah Raja Anaiyo.
Bujang Paman lantas menjelaskan siapa sesungguhnya dirinya.
Di dalam hatinya, Raja Anaiyo se benarnya mengakui kebenaran penjelasan Bujan Paman. Namun, ia tidak mau mengakuinya.
Ia bahkan bersikeras untuk meng hukum mati Bujang Paman dengan tangannya sendiri.
“Hamba tidak ingin melawan ayahanda karena itu merupakan larangan ajaran kita,” kata Bujang Paman ketika melihat ayahnya mendekatinya seraya menghunus pedang.
“Aku bukan ayahandamu!” Bentak raja Anaiyo.
“Ayahanda, betapa kejamnya aya handa ini! Dulu ayahanda hendak membunuh ibu, kini henda pula membunuhku. Maafkan aku jika aku harus mempertahankan diri.”
Raja Anaiyo menhantamkan pe dang besarnya ke bahu Bujang Paman. Sangat mengherankan, pedang itu langsung patah ketika mengenai bahu Bujang Paman.
Raja Anaiyo terkejut. Segera dilem parkannya pedangnya yang telah patah itu dan mengambil tongkat manau.
Raja Anaiyo lalu menyerang Bujang Paman. Berulangkali tongkat man au itu mengenatii tubuh Bujang Pa man, namun sama sekali tidak melukai.
Raja Anaiyo kian murka. Ia merasa dipermainkan Bujang Paman. Segera direbutnya pedang prajuritnya dan digunakannya untuk menyerang Bujang Paman secara membabi-buta.
Berulang-ulang Bujang Paman tidak berusaha mengelak dan bahkan ter kesan membiarkan tubuhnya men jadi sasaran serangan Raja Anaiyo.
Hingga akhirnya ia pun melawan. Dengan gesit ia mengelak dan me lancarkan serangan balasan.
Hanya sekali balasan, namun telah membuat Raja Anaiyo jatuh terjeng kang. Pedang yang digenggam raja itu terlepas.
Begitu kerasnya serangan balasan Bujang Paman hingga Raja Anaiyo yang bengis lagi sewenang-wenang itu akhirnya menemui kematiannya.
Para prajurit Raja Anaiyo tersentak kaget mendapati pemimpin mereka meninggal dunia dan langsung 'ber sujud' di hadapan Bujang Paman.
Mereka meminta ampun dan me nyatakan jika mereka selama ini terpaksa mendukung Raja Anaiyo karena takut.
Bujang Paman mengampuni para prajurit itu ...
Warga langsung bergembira sete lah mengetahui Raja Anaiyo telah tewas. Mereka menyalami Bujang Paman dan mengucapkan terima kasih karena telah melenyapkan Raja Anaiyo yang sangat kejam lagi sewenang-wenang itu.
Setelah menguburkan jenazah Raja Anaiyo, segenap rakyat akhirnya bersepakat bulat untuk menunjuk Bujang Paman sebagai raja mereka yang baru.
Mereka memberikan gelar untuk Bujang Paman dengan gelar Raja Mudo.
Bujang Paman pun bertakhta dengan gelar Raja Mudo. Beberapa saat setelah ia bertakhta, ia pun menjemput ibunya dan Mande Rubiah untuk tinggal di istana kerajaan.
Rajo Mudo kemudian menikahi Puti Reno Ali yang telah banyak membantunya ..
Rajo Mudo memerintah dengan adil dan bijaksana. Kepentingan dan kesejahteraan rakyat senantiasa diupayakannya.
Rakyat yang tenang, damai, dan sejahtera senantiasa bersyukur kepada Tuhan karena mendapatkan pemimpin yang baik seperti pada diri Bujang Paman itu.
- Batu Ajuang Batu Peti
ALKISAH di Kecamatan Pauh Kota Padang Sumatera Barat terdapat sebuah kerajaan kecil bernama Kerajaan Bukit Perasapan yang dipimpin oleh Raja Tuo.
Kerajaan Bukit Perasapan terletak di kaki bukit Perasapan, pedalaman Nagari Pauh Limo.
Raja Tuo memiliki putri semata wa yang sangat cantik bernama Putri Lenggogeni. Disamping pintar, Putri Lenggogeni juga dikenal cerdas.
Putri Lenggogeni sering memberi kan masukan pada ayahnya ketika terhimpit masalah terkait kerajaan atau rakyat.
Banyak lelaki jatuh cinta pada Putri Lenggogeni tapi tidak berani mela marnya karena sadar bahwa putri hanya mau menerima lamaran Putra Mahkota Kerajaan.
Kebetulan saat itu, Tuan Hendrik, seorang saudagar kaya raya dari Rupit, Portugis tengah berdagang di daerah bukit Perasapan.
Dua anak buah Tuan Hendrik, yaitu Rajo Anggang dan Magek Labu mendengar kabar kecantikan Putri Lenggogeni.
Mereka berdua kemudian pergi ke Pulau Cermin menemui Tuan Hendrik untuk menyampaikan kabar tentang Putri Lenggogeni pada Tuan Hendrik.
“Wahai Tuan Hendrik, ada seorang putri sangat cantik dan cerdas di Kerajaan Bukit Perasapan yang baru kami singgahi. Namanya Lenggogeni, putri Raja Tuo. Kiranya Tuan Hendrik berkenan melamar Putri Lenggogeni”. Kata Rajo Anggang.
“Benarkah ?” ujar Tuan Hendrik. “Baiklah aku akan melamarnya.” ujar Tuan Hendrik lagi setelah berpikir agak panjang.
“Jika begitu, maka sebaiknya Tuan Hendrik berpura-pura sebagai putra mahkota kerajaan karena Putri Lenggogeni adalah seorang putri mahkota. Seorang putri mahkota hanya mau menerima lamaran dari putra mahkota kerajaan.” kata Rajo Anggang.
Tuan Hendrik setuju dengan saran kedua anak buahnya. Mereka sege ra bersiap pergi ke Kerajaan Perasapan untuk melamar Putri Lenggogeni.
Sesampainya di Kerajaan Perasa pan, mereka menemui Raja Tuo dengan membawa sebuah peti berisi perhiasan emas.
“Wahai Raja bijaksana. Saya Hendrik, putra mahkota kerajaan Portugis. Maksud kedatangan saya kemari adalah untuk melamar putri baginda. Saya mohon sudilah kiranya baginda menerima lamaran saya.” Tuan Hendrik menyampaikan maksud kedatangannya.
Tentu saja Tuan Hendrik berbohong ...
“Saya sangat senang dengan kedatangan Tuan Hendrik kemari. Tapi apakah benar Tuan Hendrik adalah putra mahkota Kerajaan Portugis.” tanya Raja Tuo.
“Baginda Raja, saya bersumpah bahwa saya adalah putra mahkota Kerajaan Portugis. Apabila saya berbohong, maka kapal saya beserta isinya akan karam, hancur terhantam ombak kemudian menjadi batu.” kata Tuan Hendrik kembali berbohong.
“Baiklah. Kita tunggu saja selama tiga kali bulan purnama untuk membuktikan sumpahmu.” kata Raja Tuo.
Singkat cerita, tiga bulan purnama telah berlalu namun tidak terjadi apa apa. Kapal Tuan Hendrik beserta isinya masih utuh.
Keadaan ini membuat Tuan Hendrik sangat senang karena merasa akan berhasil meminang Putri Lenggogeni yang sangat cantik.
Ia pun segera pergi kembali ke Kerajaan Perasapan, menemui Raja Tuo untuk meminta jawaban atas lamarannya.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja langit berubah menjadi sangat gelap. Angin bertiup sangat kencang diselingi petir menyambar-nyambar silih berganti.
Ombak sangat besar tiba-tiba menghantam kapal Tuan Hendrik hingga akhirnya karam di Bukit Koto Nan Tinggi.
Tidak lama kemudian kapal Tuan Hendrik beserta isinya berubah menjadi batu.
Kebohongan dibalas kehancuran. Tuan Hendrik menerima akibat dari sumpah yang ia ucapkan sendiri.
-------
- Pesan moral dari kisah Bujang Paman:
1. Kebatilan dan kesewenang-wena ngan, betapapun kuatnya, akan da pat ditumpas dan dikalahkan oleh kebenaran.
2. Kesabaran akan menuai kebaha giaan di kemudian hari.
- Kitasahabat.com > ....> cerita rakyat
- https://caritosatu.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar