Cerita Rakyat (6)
Oleh aminuddin
6. BENGKULU
- Putri Serindang Bulan
ALKISAH dahulu kala di Bengkulu hidup tujuh perempuan bersaudara. Mereka merupakan putri Raja Wawang.
Dari ketujuh bersaudara itu, Putri Serindang Bulan merupakan putri paling bungsu. Putri Serindang Bulan juga terkenal paling cantik.
Telah banyak laki-laki ingin meminangnya tapi selalu ia tolak dengan alasan tidak ingin melangkahi keenam kakaknya.
Keenam kakaknya sebenarnya berencana menikah setelah Serindang Bulan menikah. Mereka kemudian meminta agar Serindang Bulan Menikah terlebih dahulu.
“Wahai adikku, sudah banyak laki-laki ingin meminangmu. Segeralah menikah. Jangan kuatir, kami semua akan menyusul menikah.” ujar kakak tertua.
“Baiklah kakakku tersayang, Aku akan menikah. Aku berharap kakak semua cepat mendapat jodohnya.”
Putri Serindang Bulan menyanggupi ..
Raja Wawang kemudian segera menyebarkan berita bahwa putri bungsunya, Serindang Bulan, telah siap untuk menikah. Para pemuda merasa gembira.
Tidak lama, seorang Pangeran Tampan datang menemui Raja Wawang untuk melamar Putri Serindang Bulan.
Putri Serindang menerima pinangan sang Pangeran Tampan. Kemudian pihak Kerajaan segera menyiapkan pesta pernikahan meriah.
Tiba-tiba kejadian aneh menimpa Putri Serindang Bulan. Menjelang pernikahan, wajahnya berubah menjadi buruk. Badan sang putri juga dipenuhi penyakit kulit.
“Ada apa dengan tubuhmu, wahai Putri? Tubuhmu terkena penyakit kulit.” tanya Sang Pangeran keheranan.
“Aku juga tidak tahu. Saat bangun pagi, tiba-tiba wajahku menjadi buruk, tubuhku dipenuhi penyakit kulit.” ujar Putri Serindang Bulan.
Pangeran menjadi merasa kecewa sehingga memutuskan untuk mem batalkan pernikahan mereka.
Namun anehnya, setelah Pangeran Tampan tersebut pergi, wajah Serindang Bulan kembali cantik. Tubuh sang putri menjadi sehat seperti sedia kala.
Setiap ada laki-laki melamar, maka wajah Serindang Bulan akan beru bah menjadi buruk, namun akan kembali cantik apabila pernikahan dibatalkan.
Hal ini terus terulang hingga sembilan kali. Pihak keluarga terutama keenam saudarinya merasa malu.
Pada suatu hari, keenam saudari Serindang Bulan mengadakan rapat rahasia. Rapat tersebut menghasilkan keputusan bahwa mereka harus menyingkirkan Serindang Bulan karena dianggap sebagai sumber masalah bagi kerajaan.
Salah satu dari mereka, yaitu Karang Nio, awalnya menolak untuk menyingkirkan Serindang Bulan. Karang Nio memang paling dekat dengan Serindang Bulan.
Namun dengan penolakannya, justru Karang Nio mendapat tugas untuk menyingkirkan Serindang Bulan. Kelima kakaknya meminta bukti berupa setabung darah dan irisan bagian telinga Serindang Bulan, sebagai tanda ia telah menyingkirkannya.
Dengan berat hati, Karang Nio memenuhi permintaan kakak-kakaknya ...
Pada suatu hari, Karang Nio mengajak Serindang Bulan berjalan-jalan. Awalnya Serindang Bulan tidak curiga, namun lama-kelamaan Serindang Bulan merasa takut karena Karang Nio mengajaknya masuk ke dalam hutan.
Karang Nio terlihat sangat gelisah. Akhirnya ia berterus terang kepada Serindang Bulan bahwa ia mendapat tugas untuk menyingkirkannya.
“Kalau memang sudah menjadi keputusan kakak semua, maka lakukanlah tugasmu Kak.” kata Serindang Bulan sedih.
Karang Nio akhirnya memutuskan untuk mengelabui kakak-kakaknya. Ia menyembelih seekor anjing hu tan.
Darah anjing hutan ia simpan da lam tabung. Kemudian ia melukai kuping Serindang Bulan. Kuping putri Serindang akan ia bawa sebagai bukti telah menjalankan tugasnya menyingkirkannya.
Karang Nio menyuruh Serindang Bulan pergi menaiki rakit dari sungai Ulau Deus.
Karang Nio segera kembali ke istana. Sesampainya di istana, ia menunjukan bukti setabung darah serta kuping Serindang Bulan pada kakak-kakaknya.
Semua kakaknya merasa senang ....
Sementara di hutan, Serindang Bu lan pergi menaiki rakit di sungai. Ia akhirnya turun di daerah Muara Setahun.
Disana, Serindang Bulan memanjat tebing. Di atas tebing, sang putri membuat rumah untuk ia tinggali.
Setahun telah berlalu Serindang Bulan pergi dari istana ...
Suatu ketika, sebuah perahu milik Raja Indrapura bernama Tuanku Raja Alam melewati Muara Setahun. Sang Raja melihat sinar kemilau dari atas bukit.
Karena penasaran, Raja pun menepi kemudian turun dari perahu. Ia ke mudian menaiki tebing sumber si nar kemilau tersebut.
Setibanya di atas terbing, Raja melihat sebuah rumah. Sang raja mengetuk pintu rumah. Dari rumah tersebut keluarlah Serindang Bulan yang membuat Raja terkejut.
“Wahai gadis jelita, aku tidak menyangka jika cahaya di atas tebing ternyata berasal darimu.” kata Raja.
Setelah berkenalan, putri Serindang Bulan kemudian menceritakan ke jadian yang menimpanya.
Cerita Serindang Bulan membuat Raja terharu kemudian mengajak nya untuk tinggal di Kerajaan Indrapura.
Serindang Bulan pun menyetujuinya ...
Sesampainya di Kerajaan Indrapura, Sang Raja menggelar rapat. Sang Raja menceritakan masalah Serindang Bulan.
Raja berkeinginan untuk meminang Serindang Bulan ...
Para Penghulu Kerajaan mengu sulkan untuk melihat situasi selama tiga hari untuk melihat apakah wajah Serindang Bulan akan kembali berubah menjadi buruk.
Setelah ditunggu selama tiga hari, ternyata wajah Serindang Bulan tetap cantik.
Akhirnya para penghulu menikah kan Raja dengan Serindang Bu lan ....
Kembali Bertemu
Para Penghulu meminta Raja untuk memberitahu wali Serindang Bulan. Raja kemudian mengirim utusan ke tempat Raja Wawang untuk memberitahu tentang rencara pernikahan Serindang Bulan dengan Raja Alam.
Mendengar kabar tersebut, kakak-kakak Serindang Bulan kaget bukan main. Mereka menyalahkan Karang Nio karena dianggap gagal me nyingkirkan Serindang Bulan.
“Sudahlah kakak-kakakku. Hentikan pertikaian kita. Sebaiknya mari kita sama-sama pergi menghadiri per nikahan Serindang Bulan.” kata Karang Nio.
Kakak-kakak Karang Nio akhirnya mengiyakan ..
Lalu berangkatlah keenam saudari Serindang Bulan. Sesampainya me reka di Kerajaan Indrapura, mereka langsung bertemu dengan Tuanku Raja Alam.
Keenam saudari Serindang Bulan meminta mahar berupa emas se bagai syarat menikahi adik mereka.
Raja Alam menyetujui permintaan mahar dari keenam saudari tapi dengan satu syarat, mereka harus mengenali adik mereka sendiri, Serindang Bulan.
Jika tidak, maka mereka semua akan dihukum. Raja kemudian me nyiapkan enam orang gadis yang didandani dan wajahnya mirip Serindang Bulan.
Mereka dihadapkan pada keenam saudari Serindang Bulan. Keenam nya diminta untuk menunjukkan mana Serindang Bulan asli.
Kelima saudari Serindang Bulan ke bingungan karena tidak tahu adik mereka yang asli.
Tapi Karang Nio teringat bahwa ia pernah melukai telinga Serindang Bulan. Dan benarlah, ada satu gadis memiliki bekas luka di telinganya yang berarti dialah Serindang Bulan asli.
Akhirnya putri Serindang Bulan dan Karang Nio berpelukan sambil menangis melepas rindu.
“Bagus. Berarti kalian masih me ngenali Serindang Bulan. Aku akan memenuhi mahar dengan memberi kan emas permintaan kalian. Saya anggap tidak ada lagi dendam diantara kalian.” kata Raja.
Akhirnya Tuanku Raja Alam meni kahi Serindang Bulan. Sementara keenam saudarinya mendapatkan setabung bambu berisi emas.
Serindang Bulan sama sekali tidak menyimpan dendam kepada kakak-kakaknya ...
Meskipun ia telah menikah dan hi dup terpisah dari kakak-kakaknya, ia masih sering mengirimi mereka hadiah.
- Danau Dendam Tak Sudah
ALKISAH, dahulu kala di sebuah kampung hiduplah seorang gadis yang cantik jelita, namanya Esi Marliani.
Dia menjalin kasih dengan seorang pria tampan nan gagah perkasa ber nama Buyung. Mereka memadu kasih begitu indahnya.
Kata-kata cinta pun diumbar karena perasaan keduanya tengah berbu nga-bunga. Mereka saling mencin tai satu sama lain. Perasaan baha gia pun tak terbendung.
Sekali waktu mereka bernyanyi sambil menari di bawah pohon cempedak. Mereka berlarian menge lilingi pohon cempedak dan kadang mereka bermain di rerumputan atau berayun diantara akar-akar pohon beringin.
Sampai-sampai rusa, tupai dan biawak iri melihat kemesraan mereka berdua.
Jelas sudah dunia serasa milik mereka berdua saja ...
Tapi sayang cinta mereka tak direstui oleh orang tua sang pemuda karena sang pemuda sudah dijodohkan dengan gadis dari kampung tetangga anak gadis kepala suku, si Upik Leha, yang memiliki kecantikan luar biasa.
Betapa kecewanya hati Esi karena ternyata Buyung juga menyukai anak gadis pak lurah dari desa tetangga itu.
Di suatu waktu, Buyung dan anak gadis pak lurah dari desa tetangga melangsungkan pernikahan. Pada hari itu mereka diarak keliling kampung-kampung.
Sementara Esi begitu terluka hatinya. Kebahagiaan yang dia rasakan sangatlah sebentar.
Esi menangis tiadalah henti. Dia terus-terusan menangis hingga terisak meluapkan kekecewaan dan rasa sakit hati.
Bahkan burung, kucing dan bebek angsa juga turut menangis karena nya. Dan dia begitu dendam dengan si Buyung yang tak setia dan tak memperjuangkan cinta mereka.
Esi merasakan gejolak amarah pun berkobar membara ...
Ketika kedua mempelai di arak me lewati kampungnya terjadilah keanehan di luar akal sehat manusia.
Linangan air mata Esi begitu deras hingga perlahan membanjiri kam pung dan menenggelamkan iring-iringan arakan mempelai.
Sehingga semua penghuni kampung dan arak-arakan mempelai pun tenggelam oleh linangan air mata Esi yang akhirnya menjadi sebuah danau yang dikenal dengan sebutan “Danau Dendam Tak Sudah”.
Esi ikut tenggelam oleh derai lina ngan air matanya sendiri ...
Alkisah, kedua mempelai kemudian berubah jadi sepasang ular tikar. Mereka terkadang menampakkan diri dari kejauhan danau sementara Esi pun berdiri di atas kedua ular tikar tersebut.
Kakinya yang kiri menginjak ular be tina dan kaki yang kanan mengin jak ular jelmaan Buyung.
_______
- Prahana, Naim Emel. 1988. Cerita Rakyat Dari Bengkulu2, Jakarta: Grasindo
- https://budaya-indonesia.org > putri-seri ...
- Pedomanbengkulu.com > sastra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar