Oleh aminuddin
7. LAMPUNG
- Kumbang Macan dan Seekor Tawon
ADA seekor tawon. Si tawon namanya. Ia tinggal bersama tawon-tawon lainnya di sebuah sarang yang terletak di tengah hutan.
Mereka saling bekerja sama untuk mencari makan dan menjaga sa rang dari serangan hewan-hewan lainnya.
Pada suatu pagi Si tawon mencari makan. Ia terbang mencari kebun bunga. Ia mendengar kabar, di pinggir hutan terdapat kebun bunga.
Si tawon terbang bersemangat, meski ia belum mengetahui letak kebun bunga itu.
Sambil terbang ia tersenyum. Wajahnya berseri-seri. Terbayang nikmatnya nektar yang akan disantapnya hari itu, jika ia menemukan kebun bunga yang dicarinya.
Ketika melewati pohon beringin besar, Si tawon melihat seekor kumbang macan.
Si kumbang macan sedang duduk terdiam di atas dahan. Si tawon segera menghampiri.
Katanya, “Salam wahai kumbang macan yang perkasa.”
Kumbang macan sedikit terkejut mendengar sapaan yang tiba-tiba itu.
Ia menganggukkan kepala seraya menjawab, “Salam, wahai tawon.”
“Maaf kumbang macan yang perkasa, apakah boleh saya bertanya padamu?”
Kumbang macan menyahut, “Apa yang ingin engkau ketahui?”
“Konon, di pinggir hutan terdapat kebun bunga. Apakah engkau tahu, di mana letak kebun bunga itu?”
“Aku juga mendengar kabar seperti itu,” kata kumbang macan.
“Menurut cerita, di tempat itu banyak saudara-saudaraku, para kumbang macan. Tetapi, letaknya di mana, aku sendiri juga tidak tahu. Aku pernah mencoba mencari, namun kebun bunga itu tidak kutemukan. Padahal, aku juga ingin ke sana untuk bertemu saudara-saudaraku itu.”
Si tawon terdiam. Tidak mudah ternyata menemukan kebun bunga yang dicarinya.
Mendadak kumbang macan tersentak. Ia seperti teringat sesuatu ...
Katanya, “Beberapa hari lalu aku bertemu kawanan lebah madu pekerja. Mereka baru datang dari kebun bunga di pinggir hutan sebelah utara.”
Wajah Si tawon kembali berseri-seri. “Jika demikian,” ujarnya, “sebaiknya kita berangkat bersama-sama ke sana.”
“Pinggir hutan sebelah utara itu sangat jauh letaknya,” kata kumbang macan.
“Jalan menuju tempat itu juga sulit untuk dicapai. Banyak rintangan dan hambatan yang menghadang.”
“Jika kita bersama-sama, kita akan bisa menghadapi rintangan dan hambatan itu,” jawab Si tawon.
“Kita bisa saling tolong-menolong dalam perjalanan.”
Kumbang macan terdiam beberapa saat. Ia memikirkan ucapan si tawon. “Baiklah,” katanya. “Kita berangkat bersama-sama.”
Kumbang macan dan Si tawon berangkat bersama. Keduanya terbang melintasi semak belukar dan pepohonan.
Sesekali sejenak mereka beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Suatu saat kumbang macan kembali meminta mereka sejenak beristirahat.
Kumbang macan hinggap di dahan pohon. Si tawon beristirahat di pucuk dedaunan.
Mendadak Si tawon melihat sesu atu yang bergerak perlahan menuju kumbang macan.
Tubuh sesuatu itu berwarna cokelat kehijauan, mirip dengan warna batang pohon dan daun.
Sesekali sesuatu itu menjulurkan lidahnya. Terperanjatlah Si tawon setelah mengamati.
Sesuatu itu adalah seekor bunglon. Kumbang macan dalam bahaya, karena bunglon itu bersiap memangsanya!
Si tawon bergerak cepat. Ia menyengat bunglon seraya berteriak, “Kumbang macan, awas! Lekas terbang! Lekas!”
Kumbang macan terkejut. Ia bergegas terbang ...
Bunglon itu urung memangsa kumbang macan akibat sengatan Si tawon berulang-ulang mengenai tubuhnya.
“Terima kasih, tawon,” ujar kumbang macan setelah terbebas dari bahaya besar yang mengancam jiwanya.
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Mereka terbang berdekatan untuk menjaga kemungkinan yang menghambat perjalanan keduanya.
Mendadak si tawon melesat mendahului kumbang macan. Ia seperti ingin segera tiba di kebun bunga yang mereka tuju.
Tiba-tiba Si tawon tak lagi bisa terbang. Ia merasakan tubuhnya melekat pada sesuatu.
Ia meronta-ronta untuk melepaskan diri. Namun, semakin ia bergerak, semakin kuat ia menempel pada sesuatu itu.
Si tawon ternyata terjerat pada sarang laba-laba ...
“Tolong… tolooongl!” jerit Si tawon.
Si tawon semakin ketakutan saat melihat laba- laba besar bergerak mendekatinya.
Ia semakin keras meronta-ronta, tetapi sarang laba-laba semakin erat menjeratnya.
Si tawon tak lagi berdaya. Tak bisa dibayangkannya sebentar lagi ia akan dimangsa laba-laba.
Kumbang macan terkejut melihat si tawon terjerat sarang laba-laba. Bertambah keterkejutannya saat mendapati laba-laba bergerak perlahan mendekati Si tawon.
Ia tak ingin sahabat perjalanannya itu dimangsa laba-laba. Ingin pula ia membalas pertolongan Si tawon.
Maka, dengan sekuat tenaga diter jangnya sarang laba-laba. Dengan kepala dan tubuhnya yang keras serta kaki-kakinya yang kasar lagi kuat, ia merusak sarang laba-laba.
Jaring-jaring pembentuk sarang itu putus dan berantakan ...
Sebelum laba-laba menyergap si tawon, Si tawon telah berhasil membebaskan diri.
Si tawon selamat. “Terima kasih, kumbang macan,” katanya.
Kumbang macan menganggukkan kepala.
Si tawon dan kumbang macan kembali melanjutkan perjalanan. Mereka kembali terbang berdekatan.
Si tawon bahkan tidak ingin berjauhan dari kumbang macan. Begitu pula sebaliknya.
Mereka saling menjaga dan bersiap menolong jika masing-masing membutuhkan pertolongan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, si tawon dan kumbang macan akhirnya tiba di tempat tujuan mereka.
Sebuah kebun bunga terbentang luas. Aneka bunga tumbuh subur di kebun bunga itu ...
Tak terkirakan gembiranya si tawon dan kumbang macan. Si tawon bisa mendapatkan nektar yang banyak.
Begitu pula dengan kumbang macan. Ia dapat bertemu dengan saudara-saudaranya yang banyak berada di kebun bunga itu.
-- Dayang Rindu
ALKISAH, di kerajaan Tanjung Iran, tersebutlah seorang wanita cantik jelita bernama Dayang Rindu.
Ia anak Wayang Semu. Kakeknya bernama Kerie Carang, orang terpandang di negeri Tanjung Iran.
Banyak lelaki yang datang bermaksud meminangnya. Namun semua yang datang ditampik Kerie Carang dengan dalih bahwa Dayang Rindu telah dijodohkan dengan Ki Bayi Radin, anak Batin Pasak dari daerah Rambang.
Perjodohan Ki Bayi Radin dengan Dayang Rindu pun tak semudah yang dibayangkan. Kerie Carang mengajukan permintaan yang nyaris tak masuk akal kepada Ki Bayi Radin.
Dari sejumlah permintaan, hanya satu yang belum bisa terpenuhi, yaitu membawakan kerbau ber tanduk tiga. Tentulah itu hal yang musykil.
Maka terkatung-katunglah perjodohan Dayang Rindu dan Ki Bayi Radin ...
Suatu ketika datanglah rombongan kapal dan perahu dari kerajaan Palembang di bawa pimpinan Tumenggung Itam.
Dia dan sejumlah punggawa beser ta hulubalang membawa amanat dari Pangeran Riya, raja dari Palembang, untuk meminang Dayang Rindu.
Rombongan itu menghadap Wa yang Semu dan Kerie Carang. Me reka membawa aneka macam sesembahan.
Pangeran Riya memperoleh informasi tentang Dayang Rindu dari hasutan Kerie Niru.
Ketika niat mereka ditolak, Tumenggung Itam dan rombongannya tak terima.
Terjadilah perang di Tanjung Iran .....
Adalah Singaralang, hulubalang penjaga Tanjung Iran, yang berperan melawan pasukan dari Palembang.
Pada perang itu, Wayang Semu dan Ki Bayi Radin terbunuh. Sementara, Singaralang berhasil memotong telinga Tumenggung Itam dan memotong hidung Ki Bayi Metig, salah satu hulubalang kerajaan Palembang.
Meski Tumenggung Itam hilang telinga dan Ki Bayi Metig hilang hidung, namun rombongan kerajaan Palembang berhasil menculik Dayang Rindu.
Gadis jelita itu dibawa ke Palem bang ...
Sesampainya di sana, Dayang Rindu yang menolak dijodohkan dengan Pangeran Riya memutuskan terbang ke khayangan.
Dia memilih berkumpul kembali dengan orangtua dan Ki Bayi Radin yang telah meninggal.
Kejadian itu membuat Pangeran Riya murka. Untuk menebus malu karena tak berhasil menikahi Da yang Rindu, ia kembali mengirim pasukannya untuk meluluhlan takkan Tanjung Iran.
Di lain pihak, Singaralang bertekad merebut kembali keponakannya Dayang Rindu dari Palembang.
Dia pergi sendirian ke Niru hingga Palembang. Dia berhasil membunuh Kerie Niru, orang yang menghasut Pangeran Riya hingga mengakibatkan perang antara Tanjung Iran dan kerajaan Palembang.
Kemudian dia melanjutkan perjalanan ke Palembang demi memburu Pangeran Riya.
Namun usahanya gagal ...
Mengetahui nyawanya sedang te rancam, Pangeran Riya telah lebih dulu melarikan diri ke dalam hutan belantara.
Demikianlah, ketika perang antara kerajaan Palembang dan Tanjung Iran telah selesai, Singaralang kem bali ke Tanjung Iran.
Dia mendapati Tanjung Iran telah hancur lebur diserang kerajaan Palembang ..
____
- https://dongengceritaanak.com > category
-- https:// www.teraslampung.com > dayang ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar