Rabu, 14 November 2018

Cerita Rakyat (8)

Cerita Rakyat  (8)
Oleh aminuddin



8. SUMSEL


- Asal Mula Pulo Kemaro

ALKISAH, di daerah Sumatra Sela tan, tersebutlah seorang raja yang bertahta di Kerajaan Sriwijaya. Raja tersebut mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Siti Fatimah.

Selain cantik, ia juga berperangai baik. Sopan-santun dan tutur bahasanya yang lembut mencerminkan sifat seorang putri raja.

Kecantikan dan keelokan perangainya mengundang decak kagum para pemuda di Negeri Palembang.

Namun, tak seorang pun pemuda yang berani meminangnya, karena kedua orang tuanya menginginkan ia menikah dengan putra raja yang kaya raya.

Pada suatu hari, datanglah seorang putra raja dari Negeri Cina bernama Tan Bun Ann untuk berniaga di Ne geri Palembang.

Putra Raja Cina itu berniat untuk tinggal beberapa lama di Palemba ng, karena ia ingin mengembang kan usahanya.

Sebagai seorang pendatang, Tan Bun Ann datang menghadap kepa da Raja Sriwijaya untuk memberita hukan maksud kedatangannya ke negeri itu.

“Ampun, Baginda! Nama hamba Tan Bun Ann, putra raja dari Negeri Cina. Jika diperkenankan, hamba bermaksud tinggal di negeri ini da lam waktu beberapa lama untuk berniaga,” kata Tan Bun Ann sambil memberi hormat.

“Baiklah, Anak Muda! Aku perkenankan kamu tinggal di negeri ini, tapi dengan syarat kamu harus menyerahkan sebagian untung yang kamu peroleh kepada kerajaan,” pinta Raja Sriwijaya.

Tan Bun Ann pun menyanggupi permintaan Raja Sriwijaya.

Sejak itu, setiap minggu ia pergi ke istana untuk menyerahkan sebagian keuntungan dagangannya.

Suatu ketika, ia bertemu dengan Siti Fatimah di istana. Sejak per tama kali melihat wajah Siti Fa timah, Tan Bun Ann langsung jatuh hati.

Demikian sebaliknya, Siti Fatimah pun menaruh hati kepadanya. Akhirnya, mereka pun menjalin hubungan kasih.

Karena merasa cocok dengan Siti Fatimah, Tan Bun Ann pun berniat untuk menikahinya.

Pada suatu hari, Tan Bun Ann pergi menghadap Raja Sriwijaya untuk melamar Siti Fatimah.

“Ampun, Baginda! Hamba datang menghadap kepada Baginda untuk meminta restu. Jika diperkenankan, hamba ingin menikahi putri Baginda, Siti Fatimah,” ungkap Tan Bun Ann.

Raja Sriwijaya terdiam sejenak. Ia berpikir bahwa Tan Bun Ann adalah seorang putra Raja Cina yang kaya raya.

“Baiklah, Tan Bun! Aku merestuimu menikah dengan putriku dengan satu syarat,” kata Raja Sriwijaya.

“Apakah syarat itu, Baginda?” tanya Tan Bun Ann penasaran.

“Kamu harus menyediakan sembilan guci berisi emas,” jawab Raja Sriwijaya.

Tanpa berpikir panjang, Tan Bun Ann pun bersedia memenuhi syarat itu.

“Baiklah, Baginda! Hamba akan memenuhi syarat itu,” kata Tan Bun Ann.

Tan Bun Ann pun segera mengirim utusan ke Negeri Cina untuk me nyampaikan surat kepada kedua orang tuanya.

Selang beberapa waktu, utusan itu kembali membawa surat balasan kepada Tan Bun Ann. Surat balasan dari kedua orang tuanya itu berisi restu atas pernikahan mereka dan sekaligus permintaan maaf, karena tidak bisa menghadiri pesta pernikahan.

Namun, sebagai tanda kasih sayang kepadanya, kedua orang tuanya mengirim sembilan guci berisi emas.

Demi keamanan dan keselamatan guci-guci yang berisi emas dari ba jak laut, mereka melapisinya de ngan sayur sawi tanpa sepengeta huan Tan Bun Ann.

Saat mengetahui rombongan utu sannya telah kembali, Tan Bun Ann dan Siti Fatimah bersama keluarga nya serta seorang dayang setianya segera berangkat ke dermaga di Muara Sungai Musi untuk memeriksa isi kesembilan guci tersebut.

Setibanya di dermaga, Tan Bun Ann segera memerintahkan kepada utusannya untuk menunjukkan guci-guci tersebut.

“Mana guci-guci yang berisi emas itu?” tanya Tan Bun Ann kepada salah seorang utusannya.

“Kami menyimpannya di dalam kamar kapal, Tuan!” jawab utusan itu seraya menuju ke kamar kapal tempat guci-guci tersebut disimpan.

Setelah utusan itu mengeluarkan kesembilan guci tersebut dari kamar kapal, Tan Bun Ann segera memeriksa isinya satu persatu.

Betapa terkejutnya ia setelah meli hat guci itu hanya berisi sayur sawi yang sudah membusuk.

“Oh, betapa malunya aku pada calon mertuaku. Tentu mereka akan merasa diremehkan dengan barang busuk dan berbau ini,” kata Tan Bun Ann dalam hati dengan perasaan kecewa seraya membu ang guci itu ke Sungai Musi.

Dengan penuh harapan, Tan Bun Ann segera membuka guci yang lainnya. Namun, harapan hanya tinggal harapan.

Setelah membuka guci-guci tersebut ternyata semuanya berisi sayur sawi yang sudah membusuk.

Bertambah kecewalah hati putra Raja Cina itu. Dengan perasaan kesal, ia segera melemparkan guci-guci tersebut ke Sungai Musi satu persatu tanpa memeriksanya terlebih dahulu.

Ketika ia hendak melemparkan guci yang terakhir ke sungai, tiba-tiba ka kinya tersandung sehingga guci itu jatuh ke lantai kapal dan pecah.

Betapa terkejutnya ia saat melihat emas-emas batangan terhambur keluar dari guci itu.

Rupanya di bawah sawi-sawi yang telah membusuk itu tersimpan emas batangan.

Ia bersama seorang pengawal setianya segera mencebur ke Sungai Musi hendak mengambil guci-guci yang berisi emas tersebut.

Melihat hal itu, Siti Fatimah segera berlari ke pinggir kapal hendak me lihat keadaan calon suaminya.

Dengan perasaan cemas, ia me nunggu calon suaminya itu muncul dari permukaan air sungai.

Karena orang yang sangat dicin tainya itu tidak juga muncul, akhir nya Siti Fatimah bersama dayang nya yang setia ikut mencebur ke sungai untuk mencari pangeran dari Negeri Cina itu.

Sebelum mencebur ke sungai, ia berpesan kepada orang yang ada di atas kapal itu.

“Jika ada tumpukan tanah di tepian sungai ini, berarti itu kuburan saya,” demikian pesan Siti Fatimah.

Beberapa hari setelah peristiwa ter sebut, muncullah tumpukan tanah di tepi Sungai Musi.

Lama kelamaan tumpukan itu men jadi sebuah pulau. Masyarakat se tempat menyebutnya Pulo Kemaro.

Pulo Kemaro dalam bahasa Indo nesia berarti Pulau Kemarau. Dina makan demikian, karena pulau itu tidak pernah digenangi air walau pun volume air di Sungai Musi sedang meningkat.



- Suhunan dan Adik Kandungnya


DULU, Kerajaan Palembang diperin tah oleh seorang raja yang bergelar Suhunan. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana. Rakyat kerajaan sangat mencintainya.

Suatu hari, Suhunan mendengar ka bar jika pasukan Belanda hendak menjajah Palembang. Ia segera menyiapkan pasukan untuk menghadapinya.

Ia juga menunjuk tiga kesatria perempuan Palembang untuk membantu pertahanan Kerajaan Palembang.

Ketiganya adalah Putri Kembang Mustika, Putri Darah Putih, dan Putri Iran. Ketiganya sangat sakti.

Tidak lama kemudian, pasukan Belanda benar-benar menyerang Palembang.

Mereka menaiki kapal-kapal besar melewati Sungai Musi. Kedatangan mereka disambut dengan serangan gencar pasukan Palembang.

Pasukan Belanda kewalahan menghadapi serangan tersebut. Mereka pun memutuskan untuk mundur.

Namun sebulan kemudian, pasukan Belanda kembali datang dengan kekuatan yang jauh lebih banyak. Kerajaan Palembang pun tidak bisa menghadapi serangan tersebut.

Rakyat berlarian ke sana-kemari untuk menyelamatkan diri. Suhu nan tetap bertahan dan terus ber juang. Begitu pula dengan ketiga ksatria perempuan.

Menghadapi kekuatan pasukan Belanda, Putri Kembang Mustika menunjukkan kesaktiannya. Ia dengan gesit menangkap peluru-peluru meriam pasukan Belanda, sehingga pasukan kerajaan bisa menyerang pasukan Belanda dengan leluasa.

Palembang kembali aman dan damai. Suhunan kembali memerintah dengan segala keadilan dan kebijaksanaannya. Sayang, tidak semua orang senang berada dalam kedamaian itu.

Salah satu yang tidak senang itu adalah adik kandung Suhunan. Ia berniat menjadi suhunan. Ia pun merencanakan siasat licik.

Ia mengirim sepucuk surat ke Be landa. Surat itu berisi jika kekuatan Palembang tidak lagi tangguh dan perkasa. ia juga akan membantu memperlemah kekuatan Kerajaan Palembang.

Dengan diam-diam, sang Adik membuang peluru-peluru meriam dan diganti dengan buah jeruk yang dibentuk seperti peluru meriam.

Ketika pasukan Belanda tiba, Suhunan segera menyiagakan kekuatannya.

Meriam-meriam disiagakan dan tak berapa lama ditembakkan. Namun tembakan itu. tidak berdampak apa pun.

Baru setelah dicermati, para prajurit sadar jika peluru yang mereka guna kan untuk menembak adalah buah jeruk.

Dalam keadaan terdesak, Suhunan segera mundur untuk mengatur siasat. Istana kerajaan pun akhirnya kosong.

Hanya ada adik kandung Suhunan yang menyambut kedatangan pasukan Belanda.

Adik kandung Suhunan segera menghadap Raja Belanda sambil berkata, "Hamba yang telah mengirim surat. Hamba juga yang telah melemahkan pasukan Kerajaan Palembang. Oleh karena itu, hendaklah saya diangkat menjadi suhunan yang baru."

Namun, Raja Belanda justru menyu ruh anak buahnya untuk menang kap adik kandung Suhunan.

"Engkau telah nyata-nyata meng khianati saudara kandung dan negerimu sendiri! Jika engkau kuangkat, pasti! engkau akan tega untuk mengkhianatiku suatu hari nanti!"

Mati-matian adik kandung Suhunan memberikan janji-janjinya. Namun hal tersebut sia-sia.

Ia ditangkap oleh pasukan Belanda. Di dalam penjara, ia hanya bisa me nyesali perbuatannya selama in!.



______

- https://histori.id > foklore > legenda

- dongengceritarakyat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar