Senin, 05 November 2018

Satu Tiang (2)

Satu Tiang (2)
Oleh aminuddin





DI lokasi berbeda ...


SEORANG laki-laki bertopeng me
ngendap-endap memasuki pekara ngan kediaman Bu Aida. Dengan dua kali lompatan dia sudah berada di dekat jendela samping kanan.

Dia intip. Dia lihat lampu kamar me nyala dengan di atas tempat tidur seperti ada orang tidur berselimut kan tebal.

Pria berpakaian serba hitam itu ber geser ke belakang. Dia masuk le wat pintu belakang dengan meng gunakan kunci rahasia.

Dengan hanya satu kali putaran, itu pintu berhasil dibuka. Si laki-laki bertopeng bergegas menuju kamar yang dua intip tadi.

Tanpa bersuara, pintu kamar terbu ka. Lalu terdengar ...

Jlebeb ...

Breeet ..

Dub .. Dub ...

Saat bersamaan, di teras rumah, Lia dan ibundanya Bu Aida, sudah berada di dalam mobil.

Wajah mereka cemas, penuh keta kutan ...

Mesin mobil menyala dan melaju dengan kecepatan sedang ke jalan utama ...

Kampreet ...

Pria bertopeng itu marah besar. Dia dikadali. Ternyata yang dia tikam di atas tempat tidur tadi bukan Lia dan ibunya.

"Bersiap Bro. Aku kesana," katanya dengan nada kesal.

Seorang teman pria bertopeng me nunggu di dalam mobil yang di parkir tak jauh dari kediaman Bu Aida.

Dia sempat melihat sebuah mobil warna hitan melintas di depannya. Tapi laki-laki kurus ini tak menge tahui pemilik mobil itulah yang mereka incar.

Selama dalam pengejaran, lelaki bertopeng yang kemudian diketa hui bernama Nasrul itu, kesal ber campur marah.

"Kenapa aku enggak marah, ya ka lau yang ngecohi aku laki-laki. Ini perempuan. Coba. Mau ditaruh dimana mukaku ini .."

"Di tempat biasanya saja," kata Alif dengan nada datar.

"Pasti bos marah. Aku yakin itu," ujar Nasrul.

Tak lama setelah itu ...

Kriiiing ...

Kriiiing ...

Bos besar menelepon ...

"Gimana. Cepat ke rumah kalau sudah beres."

"Siap Bos."

"Beres kan?"

"Eeem ... Beres ... Beres," jawab Nasrul gugup.

"Sekalian yang kalian tangkap, juga bawa. Aku mau lihat ..."

"Siii .. Siap Bos," ucap Nasrul, sema kin gugup.

Belum sempat menjelaskan duduk soalnya, telepon sudah ditutup.

Mobil berhenti sebentar ...

"Bagaimana menurutmu Lif? Kita kejar atau temui secepatnya Bos Besar?"

"Kejar aja Rul .."





Tidak ada komentar:

Posting Komentar