Novel Serial
BiJe
Darah yang Terserak
Oleh Pak Amin
I
“SELAMAT siang Bu Guruuuuu …” Ucap para murid Zuleha berusia
lansia. Tegak serempak, memberi hormat, lalu duduk lagi. Juga serempak.
“Selamat siang semuanya,” jawab Zuleha.
Dia memandangi satu persatu para muridnya. Meski sudah
berusia lanjut, semangat untuk belajar tetap berkobar. Gigi boleh ompong, soal
bicara paling duluan. Siap berdebat, selalu sehat dan rajin datang ke
‘sekolah.’
“Ibu lihat mukanya ibu-ibu sekalian pada cerah semuanya. Ada
apa ya?” Tanya Zuleha ingin tahu jawa bannya. Mana tahu ada berita gembira. Makan ‘ayam mati’ misalnya.
“Panen Buuuu,” jawab siswa serempak.
“Ok oooo …”
“Kalau panen duit kita banyak,” kata siswa berbadan gede,
sanggul segi lima.
“Iya Bu. Padi kita jual, duitnya dapat. Kita senang-senang
Bu Guru,” sahut siswa lain berambut lurus.
“Beli pesawat televisi yang baru, kulkas sepuluh pintu,
lemari pakaian geser, kursi tamu jati, kursi makan segi empat, tempat tidur,
dispenser, lemari piring, kloset, hambal, wall paper, sepeda, sepeda motor,
bantal guling, kasur, sepatu baru, sandal keluaran terbaru, baju baru, tas
kulit baru, emas 24 karat, emas antam,
kain baru, dan ….”
“Oi … gantian aku dulu yang ngomong,” teriak ibu bercelana
jeans levis dan berbaju kaos ada kerah dan sakunya.
“Please …” kata si ibu yang nyerocos tadi itu dengan tangan
terbuka dan lapang dada.
“Kalau saya Bu Guru ya, beli tanah, beli rumah dan beli ruko
beberapa pintu untuk bisnis …”
“Bagus itu,” jawab Zuleha.
“Horeee … Saya bagus,” kata ibu bercelana jeans tadi sambil
berdiri dan mencibir rekannya yang pamer barang serba baru.
Balas membalas mencibir, Zuleha terpaksa memukulkan
penghapus ke papan tulis. Semua berubah diam. Pandangan mata tertuju ke depan.
Siap mendengarkan.
“Ibu-ibu semuanya,” kata Zuleha.
“Ya Bu Guru …”
“Semua apa yang ibu-ibu omongkan barusan, bagus semuanya …”
“Horee. Aku juga bagus,” ucap ibu yang kena cibir rekannya
tadi.
“Asalkan tidak berlebihan. Uang hasil panen jangan
dihabiskan untuk membeli barang saja, tapi juga disimpan untuk digunakan bila
ada keperluan.”
“Simpannya dimana Bu Guru?” Tanya ibu berkulit putih bersih.
“Di bawah bantal,” timpal rekannya dari belakang.
“Wuuuu … ketinggalan jaman. Kuno. Kalau sampai hilang, bagaimana. Ayoooo …”
kata ibu berselendang warna pink.
“Kamu yang kuno.”
“Kamu …”
Priiiit …
Sang ketua kelas membunyikan pluit (pripit) pramuka.
Pertengkaran disudahi lebih cepat. Ruangan kelas tenang kembali.
“Kalau menyimpan uangnya Bu, jangan di bawah bantal guling,”
terang Zuleha.
“Lalu dimana Bu?” Tanya ibu bertahi lalat di dagu yang masih
bingung di mana sebaliknya menyimpan uang itu supaya aman.
“Di tempat penyimpanan uang ibu-ibu. Misalnya saja, bank,
kantor pos dan kantor pegadaian.”
“Caranya Bu?”
“Bawa kartu idenitas diri, seperti KTP. Lalu mengisi
formulir dan menyerahkan sejumlah uang yang akan kita tabung ke petugas
penyimpanan uang …”
“Mudah sekali ya Bu,” ujar wanita bermata sipit yang duduk
paling belakang. Saking sipitnya, sulit membedakan antara mejam dengan melek.
“Betul sekali ibu-ibu. Mudah sekali bukan. Kita tingga
datang ke bank, kantor pos atau pegadaian. Duduk yang sopan. Menunggu panggilan
…”
“Uang logam bisa Bu?”
“Bisa ibu-ibu,” jelas Zuleha. Setelah mengabsen, dia membuka
buku pelajaran ‘Seni Berhitung.’
“Nah, ibu-ibu sekalian. Tahu apa pelajaran kita hari ini?”
“Masak Bu Guru,” kata ibu yang rambutnya penuh ditumbuhi
uban.
Hua ha ha ha …
“Payah deh Lu, Lis. Masak melulu pikiran kamu itu,” celetuk
Vanda.
“Kalau aku tak masak, bagaimana anak dan suamiku makan. Apa
harus dikasih batu. Tak bisalah. Batu mana bisa dimakan.”
Ha ha ha ha …
Setelah tenang, Zuleha bertanya lagi.
“Pelajaran apa kita hari ini?”
“Berhituuuung,” jawab siswa serempak.
“Bagus … Mari kita mulai,” kata Zuleha.
Di papan tulis ia menulis perkalian, pengurangan dan
pembagian. Untuk perkalian 2 x 2 sama dengan berapa, empat kurang dua berapa,
dan enam dibagi tiga, berapa yang tersisa.
“Tulis ya ibu-ibu …”
“Ya Buuuu …”
Tak sampai semenit,
semua siswa sudah selesai menyalin tulisan di papan tulis ke buku tulis,
menggu nakan pena dan pensil.Tampak beragam raut muka anak didik Zuleha. Ada
yang senyum-senyum, merengut, ketawa sendiri dan malu-malu.
“Kumpul di depan buku tulisnya ibu-ibu …”
“Ya, Bu Guruuuu …”
Setelah terkumpul jadi satu di meja mengajar Zuleha, sebagian
siswa mulai ada yang gelisah dan bertanya-tanya, apa ada pelajaran lain selain
berhitung.
“Sekarang satu-satu maju ke depan …”
Majulah para siswa satu-satu ke depan. Kursi belajar kosong
melompong. Siswa pada maju semuanya, berdiri membelakangi papan tulis.
Ha ha ha ha …
Kali ini Zuleha yang tertawa. Sementara siswanya pada
bengong. Kenapa Bu Guru sampai ketawa. Apa ada yang lucu?
“Duduk kembali ya ibu-ibu …”
Satu-satu duduk kembali di kursi belajar. Zuleha tertawa geli sendiri. Siswanya semakin bingung,
apa karena menahan amarah, lantas Bu Guru lampiaskan kemarahannya dengan
pura-pura ketawa, atau memang ketawa beneran.
“Maksud ibu. Nanti kalian ibu panggil satu-satu ke depan.
Menunggu giliran. Yang belum dipanggil tak usah maju. Tetap duduk dengan sopan
di kursinya. Bukan semuanya ke depan. Paham?”
“Paham Bu Guruuuu …”
“Nah begitu ..”
Zuleha berjalan ke belakang, lalu ke depan lagi. Dia
pandangi satu-satu siswanya …
“Vanda, maju …”
Plak … plak … plak …
“Lagu dangdut Bu,” ucap nenek berbaju dan bercelana jeans.
“Hus nek. Ini belajar, bukan orgen tunggal.
Hua ha ha ha …
Si nenek malah ketawa.
“Nenek kira orgen nunggal …
“Tunggal,” jelas teman sebangkunya yang telah menyandang
status nenek tanpa cucu tercinta.
“Ya, tunggal …”
Hu hu hu hu …
“Maafkan nenek. Acara dilanjutkan …” Katanya sembari tertawa
terpingkal-pingkal.
“Coba Vanda. Kau tulis jawabannya di sesudah sama dengan itu
ya, dua kali dua …”
Vanda berpikir sejenak dengan posisi mata melihat ke atas,
plafon rumah sekolah yang mulai bolong-bolong.
Dia tulis delapan.
Plak … plak … plak …
Teman-teman sekelasnya bertepuk tangan.
“Kenapa bisa delapan Vanda?”
“Mulanya empat Bu,” terang Vanda, “Saya ragu. Kalau empat
berarti yang dikali itu cuma yang tertulis di papan tulis. Sedangkan Vanda sama
Bu Guru belum termasuk. Masa kita capek-capek berdiri di depan kelas tidak
ditulis. Pilih kasih kan Bu. Nah, akhirnya Vanda kalikan dua lagi yaitu Vanda
sama Bu Guru. Begitu ceritanya Bu …”
Plak … plak .. pak … plak …
“Ok oooo … Ya sudah. Silakan Vanda kembali ke tempat
duduknya.”
“Siap Bu Guru …”
Bu Guru Zuleha sama sekali tidak menyalahkan jawaban Vanda
barusan. Bukan karena tidak benar, tapi dia ingin melihat siswa lain, apakah
sama dengan cara berpikir Vanda atau tidak.
“Berikutnya Leni. Maju ke depan …”
Plak pak .. Plak pak …
“Hidup Leni …” Sorak sorai siswa.
Kembali diam setelah Zuleha minta siswa yang tidak berdiri
di depan kelas jangan rebut. Diam. Memper hatikan apa jawaban Leni empat
dikurang dua.
“Sudah Bu,” ujar Leni setelah meletakkan spidol di sisi papan
tulis.
“Berapa hasilnya Leni?”
“Nol Bu …”
“Enggak salah apa?”
“Enggak salah lagi, Bu.”
“Coba … coba terangkan ke teman-teman kamu kenapa empat
dikuang dua jadi nol.
“Baik, Bu.” Kata Leni. “Jadi anak-anak …”
“Wuuuuuu …”
“Baru sedetik jadi guru udah panggil anak-anak,” celetuk ibu
berperawakan gendut pendek.
“Gimana kalau sudah berjam-jam,” sahut yang lain.
“Tante panggilnya,” jelas Vanda.
Hua ha ha ha …
“Teruskanlah Leni …”
“Jadi anak-anak sekalian … kenapa empat dikurang dua jadi
nol, karena berpasang-pasangan. Jadi dua-dua. Sepasang-sepasang kan empat
jumlahnya. Lalu dikurangi empat sama dengan nol …”
Plak pak .. plak pak …
“Pintar sekali Leni ini …” Puji Bu Guru Zuleha.
Leni tersipu malu.
“Bapak yang ngajari di rumah Bu Guru.”
“Oh ya? Apa yang diajari bapak di rumah, ibu pengen tahu …”
“Nak, di dunia ini kita enggak bisa sendiri, hidup sendiri.
Harus berpasang-pasangan. Ibarat angka, eng gak boleh satu. Kalau pun dia satu,
kita sebut dua, karena tak baiklah kalau kita sendirian, begitu Bu.”
“Minta kawin Bu, si Leni itu,” teriak siswa serentak.
“Leni. Duduklah …”
Setelah kelas kembali tenang, tidak riuh dan berisik, Zuleha
memanggi siswa laginya. Kali ini Lis, nama nya.
“Ayo Bu, jangan
takut,” ujar Zuleha melihat Lis maju mundur dari tempat duduknya ke depan papan
tulis.
Lis bukannya menulis. Dia mencium
tangan Zuleha dulu. Baru setelah itu dia ambil spidol dan menuliskan jawaban
enam dibagi tiga sama dengan dua.
“Berapa Lis?”
“Dua, Bu Guru,” jawab Lis.
“Coba terangkan kenapa jadi dua
…”
“Pertama-tama Bu, saya ambil
bilangan tiga. Saya deretkan jadi dua. Satu tiga, duet yang kedua juga tiga.
Lalu saya jumlahkan, tiga ditambah tiga , enam hasilnya. Berarti tiga enggak
bisa berdiri sendiri. Dia harus ada teman. Saya gabungkan jadi dua, lalu
disatukan dengan cara ditambah. Jumlanya enam kan Bu.”
Plak … pak .. plak … pak …
Teng .. teng … teng …
Istirahat.
Keluar main.
***
II
“INI gambar apa ibu-ibu? Tanya Nile, saat memberikan
pelajaran ‘Menggambar’ pada jam kedua, setelah Zuleha mengisi jam mengajar yang
pertama.
“Lidi Bu Guruuu,” jawab siswa serentak.
“Bukan lidi ibu-ibu, tapi …”
“Kayu ya Bu,” sahut Vanda.
“Juga bukan … Tapi garis luuu …”
“Aaaar …”
Ha ha ha ha …
Nile ikut tertawa pula.
“Ini adalah garis lurus ibu-ibu,” jelas Nile. Dia menarik
garis lurus ke samping. Horizontal.
“Ya Bu.”
Nile membuat garis lurus yang kedua, di atas garis lurus
pertama.
“Ayo, siapa tahu, gambar apa ini ibu-ibu?”
Siswa diam. Bingung. Gambar apa, belum kebayang.
“Sekarang, ibu tambah lagi garis tegak lurus kiri dan kanan
dari kedua garis. “ Setelah selesai, Nile bertanya, “Kalau ini gambar apa?”
“Saya Bu Guru.” Leni tunjuk tangan.
“Gambar apa Len?”
“Tabung televisi …”
“Saya Bu.” Vanda mengangkat jari telunjuk.
“Vanda, jelaskan …”
“Segi empat panjang, Bu.”
“Bagus. Ada yang lain?”
“Saya, Bu.” Lis berdiri.
“Apa Lis?”
“Gawang kiper bola kaki …”
Ha ha ha ha …
“Bagus …”
Nile membuat garis segi tiga di atas segi empat. Di bawah
segi empat ada tangga kecil.
“Nah, ini gambar apa? Siapa yang tahu angkat tangan.”
“Saya, Bu.”
Nile menoleh. Kaget karena semua siswa pada mengangkat jari
telunjuk. Nile memandang satu persatu para siswanya. Dia masih memilih siapa
gerangan yang pertama mendapat kesempatan menjawab per tanyaan darinya.
“Ibu …”
“Ya, Bu Guru.”
“Siapa nama, ibu lupa.”
“Ningsih, Bu Guru.”
“Oh ya, Ningsih,” ucap Nile seraya menepuk-nepuk jidatnya.
“Gambar apa Bu Ningsih?”
“Gambar rumah gubuk saya,” jawab Ningsih terus terang.
Hua ha ha ha …
“Memang mirip ya Bu Ningsih?”
“Bukan lagi mirip Bu Guru. Memang itu gubuk saya …”
He he he he …
“Terima kasih ya Bu Ningsih.”
Beberapa siswa tampak masih ketawa, walaupun Ningsih sudah
duduk di tempa duduknya. Mereka ketawa cekikikan di bawah bangku belajar.
Supaya tidak ketahuan, mereka tutup mulut dengan tangan, selendang, buku tulis
atau kain sarung penutup kepala.
“Nah, sekarang ibu tambahkan antena parabola di atas
segitiga atap rumah ini …”
Ret … ret … ret …
Jreeesh .. jruuush …
“Nah ibu-ibu. Antenanya sudah ada. Bagus enggak ibu-ibu?”
“Baguuus …”
“Ayo … kalau tadi rumahnya Bu Ningsih. Sekarang coba tebak,
rumah siapa ini?”
“Saya Bu.” Teriak Yeni.
“Rumah siapa Bu Yeni?”
“Pak Kades …”
Hu hu hu hu …
“Mentang-mentang baru besanan sama Pak Kades, dibilang rumah
Pak Kades. Rumah mantuku juga begitu, Bu Guru,” kata ibu berkening lebar.
“Rumah saya juga begitu, Bu Guru.” Sahut siswa lain.
“Bagus … berarti rumah-rumah ibu sekalian pada bagus
semuanya,” jelas Nile.
Setelah menerangkan kegunaan rumah dan antena parabola, para
siswa diminta memindahkan gambar di papan tulis ke buku gambar masing-masing.
Diberi waktu dua puluh menit.
“Kalau sudah dikumpul di meja ibu,” terang Nile.
Seolah berlomba siapa yang tercepat, seorang ibu yang duduk
paling depan, dua menit kemudian, sudah mengumpulkan buku gambarnya ke meja
mengajar Nile.
Tanpa sengaja ia buka gambar siswanya itu. Ia tersenyum geli
karena gambar yang tertera di buku gam bar itu bukan rumah seperti yang
terlihat di papan tulis. Tapi per bagiannya saja. Ada empat bagian terpisah.
Tangga, segi empat, segi tiga dan antena parabola.
Per bagian gambar itu diberi lingkaran dan di bawahnya
tertulis ‘Dijual, harga murah, siap
antar dan pasang ….’
“Pintar juga nih ibu-ibu,” kata Nile dalam hati.
Tepat waktu. Dua puluh menit kemudian seluruh siswa
berebutan mengumpulkan hasil lukisannya di buku gambar kepada Bu Guru Nile yang
duduk manis menunggu di kursi depan papan tulis.
“Terima kasih ibu-ibu,” ucap Nile.
Tak berapa lama kemudian, salah seorang ibu yang masih muda
tapi sudah beranak enam, masuk kelas lagi setelah sempat minta izin tadinya ke
toilet. Dia membawa goreng-gorengan seperti pisang, tempe dan tahu serta
segelas air putih.
“Mari Bu dicicipi,” katanya mempersilakan Bu Guru Nile
menncicipi goreng-gorengan yang masih hangat itu. Nile mengambil satu, tahu
goreng dan minum dua teguk air putih.
“Gimana Bu, enak kan?”
“Enak sekali Bu. Terima kasih ya traktirannya. Sudah
ngerepotin ibu,” kata Nile.
“Namanya juga ibu, Bu Guru. Harus repotlah. Kalau tak repot
bukan ibu, Bu Guru …”
“Lalu apa namanya?”
“Janda kembang …”
Ho ho ho ho …
Sekarang, kata Bu Guru Nile, kita lanjutkan dengan
menggambar di papan tulis. Gambar bebas, apa saja, mana suka, siaran niaga.
“Siapa berani maju?” Tantang Nile.
“Yang enggak berani Bu?” Tanya siswa yan duduk di deretan
paling belakang.
“Enggak usah ke depan,” jawab Nile.
Waaaaaa …
“Siapa yang maju pertama?”
“Saya Bu,” ucap Yeni.
Plak … pak … plak … pak …
Bergaya bak model profesional, Yeni sempat
berlenggak-lenggok, berjalan mendekati
papan tulis.
“Perhatikan ke depan ya anak-anak semuanya,” seru Yeni.
Wuuuuuu …
Spidol dipegang, dibuat garis bulat.
“Apa gambar ini anak-anak?” Tanya Yeni.
“Bu Guru baru ya? Celetuk ibu berbadan lebar ketawa
cekikikan.
“Bukan Bu Guru baru. Sudah lama. Baru mau buruk …”
Ha ha ha ha …
“Ayo ibu-ibu,” kata Nile, “Siapa tahu, gambar apa ini?”
“Bumi jatuh,” sahut Vanda.
“Bukan Bu. Itu Bu .. pempek ada-an,” jawab Ningsih.
“Bukan Bu. Bukan pempek. Tapi pentil bakso yang gede,”
timpal Lis.
“Saya Bu.” Ibu berdagu lancip mengangkat tangan kananya ke
atas.
“Silakan Bu.”
“Bola sepak, Bu Guru …”
Lain siswa, lain pula jawabnya. Nile mengatakan kepada para
siswanya, meski pilihan kita berbeda, har gailah perbedaan itu. Boleh berbeda
pendapat, tapi kita tak boleh saling sikat.
“Paham ya Bu?”
“Pahaaam …”
”Giliran kedua, siapa yang maju?”
“Saya Bu Guru.” Leni salah angkat jari. Bukan jari telunjuk,
tapi jempol.
Majulah Leni. Sialnya, agak sempoyongan. Kenapa? Rupanya
dari pagi belum sarapan. Nile sempat menanyainya. Lepas itu dia ambilkan pisang
goreng.
“Makanlah dulu …”
“Terima kasih Bu,” jawab Leni.
Sempat keselekan.
“Minumlah dulu …”
“Terima kasih Bu.”
Leni tak sempoyongan lagi. Dia lukis sebuah mobil roda
empat. Ada sopir dan ada beberapa penumpang. Mobil itu berjalan di atas jalan
beraspal dengan kanan dan kirinya rumah warga serta pematang sawah.
“Terima kasih Leni.”
Leni bermaksud duduk kembali.
“Nanti duduknya Leni. Sekarang berdiri dulu sama ibu,” kata
Nile.
Siswa pada senyum-senyum dikulum.
“Cocok Bu … “komentar Yeni.
“Satu mertua, satunya lagi menantu, Bu Guru,” ledek siswa
bermata besar.
Ha ha ha ha …
Nile akhirnya ikut tertawa.
“Sudah … sudah. Sekarang coba tebak, gambar apa yang barusan
dibikin teman kalian ini?”
“Mobil mau mudik, Bu Guru,” kata siswa duduk paling tengah.
“Bukan Bu. Itu mobil mau ngisi bensin,” sahut rekan di
sampingnya.
“SPBU-nya mana?” Celetuk Lis.
“Baru akan dibuat,” jawab Vanda
He he he he …
“Sekarang coba Bu Leni jelaskan ke kita, apa gambar yang
baru dibuat ibu ini,” pinta Nile.
“Ini adalah gambar sebuahkeluarga terdiri dari anak, isteri
dan suami, atau ayah dan ibu. Mereka ini menggunakan mobil pribadi menuju
tempat wisata air terjun di pelosok kampung.”
“Tepuk tangan ibu-ibu.”
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Nah, sekarang Bu Leni baru boleh duduk kembali,” ucap Nile
tersenyum ramah.
“Terima kasiuh Bu Guru.”
“Ayo, siapa lagi yang berani maju?”
“Saya, Bu Guru,” kata seorang ibu bertubuh mngil bangkit
dari tempat duduknya. Sambil setengah berlari ia mengepalkan tinjunya
berulangkali.
“Mau tinju Bu Guru,” Teriak Ningsih.
“Sama Bu Guru,” sahut yang lain.
“Namanya Bu. Maaf, saya lupa-lupa ingat …”
“Tere, Bu.”
“Iwak teri, Bu Guru.” Ledek Leni.
“Bukan teri, Bu. Tapi kereee
… Tampang oke .. isi kantong tak ade …”
Ha ha ha ha …
“Silakan Bu Tere, mau gambar apa.”
Tere ambil ancang-ancang.
Tuuuut … tuuuut …
Tere terkentut, tanpa sengaja. Berirama pula kentutnya. Dia
pura-pura tak tahu karena amat malu. Dia terus menggambar sebuah pohon besar
nan rindang daunnya. Pohon beringin, di bawahnya ada bangku panjang tempat
duduk.
“Sudah Bu Guru …”
Dia menoleh. Ketika dilihatnya tidak ada Bu Guru Nile dan
rekan satu kelasnya. Ia pun akhirnya memilih ikut keluar dari ruangan kelas …
***
III
JAM pelajaran ketiga giliran Maisaroh. Dia khusus memberikan
pelajaran ‘Akhlak’. Agak terlambat masuk kelas, karena harus ke toilet dulu,
sejak pagi tadi kebelet mau buang air besar.
“Maaf ya ibu-ibu, saya agak terlambat,” ucap Maisaroh seraya
meletakkan sebuah buku tulis di atas meja mengajar.
“Maafnya diterima, Bu Guru.” Jawab siswa serentak.
“Terima kasih.”
Kepada para siswa, Maisaroh mengatakan, baha siang hari ini
dia memberi pelajaran Akhlak, budi pe kerti. Temanya kali ini adalah ‘Bagaimana
menyenangkan hati suami .’ Diharapkan, setelah mengikuti pelajaran ini dengan
seksama, para siswa bisa secara bertahap merubah kebiasaan yang kurang baik
menjadi baik, syukur-syukur bisa lebih baik lagi.
“Ada pertanyaan ibu-ibu?”
“Saya Bu Guru,” kata Lis dengan suara lantang.
“Silakan Bu Lis.”
“Kita nanti mendengar saja atau sekalian praktik ya Bu Guru
…?”
“Dua-duanya Bu Lis.”
“Terima kasih Bu.”
“Yang lain?”
“Saya Bu Guru.” Leni ketawa geli.
“Kok ketawa Bu Len?”
“Gini Bu,” terang Leni,” Yang jadi suami nanti siapa. Kan di
ruangan ini tidak ada cowok, maksud saya laki-laki begitu.”
“Aku siap jadi laki elu, Len,” sahut siswa beralis tebal.
“Aku juga siap Leni, jadi laki lu,” timpal Ningsih
bersemangat.
Karena tidak ada laki-laki, kata Maisaroh, bisa dipilh atau
angkat tangan yang bersedia memerankan suami.
“Nah, sekarang ibu jelaskan terlebih dulu apa kewajiban
isteri terhadap suami,” jelas Maisaroh. Di anta ranya si isteri hendaknya
berlaku sopan santun dan selalu bermanis muka serta menumpahkan rasa ke cintaan
dan penuh kepercayaan terhadap suami.
“Senyum simpul yang selalu nampak pada wajah sang isteri,
budi pekertinya serta budi bahasanya yang lemah lembut adalah sifat yang sangat
menarik perhatian suami kita,” terang Maisaroh.
Si isteri, masih kata Maisaroh, dapat melipur di waktu
susah, menenangkan hatinya saat gelisah, menimbulkan harapan di saat suaminya
hampir putus asa.
“Akan menarik lagi bila ditambah dengan adab sopan santun
dan basa-basi yang halus serta budi pekerti dan akhlak yang mulia,” ujar
Maisaroh.
Dengan demikian akan hilanglah rasa keluh kesah suami di
saat menderita. “Dan akan hilanglah rasa kesal di waktu menderita kesukaran
hidup …”
Hal ini sesuai dengan bunyi hadist yang menyebutkan
“Sebaik-baik perempuan (isteri) ialah yang menyenangkan hatimu bila engkau
melihatnya, serta dapat menjaga kehormatan dirinya dan harta bendamu di waktu
engkau pergi.”
“Sampai di sini, paham Bu?”
“Pahaaaam,” jawab siswa yang duduk di belakang sambil
menguap lebar.
“Belum Bu Guruuu,” kata siswa yang duduk paling depan,
serentak.
“Coba ibu tanya, yang paham yang mana?”
“Semuanya Bu. Apa yang diomongin Bu Guru tadi kita dengar
dan tahu maksudnya,” jelas siswa berselendang abu-abu.
“Yang belum apanya?”
“Praktiknya Bu Guru,” terang siswa berkebaya putih-putih.
“Betul Bu. Sekalian tahu kita di sisi mana dari kita isteri
yang baik dan mana yang tidak,” kata Vanda berapi-api.
“Tepuk tangan dulu ..” Seru Bu Guru.
Plak .. pak … plak … pak …
Suasana kelas kembali tenang. Menunggu harap-harap cemas
siapa gerangan yang akan dipanggil Mai saroh unuk memerankan suami dan isteri
di depan kelas. Sebuah tontonan yang menarik dan pasti seru karena akan terjadi
dialog langsung antara pasangan suami isteri.
Eheeem …
Maisaroh belum juga menunjuk dua siswanya berdiri di depan
kelas. Dia masih batuk-batuk dan sengaja menunggu reaksi dari anak didiknya.
Teryata masih duduk dengan sopan, diam dan menunggu ibu gurunya bicara.
“Siapa yang mau ….?”
“Saya Bu Guru,” ucap Vanda.
Mulanya Vanda. Setelah itu disusul Lis, Leni, Ningsih dan
Tere. Tak lama kemudian, seluruh siswa mengangkat jari telunjuk tanda siap
tampil di depan kelas.
“Sekarang ibu yang memilih atau kalian yang memilih?”
Pancing Maisaroh.
“Ibu guru sajaaaa …”
“Baiklah,” ucap Maisaroh. Dari kursi tempat duduknya ia
memandang satu-satu para siswanya. Lepas itu dia membuka absensi siswa.
Dibacanya dalam hati nama para anak didiknya.
“Ibu pilih ….”
Belum sebut nama.
“Saya saja Bu.” Teriak beberapa siswa yang duduk di bangku
tengah.
Maisaroh masih menimbang-nimbang.
“Vanda dan Leni …”
Plak pak … plak … pak …
“Maju ke depan,” pinta Maisaroh.
Setelah berdiri di depan kelas, Maisaroh bertanya lagi
kepada siswanya.
“Yang jadi suami, Vanda atau Leni ibu-ibu?”
“Leni, Bu Guruuu,” jawab siswa.
Maisaroh menoleh ke Vanda dan Leni.
“Siap Leni dan Vanda?”
“Siap Bu,” ucap keduanya bergantian.
Akting keduanya dimulai …
-
Leni
(suami) : … Pulang dari kerja. Buru-buru mengetuk dan membuka pintu …
-
Vanda (isteri) : … Bapak?”
-
Leni : … “Bu …” (Leni langsung memeluk Vanda)
-
Vanda:
Ada apa Pak? Ayo kita duduk dulu …”
-
Leni : Menangis sesunggukan. Belum berani
mengangkat mukanya. Masih membenamkan
kepalanya di pelukan Vanda.
-
Vanda : Mengusap-usap pundak dan kepala Leni.
-
Leni : Baru mengangkat wajahnya dan berkata:
“Aku dipecat oleh bosku, Bu ..” Menangis lagi.
-
Vanda : Memeluk erat Leni. Keduanya berpelukan
sangat erat. Sama-sama menangis haru. “Sabar ya Pak …”
Selesai …
Plak … pak .. plak … pak …
“Terima kasih ya Leni, Vanda. Silakan duduk kembali.”
Maisaroh belum melanjutkan pemanggilan siswa yang lain. Hal
ini dikarenakan hampir semua mata anak didiknya memerah, sepertinya ikut
menangis. Terharu menyaksikan adegan yang diperankan Leni dan Vanda barusan.
“Lucu,” bisik Maisaroh dalam hati. Ketawa sendiri, untung
bisa disimpan di dalam hati. Kalu tidak, apa kata siswanya.
“Berikutnya kalian yang harus memilih. Mau kan?”
“Mau Bu Guruuuu …”
Berembuklah para siswa. Masing-masing kelompk ngotot
mempertahankan dua nama yang mereka usung. Ada tiga kelompok. Kelompok pertama
(duduk paling depan); kelompok kedua (duduk di kursi tengah); dan kelompok
ketiga (duduk di deretan kursi paling belakang).
Ada enam nama. Lima menit pertama belum ada kata sepakat.
Dua menit kedua empat nama, dan baru sepakat dua nama detik-detik menjelang
lima menit yang kedua.
“Bagaimana ibu-ibu? Sudah punya nama?”
“Sudah Bu Guruuu …”
“Coba sebut siapa nama?”
“Ningsih dan Tere, Bu.” Jelas Vanda menyerahkan secarik
kertas berisi nama Ningsih dan Tere.
Maisaroh membacanya sejenak. Kemudian memandang ke barisan
terdepan para siswanya.
“Ningsih, Tere … Silakan ke depan, Bu …”
Plak … pak … plak … pak …
“Sudah tahu siapa yang jadi suami?”
“Sudah Bu. Saya,” jawab Ningsih.
Adegan dimulai …
-
Ningsih (suami) : “ … Bu, buka pintunya dong
Bu.” (suami menggedor-gedor pintu).
-
Tere (isteri) : Pintu dibuka … “Jangan
gedor-gedor gitu Pak. Ketuk saja kenapa.”
-
Ningsih : “Haus Bu … Tolong dong ambilkan air
segelas …!”
-
Tere : ….
Bersegera pergi ke dapur. Kembali ke ruang tamu membawa segelas air putih. Dia
berikan kepada suami tercinta.
-
Ningsih : glek .. gek .. gek .. glek … habis
seketika.
-
Tere : Pelan-pelan toh Pak minumnya. Jangan
kayak onta saja. ‘Ntar jadi onta beneran, ayo gimana …”
-
Ningsih : “Haus Bu … Mana panas. Bekal air yang kubawa habis. Dari sawah aku
langsung ke rumah … cobalah ibu bayangkan!”
-
Tere : “Enggak usah ya Pak dibayangin. Nanti ibu
haus pula. Repotnya kan bapak juga ..”
-
Ningsih : “Ha ha ha ha … Ibu ini ada-ada saja.
Tak sangka bapak kalau ibu pandai melawak juga kayak di televis itu …”
-
Tere : “Ah bapak … bisa aja .. Malu ibu jadinya
…”
-
Ningsih : “Lauk apa Bu? Bapak sudah lapar nih …”
-
Tere : Macam-macam Pak .. Tinggal pilih .. ada
sayur asem, ikan pedo, sepat goreng, tahu tempe, tumis kangkung, sambal nanas,
pindang tulang dan kerupuk jangek …”
-
Ningsih :
“Semuanya saja Bu hidangkan …
-
Tere :
“Apa muat di perut bapak?”
-
Ningsih : “Tidaklah Bu. Perut bapak samalah
dengan perut ibu. Kecil.”
-
Tere : “Kalau sudah tahu kecil, ibu ambilkan
seperlunya saja ya Pak. Mau kan?”
-
Ningsih : “Demi ibu, siapa nolak?”
-
Tere : Dua menit kemudan si ibu menemui suaminya
dan berkata : “Maaf kan ibu ya Pak.
Gimana kalau bapak sama ibu makannya di meja makan saja. Mau ya?”
-
Ningsih : “Demi ibu, siapa nolak?”
-
Tere : “Bapak genit ah …”
-
Ningsih : Ha ha ha ha …
Selesai …
Plak … pak .. plak .. pak …
“Ningsih, Tere. Terima kasih. Kembalilah ke tempat duduk
kalian berdua …”
“Baik, Bu.”
Meski Ningsih dan Tere sudah selesai berakting, sudah dudulkyang
rapi di kursinya masing-masing, para siswa masih tertawa dengan beragam corak
ketawa.
Ada ketawa geli, ngakak, terkekeh-kekeh, bahkan ada yang
sampai terbatuk-batuk. Keadaan ini baru re da lima menit kemudian. Dari pada
bengong sendiri, Maisaroh ikut ketawa pula. Tapi tidak terkekeh-kekeh. Hanya,
saking lucunya, sampai memegang perut
dan mengeluarkan keringat.
***
IV
“INI bapak Budi …
Ini bapak Budi …
Ini ibu Budi …
Ini ibu Budi …
Ini adik Budi …
Ini adik Budi …
Bapak Budi pergi ke sawah …
Bapak Budi pergi ke sawah …
Ibu Budi pergi ke kalangan …
Ibu Budi pergi ke kalangan …
Budi pergi ke sekolah …
Budi pergi ke sekolah …
Di mana nenek Budi …?
Di mana nenek Budi …?”
“Tepuk tangan dulu …” Pinta Puspa. Siswa pun serempak
bertepuk tangan.
“Sekarang, yang namanya ibu panggil maju ke depan.”
“Siap Bu Guru …”
“Tere …”
Tere maju ke depan.
Berdiri betul ia, membelakangi papan tulis. Memberi hormat dengan cara
membungkukkan badan. Karena terlalu membungkuk sanggulnya Tere terlepas. Jatuh
ke lantai.
Ha ha ha ha …
“Sanggulnya belum lunas, Bu Guru,” teriak Ningsih, diikuti
beberapa siswa yang lain.
“Mungkin bosan Bu Guru nyangkut di kepala terus. Maunya
jalan-jalan itu sanggul,” sahut Vanda.
“Ya sudah. Komentarnya ditahan dulu … bisa ya?”
“Bisa Bu Guruuu …”
Kelas tenang kembali.
“Coba baca Re … Dari
atas ke bawah … yang keras ya suaranya supaya teman-temanmu yang lain bisa
mendengar suaramu …”
“Baik Bu Guru …”
Tere mengatur nafas.
“Ini bapak Budi …
Ini ibu Budi
Ini adik Budi
Bapak Budi pergi ke sawah
Ibu Budi pergi ke kalangan
Budi pergi ke sekolah …
Di mana nenek Budi?”
“Tiduuuur …” Jawab siswa serempak.
“Sudah mati Bu Guru,” kata Vanda.
“Lagi ek ek Bu,” jawab Ningsih.
“Sudah .. sudah … harap tenang ya ibu-ibu. Sekarang kita
minta Tere yang menjawabnya, di mana nenek Budi?”
Tere berpikir sejenak. Lalu ia berkata:
“Saya tak punya nenek, Bu Guru. Nenek saya sudah lama
meninggalkan dunia ini kembali ke alam baqa.”
“Ooooo …” Jawab siswa membeo …
“Ya sudah. Terima kasih Tere. Silakan duduk kembali,” kata
Puspa.
Setelah kelas kembali tenang, Puspa meminta siswa menjawab secara
benar dan jujur dimana sebenar nya nenek Budi.
“Yang tahu, tunjuk tangan, sebutkan namanya.”
“Saya Bu. Nama saya Leni …”
“Silakan Leni. Jawabnya apa?”
Leni tertawa.
“Neneknya Budi menjaga adik Budi yang belum sekolah di rumah
…”
Plak … pak … plak … pak …
“Betul sekal,” ujar Bu Guru Puspa.
“Yang lain masih ada lagi?”
“Saya Bu. Lis saya punya nama …”
“Coba ibu dengar jawabannya.”
Lis mengernyitkan dahi.
Dia masih berpikir, walau tak keras.
“Lis?!”
“Nenek Budi sendirian jaga rumah …”
Plak … pak … plak … pak …
“Bagus. Jadi,” kata Puspa, “Dua jawaban yang diberikan
temanmu tadi itu benar semuanya.”
“Saya Bu.” Ningsih bertanya.
“Tanya apa Ning?”
“Siapa sebenarnya nama bapak, ibu, adik dan nenek Budi, Bu
Guru?”
Siswa saling pandang. Meski tidak disuruh menjawab, mereka
harus tahu sekiranya Bu Guru Puspa meminta jawaban dari mereka.
“Kamu apa Len?” Bisik Tere.
“Sebutin aja sesuka kita.”
“Ah kamu … Itu namanya bohong. Bohong itu dosa tau …”
Tek .. tek .. tek …
Puspa mengetukkan mistar tulis ke meja mengajarnya, meminta
siswa diam. Jangan ribut.
“Ayo … siapa tahu jawabannya?”
“Saya Bu,” kata Vanda, berdiri di samping kursinya.
“Silakan Vanda.”
“Bapak Budi namanya Budiman, ibu Budi namanya Beti, adik Budi bernama Budiarto, sedangkan namanya
nenek Budi adalah Susilawati …”
Plak … pak … plak … pak …
“Baiklah. Sekarang masing-masing enam orang maju ke depan …”
Pinta Puspa.
“Semuanya Bu?” Tanya Vanda.
“Bagi dua kelompok saja. Setiap kelompok terdiri dari enam
orang. Jadi yang maju ke depan kelas ada dua
belas orang … mengerti?”
“Mengerti Bu Guruuu …”
Sebanyak dua belas orang siswa maju dan berdiri di depan
kelas dengan posisi badan menghadap ke siswa yang duduk sopan sambil
senyum-senyum simpul dengan sesekali bermain mata dan alis.
Apa yang mereka kerjakan?
“Jadi tugas kalian adalah saling bertanya dan menjawab.
Misalnya kelompok A diketuai Vanda. Coba peragakan bagaimana bentuk hurup O ..
Nah, oleh kelompok B segera dijawab dengan secepatnya membentuk hurup O ..
Paham?”
“Paham,” jawab kelompok A.
“Belum Bu Guru,” kata kelompok B.
“Belumnya dimana?”
“Berapa lama kita membentuk hurup itu Bu?”
“Secepatnya. Lebih cepat lebih baik. Dan siapa yang lebih
cepat, dialah pemenangnya …”
Dimulai dari kelompok A.
“Coba kelompok B,” kata Yeni, “Bentuk oleh kalian hurup O …”
“Mulai Bu?” Tanya Vanda.
“Mulai …”
Hanya dalam bilangan detik hurup O sudah selesai dibentuk
kelompok B. Siswa dan Bu Guru pun bertepuk tangan.
“Gantian. Sekarang kelompok B mengajukan pertanyaan kepada
kelompok A. Siap?”
“Siap Bu Guruuuu …”
“Vanda.”
“Coba kalian dari kelompok A, tolong bentuk huru W …”
Dalam hitungan detik, hurup W sudah dibentuk. Tapi anehnya
para siswa senyum-senyum dan ketawa geli.
“PIncang Bu,” teriak siswa, ibu berambut tipis.
“Pincang kenapa?”
“Garis sebelah kanannya pendek sebelah Bu …”
Ha ha ha ha …
Puspa baru mengerti. Bukankah hurup W itu terdiri dari empat
garis. Dua besar dan dua kecil. Dua garis besar diisi tiga orang, sedangkan
garis kecil cukup satu orang. Kelompok A membentuknya dari sebelah ki ri. Garis
besar kiri tiga orang, lalu garis kecil tengah satu orang, dan garis kanan
besar miring dua orang.
“Vanda ..coba tengah.” Pinta Puspa.
“Baik Bu.”
Vanda berdiri agak jauh ke sudut pintu. Setelah itu di
kembali mendekati Bu Guru dan berkata, “Sebelah kanan kurang satu orang Bu.”
“Baik. Nanti ibu ikut bersama mereka juga. Kamu lihat lagi
…”
“Baiklah Bu.”
Vanda mengisi kekurangan satu orang siswa. Dengan telah
masuknya Bu Guru Puspa ke barisan ke lompok A, jumlah orangnya menjadi tujuh.
Genap dan selesailah hurup O dibentuk.
Siswa bertepuk tangan.
“Kalian kembali ke tempat duduk masing-masing,” perintah Bu
Guru Puspa.
“Yang menang siapa Bu?” Tanya Yeni.
“Dua-duanya,” terang Puspa.
Bersorak sorailah dua kelompok ini merayakan kemenangannya
dengan cara melompat sama-sama, tos-tosan tangan sambil bersenandung …
“Potong bebek angsa
angsa di kuali
nona minta dansa
dansa empat kali
Dorong ke kiri
dorong ke kanan
la la la la la la la la
la la la … “
Dilanjutkan …
“Kleung deng-klek buah kopi
rarang geu-yan
keun a-nu dewek ulah
pati di heu-reu-yan
Cing cangkeling
manuh
cing kleung
cinde-ten
plos kokolong
bapak
satar buleneng …
Pat lapat pat lapat
kati
ngalan masih tebih
kene
pisan layar na
bodas
jeung celak
kasurung
ka ombak ombak …”
Puas berdendang. Seisi kelas siswanya tak ada yang tak ikut
berdendang dan bergoyang. Puspa menulis kan beberapa kalimat lagi, yakni … “Di
mana Budi dan “Apa yang dikerjakannya setelah pulang dari se kolah …”
“Sekarang coba jawab Tere, hurup apa ini (M)?”
“Em,” jawab Tere.
“Yang ini Ningsih (Y)?”
“Betetan Bu Guru ….”
Ha ha ha ha …
“Ngantuk Bu,” ucap Leni.
“Apa Ningsih? Ulangi sekali lagi?”
“Betetan Bu Guru …”
“Siapa yang tahu?”
“Saya Bu Guru,” sahut Yeni,” ye atau ai …”
“Saya Bu,” kata Lis tak mau ketinggalan.
“Apa Lis?”
“Ranting pepohonan yang sudah tak ada lagi daunnya.”
Hua ha ha ha …
“Saya Bu.” Tere memberanikan diri mengangkat jari
telunjuknya.
Teng … teng … teng …
Jam pelajaran sekolah berakhir.
***
V
PAK Krisman mendatangi kediaman Pak Kades tempat bermukim
sementara empat perawan; Zuleha, Nile, Maisaroh dan Puspa. Suatu sore saat
keempatnya sedang beristirahat sambil menonton bersama film kartun di televisi.
Tok … tok … tok …
Tanpa mengindahkan sopan santun, Pak Krisman, salah seorang
tokoh masyarakat kampung ini, menge tuk pintu rumah dengan keras. Malah, belum
sempat dibuka Pak Kades, lelaki kurus ini sudah membuka pintu terlebih dulu
dengan tatapan mata penuh kemarahan.
“Astaghfirullah … saya kira siapa .. Pak Krisman rupanya.
Duduk pak, silakan.” Kata Bu Kades, walau sempat terkejut, tetap menebar senyum
ramah pada tamu yang datang, tak terkecuali Pak Krisman.
“ Mereka yang mengajar orang-orang tua perempuan di kampung
ini, mana Bu Kades?” Tanya Krisman dengan nafas turun- naik amat kencang.
“Itu mereka. Mari Pak Krisman, silakan duduk dulu.”
“Terima kasih Bu. Biar saya di sini saja. Tolong Bu,
panggilkan mereka. Saya mau ngomong sebentar,” pinta Pak Krisman dengan raut
muka masam menahan geram.
Pak Krisman akhirnya duduk setelah diminta berkali-berkali
oleh Bu Kades duduk. Kepada Zuleha, Nile, Maisaroh dan Puspa, isteri orang
nomor satu di kampung ini memberitahu keempatnya bahwa Pak Krisman sengaja
datang ke rumahnya karena ada sesuatu yang ingin disampaikan.
“Kamu aja Ha, ngadepinya,” kata Maisaroh yang terasa berat
untuk beranjak dari tempat duduknya yang menghadap ke pesawat televisi.
“Temenin gue Nile …”
“Siap Bos.”
“Gue ikut juga oi,” ucap Puspa.
Bertiga ini, semula kaget melihat tampang seram tak
bersahabat yang diperlihatkan Pak Krisman. Telinga ketiganya memerah ketika
pria yang duduk dihadapan mereka ini mengancam akan mengusir mereka dari
kampung ini bila tidak segera menghentikan kegiatan proses belajar yang digelar
sebulan bela kangan ini.
“Bapak maunya apa sih? Tanya Zuleha dengan nada tinggi.
“Kenapa ibu tanya itu sama saya. Menantang saya ha?” Tantang
Pak Krisman.
“Saya tidak menantang bapak. Saya hanya bertanya apa alasan
bapak mau mengusir kami bila tetap melanjutkan membina ibu-ibu desa yang buta
hurup untuk belajar?”
“Iya Pak. Kami ke sini bukannya tanpa izin. Kami ke sini
resmi membawa sekolahan kami. Dan diketahui Pak Kades serta masyarakat kampung
ini,” terang Puspa.
“Saya tidak mau tahu. Pokoknya, kegiatan ibu-ibu harus
dihentikan. Ditutup. Titik.” Bentak Pak Krisman sambil memukul meja nyaris
pecah.
Untunglah, saat emosi Pak Krisman sedang memuncak, datanglah
beberapa orang warga kampung, yang baru pulang dari sawah membawa pacul dan
parang.
Tanpa dikomando, mereka bersama-sama menenangkan hati Pak
Krisman yang mendidih karena terus menerus dipatahkan omongannya oleh empat
perawan.
Semula, Pak Kasim bersikeras melawan hadangan dan tangan
warga yang merangkul badannya sehing ga
tak leluasa bergerak, namun begitu melihat cangkul dan parang berserakan di
lantai ruang tamu, ia pun berubah jadi kecut.
Pak Krisman dengan berat hati menuruti keinginan warga agar
tidak menuruti rasa amarahnya dan me
neruskan perseteruannya dengan empat perawan.
“Sabar Pak,” ucap seorang warga bermata sipit seraya membawa
dan menenangkan Pak Krisman di bawah kolong rumah warga, tetangga Pak Kades.
Dasar gengsi tak mau kalah, hanya sebentar menuruti
keinginan warga, setelah itu dia, tanpa pamit lagi, langsung ngeloyor pergi
dengan sepeda motor tuanya.
Tak lama kemudian Pak Kades tiba di rumah setelah pulang
dari menghadiri pertemuan antarkades di kelurahan. Ibu Kades dan mpat perawan,
termasuk warga yang pulang paling belakangan, belum menceritakan peristiwa
barusan yang menghebohkan itu.
Malam harinya, lepas Isya’
dan makan malam, barulah Bu Kades dan empat perawan sharing dengan
masalah yang baru mereka hadapi kepada Pak Kades. Tentu dengan penyampaian
kata-kata sehalus mungkin agar yang mendengarnya tidak emosional dan justru
dapat memberikan mereka jalan keluar terbaik.
“Kalau itu ceritanya, lanjutkan saja kegiatan kalian di kampung ini. Peduli amat
sama Pak Krisman itu,” kata Pak Kades sembari menyeruput air kopi hangat yang
belum lama terhidang di atas meja tamu.
“Tapi Pak,” ujar Bu Kades, “Ibu kuatir beliau nanti
kenapa-kenapa begitu …”
“Enggak apa-apa toh Bu. BIasalah itu. Kelakuan Pak Krisman
dari dulu memang seperti itu. Ibu sendiri kan tahu …”
“Maksud ibu, apa enggak nantinya si Krisman itu membawa
warga untuk berbuat anarkis terhadap warga lain, kita misalnya, termasuklah mereka berempat
ini Pak …”
“Betul kata ibu itu, Pak.” Sahut Puspa.
“Apa kalian takut?”
“Ah tidak Pak. Kami tidak takut sama sekali,” ujar Zuleha,
“Mereka ngajak duel kita ladeni …”
“Wah-wah nak Leha. Berani amat,” ucap Bu Kades.
“Maksud kami Pak,” jelas Nile, “Kalau dengan tetap
dilangsungkannya kegiatan ini waga kampung terancam jiwanya, lebih baik kami
mundur teratur …”
“Jangan dik. Janganlah … bapak siap di bekalang kalian …”
“Ah bapak. Kayak tukang pukul saja,” seloroh Bu Kades tersenyum geli.
Empat perawan ikut tersenyum geli sambil mencicipi wajik dan
juwadah bikinan Bu Kades.
“Tapi Pak, Bu Kades. Kami jadi tak enak hati ..” Aku
Maisaroh sempat segukan saat menyeruput air teh manis hangat.
“Tak enak hati gimana?” Tanya Bu Kades.
“Gara-gara kami berempat ketenangan ibu dan Pak Kades jadi
terganggu …”
“Oooo .. tidak itu dik. Kenapa saya bilang tidak, karena
sebelum kedatangan kalian di kampung ini, an cam mengancam, berkelahi
antarwarga, bahkan saling menghilangkan nyawa orang lain, sudah biasa di sini.
Artinya, ya namanya juga orang, tak mungkinlah punya watak yang sama. Lembut
semua. Pasti ada yang galak. Sukanya marah-marah. Satu hari tak marah sakitlah
dia …”
“Kalau misalnya Pak ya, si Pak Krisman itu nanti bawa orang,
lalu mengancam dan mau ngehabisi Pak Kades, gimana?” Tanya Maisaroh.
“Tak usah kuatirlah. Kalau Pak Krisman itu masih waras
orangnya, tak mungkinlah sampai membunuh orang segala. Apa untungnya …”
“Itu kata bapak. Kata mereka, kenapa tidak.” Timpal Bu
Kades.
“Jangan berlebihanlah …”
“Takutnya memang berlebihan nantinya. Apalagi Pak Krisman
itu suka nekad orangnya, Pak.” Terang Bu Kades.
“Udah … enggak apa-apa,” kata Pak Kades. Karena sudah jam
sembilan malam, semuanya berlalu masuk kamar. Tidur.
Sementara Krisman, meski sudah berbaring di atas tempat
tidur, pikirannya masih melayang jauh ke ru mah Pak Kades. Emosinya masih belum
turun tensinya. Isterinya sudah berkali-kali menasehati agar tidak terlalu mengambil
hati atas kejadian yang baru dialaminya tadi.
“Maksud mereka baik toh, Pak.” Kata isterinya, yang juga
belum bisa tidur melihat suaminya masih melek sementara jarum jam sudah
menunjukkan ke angka dua belas.
“Baik apanya Bu.” Jawab Krisman dengan nada kesal.
“Ya, mereka kan mengajar ibu-ibu, remaja puteri dan
wanita-wanita tua di kampung kita ini. Mengajar membaca, menulis, berhitung dan macam-macamlah. Ibu kira itu
baik, Pak. Sejak mereka datang dan mengabdi I kampung kita ini banyak perubahan
yang terjadi …” Jelas Bu Krisman.
“Perubahan sih perubahan. Tapi jangan mau memaksa begitu.”
“Memaksa apa toh Pak?”
“Kamu kan tahu rental PS kita?”
“Ya tahulah Pak. Masa punya sendiri saja tidak tahu.
Emangnya ada apa Pak?”
“Kemarin itu. Ibu-ibu kampung ini diketuai Yeni ‘demo’ di
dekat pabrik kita. Nah, mereka meminta agar PS yang kita kelola ini ditutup
karena telah merusak akhlak anak-anak dan remaja kampung kita ….”
“Ah, masa toh Pak. Tak percaya aku.”
“Apa aku bohong, Bu. Masa tak percaya lagi sama suamimu ini
… Lebih percaya kepada mereka, wanita-wanita yang otak dan pikirannya sudah
dicuci oleh anak-anak kota itu …”
“Sabar toh Pak. Mungkin maksudnya baik. Maksud ibu, mungkin
saja mereka melihat permainan yang disajikan dalam PS ini mengajari anak-anak justru kurang ajar
terhadap orang lain, termasuk orang tua. Atau mungkin juga ada gambar yang
enggak-enggak. Nah, yang inilah yang harus kita ganti. Tutup akses
permainannya. Bukan ditutup bisnis rentalnya. Ini pendapat ibu, Pak.”
“Bapak tidak sependapat Bu,” kata Pak Krisman.
“Apanya Pak yang tidak sependapat?”
“Semuanya Bu. Ini
kan bisns. Murni milik kita. Duit, duitnya kita. Yang ngelola kita. Lagian,
anak-anak yang main di sini tidak ada yang rusak akhlaknya …”
“Itu kata bapak. Kata kita. Kata mereka, tidak. Maksud ibu,
menurut kita anak-anak itu main PS sambil merokok, biasa-biasa saja. Tapi
menurut ibu-ibu tadi itu, itulah awal kerusakan mereka. Yang main sini kan
bukan orang lain. Anak-anak mereka juga …”
“Soal merokok ya Bu. Anak-anak itu merokok bukan di tempat
rental PS ini saja. Cobalah ibu lihat, di teras rumah, kalangan, di sawah, mereka bebas merokok. Malah ada
yang minum lagi. Mabuk-mabukan. Jadi, kalau mereka menyalahkan bisnis rental
kita, dak benar itu, Bu.”
“Kalau menurut bapak itu benar, berarti kalau mereka main
lagi, larang aja langsung Pak. Anak-anak, boleh main di sini, tapi jangan
merokok dan minum-minum …”
“Lari semua mereka nanti, Bu …”
“Enggak usah ambil pusing, Pak. Katakan saja. Main, no
smoking and drinking. Habis perkara …”
“Kalau mereka menolak?”
“Terserah Pak. Pokoknya, main PS boleh, merokoknya tempat
lain saja. Jangan disini …”
“oooalaaaah Bu. Pusing aku ..” Ceetuk Pak Krisman sambil
memutar badannya ke kanan, coba pejamkan mata. Tidur.
***
VI
DI rental PS miliknya Pak Krisman terjadi keributan.
Beberapa anak muda terlibat perkelahian sengit me nggunakan tangan kosong, kayu
dan bahkan juga siap menghunuskan belati yang mereka sematkan di pinggang
sebelumnya.
Karena terjadi di
siang bolong, Pak Krisman lagi di sawah mengurusi ladang dan sawahnya, duel itu ter jadi tanpa
sepengetahuan warga. Beberapa di antaranya terluka parah terkena pukulan kayu
dan ban tingan kursi. Sebelumnya sempat terjadi saling lempar kursi dan bangku.
“Berhenti …!” Jerit Bu Krisman yang datang bersama Kades dan
empat perawan.
“Pak Kades tak usah ikut campurlah,” kata salah seorang
pemuda bertato di tangan dan dada.
“Saya tidak bisa membiarkan kalian merusak tempat ini.
Mengerti?” Hardik Pak Kades.
“Jadi Pak Kades menantang saya, ya?” Ujar pemuda tadi. Tanpa
basa-basi memukulkan potongan kayu ke badan Pak Kades.
Kraaak … duuup …
Sempat mengenai pergelangan tangan Pak Kades. Karena
ditangkis dan jika luput bisa remek itu pinggang saking kuatnya pukulan itu.
Empat perawan terpaksa turun tangan. Mereka membantu Pak
Kades yang mulai terdesak oleh serangan bertubi-tubi si pemuda.
Hiyaaaat …
Zuleha melepaskan tendangan geledeknya, tepat mengenai
pantat si pemuda. Terdorong ke depan, nyaris jatuh dengan kepala lecet setelah
membentur daun pintu.
“Aku peringatkan kamu. Jangan ikut campur urusan laki-laki.
Perempuan itu tempatnya di dapur. Tauuuuu …”
“Itu perempuan zaman dulu. Sekarang tidak lagi, tauuu …”
Ha ha ha ha …
“Hantam aja To,” teriak Sugeng, teman si pemuda yang baru
saja mengalahkan beberapa pemuda sebaya dengannya yang mengeroyoknya tadi.
“Ayooo. Hantam saja,” tantang Zuleha. Dia mempersilakan si pemuda yang kerap
dipanggil temannya dengan sebutan To itu menyerang lebih dulu.
“Kamu duluan,” balas si pemuda.
“Wuuu banci. Laki-laki pengecut. Menyerang duluan saja takut. Dasar penakut
..”
“Elu yang penakut.”
“Potong aja barangmu itu Mas kalau takut …”
Hua ha ha ha …
“Habis deh lu To,” Ucap Geng, teman dekatnya.
“Apa perlu gue yang potong ha …?” Olok Zuleha.
Pancingan Zuleha mengena. Si pemuda marah besar. Dia
tersinggung berat. Lupa dengan Pak Kades yang sempat tersandar dekat pintu, ia
menyerang Zuleha secara membabi buta.
Tendangan dan pukulan yang mengarah ke perut, wajah dan dada
Zuleha, berhasil dielakkan tapi tak urung membuat barang-barang di ruangan rental
PS berantakan. Mulai dari kaset, pesawat televisi, asbak rokok hingga kantin
kecil tak jauh dari pengunjung bermain game.
“Tengoklah dulu,” ucap Nile, menahan Puspa untuk ikut
menyudahi perlawanan si pemuda.
“Tapi Nil, coba kau lihat …” Maisaroh mengalihkan pandangnya
ke Zuleha yang terkesan cuma meng hindar.
“Aku yakin, Zuleha bisa mengalahkannya,” ujar Nile optimis.
Menyaksikan Zuleha mulai melakukan serangan, baik Nile
maupun Maisaroh baru bisa bernafas lega.
Tidak lagi cuma menghindar. Satu-satu tendangan dilepaskan, kali keempat baru
mengenai dada lawan.
“Aduuuh,” ringis si pemuda. Ia meringis kesakitan. Dadanya
tiba-tiba sesak, ingin muntah.
Hiyaaat …
Duuup … buk … buk …
“Eeeeukh.”
Lawan dibuat tak berdaya. Serangan terakhir Zuleha tepat
mengenai perut, leher dan selangkangan. Jatuh terjerembab. Tak bangun lagi.
“Bangun To .. bangun ..!” Kata Sugeng. Karto memang bangun,
tapi untuk berdiri dia harus dipapah oleh Sugeng.
“Lawan dia Geng, demi aku,” bisik Karto, merasa yakin
temannya itu mampu mengalahkan Zuleha.
Pak Kades tak tinggal diam. Bersama Nile, Maisaroh dan
Puspa, mereka ikut membantu Zuleha buat mengalahkan Sugeng. Sugeng yang semula
percaya diri berubah pikiran mau lari. Dia pura-pura mengeluarkan jurus yang hanya
dia sendiri yang tahu.
Ciyaaat …
Bukannya mau menyerang Zuleha, Sugeng malah kabur dari pintu
samping sambil berteriak ….”aku menang … aku menang …”
“Tak usah dikejar!” Kata Pak Kades. “Biarkan saja dia malu
sendiri …”
Sementara Sugeng melarikan diri, disusul beberapa pemuda
yang sempat main PS tadinya, Karto yang hendak kabur juga, jatuh tersungkur ke
lantai.
“Rasain lu,” ujar Maisaroh.
Melihat Pak Kades menghampirinya, Karto cepat-cepat memegang
dan mencium kaki lelaki yang berdiri lurus di depannya itu.
“Maafakan saya, Pak.” Rengek Karto berulangkali.
Dia mencoba berdiri. Baru bisa setelah dibantu Pak Kades.
Kepada empat perawan, Karto berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya.
Di pematang sawah …
“Apa?” Pak Krisman kaget bukan kepalang. Dia bangkit dari
tempat duduknya di sebah gubuk dekat pematang sawah.
“Siapa mereka Pak Dirman?” Tanya Pak Krisman sambil
mengepalkan tinjunya.
“Rombongan Karto itulah Pak Kris,” jelas Pak Dirman.
“Belum tahu dia dengan Pak Krisman,” kata Pak Krisman dengan
nada geram, kesal dan dendam kesumat.
“Anu Pak. Bukan mereka, Pak. Tapi bapak yang belum tahu,”
terang Pak Dirman.
“Diam!” Sergah Pak Krisman.
“Ikut aku sekarang …!”
“Kemana Pak?”
“Ke tempat rental.”
Pak Kades, empat perawan dan Bu Krisman sama-sama membersihkan
dan merapikan barang-barang yang pecah dan berserakan di lantai ruangan rental
PS. Di dalam rumah sederhana ini sebanyak enam pesawat televisi berjejer
lengkap dengan peralatan PS, kursi, tempat pembayaran dan kantin mini.
Barang yang pecah seperti gelas, piring dan sendok yang
patah mematah dimasukkan ke dalam kotak sampah besar di luar rumah. Sedangkan
yang tercecer dirapikan kembali dan diletakkan secara berurut di tempatnya
semula.
Tak lama kemudian, saat bersih-bersih hampir selesai,
datanglah Pak Krisman dengan tergopoh-gopoh turun dari motornya. Wajahnya
merah, langkahnya lurus ke depan. Yang pertama kali dia temui adalah isteri
tercinta.
“Buu .. ibu …” Panggilnya dari teras markas PS. Dengan
langkah terburu-buru, Bu Krisman menemui suaminya.
“Ambilkan bapak parang, Bu.” Pintanya dengan nada tinggi.
“Buat apa, Pak?”
“Ambilkan saja cepat …!”
Melihat gelagat yang kurang baik di teras, Pak Kades dan
empat perawan menyusul Bu Krisman yang membawa parang dari ruang belakang.
Begitu parang berkarat itu hendak diserahkan dan diambil Pak Krisman, Pak Kades
mengambilnya lebih dulu.
“Jangan, Pak.” Ucap Pak Kades seraya mengambil dan
menyerahkan parang berusia tua itu ke Zuleha unuk diamankan.
“Mau apa kalian, haaa?” Bentak Pak Krisman dengan nada
tinggi setelah melihat empat perawan senyum-senyum simpul.
“Tenang, Pak Krisman. Mari kita duduk dulu …” Kata Pak
Kades.
Pak Krisman yang tadinya sempat duduk di teras, masuk gedung
PS, duduk berebelahan dengan isteri nya. Tak lama dia duduk, karena beberapa
saat kemudian Bu Krisman sudah menyiapkan air teh dan ko pi di kantin. Dibantu
empat perawan, hidangan air hangat plus kerupuk jangek, semakin mencairkan
pertemuan dadakan ini.
“Kami hanya membantu ibu, Pak.” Ucap Pak Kades sesaat
setelah hidangan tersaji di atas meja.
“Betul kata Pak Kades itu, Pak.” Jelas Bu Krisman pada
suaminya, tampak mulai bisa mengontrol emosinya lagi.
Bu Krisman menceritakan secara garis besarnya kejadian di
tempat rental PS-nya. Hanya karena dipicu saling ejek dan sindir-sindiran saat
tanding game, yang kalah tak terima kekalahannya, lalu mengamuk dan terjadilah
perkelahian seru itu.
“Di sini tak ada siapa-siapa, Pak. Akhirnya saya minta
tolong sama Pak Kades … “ Bu Krisman menutup ceritanya.
“Saya bersama empat gadis cantik jelita ini cepat-cepat
kemari dan alhamdulillah keributan bisa diatasi dengan baik dan cepat …” Terang
Pak Kades.
“Betul Pak Krisman,” sahut Zuleha, “Kami betul-betul ikhlas
membantu. Silakan bapak benci kami. Mema rahi kami tapi tolong bapak
pertimbangkan juga akibat yang bakal terjadi bila rental PS ini dibiarkan tanpa
pengawasan …”
“Maksud kami, Pak,” kata Puspa, “Jika bapak minta bantuan
kami untuk membenahi rental PS ini, kami siap …”
“Semuanya itu terserah sama bapaklah,” kata Nile, “Yang
penting kami benar-benar tulus ingin mem bantu warga kampung ini, termasuk
membenahi apa saja sesuai kemampuan kami …”
“Jadi, sekali lagi Pak. Masalah yang menimpa rental PS bapak
ini sudah selesai. Sepertinya tak ada yang rusak parah. Cuma gelas dan beberapa
barang pecah belah yang pecah dan jatuh berserakan. Soal Karto dan Sugeng, biar
saya yang menyelesaikan. Tapi kalau Pak Krisman mau ikut saya menyelesaikannya,
tentu saya sangat senang mendengarnya.”
“Gimana toh Pak. Ngomonglah gitu. Jangan diam saja,” sindir
isterinya.
“Nanti saja ngomongnya taka pa-apa, Pak Kris,” ujar Pak
Kades, “Istirahatlah dulu, dan Bu Pak, kami juga mohon diri …”
“Assalamualaikum …”
“Waalaikum salam warohamtullohi wabarokatuh …”
Karena tiba-tiba pusing, Pak Krisman minta ditemani
isterinya masuk kamar. Paling tidak, bangun tidur kelak, rasa pusingnya hilang,
badan terasa segar kembali.
***
VII
KETIKA pulang dari melihat warganya panen padi di areal
persawahan sore hari, dengan mengendarai sepeda motor seorang diri, Pak Kades
bermaksd melihat saluran irigasi. Namun, ketika dia hendak turun dari motor,
sebilah kayu menghantam punggungnya.
Braaak …
“Aduuh ..!”
Pak Kades meringis kesakitan. Dia jungkir balik menghindari
serangan mendadak dari arah belakang itu.
“Rasakan ini …!” Teriak Karto.
Dia tendang kepala Pak Kades hingga jatuh berguling di
pinggir irigasi. Karto dan Sugeng mendekatinya.
“Bagaimana Pak?” Tanya Sugeng, serta merta menghujani muka
Pak Kades dengan pukulan.
“Uuuuukh …!”
Pak Kades menceburkan dirinya ke dalam air. Lama juga ia
tidak muncul ke permukaan. Ternyata ia nongol dekat pos jaga irigasi. Dia
mencoba naik dan ternyata bisa.
“Itu dia, Geng …!” Kata tiga teman Sugeng dan Karto.
Mereka mengejar Pak Kades, yang meski sempoyongan, masih
kuat berlari, walau tak secepat biasanya. Dia susuri jalan setapak ke pemukiman
warga terdekat.
Karto cs, dengan menggunakan sepeda motor trail, terus
mengejar Pak Kades. Sempat saling tabrak
dan jatuh, mereka berusaha menghabisi Pak Kades. Menurut Karto, Pak
Kades telah mempermalukan dirinya di hadapan empat perawan, dan harus menerima
balasan yang setimpal.
“Bila perlu kita telanjangi beliau itu,” kata Karto dalam
satu pertemuan dengan rekan-rekannya sebelum merencanakan mencegat Pak Kades di
tengah jalan.
“Jangan cuma ditelanjangi To, tapi diberi pelajaran …” ujar
Sugeng.
“Dibunuh?”
“Itu pilhan yang terakhir,” jelas Sugeng.
“Diculik?”
Sugeng mengangguk.
“Kita culik dia, dan setelah itu kita siksa dia … ha ha ha
ha …”
“Biar mereka tahu siapa kita,” kata Karto tertawa ngakak.
“Dan bila rencana kita ini berhasil, kita bakal disegani
penduduk desa. Ha ha ha ha … “Sugeng menepuk-nepuk dadanya yang mengimpikan
jadi orang kuat dan kebal hukum di kampungnya.
Terwujudkah impian itu?
Sementara ini, iya. Sebab, penghuni rumah yang diharapkan
warga bisa menolongnya, ternyata lagi ber kunjung ke kampung sebelah. Dengan
menyisakan nafas yang sudah tersengal-sengal, membuat Karto leluasa
memukulinya. Menyiksanya tanpa ampun.
Praktis, Pak Kades hanya bisa bertahan. Membiarkan tubuhnya
dipukuli, dan banyak mengeluarkan da rah segar. Untunglah, salah seorang warga
yang sempat menyaksikan kejadian itu dari kejauhan, tanpa sepengetahuan Karto
cs, bergegas lari menemui Bu Kades.
Karena masih khusyuk menunaikan ibadah salat magrib, saksi
penting Pak Kades ini, menunggu di teras. Baru setelah Bu Kades dan empat
perawan merapikan peralatan salat, dia bergegas masuk dan sempat bikin kaget Bu
Kades.
“Pak Andi …?”
“Bu … Bu … “Pak Andi berat berucapm seperti orang yang lagi
haus dan sakit tenggorokan.
“Minumlah dulu Pak.” Zuleha memberikan segelas air putih
kepada Pak Andi.
Tak begitu banyak dia minum, walau sebenarnya dia kehausan.
Tak sampai separo. Dia masih terpatah-patah bercerita, sehingga membikin
bingung orang yang mendengarnya.
“Tenang Pak. Tarik nafas ..” Bimbing Nile.
Turun naik nafas, ditarik pelan. Dikipasi pakai handuk
kecil. Enam sampai delapan kali. Lepas itu Pak Andi baru mulai tenang. Dia
tidak panik lagi.
“Sekarang coba bapak ceritakan,” pinta Puspa.
“Pak Kades Bu. Tolonglah dia …!” Pak Andi tiba-tiba menangis
sesunggukan.
Bu Kades, setelah mendengar suaminya dikeroyok sekelompok
orang, lunglai seketika. Dia jatuh pingsan di pelukan Maisaroh. Saat itu juga
dibaringkan di kamar tidurnya.
Sedangkan Zuleha, Puspa dan Nile, Pak Andi bersama warga
kampung, bergegas melacak keberadaan Pak Kades. Ada yang berjalan kaki,
bersepeda, bahkan menggunakan sepeda motor.
Karena malam, lampu penerangan masih terbatas, warga
terpaksa menggunakan lampu senter dan ob or. Membagi tiga posisi; tengah, kiri
dan kanan. Setiap posisi terdiri dari enam orang dipimpin kepala regu. Nile
sendiri satu regu dengan Pak Andi dan dua rekannya Puspa serta Zuleha.
“Awas Nile … air itu becek,” bisik Zuleha. Kalau tetap
dipaksakan lewat jalan itu, tidak terpercik becek, bisa-bisa jatuh terpeleset.
Nile, entah bagaimana terpaksa berhenti sejenak. Lewat jalan
becek atau memutar. Kalau memutar berarti melewati semak belukar. Lecet dan
gatal-gatal.
“Gitu aja bingung …” Celetuk Puspa.
“Lompat aja …” Saran Zuleha.
Huuuup …
Mundur sedikit, berlari sedikit, baru melompat.Berhasil,
meski nyaris jatuh kalau tidak segera
dipegang tangannya oleh Zuleha.
Hampir setengah jam pencarian dilakukan. Belum ada
tanda-tanda Pak Kades ditemukan. Setiap semak diperiksa, setiap pohon didekati,
juga aliran air sungai.
Jasad Pak Kades ditemukan setengah jam kemudian. Penemunya
adalah Pak Krisman dan warga lainnya.
“Cepat angkat …!” Teriak Pak Krisman.
Zuleha dan kedua rekannya, meski dari kelompok regu berbeda,
baru datang setelah jasad Pak Kades ditemukan, orang pertama yang ikut membopong.
Namun beberapa warga mengambil alih, Zuleha cs hanya
mengikuti dari belakang. Malam itu juga Pak Kades dilarikan ke rumah sakit
terdekat untuk diobati.
Karena hampir menjelang tengah malam, atas saran Pak
Krisman, Zuleha, Nile dan Puspa memilih pula ng
ke rumah. Selain lebih aman, sekaligus ikut menemani Maisaroh menjaga Bu
Kades.
“Mudah-mudahan saja Ibu tak kenapa-kenapa,” ucap Zuleha
dengan suara nyaris tak terdengar.
“Mudah-mudahan sajalah,” sahut Nile.
“Cepat sedikit yuuuk …!”
Puspa merasa tak enak hati. Bukan sama Pak Kades saja, tapi
Bu Kades yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya.
“Pikiranku sejak tadi macam-macam aja,” aku Puspa terus
terang.
“Sudah .. ‘Ntar lagi sampai,” kata Nile.
“Cukup Bu Kades aja Pus. Supaya enggak epot kita. Soalnya,
kalau elu sakit suka cerewet,” ledek Zuleha.
Puspa geram. Dia cubit pipi Zuleha. Dibalas Zuleha dengan
mencubit pahanya.
“Adooow …”
Sama-sama mengaduh kesakitan.
“Ngapa ribut-ribut ini …!”
Zuleha beserta dua rekannya terkejut saat tahu Bu Kades menyapa
mereka dari teras. Di sebelah kirinya berdiri tersenyum ceria, siapa lagi kalau
bukan Maisaroh.
“Ibu enggak apa-apa?”
Ketiganya bergantian memeluk Bu Kades. Sambil membimbingnya
masuk, Zuleha menceritakan keadaan Pak Kades sebelum dilarikan ke rumah sakit
terdekat.
“Mudah-mudahan bapak tak pa-apa Bu,” ucap Nile sesunggukan.
Empat perawan merasa kehadiran mereka di kampung ini sudah
mengganggu kenyamanan Bu dan Pak Kades beserta warga kampung. Banyak kejadian
yang sebelumnya tak pernah terjadi justru terjadi bela kangan ini.
“Kami minta maaf Bu,” kata Puspa dan Zuleha.
Bu Kades hanya tersenyum.
“Bapak yang dirawat, kenapa kalian pada minta maaf,” jawab
Bu Kades.
“Bu …” Kata Maisaroh lirih.
“Sudah .. ibu sudah tahu apa yang ada di benak kalian
berempat. Ibu terus terang tak berpikir sampai ke sana. Kalian datang ke
kampung terpencil ini saja ibu sudah senng. Apalagi kalian mengabdi disini
tanpa sepeser pun digaji. Ibu malah malu kepada kalian. Rasanya tak sepadan
kalau cuma diberi tempat tidur dan makan lima kali sehari semalam …”
“Ah ibu. Kok gitu pikirannya sama kita,” celetuk Zuleha.
Sambil minta dipijat punggungnya oleh Nile, Maisaroh dan
Puspa, Bu Kades mengatakan, kampung tempat tinggal mereka ini perlu dilihat
oleh orang kota.
“Agar kami-kami ini tidak merasa terpencil. Bukan bagian
dari kalian. Terus terang, saat kalian kemari ada yang berbeda pada diri kalian
dan kami …”
“Apa itu, Bu?” Tanya Zuleha.
“Kalian sepertinya tak pernah merasakan bagaimana beratnya mencangkul
sawah, memanen padi dan menanamnya. Dari pagi kami turun ke sawah, pulang
setelah tengah hari, kadang magrib baru sampai di rumah.”
Puspa ketawa.
“Benar kata ibu. Tapi terus terang ya Bu. Kami, jika diberi
kesempatan mencangkul, pasti bisa,” terang Nile.
“Ah lu Nil. Jangan kasih, Bu. ‘Ntar pingsan dia,” sahut
Puspa.
“Nafsunya aja besar, tenaganya kurang,” timpal Maisaroh.
“Ya taka pa-apa juga,” kata Bu Kades, “Siapa saja bisa
mencangkul. Enggak ada yang melarang, asalkan disesuaikan dengan kemampuan …”
“Jadi Nil,” jelas Puspa, “Kalu elu nyangkul, saranku, jangan
lebih dari lima kali …”
“Kenapa memangnya?”
“Klepek-klepek nantinya … Itu Bu, pingsan …” ledek Maisaroh.
Ha ha ha ha …
“Ya enggaklah anak-anak ibu,” jelas Bu Kades, “ Kalau capek
ya berhenti. Istirahat dulu. Minum. Setelah enggak capek lagi, teruskan lagi
nyangkulnya. Kalau sudah capek betul, ya sudah. Stoplah nyangkulnya. Jangan
dipaksakan …”
***
VIII
RUMAH sakit terasa
ramai saat Bu Kades, Zuleha, dan kawan-kawan membesuk Pak Kades. Sesekali minta
disuapi makan bubur, Pak Kades yang kepalanya masih diperban putih itu, dengan
suara lemah masih sempat berguyon …
“Bu. Kalau kamu ke sini terus, bapak bisa awet muda lho …”
Hua ha ha ha …
“Dan juga bisa cepat sembuh ya Pak.” Sahut Zuleha yang ikut
membantu Bu Kades menyuapi suaminya.
“Tapi Bu,” kata Pak Kades, sambil meringis kesakitan di
seputar perut dan pinggang, “Cuma ada satu
yang kurang.”
“Oh ya. Apa itu Pak Kades?” Tanya Puspa, bersama Nile dan
Maisaroh, memijat pelan kedua kaki Pak Kades.
“Belum ada yang kawin …”
Ha ha ha ha …
“Ah bapak ini. Ada-ada saja. Wong masih muda. Masih sekolah,
kenapa disuruh kawin segala. Tul kan Pus, Nil, Mai dan Leha?”
Keempatnya cuma tersenyum lebar.
“Maksud bapak, kalau sudah waktunya ya kawin. Dan kalau
kawin jangan lupa mengundang bapak dan ibu ini …”
“Ooooo gitu …” Ujar Zuleha.
“Kalau itu insya Allah Pak Kades. Jangan kuatir. Kami
siapkan pesta besar dan jamuan makan bersama untuk seluruh warga kampung ini,”
kata Puspa.
“Lho Pus, setahuku rumahmu itu kecil,” timpal Maisaroh,
“Kalau sekampung ini elu undang, mereka elu mau tarok dimana.”
“Di bawah kolong,” kata Nile.
Ha ha ha ha …
“Ada-ada saja kalian ini,” ucap Bu Kades sambil memberi minum
suaminya dengan empat kali sendok makan.
“Tapi bapak senang lho,” jawab Pak Kades. Ingin rasanya duduk
di atas ranjang, tapi keburu dicegah Bu Kades, agar tidak bertambah rasa
sakitnya.
“Senangnya dimana Pak?” Tanya Zuleha yang menggeliat manja
di pundak Bu Kades.
“Kalian semua orang-orang yang periang.”
“Ah bapak. Muji terus, tak enaklah kami Pak Kades sama …”
“Sama siapa?”
“Bu Kades …”
Ha ha ha ha …
“Tapi terus terang, bapak senang dengan kalian yang periang
ini, agar sakit bapak ini lekas sembuh dan bapak bisa pulang ke rumah berkumpul
bersama kalian …”
He he he he …
“Tapi Pak Kades,” nyeletuklah Maisaroh, “Kalau periang
terus, ‘ntar kata orang-orang itu anak strip.”
“Apa itu strip?”
“Enggak normal Pak Kades,” jelas Maisaroh seraya memiringkan
jari telunjukya di kening.
Ha ha ha ha …
“Maksud kami Pak Kades,” sahut Nile, “Sesekali boleh kan
enggak riang …”
Hu hu huh u …
“Ya tentu Nil,” jawab Pak Kades dengan suara mulai melemah.
Hari beranjak siang. Pak Kades diminta juru rawat
beristirahat setelah meminum obat yang telah diresepkan dokter rumah sakit.
Lepas itu tertidur pulas sementara Bu Kades dan empat perawan beranjak keluar
ruangan untuk beristirahat di ruang tunggu keluarga pasien.
Kepada empat perawan, Bu Kades mempersilakan mereka pulang
lebih dulu dengan diantar beberapa warga kampung yang sejak malam kejadian
masih menginap di rumah sakit.
Namun empat perawan secara halus menolaknya dengan alasan
hati dan pikiran mereka belum tenang sebelum Pak Kades diputuskan oleh dokter
yang merawatnya boleh pulang ke rumah.
“Nanti kalian sakit,” ucap Bu Kades,” Ibu kuatir. Cukup
bapak saja yang sakit. Kalian berempat janganlah.”
“Enggaklah Bu,” kata Nile, “Mudah-mudahan kami tidak sakit.”
“Kalau ternyata sakit, jangan salahkan ibu ya. Salahkan sama
penyakitnya ..”
Hu hu huh u …
“Ibu ternyata humoris juga …”
“Selama ini atau baru sekarang?”
“Dua-duanya Bu,” jawab empat perawan serempak.
Ha ha ha ha …
“Assalamualaikum …”
“Waalaikum salam …”
Pak Krisman dan isteri baru tiba di rumah sakit. Tersenyum
lebar ketika diberitahu kondisi Pak Kades yang berangsur-angsur mulai membaik.
“Beliau sudah bisa makan, walau baru sebatas bubur,” terang
Bu Kades.
“Tapi enggak apa-apa kan Bu?” Tanya Bu Krisman dengan nada
kuatir.
“Alhamdulillah tidak apa-apa,” terang Bu Kades.
Sudah dua hari Pak Kades dirawat di rumah sakit. Dia banyak
mengeluarkan darah sehingga harus menjalani transfusi darah dengan cara
mengambil darah warga yang cocok dengan darahnya; AB.
Hampir seluruh badan Pak Kades mengalami memar, luka lebam,
besar dan kecil. Sempat tak sadarkan diri semalaman. Beberapa warga kuatir Pak
Kades menghembuskan nafas terakhirnya dengan cara yang tragis.
Tapi, setelah melewati detik-detik menegangkan, bahkan
sempat degup jantungnya tak terdengar, saat kritis pun berhasil dilewati. Ada
beberapa warga yang mulai menitikkan air mata, membaca surah yasin dan berdoa
demi kesembuhan Pak Kades.
Tak satu pun warga yang bermuka ceria. Semua pada sedih
dengan tatapan mata sendu dan kosong. Mengisi waktu kosong dan bosan menunggu,
beberapa lelaki tampak memilih duduk lesehan dengan membentang tikar di ruang
tunggu.
Suasana berubah cair tatkala Bu Kades dan empat perawan tiba
di rumah sakit. Mengetahui Pak Kades sudah bisa makan dan bicara warga pun
bersuka cita. Mereka sudah bisa tertawa. Malah asyik berke lakar. Atas
permintaan Bu Kades, sebagian dari mereka sudah pulang ke rumah masing-masing.
“Lepas zuhur Pak Krisman sudah bisa tengok bapak, insya
Allah.” Kata Bu Kades pada Pak Krisman, sudah tak sabar untuk bertemu empat mata dengan koleganya itu.
Hubungan Pak Kades dan Pak Krisman selama ini baik-baik
saja. Keduanya sebenarnya bahu membahu membangun desa dengan cara
masing-masing. Kalau Pak Kades tiada henti selalu dekat dengan warga nya tanpa
pandang siapa mereka, Pak Krisman justru lewat usaha yang ditekuninya.
Selain banyak memilik sawah dan ladang dengan mempekerjakan
beberapa warga untuk mengurusi kebunnya yang luas, Pak Krisman juga punya
bisnis sampingan. Mulai dari rental PS, panglong kayu, hingga tambak ikan.
Semua usaha yang ia jalani sejak masih bujang itu, dari hari
ke hari terus berkembang. Maju pesat. Na mun ia tak lupa memberi sedekah dan
mengeluarkan infak sera zakat kepada warga kampung yang tak mampu dan sangat
membutuhkan bantuan.
Warga kampung juga sudah tahu sama tahu, di balik
kedermawanannya Pak Krisman tergolong orang yang cepat naik darah. Pemarah.
Kalau dia marah warga sudah sepakat tidak akan meladeninya. Biasa nya, setelah
berlangsung beberapa menit, amarahnya reda.
Orangnya blak-blakan. Tidak suka berbohong, jujur dan
pintar. Pak Krisman cukup disegani warga selain Pak Kades sendiri. Selain hidup
berkecukupan, Pak Krisman juga sudah tidak muda lagi. Usianya sudah berkepala
lima dengan anak yang sudah beranjak dewasa.
Dia tidak menjaga jarak dengan warga yang di bawah dan di
atas usianya. Kepada yang muda dia justru men-support dengan selalu memberi
arahan dan bimbingan agar bisa bersaing dan cekatan dalam menjalani kehidupan
ini.
Kepada yang tua-tua, Pak Krisman selalu mengingatkan untuk
memanfaatkan sisa umur dengan berbuat yang bermanfaat bagi sesama tanpa pilih kasih.
Di berbagai kesempatan ia selalu menekankan betapa
pentingnya menjaga kesehatan. Tidak menutup diri, apalagi sampai harus
mengasingkan diri. Usia boleh tua, jiwa tetaplah muda.
“Silakan Bu …”
Seorang juru rawat mempersilakan Bu Kades masuk setelah
sebelumnya sang suami berpesan agar dia ikut menemaninya di kamar. Pak Kades
sudah bangun. Tak enak di kamar berbaring sendirian, sedangkan di luar warga
menunggunya sampai terkantuk-kantuk.
“Pak,” ucap Bu Kades yang mengkuatirkan penyakit suaminya
kambuh lagi.
“Ingin dipeluk ibu ah,” kata Pak Kades, meminta isterinya
mencium hangat kedua pipinya.
“Ah bapak, ibu kira apa.” Balas si isteri tersipu malu.
Bukan kepada siapa-siapa, tapi kepada juru rawat yang kut tersipu berdiri di
sebelahnya.
“Bapak ini lucu orangnya ya Bu,” kata si juru rawat. Dia
membuka pintu dan memberitahu Pak Krisman dan isterinya bahwa waktu besuk
kurang dari dua menit lagi.
“Sabar ya Pak.” Kata si juru rawat, berlalu pergi melihat
pasien yang dirawat di ruang sebelah.
Dari balik pintu, dengan separonya berkaca tembus pandang,
Pak Krisman dan isterinya ikut tersenyum geli melihat Bu Kades merasa geli
dipeluk suaminya.
“Pak. Tuh lihat siapa?” Bu Kades menunjuk ke pintu.
Pak Kades tertawa.
“Suruh saja mereka masuk, Bu.” Pinta Pak Kades sambil
melepaskan pelukan hangatnya dari isteri tercinta.
Kedatangan Pak Krisman dan isteri disambut gembira oleh Pak
Kades. Setelah sama-sama berpelukan, kedua lelaki yang cukup disegani waga
kampung ini, meluapkan kegembiraan dengan sama-sama melepas tawa, bercanda dan
berbagi cerita.
Siapapun mereka yang melihatnya pada siang menjelang sore
hari itu, pasti ikut tertawa karena antara Pak Kades dan Pak Krisman, seperti
dua sahabat karib yang sudah lama tak pernah bersua.
“Ketika bersua, lupa segala-segalanya,” kata Zuleha dari
balik pintu, bersama ketiga rekannya. Mereka tak tahu kalau di belakang mereka
berdiri si juru rawat yang manis wajahnya kayak gula palu.
***
IX
“MARI ibu-ibu sekalian,” kata Zuleha, “Sekarang kita
memasuki pelajaran olahraga. Tahu Bu, apa itu olah raga?”
“Tahuuu,” jawab para ibu serempak.
“Kalau tahu, sekarang tanya dulu ya,” ujar Zulha, berjalan
dari depan ke belakang, dan dari belakang ke depan lagi.
“Ahaaa … Coba Vanda …”
“Siap Bu Guru,” jawab Vanda. Maju ke depan, menghadapkan
muka ke siswa yang duduk bersila di tanah lapang.
“Apa itu olah raga Vanda?”
“Tunggat - tunggit Bu Guru …”
Hua ha ha ha …
“Kenapa tunggat- tunggit?”
“Vanda bisa nungggit Bu,” teriak Tere.
“Betul Bu,” sahut Ningsih, “Kalau masak suka nunggit ..”
Ha ha ha ha …
“Jawab Vanda, apa?” Tanya Zuleha.
“Kenapa Vanda bilang olah raga itu tunggat-tunggit Bu Guru,
karena tidak ke bawah, ke atas. Tidak ke depan, ya ke belakang.”
“Contohnya?”
“Kita berjalan. Jalan pagi ya Bu. Kalau tidak maju ke depan,
pasti mundur ke belakang ..”
“Kalau ke samping, Vanda?”
“Bukan berjalan Bu, tapi bergeser …”
Plak .. pak … plak .. pak …
Setelah Vanda, giliran berikutnya Leni. Ketika Leni maju ke depan, celana trainingnya
kedodoran. Semua temannya tertawa. Leni jadi malu sendiri. Sudah lusuh,
kebesaran lagi. Tak urung jadi bahan ledekan teman sekelasnya.
Meresa diledeki, Leni tak lantas keki. Tapi masalahnya itu
celana berubah lagi. Setiap kali Leni hendak bicara, kedodoran lagi. Begitulah
seterusnya berulangkali. Malu setengah mati. Untunglah Zuleha membawa tali
plastik.
“Coba Len, ikat dengan ini.” Kata Zuleha. Membantu Leni
melingkarkan tali plastik itu ke pinggang Leni, diikat menyerupai tali
pinggang.
“Gimana Len?”
“Lumayan Bu. Enggak kendor lagi,” aku Leni. Celana tak
kedodoran lagi, jalan terasa lapang.
“Gimana ibu-ibu?”
“Siiip …” Jawab siswa
serentak.
“Nah, sekarang coba Leni jelaskan ke ibu-ibu dan teman-temn.
Apa itu olah raga?”
Leni berpikir sebentar.
“Olah raga itu adalah membangunkan yang tertidur …”
Hua ha ha ha …
“Pengalaman Bu,” celetuk Lis.
“Pengalaman apa Bu Lis?” Tanya Zuleha.
“Kalau pagi loyo, digosok-gosok, bangun dia, Bu.”
Ha ha ha ha …
“Apanya yang bangun Bu Lis?” Pancing Yeni.
“Ada deh …”
Ha ha ha ha …
Setelah siswa diam, Zuleha bertanya lagi …
“Apa maksud dari membangkitkan yang tertidur?”
“Contoh langsung saja ya Bu. Kalau badan kita terasa lesu,
coba olah raga. Jalan sore-sore misalnya, pasti tak lesu lagi. Langsung
semangatlah kita …”
“Tapi Bu,” potong Lis, “Kalau sudah dari sononya loyo, mau
apa lagi ya ibu-ibu …”
“Buang saja,” jawab ibu-ibu serempak.
“Apanya yang dibuang ibu-ibu?”
“Barang si lanang Bu Guruuu …”
Hua hua ha ha …
Hampir lima menit para ibu tertawa. Saling enaknya ketawa,
ada yang sampai mengeluarkan air liur, air mata bukan menangis. Bahkan ada juga
yang sambil meraba perutnya karena terguncang-guncang aki bat banyak ketawa.
Yang lebih seru lagi ada sebagian ibu yang saling senggol,
beradu paha, saling pukul bahu, berpelukan karena sama sekali tidak menyangka
akan tertawa lama hari menjelang siang ini.
“Sudah ketawanya ibu-ibu?”
“Belum Bu. Sedikit lagi,” teriak ibu bertubuh mungil saling
menepuk dada dengan teman sebaya di sebelahnya. Tak hirau kalau ibu-ibu yang lain
senyum lucu melihat keduanya belum juga hilang ketawanya.
“Sudah Bu?”
“Sudah Bu Guruu .. Puas,” sahut Yeni.
“Sekarang kita mulai berolahraga. Tahu olah raga apa?”
“Belum Bu Guru ..”
“Nah, sekarang saya kasih tahu ya ibu-ibu,” kata Zuleha,
lalu mengambil enam buah karung dan mem perlihatkannya kepada para siswa.
“Tahu untuk apa karung ini?”
“Tahuuu …”
“Coba Leni, untuk apa?”
“Untuk ngisi beras, Bu Guruuu …”
Hua ha ha ha …
“Untuk wadah dedak, Bu Guru,” sahut Ningsih tak mau
ketinggalan.
“Bukan Bu Guru, “kata Tere, “untuk wadah tanah pot …”
Ha ha ha ha …
“Jadi ibu-ibu,” kata Zuleha, setelah siswa kembali diam.
“Ini untuk olah raga. Kita akan melakukan lomba lari karung …”
“Horeee ..” Teriak siswa sambil bertepuk tangan menyanyikan
‘Lari Karung ….’
“Yuk kita
lari karung
Jangan
diam jangan termenung
Daripada pikiran bingung
Sama-sama bermain karung …
Plak
… pak … plak .. pak …
Yuk
kita lari karung
Awas jangan sampai salah hitung
Daripada luntang-lantung
Mari kita bermain karung …
Plak … pak … plak … pak …
Yuk kita lari karung
Siapa tahu
bisa beruntung
Hati
senang tidak murung
Mari
kita bermain karung …
Plak … pak … plak .. pak …
“Yeni, Lis, Vanda, Leni, Ningsih dan Tere .. maju ke depan,”
panggil Bu Guru Zuleha.
Sesuai petunjuk yang diberikan Zuleha, satu persatu
mengambil posisi sesuai nomor urutnya. Kemudian
masing-masing mengenakan karung. Kaki dimasukkan sementara
tangan memegang pangkal, permu kaan karung.
“Oke ya … Siap?”
“Siap Bu Guru …”
Priiiit … priiit …
“Mulai …” Teriak Zuleha.
Bisa dibayangkan betapa serunya lomba lari karung ini. Semua
siswa pada meledeki peserta lomba
sehingga suasana
berubah ceria. Tak ada rasa lelah, padahal hampir setengah hari para ibu ini belajar
di alam terbuka. Mulai dari pagi dengan didahului pelajaran baris-berbaris,
dilanjutkan mengenal alam dan
lingkungan sekitar,
diakhiri pelajaran olah raga.
Yeni, misalnya. Ia berkali-kali jatuh. Kali pertama jatuh
biasa. Kedua juga sama. Jatuh kali yang ketiga
susah bangun lagi.
Baru bangun setelah dibantu bangun oleh Zuleha.
Lis apalagi. Baru akan berlari. Karena kedua kaki susah
digerakkan, jatuh tersungkur. Anak-anak yang
menyaksikan ibu mereka dari pinggir lapangan tertawa
terpingkal-pingkal melihat mukanya Lis ber lepotan dengan tanah.
“Kasihan ya,” kata si anak tak berbaju dan mengenakan alas
kaki dengan mata menyipit karena ketawa.
Lis terpaksa menepi sejenak. Dia, setelah melepas karung,
membersihkan mukanya dengan air sumur
warga yang rumahnya tak jauh dari tempat siswa berolah raga.
Karena tebalnya tanah yang menempel , Lis sampai tiga kali
mencuci mukanya. Setelah benar-benar
bersih, dia baru
kembali melanjutkan lomba lari karung. Tentu saja, karena semua teman-temannya
hampir sampai di garis finish, jadi bahan olok-olokan.
“Ratu kesiangan,” ledek beberapa siswa yang duduk di
belakang.
“Inilah dia pemenangnya … “Teriak yang lain.
Hua ha ha ha …
Karena terlalu bercepat-cepat, dan malu dioloki
teman-temannya, Lis melepas itu karung, berlari kencang sampai menyentuh garis finish.
Lain lagi dengan Vanda. Sempat diprotes teman-temannya yang
lain, karena beberapa meter dari garis
start dia berlari tanpa karung. Bukan disengaja, tapi lupa.
Pasalnya, setelah beberapa kali mencoba
memasukkan kedua kakinya ke dalam karung, tak merasa nyaman.
Sesaat setelah mengeluarkan kedua kakinya dari dalam karung,
belum sempat memasukkan kembali
kakinya ke karung, pluit tanda start sudah ditiup. Dia baru
sadar lupa memasukkan kakinya, lalu
bergegas mundur, kembali ke garis start.
“Hei Van,” olok teman-temannya, “Kaki kamu dikemanakan …”
“Dijual ..” Jerit siswa berkulit hitam legam.
“Bukan dijual,” sahut siswa yang lain, “Tapi disimpan dalam
kulkas yang baru dibeli kemarin sehabis panen …”
Ha ha ha ha …
Leni lain lagi. Meki sangat lambat, dia sampai juga di garis
finish. Cara yang dia tempuh sangat unik.
Melompat ke depan, kemudian berhenti. Melompat lagi,
berhenti. Begitulah seterusnya sampai selesai.
Ketika mencapai garis finish, dia ditepuki teman-temannya
yang ikut lomba dan telah lebih dulu
menyelesaikan lomba.
Mereka salut pada Leni. Walau lambat, tak pernah jatuh seperti yang
lain.
Bagaimana dengan Ningsih dan Tere?
Keduanya memang cepat. Saling berlomba siapa yang paling
depan. Kadang Tere, lain waktu Ningsih.
Hasilnya, Ningsihlah yang keluar sebagai pemenang lomba.
Bukan perkara juara dan tidak juaranya yang membuat lucu.
Tapi, cara mereka mencapai hasil terbaik
Itu yang bikin
teman-temannya pada ketawa geli. Betapa tidak, sempat jatuh bersamaan, tukar
karung
dan beradu pantat serta kepala.
Kok bisa?
Ya, bisalah. Karena
jarak antara keduanya amat dekat. Andai satu jatuh, bisa kesenggol dan membuat
yang lain jatuh. Atau sama-sama jatuh karena dekat, bisa saling
tindih atau bersenggolan, bahkan
beradu ‘buntut.’
***
X
“AHA … Itu dia orang kota itu …!” Kata Sugeng menunjuk
Zuleha yang hendak berkemas pulang setelah mengajari siswanya pelajaran olah
raga siang hari ini.
“Kita sikat saja sekarang,” ujar Candra sambil mengepalkan
tinjunya dengan raut muka penuh kebencian.
“Tunggulah sebentar!” Sahut Karto, “Sampai benar-benar aman,
baru kita habisi dia …”
“Kita kuliti sampai habis,” timpal Sugih dan Berry, sudah
tak sabar, apalagi sejak pagi keduanya belum sarapan pagi, kecuali menenggak
sebotol miras.
Zuleha kini masih ditemani Yeni, Lis, Vanda, Leni, Ningsih
dan Tere. Mereka masih berkemas. Ada
yang berganti pakaian, menyisir rambut, mengecat bibir atas bawah, mengenakan
kebaya dan jilbab. Bahkan juga ada yang berlenggak-lenggok, bergaya di depan
cermin yang dibawa dari rumah.
Usia boleh tua, bergaya anak muda dalam batas kewajaran, apa
tak boleh. Inilah yang diperlhatkan ibu-ibu lansia, siswa belajar Zuleha dan
kawan-kawannya. Mereka tak sungkan dan malu bergaya, apalagi di depan Zuleha.
“Gimana Bu?” Yeni memperlihatkan stelan kebayanya seperti
orang yang hendak pergi kondangan.
“Cantik sekali, Bu.” Puji Zuleha.
Bukan cuma Yeni yang
meminta dipuji, Lis dan teman lainnya juga begitu. Saking senangnya dipuji,
selesai Zuleha memuji. Ningsih dan Vanda, langsung memberi roti manis sebagai
hadiahnya.
Pokoknya, mereka benar-benar tersanjung siang hari ini.
Sudah badan sehat, penampilan pun bak aktris
hebat sejagat. Tak heran, selama perjalanan pulang ke rumah
masing-masing, tawa dan canda riuh ter
dengar lepas. Rumput saja seakan ikut bergoyang, apalagi
angin yang seolah tahu hamba-Nya tengah
bersuka ceria. Lambat berhembus menerpa pucuk belukar dan
rerumputan.
Huuup …
Deeep ….
“Mau kemana?” Cegat Candra.
Ha ha ha ha …
Karto mendekati Zuleha, tapi dihadang Yeni dan Lis.
“Masih ingat aku nona?” Tanya Karto dengan tatapan mata
tajam.
Zuleha diam, lalu …
“Ingat. Kamu kan yang mengamuk di rentas PS Pak Krisman?”
Ha ha ha ha …
Karto dan teman-temannya tertawa. Sedangkan Yeni dan kelima
temannya yang lain terus berusaha menghalangi Karto untuk mendekati Zuleha.
“Baguslah kalau sudah tahu …” Kata Karto yang mengisyaratkan
beberapa temannya untuk menghabisi Zuleha.
Isyarat itu terbaca oleh Yeni. Vanda yang bertetangga jauh
dari Karto memintanya untuk tidak mence derai Zuleha. Sayang, permintaan itu
tidak digubris Karto. Dia masih mengancam akan membunuh Vanda kalau sampai ikut
campur dan menghalang-halangi keinginannya.
“Jadi, Bu Vanda minggir sajalah,” pinta Karto dan Sugeng.
Vanda tetap bersikeras tak mau minggir. Dia tetap bertahan
bersama yang lain. Melindungi Bu Guru Zu leha dari serangan yang bakal
dilakukan Karto cs.
“Sikat dia …!” Perintah Karto.
Sugeng menarik paksa tangan Vanda. Karena sudah bukan ABG
lagi, satu kali tarikan Vanda terjatuh.
“Masih tetap tak mau juga Bu?” Bentak Sugeng.
Vanda mengangguk.
Sugeng menarik paksa tangan Vanda. Lalu, setelah berdiri,
dia tendang berkali-kali sampai pingsan. Sedangkan Yeni dan empat temannya yang
masih memagari Zuleha, tak luput dari amukan Karto cs.
Yeni terkapar setelah ditinju Karto muka dan perutnya. Lis
mengerang kesakitan setelah dihempaskan Sugeng. Begitu juga dengan Leni. Belum
sempat mendaratkan pukulannya ke muka Candra, sudah terle bih dulu dibogem
mentahi lawan. Jatuh bergulingan sambil menjerit kesakitan di seputar perut dan
se langkangan.
“Kamu …!” Ancam Berry.
Ningsih gemetar. Dia ketakutan. Saat hendak dipukul Berry,
dia meraung-raung minta tolong supaya jangan dipukul.
“Jangan nak. Kalau saya sakit, yang kasih cucung saya makan,
siapa.” Katanya. Berlutut dan mencium
kaki Berry.
“Sudah,” kata Sugeng, menahan kepalan tinju Berry yang
hendak diarahkan ke muka Ningsih.
“Lempar saja ke semak belukar,” kata Sugeng.
Berry dengan sigapnya menarik paksa Ningsih, diangkatnya
tubuh Ningsih tinggi-tinggi, lalu dilemparkan ke semak belukar.
Melihat teman-temannya diperlakukan semena-mena, Tere
melepaskan pukulan ke perut Sugih. Kena
dan mengaduh kesakitan. Sementara Zuleha meladeni tantangan
Sugeng. Cewek gembrot ini berkali-kali
berhasil memperdayai lawannya dengan menghindari pukulan dan
balas mendaratkan pukulan ke perut
dan dada.
“Aaaugh …”
Tere meringis kesakitan. Pukulan tangan kosong Sugih
mendarat telk di ulu hatinya. Jatuh terjerembab.
Jangankan untuk memberikan perlawanan, bangun saja lagi tak
bisa karena kedua kakinya terasa berat
untuk digerakkan dan menopang badan agar bisa berdiri.
Praktis kini menyisakan Zuleha seorang diri menghadapi Karto
cs. Dia terjepit. Terdesak. Dia dikepung
oleh para preman tanggung ini. Dilawan berat, tidak dilawan
bakal disiksa hebat.
Hiyaaaat …
Huuup … Sreeeeg …
Persis beberapa meter di belakang Karto cs, muncul dari
semak belukar Nile, Maisaroh dan Puspa. Keda
tangan empat perawan ini berhasil memecah konsentrasi
kawanan Karto. Mereka tak fokus lagi mengha
dapi Zuleha. Kalau tadi posisi mereka lurus ke depan Zuleha,
kini membelahi sisi Zuleha, dan ketiga
rekannya.
“Kok diam? Banci ya?” Pancing Puspa, diarahkan ke Sugeng.
“Taik lu banci,” jawab Sugeng, memelototkan mata seolah mau
keluar.
“Lawan gue kalu elu enggak banci.” Tantang Puspa.
“Setan lu …”
Pancingan Puspa mengena. Sugeng melompat meninggalkan
teman-temannya yang tadi bermaksud me
ngurung Zuleha. Puspa meladeninya. Dia melakukan pergerakan
mundur beberapa langkah dari kedua temannya berdiri.
Huuup …
Kini, Puspa dan Sugeng sudah saling berhadapan satu lawan
satu. Menyiapkan jurus masing-masing.
Sedangkan Nile menghadapi Candra, Maisaroh lawan Sugih,
sementara Karto versus Zuleha.
Berry-nya?
Lawan Pak Krisman yang baru datang menggunakan sepeda motor
bersama Pak Kades dari kelurahan.
Pak Kades sendiri tidak punya lawan. Jadi dia hanya menonton
warganya berkelahi. Sebagai saksi atas
disudahinya perlawanan Karto cs.
Ciyaaaaat …
Sugeng mengeluarkan segenap kemampuannya. Dia menyerang
habis-habisan Puspa. Dia tak memberi
kesempatan teman Zuleha ini mengembangkan jurus barunya itu.
Puspa terdesak, dan dalam satu ke
sempatan, perutnya kena terjangan keras Sugeng. Terjengkang
ia, terpelanting dengan punggung me
ngenai batang pohon.
Kraaaak …
“Adooow …”
Ha ha ha ha …
“Anak kecil minta duit,” ejek Sugeng.
“Kampret lu,” umpat Puspa dalam hati.
Tak jauh dari Sugeng dan Puspa duel, Nile berhasil melukai
pelipis mata Candra dan mengeluarkan sedi
kit darah. Nile tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Satu kali
pukulan mendarat telak di pelipis Candra
sebelah kanan.
Candra tersungkur. Lalu bangun lagi. Tapi pandangan matanya
tiba-tiba kabur. Sempat mendaratkan pu
kulan ke wajah Nile, karena tak kuat kedua kaki menopang,
limbung sebelum akhirnya jatuh ke tanah.
Sebaliknya, duel antara Maisaroh dan Sugih, berlangsung
monoton. Keduanya sama-sama belum ada
yang terluka. Sangat berhati-hati. Menjaga jarak dan hanya
sesekali melepaskan pukulan.
Berbeda dengan Zuleha dan Karto. Keduanya saling jual beli
pukulan. Sama-sama kena, sama-sama per
nah tersungkur dan terpelanting. Ada luka masing-masing di
kedua pipi. Tapi tak sampai mengeluarkan
darah.
“Tangkis ini perempuan berengsek”” Seru Karto melepaskan
jurus “Kerbau Mengamuk’. Badan berputar-
putar mendekati Zuleha, lalu kaki bergerak mengenai kaki
lawan, disusul tendangan geledek dan
pukulan keras ke arah muka.
Dengan bersusah payah Zuleha menangkis serangan cepat lawan.
Saking keras dan cepatnya pukulan
serta tendangan itu, membuat Zuleha terpundur beberapa meter
ke belakang.
“Hebat juga jurus bujang lapuk ini,” gumam Zuleha dalam
hati.
Ha ha ha ha …
Saat Karto lengah, terlena dengan keampuhan jurus Kerbau
Mengamuk-nya, Zuleha, tanpa suara membalikkan badannya, menyerang dari
belakang.
Buuuuk … buuuuk ….
Pukulan dan tendangan itu sangat cepat dan keras. Tepat
mengenai punggung dan leher belakang, mem
buat Karto sempoyongan. Dia menoleh dan bermaksud membalas
serangan dari arah kanan, tapi dari se
belah kiri Zuleha menghantam kepala Karto. Kali ini
betul-betul telak.
“Ueeeekh ..”
Mengaduh kesakitan, Karto tak sadarkan diri. Mata terpejam
dengan kedua kaki lurus terlentang. Sama
terlentangnya ketika Pak Krisman menyudahi perlawanan Berry
dengan tendangan kilat mengenai leher.
Sempat terjengkang, berguling-gulingan di atas rerumputan,
muntah dan setelah itu tak ingat apa-apa
lagi.
Bagaimana akhir kesudahan Sugih dan Maisaroh?
Sampai ibu-ibu sekampung datang menyaksikan dan memberikan
pertolongan, Sugih dan Maisaroh ma
sih berkelahi. Karena tak ada yang berani mengambil
inisiatif penyerangan, Pak Kades akhirnya turun
tangan mengakhiri pertarungan.
“Pak Kris dan yang lain, bantu
bapak membawa cowok-cowok ini,” kata Pak Kades menunjuk Karto cs yang tak kunjung
sadarkan diri, dibawa secepatnya ke rumah sakit terdekat.
ABIS KAYAKNYO BROOOOO …
BALIK DUKEN …
LUM MAJUH …
HA HA HA HA …